Duda Keren Yang Tampan

Duda Keren Yang Tampan
Bab 115


__ADS_3

Hari berganti menjadi hari berikutnya, jarum jam berdetak lebih cepat, berputar bumi pada porosnya. Hari yang di tunggu dua sejoli akan segera tiba, karena besok merupakan akad nikah kedua mempelai akan di selenggarakan di rumah kediaman Yudha Pradipta.


Kedua orang tuanya Yudha sudah berkumpul, dan kakaknya yang dari luar negeri juga sudah pulang ke Indonesia.


Mereka sekarang sedang berkumpul di kediaman Yudha, baik saudara, teman atau sahabat jauh sudah tiba di rumah calon mempelai pria.


Semua persiapan sudah dilakukan dengan sangat baik, baik pemasangan dekorasi, dekorasi akad, dan pemasangan tenda diluar rumah sudah selesai di pasang.


Rumah Yudha di sulap menjadi bak istana negeri dongeng, yang ada di cerita novel-novel yang sering Kania baca.


"Wah! lumah Enzi adinya ebih Kelen." Seru Kenzi takjub melihat rumahnya di hiasi bunga mawar, dan bunga melati yang menurutnya sangat indah.


Kenzi mulai berlari ke sana, kemari dengan kaki mungilnya yang sangat lincah, dan tangannya mulai memegang bunga yang ada di setiap sudut rumahnya sebagai hiasan dekorasi pernikahan Daddy-nya, dan bundanya.


"Sayang! jangan lari-lari nanti jatuh!" Teriak Kania yang merasa was-was melihat Kenzi yang berlari dengan tertawa, tanpa melihat jalan yang dilaluinya.


"Ndak atuh unda! Enzi uda besal cekalang!" Tutur Kenzi yang sedang memasukkan kedua tangannya ke saku celananya, di iringi dengan senyum tipisnya.


"Iya-iya udah besar, tetapi jangan nangis kalau entar jatuh!" Sahut Kania dengan memasang wajah bahagianya melihat tumbuh kembang anaknya yang dulu batita usia 7 bulan, Sekarang tumbuh menjadi batita usia 4,5 tahun yang sangat aktif, dan pintar.


Di usia 4 tahun Kenzi sudah masuk sekolah di Taman kanak-kanak, yang sekolahnya dekat dengan kantor daddy-nya.


Sebagai bundanya, Kania selalu mengantarkannya ke sekolah, menungguinya sampai jam kelasnya selesai. Berkat didikan dari Kania Kenzi tumbuh kembang nya sangat baik walaupun di tinggal Ibu kandungnya usia masih usia 7 bulan.


"Sayang!" Sapa Yudha yang sudah duduk di bangku sebelahnya Kania.


"I..ya..Mas! Ada apa? tanyanya Kania yang menoleh ke Yudha, dan menatapnya intens menunggu jawabannya.


Yudha balik menatap Kania dengan pandangan yang memujanya, dan penuh harap.

__ADS_1


"Mas, ada apa?" tanyanya Kania sembari menggoyang-goyangkan lengan Yudha, karena pertanyaan pertamanya tidak direspon sama sekali.


"Mas iiihhh nyebelin!" Tutur Kania memanyunkan bibirnya, membuat Yudha ingin menerkamnya.


Ehmm....


Suara deheman dari belakang mereka berdua, membuatnya mengurungkan niatnya untuk melanjutkan ke inti ceritanya. Mereka berdua menoleh ke belakang secara bersamaan, melihat Mamanya yang berdiri dengan senyum yang bermakna, membuat Yudha mendengus kesal.


Lagi-lagi acara bermesraannya terganggu oleh mamanya sendiri, "Ada apa, Ma?" tanyanya Yudha sedikit tidak semangat, karena deheman suara Mamanya.


"Mama ingin mengobrol dengan mantu Mama yang cantik ini, bukan sama kamu!" Sahut Mamanya yang tersenyum tipis melihat ekspresinya Yudha yang sedikit masam.


"Nggak boleh! Kania milik Yudha, Ma!" Sahut Yudha yang mengengam tangannya Kania lebih erat, takutnya Mamanya berbuat yang tidak-tidak.


"Tenang saja! Mama cuma ingin mengobrol tentang wanita sesama wanita, tidak ada niat yang lain." Tutur Mamanya dengan tatapan matanya yang lembut, dan mengusap bahu anaknya, bahwa semua akan baik-baik saja.


