
Menunggu satu jam pemeriksaan sampel darahnya Kania yang sudah jadi, dari hasil laboratorium tidak ada tanda-tanda penyakit serius yang dialami pasien. Setelah dokter IGD yang membacanya cuma geleng-geleng kepala, karena tidak ada yang perlu di khawatirkan.
Selesai membaca hasil laboratorium, dokter IGD visite ke ruang rawatnya Kania, untuk memberitahu hasil pemeriksaan darahnya.
"Tok!..."
"Masuk."
"Selamat sore Bu! ada yang di keluhan?"
"Selamat sore juga, Dok!"
"Perutnya terasa nggak enak, rasanya mual , dan ingin muntah terus, Dok."
"Dari hasil pemeriksaan sampel darahnya, Ibu tidak ada tanda-tanda penyakit serius, mungkin Ibu mual, dan ingin muntah pembawaan debay-nya."
"Apakah ibu sudah datang bulan, bulan ini?"
"Belum Dok! Sudah telat dua Minggu."
"Dari tanda-tanda-nya sepertinya ibu hamil! Saya kasih saran untuk periksa ke dokter kandungan ya, Buk."
"Baik dok!"
"Ada yang di tanyakan? kalau tidak ada saya permisi, Buk!"
"Terimakasih Dok!"
"Terimakasih kembali Buk!"
***
Yudha yang mendengar percakapan istrinya dengan Dokter IGD membuncah bahagia, pasalnya istrinya telat datang bulan sudah dua Minggu.
Yudha memutuskan untuk mendaftar ke dokter kandungan, tanpa sepengetahuan istrinya untuk pemeriksaan lanjutan. Di perjalanan menuju pendaftaran di poli kandungan, senyum Yudha tidak pernah lepas dari sudut bibirnya.
Setelah mendaftar ke poli kandungan, Yudha mampir ke hemaMart untuk membelikan susu, camilan, dan buah-buahan untuk istri tercinta-nya.
Ceklek....
Yudha Membuka pintu kamar rawat Kania, dengan senyum bahagianya. Meletakkan beberapa makanan, susu, dan buah-buahan di atas meja nakas, dan menghampiri istrinya yang masih terbaring di tempat tidur dengan selang infusnya yang masih terpasang.
"Sayangnya Mas." Tutur Yudha mencium perut Kania bertubi-tubi.
"Apa Mas tahu?"
"Iya, sebelum Mas masuk ada suara percakapan dokter dan kamu di dalam, Mas mengurungkan niatnya untuk dan memilih menunggu di luar saja."
__ADS_1
***
Tepat Pukul 17.00 Kania di dorong suaminya menggunakan kursi roda untuk ke poli kandungan, yang sudah Yudha daftar sebelumnya. Mereka berdua menunggu di kursi tunggu yang telah di
sediakan, ada beberapa ibu hamil yang datang periksa di antar suaminya, dan ada pula yang datang sendiri.
"Ibu Kania Pradipta."
"Saya Sus."
"Silahkan masuk Buk! dokter sudah menunggu di dalam."
"Ada keluhan apa, Buk?"
"Perutnya nggak enak, sering mual, terkadang ingin muntah walaupun cuma cairan bening."
"Dokter Ferguson tersenyum, mari Buk berbaring di sini Bu! saya akan USG dulu ya."
***
Setelah melakukan serangkaian pemeriksaan, dan USG. Kania di nyatakan hamil sudah jalan tujuh Minggu, Rasa bahagia membuncah bahagia untuk keduanya. Ada rasa haru, bahagia, ada tangis, dan tertawa menjadi satu kesatuan.
"Terimakasih sayang." Yudha mengecup perut istrinya.
"Sehat-sehat di perut, Bunda."
Kabar bahagianya sudah sampai di rumah kediamannya Yudha, ketiga Anaknya nampak antusias menyambut keluarga baru di rumahnya nanti, tetapi berbeda dengan Kalila yang terlihat murung. Kalila takut kasih sayang Bunda, dan Daddy-nya berkurang karena punya Adik baru, dan tidak sayang lagi dengan Kalila.
Sedangkan Kenzi sangat antusias, Kama terlihat biasa saja, Kalau Kalila diam saja tidak memberikan respon pa-pa. Wajahnya nampak murung, ekspresi-nya datar seperti papan triplek.
"Kalila, kenapa dari tadi diam?" tanyanya kakak Kenzi dengan perubahan di mimik wajah Adiknya.
"Kalila hanya menggeleng, dan berlari ke kamarnya."
