
"Silahkan non, pak, den." Ujar Pak Udin membukakan pintu mobil untuk majikannya dan mempersilakan untuk turun.
"Terima kasih pak." Ujar Kania mengucapkan kata terimakasih kepada pak Udin sopir pribadi pakde dan bude.
"Sama-sama non Kania." Ujar Pak Udin menganggukan kepalanya.
"Kania duluan ya pak!" Ujar Kania menatap Pak Udin sambil berlalu melewatinya.
"Aduhhh!! kok saya jadi deg-degan seperti ini." Ucap Kania yang masih bisa di dengar oleh Yudha yang berada di belakangnya.
Tak!.....tak!....tak....
Suara sepatu Kania terdengar sangat jelas! sebagai tanda kalau ada seseorang yang akan datang bertamu kerumahnya, membuat orang-orang di dalam rumah berbisik-bisik, "Siapa gerangan? Ujar budenya dari dalam rumah yang bisa di dengar suami dan anak-anaknya.
Suasana di dalam rumah seketika menjadi hening, semuanya saling melirik satu dengan yang lainnya dengan menggunakan bahasa isyarat, "Siapa?" Jawab mereka dengan matanya yang berbicara.
Hari ini, hari spesial karena akan ada tamu istimewa, kedatangan Kania sudah di siapkan oleh pakde, budenya, rencana Kania akan tiba sore hari bersama temannya yang akan di perkenalkan kepada keluarganya di Semarang.
Tok....tok...tok...
Kania mengetuk-ngetuk pintu rumahnya dengan sedikit gugup dan deg-degan, karena ini pertama kalinya Kania pulang ke Semarang dengan seorang pria.
"Iya sebentar." Ujar dari dalam rumah.
Berkali-kali Kania menghela nafasnya untuk mengurangi rasa gugupnya, sesekali Yudha mengusap punggung tangannya Kania dengan sangat lembut.
" Tenang sayang, ada saya." Ujar Yudha mengengam tangan Kania memberikan kekuatan supaya Kania tidak gugup.
"Kania mengangguk! makasih pak!" Ujar Kania mengusap balik tangannya Pak Yudha dengan sayang.
__ADS_1
"Daddy, unda akit?" Tanyanya Kenzi sedikit khawatir karena melihat tangan daddy dan bundanya saling mengengam.
"Nggak sayang, bunda sehat." Ujar Kania berusaha memberikan senyuman kepada Kenzi, supaya Kenzi tidak khawatir.
"Unda, angan atit ya ya ya." Ujar Kenzi dengan puppy eyes yang menatapnya lembut kepada bundanya.
"Nggak sayang!" cium bunda dulu." Ujar Kania yang masih menunggu pintu di buka dan di persilahkan untuk masuk ke dalam.
Cup Cup...
Kenzi mengecup kening bundanya sangat lama, sampai kening bundanya basah dengan air liurnya Kenzi.
Cup...
Kania mengecup balik pipi bakpao Kenzi yang makin montok dan tambah menggemaskan.
Cup...cupp
Kania mencium Yudha pipinya kanan kirinya, tiba-tiba Yudha ikut balik mengecup keningnya dengan lama, sampai Kania memejamkan matanya menikmati suara hembusan nafas yang memburu.
Ceklek...
Tiba-tiba pintu rumah terbuka menampilkan budenya tersenyum hangat, buru-buru Kania melepas diri dari pelukannya, tetapi Yudha masih saja memeluk pinggangnya dengan Kenzi berada di tengah mereka.
"Kenapa? hmm." bisiknya Yudha tepat di daun telinganya Kania.
"Pak! pintunya sudah terbuka." bisik Kania mencoba mendorong Yudha supaya menjauh darinya, tetapi nihil Yudha malah tambah memeluknya dengan erat.
"Ehemmmmmm!" Suara deheman dari dalam rumah membuat Yudha kaget, dan langsung melepas diri dari Kania
__ADS_1
Blusssshhhh....
Pipi Kania langsung merah merona, karena ketahuan keluarganya sedang bermesraan di depan rumah.
"Pipi unda kok melah-melah." Suara Kenzi mengangetkan mereka yang sedang terdiam karena malu terciduk di depan pintu.
"Ihhh lucu, pipinya unda belwalna melah." Seru Kenzi berteriak senang melihat bundanya tambah cantik dengan warna merahnya.
"Sudah-sudah ayo masuk dulu, nggak enak di lihat tetangga." Suara budenya membuat mereka tersadar dari lamunan, bahwa mereka masih diluar.
"Kamu bodoh, Kania." Ucap Kania dalam hati, Kania memukul-mukul kepalanya dengan pelan-pelan.
Kenzi yang melihat bundanya memukul kepalanya sedikit meringis, takut-takut bundanya sakit atau lupa sama Kenzi. karena dari tadi Kania cuma melamun tanpa memperdulikan Kenzi anaknya.
"Kania, ajak temennya masuk dulu." Ujarnya budenya yang masih senyum-senyum sendiri melihat tingkah laku keponakannya.
"Iya bude." Ujar Kania mengandeng tangannya Yudha, untuk masuk ke dalam rumah yang sudah di tunggu di dalam, semua orang memberikan senyum hangatnya.
Kania menyalami satu persatu keluarganya, diikuti Yudha dan Kenzi yang berada di sampingnya.
"Siapa Kania? ganteng pisan." bisik pakdenya yang sedang mencium pipi kanan kirinya.
"Hmmm, tem..an pakde." Ujar Kania terlihat sangat gugup, di tatap pakde nya sedikit tajam..
"Ehemmmmmm, teman apa teman, teman kok kelihatannya sangat mesra seperti sepasang kekasih." Celetuk budenya yang melirik Kania yang menundukkan kepalanya.
Ayo di jawab apa suka jadi teman apa pacar?ππ
Autthor ikutan bapeerπππ
__ADS_1