
"Bukan siapa-siapa Suamiku yang tampan dan paling ganteng nomor dua." Tutur Kania dengan sangat bahagianya.
"Kok nomor dua? terus yang nomor satu siapa istriku yang cantik." Ujarnya Yudha yang tanyanya penuh selidik.
"Nomor satu jagoan kita sayang! Kama Azzam Pradipta." Jawabnya Kania dengan lugas.
"Harusnya Mas bukan Kama anak kita, Yank." Tutur Yudha yang sedikit protes dengan ucapan istrinya di video call. Yudha mencebikkan bibirnya, di katain istrinya ganteng nomor dua, Seharusnya saya bukan Kama yang masih kecil.
Kania tertawa cekikikan mendengar suaminya yang mengomel-ngomel yang tidak mau berhenti, mulutnya terus saja nerocos berbicara yang tidak berhenti-henti.
Niat Kania ingin menggoda suaminya, malah membuat suaminya ngambek dan sedikit protes. Ingin rasanya Kania menertawakan aksi suaminya yang tidak mau kalah dengan Anak sendiri.
Setelah perdebatan alotnya, Yudha dan Kania mulai berdamai karena Kania mengalah untuk menggoda suaminya. Nampak tersenyum lebar di bibirnya Yudha, bahwa Kania mengakui suaminya ganteng.
"Udah dulu Yank! Mas mau lanjut kerja nich! kasih semangat sama mas dong Yank."
"Semangat apa Mas?"
"Cium dulu Yank, biar Mas tambah semangat."
"Ndak mau! malu di lihatin Mas."
"Ayolah Yank bentar aja."
Hiks Hiks.....
Terdengar suara tangisan si kembar, membuat Kania melempar ponselnya ke atas ranjang tempat tidurnya. Kania tergesa-gesa menghampiri keduanya, yang bobok diatas kasur takut keduanya terjatuh ke lantai.
__ADS_1
Ceklek....
Kania mendorong pintunya sedikit kasar, dan melihat kedua Anaknya yang menangis berlomba-lomba karena di sampingnya tidak ada Bundanya atau orang lain.
"Cup Cup Cup sayang.... Bunda disini! Jangan nangis nanti digigit nyamuk."
****
Mendengar suara Bundanya berada disampingnya, membuat keduanya terdiam tangisnya. Keduanya tersenyum melihatkan deretan gigi putihnya, walaupun belum tumbuh semua.
"Kok kamu tambah gemesin sich sayang." Tutur Kania mengecup pipi tembem kanan kiri bergantian.
Keduanya tersenyum mendapatkan perlakuan Bundanya, yang memberikan kecupan bertubi-tubi di kedua pipi tembem Kama, dan Kalila.
"Unda udah Adik Ila geyiiii."
Kania semakin gemas melihat kedua Anaknya yang selalu rukun, dan ikatan batinnya sangat kuat, mungkin karena terlahir kembar. Banyak memiliki kesamaan dari segi kesukaan acara televisi, seperti sama-sama suka kartun NUSSA RARA.
****
"Assalamu'alaikum Bunda, Adik, Bibik....." Sapa Kenzi mengabsen satu-satu anggota keluarganya.
"Walaikumsalam Jagoan Bunda."
"Walaicumcalam Akak Enzi."
Kenzi menghampiri Bundanya, Kenzi mengambil tangan Bundanya untuk di cium punggung tangannya. Kenzi beralih mengecup pipi tembem kedua Adiknya yang sedang menunggu gilirannya.
__ADS_1
"Telimakasih akak Enzi! Yeahhh pipinya di tium-tium ama akak." Tutur keduanya yang berseru senang mendapatkan perhatian dari kakaknya.
"Bunda, Adik! Kakak keatas dulu untuk ganti baju sekalian mandi."
"Iya sayang." Tutur Kania mengusap lembut rambutnya Kenzi.
"Iya akak! abis andi ental ain baleng-baleng ya, Akak." Teriaknya si kembar di kala kakaknya sudah sampai di pertengahan tangga.
Kania melihat ketiga Anaknya yang selalu rukun, membuatnya membuncah bahagia.
"Terimakasih ya Allah." Ucap Kania didalam hatinya.
"Ayo kita mandi sayang! Kakak juga mandi! entar kalau habis mandi kita main bareng lagi sembari menunggu Daddy pulang."
"Les't go Unda."
"Akak Ama, Adik Ila! udah ndak sabal ain ama akak Enzi, Unda! dan ndak sabal uga unggu Daddy-nya ulang kelja."
Kania tersenyum lebar, karena keduanya sangat penurut apa kata Bundanya. Kama yang selalu mengalah kepada Kalila, mungkin karena Kalila Anak perempuan sendiri, jad lebih manja kepada kedua kakaknya, dan Daddy-nya.
Setelah sampai di kamarnya si kembar, Kania mulai membantu melepaskan bajunya satu-satu, tetapi Kania urungkan. Kania ingin mengajari keduanya untuk melepaskan bajunya sendiri. disusul Kalila yang berusaha melepas bajunya sendiri yang nampak sangat kesusahan.
"Cini akak antu, Dik."
Kalila menghampiri kakaknya yang sudah melepas baju atasannya, tinggal celananya yang belum di lepas, karena menunggu Bundanya menyiapkan baju keduanya.
Selesai memandikan si kembar, ketiganya keluar dari kamar berbarengan dengan Kakaknya Kenzi. Mereka berempat turun bersamaan, dan si kembar yang tidak mau di gendong Bundanya ataupun Kakaknya, keduanya ingin berjalan sendiri seperti Bund, dan Kakak.
__ADS_1