"Janji! Mama tidak ngapa-ngapain Kania kan!" delikan matanya Yudha yang membuat Mamanya mengedihkan bahunya.


"Iya-iya Yudha pergi! tetapi Mama jangan apa-apain Kania." Tutur Yudha yang khawatir dengan Kania, karena ini kedua kalinya Mamanya berbicara empat mata dengan Kania.


Kania menatap Yudha dengan tatapan yang lebih menyakinkan, membuat Yudha tenang meninggalkan Kania, mengobrol berdua dengan Mamanya.


"Sayang! saya tinggal dulu! Kalau ada apa-apa langsung panggil saya." Tutur Yudha yang masih bisa di dengar oleh mamanya, dan membuat Mamanya sedikit muak sifat Yudha yang sangat posesif.


"Iya." Jawab Kania memberikan senyuman terbaiknya untuk calon suaminya, agar tidak terlalu khawatir.


Setelah kepergian Yudha yang menjauh dari kedua wanitanya, yang membutuhkan waktu tersendiri untuk mengobrol sesama wanita, dan membuatnya sedikit tenang karena Mamanya wanita yang baik, dan sangat mendukung keputusan Yudha untuk menikah lagi.


"Kania...." Sapa Mamanya.

__ADS_1


"Iya ma! Ada apa?" tanya Kania yang masih malu-malu, dan menundukkan kepalanya, dan memainkan kedua tangannya yang saling bertautan.


"Kania! mencintai anak Mama Yudha, dan cucu saya Kenzi?" tanyanya Mamanya untuk memastikan sedikit prasangka buruknya, tentang seliweran omongan orang-orang yang ada di sekitar rumahnya Kania.


Sebelum Yudha memutuskan untuk menikahi Kania, Mamanya Yudha pernah menyewa seorang detektif untuk menyelidiki seluk-beluk kehidupan Kania terlebih dahulu.


Bagi nyonya Pradipta tidak ada yang kurang, Kania adalah wanita yang sangat cantik, hatinya baik, terutama sangat menyayangi cucunya dengan kasih sayang, dan ketulusan selayaknya seorang ibu kepada anaknya.


Sebelum akad di selenggarakan esok hari, nyonya Pradipta ingin lebih tahu, dan dekat dengan calon menantunya.


"Syukurlah kalau Kania mencintai anak Mama, dan cucu Mama! Mama ingin berterima kasih sudah mau menerima anak Mama yang nakal ini, dan menerima cucu Mama dengan ikhlas.


Mama cuma bisa mendoakan semoga kalian bertiga bahagia, dan segera di beri momongan. memberikan Ayah, dan Mama seorang cucu yang cantik, dan ganteng seperti Kenzi.


Mama percaya, kamu wanita yang baik, dan menyayangi Yudha, dan Kenzi dengan kasih sayang, dan ketulusanmu. Karena kamu wanita yang hebat untuk di pertemukan dengan anak Mama, dan cucu Mama.


"Terimakasih Ma, telah memberikan kepercayaan buat Kania." Tutur Kania yang tersenyum dengan sangat tulus, dan tatapan teduhnya memandang calon mertuanya.


"Mama titip anak Mama, dan cucu Mama! Mama sangat menyayangi mereka berdua." Sahut Mamanya, dan memeluk Kania dengan tulus.


"Pelukan ini rasanya seperti pelukan mendiang Mamanya." Kania membatin nya dengan mengusap-usap punggungnya calon Mama mertuanya yang sudah di anggap Mama sendiri bagi Kania.


Setelah mereka berdua selesai mengobrol, dan saling bertukar cerita. Mereka berdua saling menautkan tangannya untuk memberikan kekuatan, karena hari esok adalah masa depan, kemarin adalah masa lalu.


Kania sudah memantapkan hatinya untuk hari esok, yang di mana kehidupan barunya akan di mulai. Menjadi seorang istri, dan ibu sambung untuk anak yang pernah di asuhnya saat usia masih 7 bulan.


"Terima kasih atas nikmat-NYA yang diberikan kepada Kania, dan adiknya. di pertemukan dengan seorang pria yang mau menerima apa adanya dirinya, dan adik semata wayangnya." Kania mengucapkan rasa syukurnya beribu-ribu kalinya.


#Next part akad nikah Yudha, dan Kania.

__ADS_1


dukung terus cerita ini, jangan lupa untuk like, koment, dan votenya ⭐⭐⭐⭐⭐


__ADS_2