Duda Keren Yang Tampan

Duda Keren Yang Tampan
Sesion 2 Part Empatpuluh Satu


__ADS_3

Kembali ke keluarga Tommy Wijaya dan Intan guys, dan juga Aira yang sangat menggemaskan.


Dua minggu ini Tom sedang tidak enak badan, rasanya seperti orang sedang Masuk angin, setiap selesai makan Tom ingin memuntahkan makanan yang masuk ke dalam mulutnya. Selama dua minggu juga Tom jarang masuk kantor, karena kondisi tubuhnya yang susah di ajak kerjasama, sekarang pekerjaannya sudah di alihkan oleh sekertarisnya bila kondisinya tidak memungkinkan untuk masuk kantor.


Seperti pagi ini, Tom sudah rapi dengan setelan jas kantornya. Ketiganya sedang duduk di meja makan, mereka makan bertiga dengan suara piring dan sendok sebagai alunan lagu yang merdu, mengisi keheningan diantara mereka bertiga.


Aira juga sudah cantik dengan pakaiannya, Aira sedang mengikuti presschool yang di jadwalkan seminggu tiga kali masuk. Rambutnya sudah di kuncir dua dengan jepit rambut di kanan dan kiri, pipinya yang gembil membuat siapa saja yang melihatnya pasti akan gemas ingin mencubit pipinya.


"Ma, Aila au mam ambah agi." Serunya dengan senyum manisnya.


"Beneran mau nambah, entar kekenyangan gimana?" tanyanya Intan menaik turunkan alisnya.


"Benelan Ma! Aila masih lapel." Tuturnya Aira yang memegang perutnya.


Akhirnya Intan memasukkan nasi satu centong ke piringnya Aira beserta lauk pauknya.


"Telimakasih Ma..." Ucap Aira dengan binar bahagia di matanya.


Aira makan sangat lahap, nasi yang diambilkan Mamanya ludes habis tidak tersisa.


"Aira mengelus-elus perutnya yang nampak membuncit karena kekenyangan.."


Intan yang melihat tingkah Anaknya hanya tersenyum tipis , dan menggelengkan kepalanya. Tom pun juga sama memperhatikan Aira, yang duduknya tidak jauh dari jangkauannya.


Setelah selesai sarapan bersama, Aira lebih dulu beranjak dari meja makan, dan diikuti suaminya yang mengekor di belakang istrinya. Sembari menunggu Papa-nya selesai dari ruang makan, Aira memilih menunggu sambil nonton televisi kartun kesukaannya.


💚💚💚


Setelah sarapan Tom mengikuti langkah istrinya dari belakang, setelah menemukan istrinya sedang mencuci piring di dapurnya, Tom langsung berjalan dengan langkah pelan untuk bisa memeluk istrinya yang merupakan candunya.


"Mas selalu kangen wangi ini..." Bisiknya Tom mengendus-endus leher istrinya yang sangat jenjang, memudahkan Tom untuk mengeksplor lehernya dan menghirup aroma tubuhnya dalam-dalam.


"Mas geliiii, nanti kalau ada yang lihat gimana?" tanya Intan berusaha untuk melepaskan pelukan suaminya.


"Nggak akan, Yank.." Ucapnya Tom yang tidak mau jauh dari leher istrinya.


"Kasihan Aira yang sudah nunggu dari tadi, Mas..." Sahutnya Intan yang berusaha untuk menahan desahan yang keluar dari bibirnya, akibat ulah suaminya yang nakal yang ingin memberikan tanda merah di lehernya.

__ADS_1


Tom langsung melepas pelukan dari istrinya, dan merapikan penampilannya kembali yang sedikit berantakan akibat ulahnya sendiri yang tidak bisa lepas melihat leher jenjang istrinya.


Tidak ada kata yang terucap Tom meninggalkan Intan sendirian, Tom memilih untuk mencari putrinya yang sedang menonton televisi.


"Hai Sayang..." Sapa Tom.


"Papa kok ama cih! kan Aila nungguin..." Sahutnya yang tidak pernah lepas dari layar televisi.


"Tadi Papa lagi nemenin mama cuci piring di dapur..." Sahutnya Tom untuk mengelus rambutnya Aira.


Setelah berpamitan dengan istrinya, Tom berangkat ke kantor. Sebelum ke kantor Tom mengantar putrinya ke sekolah dulu, baru Tom lanjut untuk ke kantor.


Tom menepikan mobilnya di pinggir jalan, setelah pulang mengantar Aira ke sekolahnya, tiba-tiba perutnya bergejolak minta di keluarkan, kepalanya yang pusing membuatnya susah untuk mengemudikan mobilnya.


