
Sebulan kemudian...
Mendekati HPL, Yudha membawa istrinya untuk periksa kandungan, untuk mengetahui pastinya kapan lahir, dan usia kehamilan.
Hari Kamis ini, keduanya berencana untuk mendatangi rumah sakit, yang menjadi langganannya karena Dokternya yang humble, enak kalau dibuat sharing atau sekedar menanyakan keluhan yang di alami istrinya akhir-akhir ini.
Yudha tengah bersiap-siap di kamarnya, sedangkan Kania di kamar Anaknya yang pagi ini sangat manja, apa-apa harus Bunda, tidak mau dengan bibik atau Daddy-nya.
"Kakak kok manja! ada apa, sayang?" tanya Bundanya merapikan rambut Anaknya yang sudah sedikit panjang.
"Au ama Unda aja!" Sahutnya Kenzi yang menyusupkan di ceruk leher Bundanya, dan kedua tangannya merangkul leher Bundanya.
"Iya sama Bunda, tetapi kakak mandi dulu ya!" Ujar Kania yang mengelus punggung Anaknya dengan penuh kelembutan seperti kapas.
"Ndak au! au ama Unda! bobok cini." Tutur Kenzi yang menunjukkan ke tempat tidurnya.
"Kakak kenapa? bilang sama Bunda." tanyanya Kania.
Lagi-lagi Kenzi cuma menggeleng saja tanpa ada kata yang terucap di bibirnya, Kenzi masih betah di ceruk leher Bundanya, yang tidak mau lepas barang sedikit pun.
Ceklek...
Yudha Membuka pintu kamar Anaknya, melihat Anaknya yang sangat manja dengan Bundanya, membuat Yudha sedikit ngilu, membayangkan bila kelak Adik-adiknya lahir nanti.
"Apakah Kenzi bisa menerima Adik-adiknya atau nanti malah cemburu, yang otomatis kasih sayangnya akan terbagi dengan kakaknya." guman Yudha lirih.
"Ikut Daddy yuk! kasihan Bunda capek!" Tutur Yudha yang sudah siap mengangkat Kenzi dari pelukan Bundanya.
"Ndak au! ama Unda aja!" Sahut Kenzi yang semakin mengeratkan pelukannya di leher Bundanya.
Setelah mendengar suara Anaknya, yang mau dengan Bundanya saja membuat Yudha membelokkan badannya untuk keluar kamar, dan menuruni tangga untuk kembali ke taman belakang rumahnya.
"Unda! kepala akak using! inginnya ama Unda telus! Ndak au ama Daddy!" Tutur Kenzi yang memegang kepalanya, dan sedikit merem melek akibat pusing.
Kania mulai meraba dahi Anaknya, dan menempelkan tangannya di dahinya. Setelah merabanya yang sedikit panas, membuat Kania kalang kabut, sedikit berkaca-kaca tidak bisa memperhatikan kesehatan putranya.
Kania sudah meneteskan air matanya, merasa bersalah dengan Anaknya sama sekali tidak merasakan perubahan Anaknya yang signifikan, yang hari ini sangat manja leket banget dengannya, sedetik saja ingin selalu bersama Bundanya.
"Kakak makan dulu ya! Bunda suapin." Tutur Bundanya yang mengusap rambut Anaknya dengan sayang.
__ADS_1
"Nda au! ama Unda aja." Sahut Kenzi dengan kedua matanya terpejam.
Hiks... Hiks...
Jangan sakit, sayang! lihat Bunda! Kenzi menggeleng dengan matanya yang terpejam.
Melihat reaksi anaknya yang diam saja, dengan matanya yang terpejam, dan sangat berat untuk membuka kedua matanya, membuat Bundanya sudah mengeluarkan banyak air mata yang mulai bercucuran di pipinya.
"Kakak bangun."
Kania membopong tubuh Anaknya, untuk menuruni anak tangga kamarnya, tanpa memperdulikan perutnya yang sudah membesar.
"Mas di mana? Kakak sakit, Mas." Teriak Kania di ruang tamu.
"Mas!"
Berulang-ulang Kania memanggil nama suaminya, baru Yudha sedikit berlari menghampiri istrinya dengan mendekap tubuh Anaknya yang tertidur sangat nyenyak.
Setelah mengambil alih Kenzi dari Bundanya, Yudha baru tahu Anaknya yang manja karena suhu tubuhnya sedikit panas.
"Ayo Mas! kita ke rumah sakit memeriksakan Kakak! Bunda takut kakak kenapa-napa." Tutur Kania yang sudah berlinang membasahi pipinya.
