
**Happy reading
Jangan lupa Rate-nya**
Satu minggu kemudian....
Tepat satu minggu lagi hari ulang tahun Kenzi yang ke-5 tahun, tak terasa anak yang dulu di asuhnya berusia 7 bulan belum mengerti apa-apa, sekarang sudah mau 5 tahun saja.
Rasanya baru kemarin, Kania menimang-nimang Kenzi yang waktu itu masih sangat kecil, dan mengajaknya bermain, dan mengajari nya cara jalan, berbicara, dan memeluknya menemani tidur di kala Kenzi sedang tidak enak badan.
Kania lah orang pertama yang tahu tumbuh kembang Kenzi dari balita yang gembul, dan tumbuh menjadi anak yang sangat pintar dengan pipi bakpao nya, dan aksesnya yang masih sedikit cadel.
Di usia yang ke-5 tahun ini Kenzi sudah bersekolah di TK A, karena usia 4 tahun yang lalu Kenzi sudah masuk sekolah.
Walaupun masih tahap mengenal kata sekolah, huruf, angka, dan teman-teman yang baru.
Kenzi termasuk anak yang hiperaktif, tidak malu berteman dengan siapa saja, dan banyak temannya karena Kenzi bukan orang pemilih dalam berteman, asalkan baik tidak usil kepadanya.
Hari-hari yang di lalui Yudha, dan Kania penuh dengan rasa kebahagiaan, terpancar jelas di raut wajah pengantin baru. Yang baru saja memulai kehidupan yang baru, canda tawanya selalu menjadi warna-warni rumah tangganya.
Apalagi dengan tingkah lucunya Kenzi menjadi warna tersendiri bagi rumah tangga yang baru saja menginjak seumur jagung.
"Sebentar lagi Kenzi mau 5 tahun, mau minta di rayain nggak sayang?" tanya Daddy-nya dengan tangannya terulur untuk membelai surai rambutnya.
"Enzi au di layain! ental Enzi au undang emen-eman addy!" Seru Kenzi dengan wajah girangnya, dengan daddy-nya menyebutkan kata ulang tahun.
"Kenzi mau di rayain di mana, sayang?" tanya bundanya yang baru saja datang dari arah dapur membawa nampan berisi minuman, dan makanan ringan.
"Telselah di ana aja! Enzi itut!" Tutur Kenzi yang tersenyum tipis dengan bundanya, yang sedang berjalan menghampiri suaminya, dan anaknya.
"Kenzi mau nggak di rayain di hotel punya Daddy?" tanya Daddy-nya dengan menawarkan tempat acara ulang tahun anaknya di Hotel Pradipta miliknya.
"Enzi itut daddy, dan unda!" Seru Kenzi yang minta duduk di atas pangkuan bundanya, yang sedang mendudukkan dirinya di sofa ruang keluarga.
"Yeahhh di hotelnya Daddy, ental Enzi undang anyak emennya, boleh?" tanya Kenzi yang minta persetujuan Daddy-nya, dan bundanya dengan meliriknya bergantian.
__ADS_1
"Boleh sayang!" Keduanya mengacak-acak rambutnya Kenzi, dan tertawa bersama dengan anak, dan istri.
Hari Senin, hari yang sangat malas untuk bergerak dari tempatnya tidur seperti halnya Yudha yang susah di bangunkan.
Yudha malah merapatkan tubuhnya, untuk memeluk istrinya yang nampak tidak terganggu sama sekali, dengan ulah jahil tangan nakalnya.
Suaminya masuk ke dalam selimutnya, dan membenamkan wajahnya di dada istrinya untuk mencari kehangatan. Tangannya yang tidak tinggal diam, selalu memainkan sesuatu yang selalu bikin ketagihan, dan memintanya lagi, dan lagi.
"Akhh...."
Suara desahan istrinya membangkitkan sesuatu, yang selalu bikin bangun bila dekat dengan istrinya.
Terkadang Yudha nggak habis pikir, bisa-bisanya selalu meminta jatah untuk di layani istrinya, padahal dulu waktu masih sama mendiang istrinya. hasratnya tidak menggebu-gebu seperti bersama istrinya yang sekarang.
"Apakah menikah dengan daun muda, yang usianya masih di bawahnya, atau karena hasratnya yang lama berpuasa."