Tom merogoh ponselnya untuk menghubungi istrinya, baru pada dering kedua panggilan teleponnya di angkat.


"Assalamu'alaikum Mas..." Sapanya Intan dengan senyum manis terukir di bibirnya.


"Walaikumsalam Yank... " belum juga menyelesaikan kalimatnya. Tom sudah memuntahkan isi sarapan di perutnya, tetapi hanya air saja keluar.


Intan yang mendengarkan suara Tom menjadi khawatir dengan keadaan suaminya, Suaminya sedang tidak baik-baik saja.


"Mas kenapa?" tanyanya Intan sedikit khawatir.


"Mas masuk angin sepertinya..." Jawabnya Tom.


Setelah melalui perdebatan panjang, akhirnya Tom mengalah untuk tidak masuk ke kantor, dan memilih pulang ke rumahnya. Intan yang berniat menjemput suaminya, malah ada suara mobil yang masuk ke halaman rumahnya.


Tom dibawa masuk ke dalam rumah oleh sekertarisnya, Tom nampak sekali sangat pucat dengan bibirnya yang tipis semakin memucat.


"Mas kenapa?" tanya Intan sudah duduk di sebelah suaminya.


"Tom hanya menggeleng, "Nggak apa-apa Yank....." Jawabnya Tom tidak bersemangat.


Setelah Tom di bawa ke kamar utama, baru sekertarisnya pamit pulang.


"Bu, Saya pamit dulu..."

__ADS_1


"Iya, makasih ya Ren..."


💚💚💚


Setelah sekertarisnya meninggalkan kamarnya, Intan membuka setelan jas kantornya, kemejanya, dan terakhir celana suaminya.


Terakhirnya Tom hanya memakai celana boxer, dan bertelanjang dada. Menurut Intan suaminya sangat seksi bila sedang tidur, di tambah wajah suaminya yang seperti bule menambahkan kadar ketampanannya.


Tom sebenarnya tidak sedang tidur sungguhan, matanya saja yang terpejam tetapi Tom sangat tahu gerak-gerik istrinya yang sedang memperhatikan dirinya.


Tom menggeret tangan Intan tanpa persiapan dulu, Intan langsung menubruk dada bidang Tom. Tidak di sadari Intan dengan gerakan kecilnya malah membangunkan bagian bawahnya Tom, yang sudah menggembung menjadi besar.


Intan sudah sangat terbuai permainan bibir suaminya, tangannya tidak tinggal diam meraba-raba tubuh istrinya yang nampak lebih berisi dan agak gemukan.


Tangannya sudah menyusup ke dalam baju Intan, mencari sebongkah bukit kembar yang menantang yang sekarang menjadi candunya, putingnya sudah mencuat keluar seperti biji jagung.


Intan tidak kalah agresif dengan permainan suaminya, tangannya terus saja memainkan peran yang menjadi titik sensitif suaminya. Berkali-kali juga Tom sudah di buat tidak berdaya oleh tangan Nakal istrinya, Tom juga sangat bersemangat dengan tangan lihai Intan.


Beberapa hari juga Tom tidak mendapatkan jatah menggarap sawah dari istrinya, membuatnya tidak kalah agresif memberikan rangsangan titik sensitif istrinya yang sekarang menjadi candunya.


Tangannya Tom tidak tinggal diam memainkan di bagian bawah istrinya, mulai memaju mundurkan tangannya sangat bersemangat. Tangan satunya untuk memilin-milin ujungnya yang mencuat, memasukkan ke dalam mulutnya.


"Aaaakkkhhhh...... Masssss...." Serrrr ada cairan yang keluar putih kental, begitu banyaknya yang keluar membuat Intan tepar tak berdaya.


Senyum puas Tom tunjukkan untuk memuja tubuh istrinya, bener-bener sangat sempurna, semakin membuat Tom bersemangat untuk segera menggarap sawah di istrinya.


Keduanya sudah menyatu menjadi satu, tubuhnya sudah mengeluarkan banyak keringat membasahi keduanya. Tubuhnya susah untuk di pisahkan, memajukan mundurkan adalah hobi baru mereka dalam permainan keduanya. Keduanya sedang mendaki gunung melewati lembah, lembahnya begitu rimbun, membuat Tom tidak henti-hentinya mengangumi milik istrinya, mereka berdua sudah mencapai puncak nirwana, menyebutkan nama panggilan masing-masing.


Terimakasih untuk krisannya, seikhlasnya untuk bantu autthor agar karya autthor menjadi terkenal, di kenal banyak .


LIKE


KOMENTAR


VOTE


RATE-NYA

__ADS_1


__ADS_2