Setelah tiba di kamarnya, Kalila tidur tengkurap dengan air matanya yang bercucuran membasahi bantalnya, lelah menangis akhirnya Kalila tertidur dengan jejak air mata di pipinya.
Kenzi coba memanggil Adiknya, tetapi tidak ada jawaban. Kenzi memutuskan untuk menghampiri Adiknya yang tidur dengan posisi tengkurap, dan melihatnya tertidur pulas. Kenzi membenarkan posisi tidurnya, dan menaikkan selimut sebatas dada, dan mencium keningnya.
"Sweet dream Ila sayang."
Kenzi menutup pintunya pelan-pelan, supaya Kalila tidak terbangun dari tidur nyenyak-nya. Dan berharap hari esok Kalila bisa ceria seperti hari-hari biasanya.
***
Keesokan paginya Yudha dan Kania sudah tiba di rumah, setelah membersihkan tubuhnya Kania langsung menghampiri kamar Anak-anaknya. Ketiganya masih tertidur sangat pulas, Kania tidak tega membangunkannya.
"Cup Cup Cup......" Kania mengecup keningnya bergantian, dan kedua pipinya bergantian.
__ADS_1
"Bunda sangat menyayangi kakak Kenzi, kakak Kama, kakak Kalila! Walaupun di perutnya bunda ada Adik bayi." Ucap Kania dengan lirih.
Sayup-sayup Kenzi mendengar suara Bundanya, tetapi rasa kantuknya yang malas membuka matanya, memutuskan mengeratkan selimutnya kembali.
Kania yang melihat ketiga Anaknya tersenyum simpul, semoga Anak-anaknya selalu rukun, selalu saling asah, asih, asuh hingga dewasa nanti.
***
Cepelti-nya tadi ada suala Unda deh, Kak." Tutur Kama Kalila kompak.
"Kakak juga denger, karena Kakak masih ngantuk! Kakak tidur lagi deh." Sahutnya Kenzi dengan cengiran menampilkan giginya yang rapi.
Ketiganya bercerita banyak tentang adik bayi di perut Bundanya, sedangkan Kalila diam saja jika membahas Adik kecil di perut Bundanya. Ada rasa bersalah di benaknya Kenzi, karena Adiknya Kalila yang belum bisa menerima kehamilan Bundanya.
Setelah mereka rapi dengan seragam sekolah masing-masing, walaupun Kalila dan Kama masih di bantu bik Siti Tetap tidak menyurutkan semangatnya pudar untuk berangkat ke sekolah.
"Pagi Bunda! pagi Daddy." Sapa Kenzi untuk kedua orang tuanya.
"Pagi sayang." Sahutnya Kania sembari tersenyum tulus penuh keibuan.
Sedangkan Yudha membalasnya dengan senyuman tipis di kedua bibirnya. Sedangkan Kama dan Kalila cuma diam saja, tidak ada niatan untuk menyapa Daddy, dan Bundanya.
Biasanya Kalila sangat ramai, dan sangat manja tiba-tiba terdiam tanpa satu ucapan yang keluar dari bibirnya. Kania merasa kehilangan Anak gadis-nya yang berubah drastis walaupun beberapa hari tidak ketemu, membuat Kania sedih.
"Kalila mau makan dengan apa? Bunda ambilkan."
"Ndak ucah! Ila Ica sendili."
"Kalau kakak Kama mau makan dengan apa! sekalian bunda ambilkan."
"Ndak Unda! Ama Ica sendili Iya kan Ila."
Kedua kembarnya tidak mau di ambilkan olehnya, Kania beralih mengambilkan untuk suaminya, dan putra sulungnya Kenzi.
"Makasih Bunda."
"Huaaaa huwaa....." tangisnya Kalila langsung pecah, memekik gendang telinganya yang berada di meja makan, melihat bundanya perhatian kepada Kakaknya Kenzi, ada rasa iri hati Kalila.
" Cepelti-nya Unda ndak cayang akak Ama, dan Adik Ila agi." Ucap Kalila menahan sesenggukan.
"Cup Cup Cup..." kita semua sayang banget dengan Kalila, Daddy, Bunda, kakak Kenzi, kakak kama, dan Adik di perut Bunda juga sayang sama Kalila ya kan Daddy."
"Benelan Daddy."
"Iya sayang."
Kenzi, Kama, dan Yudha menghampiri Istri, dan Anaknya. Kelimanya saling berpelukan dan berbahagia menyambut anggota baru di keluarga Pradipta.
__ADS_1
Setiap rumah tangga itu tidak selamanya mulus, ada kerikil-kerikil kecil, dan batu di tengah jalan itu wajar.