Yudha geleng-geleng kepala melihat tingkah lakunya yang selalu mesum, melihat istri cantiknya yang tertidur pulas di pelukannya sehabis olahraga pagi.
H-2 menuju ulang tahun anaknya, mereka bertiga mendatangi butik untuk fiting baju yang akan di kenakan di acara ulang tahun anaknya.
Keluarga dari Semarang pun turut datang ke Jakarta, untuk menghadiri ulang tahun Kenzi yang ke-5 tahun yang sudah di anggap cucunya sendiri atau cucu kandungnya.
Sopir pribadinya yang di pekerjakan oleh Yudha, untuk istri, dan anaknya. Sedang menjemput ke Stasiun, menjemput keluarga Kania yang dari Semarang.
Dara Adiknya kania ikut menjemput pakde, budenya yang datang dari Semarang, khusus untuk cucunya Kenzi Pradipta.
Perjalanan di tempuhnya tidak banyak memakan waktu, karena sore ini jalanan sangat lengang, tidak seperti biasanya yang selalu macet.
"Pakde, bude!" Teriakan Dara sembari melambaikan tangannya, kearahnya mereka berdua yang sedang menjinjing sebuah tas yang kelihatannya sangat berat.
Di dalam mobil mereka bertiga mengobrol, pakde, budenya membicarakan tentang panennya, dan Dara membicarakan tentang sekolahnya.
"Assalamu'alaikum" Sapa mereka bertiga dengan mengucapkan salam.
"Walaikumsalam." Jawab mereka bertiga yang sedang duduk, di ruang tamu Yudha sebagai sandaran istri, dan anaknya yang nampak kelelahan dari acara fiting baju.
__ADS_1
"Pakde, bude! apa kabar?" tanya Kania menyalami tangannya satu persatu, dan mencium punggung tangannya dengan rasa hormat secara bergantian mereka bertiga.
"Silahkan duduk Pakde, bude!" Tutur Kania yang sudah duduk kembali, setelah melepas rindu dengan keluarganya yang tinggal di Semarang.
"Bik Siti!" tukasnya Kania untukmemanggil bibik, yang sedang sibuk di kebun belakang rumah suaminya.
"Iya non Kania...Eh salah Kania!" Uupss bik Siti langsung membekap mulutnya, supaya tidak salah bicara.
Kania sudah mendelik matanya, untuk melayangkan protes kepada bibiknya, akibat pengucapan bibiknya, yang sudah di anggap Kania seperti ibunya sendiri.
"Nduk! udah isi belum?" tanya budenya yang mengelus perutnya kania.
"Dipelut unda! apa ada dedek bayi, Nek?" tanya Kenzi yang memperhatikan gerakan tangan neneknya, di perut bundanya yang nampak sedikit berisi.
"Belum bude!" sahut Kania menjawab pertanyaan budenya, seputar kehamilannya yang masih seumur jagung.
"Belum sayang! doain bunda ya!" Jawab Kania mengelus puncak kepala anaknya.
"Pasti unda!"
Yudha membalas dengan senyuman "Sabar sayang kita usaha lebih giat lagi, Mas kangen suara desahanmu memanggil " akh Mas" Bisiknya Yudha tepat di samping istrinya.
Kania mencubit perut suaminya "Aakhhh sakit sayang!" Tutur Yudha yang kesakitan akibat cubitan maut istrinya.
"Rasain! berbicara yang tidak-tidak di depan pakde, bude, dan anaknya."
Kania melempar bantal sofa, tepat di wajah suaminya yang sempat ingin menghindar, dari amukan istrinya. takut nanti malam tidak dapat jatah atau tidur di luar.
Setelah mengobrol panjang kali lebar, Kania mengantar bibiknya untuk beristirahat ke kamar tamu yang berada di lantai bawah.
Kania kembali duduk di samping suaminya, dengan anaknya yang sudah mulai matanya sayu, dan terkantuk-kantuk. Padahal ini hari masih sore, tidak biasanya anaknya tidur di jam seperti ini.
#Solo sedang hujan rintik-rintik. bagaimana di kota teman-teman😍
#Jangan lupa votenya⭐⭐⭐⭐⭐
__ADS_1