
Satu minggu kemudian...
Satu minggu Yudha, dan keluarga pulang liburan dari Bali. Ketiga Anaknya sudah mulai masuk sekolah, kakak Kenzi sudah masuk seperti biasanya, karena Kenzi sudah SD. Beda halnya dengan kedua Adiknya yang sekolah playgroup, terkadang mut keduanya susah di tebak, yang terkadang mogok sekolah, terkadang juga rajin. Itulah mut Anak kecil Yang suka berubah-ubah dengan sendirinya.
Yudha sudah kembali masuk kantor seperti biasanya, Setelah liburan satu minggu membuat wajah fresh dan bahagia jelas ketara. Banyak bisik-bisik karyawan yang mengatakan bahwa atasannya Yudha Pradipta semakin handsome, dan ketara banget kebahagiaan di wajahnya.
Pagi ini, pagi pertamanya Yudha masuk kantor. Banyak mata pegawainya yang menatapnya kagum, dan terpesona, ada sebagian pegawainya ada rasa ingin memiliki, dan berandai-andai memiliki seorang suami seorang Presdir seperti Hotel Pradipta.
Rumah tangganya semakin bahagia dengan karunia-Nya, ada tiga malaikat sebagai pelengkap cerita rumah tangganya. Banyak suka duka, tawa, tangisan, dan kebahagiaan yang Yudha, dan Kania arungi bersama dalam bahtera rumah tangga.
Setelah Yudha sampai ruangannya, Yudha mengedarkan pandangannya ke sudut ruangan yang satu minggu ini Yudha tinggalkan. Masih sama, masih seperti awal Yudha menempati ruangan ini, tidak ada yang berubah semuanya nampak rapi.
Setelah melihat sekeliling ruangannya, Yudha menempatkan dirinya untuk duduk di kursi kebesarannya yang sudah satu minggu ini tidak di tempati.
***
Di kediaman Yudha Pradipta, suasananya riuh di rumahnya sangat ramai. Kedua Anak kembarnya susah buat anteng, karena keduanya berlari ke sana kemari, membuat Kania sedikit migren, dan memijat kepalanya akibat ulah keduanya yang sangat hiperaktif...
"Kama Kalila diam dong! kasihan Bunda." Tutur Kenzi yang dibuat jengah dengan sifat Adiknya, yang membuat Bundanya kelelahan meladeni Adiknya.
"Iya akak." Jawabnya Kalila dan Kama kompak kan, keduanya langsung menundukkan kepalanya. Karena Kama Kalila merasa bersalah Bundanya memijat kepalanya.
Kama Kalila menghampiri Bundanya, dan meminta maaf.
"Unda, akak Ama inta aap! udah akal lali-lalian."
"Unda, Adik Ila inta aap! udah Ikin Unda ******."
Melihat Kama Kalila mau minta maaf, dan mengakui kesalahannya. Membuat Bundanya tersenyum tipis, karena Anak-anaknya mau memulai minta maaf duluan tanpa harus diminta lebih dulu.
Selesai drama sebelum sekolah, dan sarapan. Kania mengantar ketiga Anaknya untuk bersekolah, di antar mang Udin yang menjadi sopir pribadi keluarga Pradipta. Di dalam mobil pun, ketiga Anaknya tidak mau diam selalu aktif. Terutama Kalila yang selalu membawa kaca kecil di dalam tasnya, karena Kalila tidak mau rambutnya sedikit berantakan.
Selesai mengantar ketiga Anaknya, Kania kembali ke rumah karena badannya merasa sedikit tidak enak. Rasa mual, pening di kepalanya meningkat semenjak pulang mengantar Anak-anaknya ke sekolah.
"Bik, Kania langsung ke kamar mau istirahat dulu."
"Non Kania, sakit? biar bibik telepon Pak Yudha."
"Makasih sebelumnya bik! tidak usah Kania tidak apa-apa, bik."
"Kania keatas dulu ya, bik."
__ADS_1
"Iya non."
Kania naik ke kamarnya, dan merebahkan tubuhnya yang sedikit pusing kepalanya. ada rasa mual yang tiba-tiba, tetapi tidak muntah, Kania menganggapnya cuma masuk angin biasa.
Kania mencoba memejamkan matanya untuk menghalau rasa pusingnya, rasa mual yang di rasakan semakin membuat Kania bertambah pening, karena bolak-balik memuntahkan cairan bening, Sarapannya ikut di muntahkan.