Kania berkali-kali mengecup seluruh wajah Anaknya, dan memanggilnya. sungguh kania sangat takut bila kakak sampai sakit yang serius.
"Kakak buka matanya! ini Bunda sayang." bisik Kania yang memangkunya.
Tidak ada respon, Yudha mengemudikan mobilnya seperti pembalap kelas atas, cukup 10 menit mereka sudah sampai parkiran rumah sakit, Yudha membuka pintunya sedikit kasar, dan mengangkat Anaknya tanpa memperdulikan istrinya.
Yudha terus saja berlari untuk ke UGD rumah sakit segera mungkin, supaya Anaknya segera mendapatkan pertolongan.
"Sus...." tolong Anak saya!" Tutur Yudha yang sudah basah air mata di kedua pipinya.
"Silahkan Bapak tunggu di depan! biar Dokter leluasa untuk memeriksanya.
Setelah mengucapkan perkataan, pintu UGD langsung di tutup Suster-nya, satu dokter, dan dua perawat sudah membantu dokternya, untuk memeriksa kondisi Kenzi..
Setelah pintu tertutup, Yudha meluruhkan tubuhnya ke bawah, tanpa memperdulikan orang-orang yang melihatnya yang di pikirkan saat ini Anaknya.
Kania datang dengan memegang perutnya yang membesar, dan sedikit terengah-engah untuk mengimbangi langkah kaki suaminya.
__ADS_1
"Sayang! bangun yuk kita duduk di kursi tunggu." Tutur Kania yang menghampiri suaminya, dan menepuk pundak suaminya yang masih saja tidak bergeming dari duduknya.
Setelah menunggu waktu 15 menit, pintu UGD terbuka menampilkan sosok wanita cantik berjas putih dengan kacamata bertengger di atas jilbabnya.
"Keluarga pasien." Tutur Suster-nya.
"Iya sus! Saya Daddy-nya! ini istri saya." Sahut Yudha yang mulai bangkit dari duduknya, dan mengusap jejak air matanya.
"Ada apa, Sus?" Tanyanya Kania.
"Silahkan masuk Bapak Ibu! ada yang mau di sampaikan sama Dokternya." Ujar Mbak Suster-nya.
Setelah keduanya masuk, dan seorang dokter yang mempersilahkan duduk. Dokter mulia menyampaikan kondisi Anaknya yang sedang tidak baik-baik saja.
"Begini Pak, Buk! Anaknya harus di rawat dulu sampai beberapa hari, yang saya takutkan Anaknya terkena DB." Tutur Dokternya.
"Beruntung membawa Anaknya tepat waktu, kalau tidak saya tidak bisa berbuat apa-apa." Tutur Dokternya.
Setelah mendengar penjelasan Dokternya, dan melihat kondisi Anaknya yang terpasang infus di tangan kanannya. Membuat Kania menitikkan air matanya kembali, rasanya tidak tega Anak seusia Kenzi sudah di pasang infus, dan sangat pulas dalam tidurnya.
Berkali-kali Kania mengecup punggung tangan Anaknya, dan menciumi wajah anaknya.
"Cepat sembuh sayang! Bunda nungguin kakak bangun." bisik Kania.
"Maaf Bapak Ibu! Silahkan mengurus administrasi, dan kamarnya dulu! baru Adiknya di pindah di kamar." Tutur Mbak Suster-nya.
"Baik saya akan urus administrasi! biarkan istri saya tetap di sini menemani Anaknya." Ujar Yudha.
Yudha memutuskan untuk keluar dari ruang UGD, dan melanjutkan berjalannya ke tempat administrasi yang berseberangan dengan UGD.
Kania masih stay di UGD, menemani Anaknya bila sewaktu-waktu terbangun mencari Bundanya. Kania mengengam tangannya, dan mengecupnya tangan yang di pasangin infisnya berkali-kali.
Setelah kembali dari administrasi, Yudha menghampiri istrinya mengecup keningnya lama.
"Maaf! Pasien mau di pindahkan."
Brankar tempat tidur di dorong menuju ke kamar VVIP yang terletak di lantai dasar, dengan gedung yang baru. Yudha meminta ekstra tempat tidur untuk istrinya yang hamil yang sudah mendekati HPL.
Setelah sampai di kamarnya, Kania menselojorkan kedua kakinya yang sedikit bengkak, dan mudah pegal bila berjalan jauh atau berdiri terlalu lama.
__ADS_1