
Lelah memijat pinggang istrinya, Yudha ikut berbaring di samping Kania. Tangan Yudha tidak tinggal diam, masih saja merekuh pinggang istrinya, walaupun terhalang perut buncitnya tidak menghalangi Yudha tidak untuk memeluk istrinya.
Bagi Yudha istrinya adalah nafasnya, candunya, berkat Kania Yudha bisa membuka lembaran baru, dan memberikan Ibu sambung untuk Anaknya.
Dor....Dor....Dor.....
"Daddy Unda! akak Enzi au acuk." Teriak Kenzi dari luar.
Dor...dor...dor...
Gedoran pintu kamarnya, membuat sang istri terbangun dari tidurnya, dan melirik jam yang ada didinding kamarnya.
"Daddy Unda!" Teriak Kenzi.
"Iya sayang." Teriak Bundanya dari dalam kamarnya, yang masih menggulung rambutnya.
"Bentar."
Tok...Tok..
"Unda, epetan akak Enzi ingin acuk! kebelet ingin pipis." Ujar Kenzi yang sudah bolak-balik badannya untuk menahan pipis nya.
"Iiihhh Unda."
Ceklek..
__ADS_1
Kania menyembulkan kepalanya membuka pintunya lebar-lebar, melihat Anaknya dengan ekspresi begitu ingin sekali Kania tertawa, saking gemasnya tetapi Kania tahan.
"Ada apa, sayang?" Tanya Bundanya.
Kenzi tidak menjawab pertanyaan Bundanya, tetapi langsung menyelonong masuk ke dalam kamar mandi, karena sudah tidak tahan ingin segera di keluarkan.
Kania yang melihat tingkah laku Anaknya, membuatnya geleng-geleng kepala. Setelah menutup pintu kamarnya, Kania kembali naik ke ranjang tempat tidurnya, dan mulai merebahkan kembali tubuhnya.
Mungkin karena hamil kembar, Kania semakin cepat lelah, dan pegal-pegal pada pinggangnya.
Ingin sekali Kania menanyakan perihal kedatangan tamu seorang wanita yang bernama Intan, dan minta penjelasan suaminya.
Berkali-kali niatnya Kania, untuk menanyakan perihal yang kemarin selalu Kania urungkan. Bukan tidak berani atau apa, mungkin saja waktunya yang kurang pas.
"Kenapa sayang?" tanya Bundanya.
"Ndak apa-apa, Unda! tadi akak Enzi kebelet pipis." Ujar Kenzi menampilkan giginya yang putih bersih.
"Sini tiduran dekat, Bunda." Tutur Kania memberikan tempat di sebelahnya.
"Yeeeehh ama Unda." Seru Kenzi yang kegirangan.
Kenzi mulai menaiki ranjangnya, dan tiduran di sebelah Bundanya sembari tangannya mulai bergerilya mengelus perut buncit Bundanya.
"Adik agi apa?" Tanya Kenzi.
__ADS_1
"Bobok kak Kenzi." Jawab Bundanya yang menirukan suara Anak kecil.
"Ental alau Adik udah kelual! akak ajakin ain, telus halan baleng akak, Daddy, Unda ya." Tutur Kenzi yang masih asyik menyelusuri perut Bundanya.
"Met obok ya, Dek!" bisik kakak Kenzi di perut Bundanya.
"Muachh."
"Iya kak! Kakak met bobok juga." Jawab Kania seperti suara Anak kecil.
Setelah bermain dengan Adiknya yang masih di dalam perut Bundanya, tiba-tiba Kenzi tertidur di samping perut Bundanya.
Membuat Kania mengecup seluruh wajah Anaknya, dan membenahi posisi tidurnya yang nampak sangat pulas.
Kania ikut merebahkan tubuhnya, dan ikut tertidur dengan posisi Kenzi yang berada di tengah Daddy, dan Bundanya. Semenjak Bundanya hamil, Kenzi sangat manja sekali selalu ingin tidur dengan Daddy-nya, dan Bundanya.
Suara ayam berkokok membuat ketiganya terbangun bersamaan, dan mereka saling menaikkan selimut, saling berpelukan memberikan kehangatan karena cuaca pagi ini sangat dingin banget.
Gara-gara tertidur lagi, mereka bertiga bangun kesiangan, suara ribut-ribut kecilnya membuat Kania ikut capek, karena keduanya harus di siapin Bundanya baik dari baju, sepatu, jam tangan, dan keperluan sekolah Anaknya.
Semuanya beres, suami, dan Anak juga sudah berangkat kerja, dan sekolah. Meskipun tidak pada sarapan dirumah, Kania selalu membawa bekal untuk kedua jagoannya.
Setelah semua beres, baru Kania merasa lega, dan bisa mengistirahatkan badannya sedikit memijat-mijat kecil di sekitar kakinya, karena terasa pegal.
Ayo dong dukung cerita autthor, biar author tambah semangat untuk Up cerita setiap hari dong.
__ADS_1