****
Di kantor Yudha di buat pusing kelakuan istrinya, yang berulang-ulang menelepon tidak di angkat sang pemilik hatinya. Yudha memutuskan untuk menelepon nomor telepon rumahnya, karena Yudha merasa khawatir karena teleponnya tidak di angkat istrinya.
Deringan ketiga telepon di angkat Bik Siti.
"Assalamu'alaikum bik...."
"Walaikumsalam Pak..."
"Kania, ada bik?"
"Ada Pak di kamar! katanya tidak enak badan Pak! sedikit mual katanya."
"Minta tolong Bik! saya mau bicara."
Bik Siti naik ke lantai atas, ke kamarnya Kania. mengetuk-ngetuk pintu kamarnya, tidak ada jawaban sama sekali. Bik Siti meras khawatir dengan keadaan majikannya, "Maaf pak! sudah bibik ketuk, dan panggil tidak ada jawaban."
Klik, sambungan telepon di matikan Yudha. di ruangannya Yudha mondar-mandir mengkhawatirkan keadaan istrinya, sedangkan nanti ada rapat para investor di hotelnya.
"Ahhh pusing." Yudha menjambak rambutnya.
Yudha mendial nomer istrinya kembali, tetapi hanya suara deringan, dan suara operator saja. Yudha semakin di buat kalang kabut, karena teleponnya tidak di angkat istrinya. Membuatnya semakin khawatir, dan pikiran-pikiran yang tidak menentu.
Yudha membereskan berkas-berkas di ruangannya, persetan dengan rapat, dan uang yang terpenting istrinya. Yudha memutuskan untuk pulang ke rumahnya, untuk bertemu istrinya yang katanya bik Siti tidak enak badan.
"Net, saya pulang duluan."
"Bukannya nanti siang ada rapat, Pak?"
"Undur saja atau batalkan, Net! istriku lagi Sakit."
Tanpa banyak kata, Yudha bergegas meninggalkan ruangannya. Yudha mengendarai mobilnya sangat ngebut, beruntung jalanan sedikit lengang.
Tiba di rumahnya, Yudha bergegas naik ke lantai atas, ke kamarnya tempat istrinya berada.
__ADS_1
"Tok tok tok....."
"Sayang...."
"Ini mas! buka pintunya."
***
"Huekkkk....huek...."
Di dalam kamar mandi Kania terus saja memuntahkan cairan bening, saking lemasnya Kania sampai menitikkan air matanya.
Sedangkan di luar pintu kamarnya, Yudha di buat khawatir dengan sikap istrinya yang sungguh berbeda, tidak membuka pintu kamarnya sama sekali.
Yudha mulai menempelkan telinganya di daun pintu kamarnya, sayup-sayup Yudha mendengar suara muntahkan dari dalam kamarnya. Yudha semakin khawatir keadaan istrinya yang berada di dalam, karena kamarnya yang tidak di buka.
Yudha memutar handel pintu, dan tidak di kunci. Yudha membukanya sedikit tergesa-gesa menimbulkan suara berisik.
**
Kania mengabaikan suara pintu yang terbuka, Kania terduduk lemas di atas closet. Kania mulai mengelap keringat yang bercucuran di keningnya, dan matanya sudah mengeluarkan air mata yang membasahi pipinya.
"Sayang, kamu dimana?"
Tidak ada jawaban, Yudha memutuskan untuk mencari istrinya di sudut kamarnya, yang terakhir di kamar mandi. Yudha di buat syok melihat istrinya, terduduk lemas dengan kedua matanya terpejam.
Setelah membaringkan istrinya di atas kasur, Yudha menepuk-nepuk pipi istrinya dan memberikan aromaterapi di sekitar hidungnya, tidak ada respon sama sekali maupun membuka matanya.
"Bik Siti! tolong buatkan teh manis hangat ya."
"Iya Pak."
Setelah istrinya siuman, Yudha mencium pipi Kania bertubi-tubi rasanya jantungnya mau copot melihat istrinya terkulai lemas di atas closet kamar mandi.
"Mas kok pulang? Bukannya ini masih pagi."
"Mas khawatir dengan keadaanmu! berulang-ulang Mas telepon tidak kamu angkat, sayang."
"Maaf."
Cup.. Yudha mengecup singkat bibir istrinya.
__ADS_1
Tunggu beberapa part lagi ya readers untuk masuk ke sesion kedua, ayo tebak Bunda Kania sedang sakit apa?😁