Duda Keren Yang Tampan

Duda Keren Yang Tampan
Bab 133


__ADS_3

Di dalam perjalanan pulang pun mereka selalu tersenyum, membuncah bahagia mendengar istrinya hamil kembar. Tak henti-hentinya Yudha menciumi tangan istrinya, dan membelai perutnya yang masih rata.


Yudha menengok lewat kaca spion, melihat anaknya yang tertidur sangat nyenyak, padahal di ruangan Dokter tadi suasananya sangat riuh.


"Sayang, ingin makan apa! saya beliin." tanya Yudha yang melirik sekilas kearah istrinya, yang asyik memperhatikan jalanan.


"Ingin cepat sampai rumah." sahut Kania.


"Nggak ngidam pengen apa gitu?" tanya Yudha untuk kemauan istrinya, takutnya tidak berani bicara.


"Benar! nggak ingin apa-apa, Mas." Tutur Kania mengelus pundak suaminya.


Kania menggeleng, "Nggak Mas!" Jawab Kania penuh kata penekanan.


Setelah berargumentasi, mereka berdua saling diam, saling meresapi keheningan yang tercipta diantara mereka.


Yudha berkali-kali menghembuskan nafasnya, dan melirik ke istrinya yang keasyikan memperhatikan jalanan yang padat merayap, tanpa memperdulikan suaminya yang mulai bosan karena jalan yang macet.


Setelah menempuh satu jam lamanya perjalanan, mereka tiba di rumah habis Maghrib.


Kania turun dari mobil, sedikit memegang perutnya yang mulai mual kembali, padahal di dalam mobilnya Kania tidak merasakan apa-apa, setelah keluar kok perutnya nggak enak seperti ini.

__ADS_1


"Sayang, kenapa? perutnya sakit." tanya Yudha yang sedikit khawatir, melihat istrinya memegang perutnya.


"Sedikit mual, Mas." Jawab Kania.


Yudha menuntut istrinya untuk masuk ke dalam rumahnya, dan mendudukkannya di kursi ruang tamu.


"Duduk sini dulu ya, Mas mau gendong Kenzi dulu." Tutur Yudha kembali ke mobilnya untuk mengendong Kenzi yang masih tertidur.


Setelah meletakkan Kenzi di kamarnya, Yudha berjalan menghampiri istrinya yang tengah memijat pelipisnya yang sedikit pening, dan rasa perutnya yang tidak enak.


Kania bersandar di bahu suaminya, dan memainkan kancing kemeja suaminya, dan mengendus-endus bau tubuhnya yang tidak merasa jijik sama sekali.


"Sayang, Mas belum mandi bau." Tutur Yudha yang berusaha untuk menjauh, dan menghindari istrinya.


"Bukan begitu, sayang! Mas bau belum mandi." Tutur Yudha.


"Wangi seperti ini, di bilang bau! Kania suka baunya." Seru Kania dengan wajah bahagia seperti mendapatkan permen.


"Bau ini sayang." Ucap Yudha mengendus-endus kemejanya sendiri, yang dasarnya emang bau keringat, karena habis pulang dari rumah sakit belum mandi.


"Ya sudah kalau Mas nggak mau! Kania nggak maksa!" Decak Kania meninggalkan Yudha yang terbengong-bengong melihat tingkah istrinya yang sangat sensitif.

__ADS_1


"Bukan begitu, sayang." Ucap Yudha berusaha untuk meraih tangan istrinya.


"Bodo amat!" decak Kania berjalan untuk menaiki tangga, dan merebahkan tubuhnya di samping anaknya.


"Kakak Kenzi! sepertinya Daddy nggak sayang Bunda, dan Adik-adik." adu bundanya yang memeluk anaknya, menumpahkan kesedihannya.


Hiks Hiks.......


Kania terisak-isak membenamkan wajahnya di bantal, yang berada sebelah anaknya yang nampak tertidur pulas.


Lelah menangis, Kania tertidur memeluk anaknya, dan mendengkur halus sesekali dalam tidurnya tersenyum sendiri, siapa yang melihatnya pasti ingin tertawa terbahak-bahak.


"Apes deh! malam ini tidur sendiri." guman Yudha.


Yudha kembali ke kamarnya merebahkan tubuhnya karena hari ini sangat melelahkan, berkali-kali membolak-balikkan tubuhnya masih saja belum bisa memejamkan kedua matanya.


Yudha bangkit dari ranjangnya, dan menghampiri istrinya yang letak kamarnya bersebelahan.


"Sayang, Mas nggak bisa tidur tanpa peluk kamu." bisik Yudha dengan suara yang memelas.


Dalam tidurnya Kania ingin tertawa, melihat suaminya yang sedikit lesu, dan tidak bersemangat.

__ADS_1


"Rasain! emang enak tidur sendiri! makanya harus sayang, dan cinta istri dong." guman Kania di dalam hatinya.


__ADS_2