
Keesokan paginya Tom pergi ke kantor dengan raut wajah yang tidak bisa di artikan, wajahnya ceria aura positifnya sangat terasa, wajahnya cerah secerah senyum matahari. Tom memprakirkan mobilnya di tempat pelataran parkir khusus seorang petinggi dan orang penting di Pradipta Group, langkahnya sangat ringan, dan bibirnya selalu tersenyum, siapapun yang lewat pasti akan di sapanya.
Hari ini hatinya begitu berbunga-bunga semenjak kemarin mendapatkan kabar dari orang suruhannya bahwa kekasih hatinya, belahan jiwanya dan ibu dari Anak-anaknya akan pulang ke Indonesia. Betapa tidak bahagianya hari yang ditunggu-tunggu, waktu yang di nantikan, pertemuan yang di harapkan tinggal menghitung hari lagi semua akan indah pada waktunya.
"Selamat pagi pak Tom....." Sapa karyawan Pradipta Group.
"Pagi juga..." Tutur Tom membalas sapaan karyawan dengan seulas senyum tipis.
Karyawan yang melihat sekertaris Pak Yudha tersenyum tipis dan mau menyapa karyawan, membuatnya kaget sampai-sampai ada yang menatapnya kagum, ada tatapan memuja, ada tatapan penuh damba, dan ada yang sampai melongo melihat sekertaris atasannya sangat bertambah tampan berkali-kali lipat hanya dengan sebuah senyuman beda tipis dengan pak Yudha tetapi lebih tampan Pak Yudha, Pak Yudha itu hot Daddy idaman para kaum hawa di kantornya.
Tommy melangkahkan kakinya begitu hati-hati takut ada yang lecet, takut kesempatan ketemu bidadarinya tertunda. Beberapa karyawan yang sedang lewat berlawanan arah dengannya juga Tom Sapa, apalagi pada kubikel karyawan yang sudah berada di tempat duduknya masing-masing tidak luput dari sapaannya Tom.
💚💚💚
"Hai Pak Yudha...." Sapa Tom membuka pintu ruangan atasan tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu.
"Iya, ada apa?" Jawabnya Yudha yang masih sibuk dengan berkas diatas mejanya. Yudha sampai tidak tahu siapa yang masuk ke ruangannya, Yudha lebih fokus pada berkas-berkasnya daripada melihat wajah yang masuk ke ruangannya.
Tom sudah sangat jengkel, sapaannya di abaikan, kedatangannya seperti tidak di butuhkan. Tom memperhatikan Yudha tersenyum kecut, lagi-lagi mood bahagianya langsung hilang melihat bosnya sibuk dengan berkasnya.
"Yudha...." panggil Tom.
"Apa..?" Jawabnya Yudha Mendongakkan wajahnya. Yudha melihat Tommy yang cemberut seperti pantat ayam, membuatnya tersenyum lebar.
"Hahahaha kaya anak perawan saja, pagi-pagi sudah cemberut seperti tidak di kasih jatah makan..." Tutur Yudha meledak Tommy. Tetapi yang di ledek tidak bergeming, bibirnya di tekuk, mukanya yang asam.
"Kamu kenapa sih Tom? datang-datang langsung cemberut." tanya Yudha sesekali ekor matanya melirik pada berkas-berkasnya. Yudha dan keluarga baru saja pulang berlibur ke Bali, satu minggu kantor di tinggal banyak berkas-berkas yang membutuhkan tanda tangannya, alhasil diatas meja sudah sangat numpuk seperti gunung.
"Ini oleh-oleh buatmu..." Yudha menyodorkan tangannya dan memberikan bingkisan buah tangan pulang dari liburan.
"Apaan ini?" tanya Tom dengan mengernyitkan dahinya. tatapan matanya penuh curiga, jangan-jangan daster emak-emak lagi, kan Bali terkenal dengan karya kerajinan tangan.
__ADS_1
"Makasih bosku yang tidak pelit..." Tutur Tom dengan memberikan senyuman manis, tetapi sangat di paksakan.
"Apa jadwalku hari ini, Tom?"
"Hari ini ada meeting dengan perusahaan X jam 09.00 wib dan ada jamuan makan siang di restoran Y dengan perusahaan K..." Tommy menjelaskan panjang lebar, menjelaskan beberapa pertemuan yang tertunda semenjak Yudha cuti satu minggu.
Setelah memberitahu jadwal hari ini kepada Yudha, Tommy kembali ke meja kerjanya, membuka ponselnya tertera foto Aira dan Intan sebagai wallpaper di layar ponselnya. Tom memejamkan matanya sejenak, mengingat pertemuan beberapa bulan yang lalu di Singapura, membuatnya tersenyum sendiri.
💚💚💚
Keesokan paginya Intan sudah bangun terlebih dahulu, Intan sudah mengerjakan beberapa pekerjaan rumah tangga, sebelum Aira bangun Intan sudah selesai memasak dan bersih-bersih rumahnya.
Semua menu makanan sudah ditata rapi di meja makan, menu kesukaan Aira dan tentu harus ada sayur dan buah. Selesai menatanya dan di tutupi dengan tudung saji, Intan bergegas meninggalkan dapur, dan masuk ke kamarnya untuk melihat Aira-nya sudah bangun apa belum?
Memasuki kamarnya, senyumnya Intan langsung terbit melihat Aira sudah bangun dan mengucek-ngucek kedua matanya. Intan jadi gemas sendiri dengan Aira, rambut yang acak-acakan dan pipinya yang gembil yang membuat tidak bisa, kalau tidak menciumi pipinya.
"Cup... Intan mengecup pipi gembil-nya Aira."
"Ma...Ma..." Sapa Aira dengan muka bantalnya dan kedua matanya yang belum terbuka semuanya.
"Mandi dulu ya."
"Aira mengangguk, iya Ma."
Setelah memandikan Aira dan mendandaninya, Intan membawa Aira ke ruang tamu, Intan mulai menyalakan televisi kartun kesukaannya Aira.
"Aira, mama tinggal mandi dulu ya."
"Iya Ma, Aila nunggu Mama di cini."
"Iya sayang." Intan mengecup keningnya Aira.
__ADS_1
Tidak membutuhkan waktu lama untuk Intan membersihkan dirinya dan bersiap-siap untuk berangkat ke kantor, dan tidak lupa satu berkas surat pengunduran dirinya.
Dirasa penampilannya sudah rapi, Intan keluar kamarnya menghampiri Aira-nya yang asyik dengan acara kartun di televisi, sampai tidak tahu Mama Intan sudah berada di sebelahnya.
"Mama kok ndak ilang-ilang, alau Mama udah di cini sih." Tutur Aira yang mukanya sedikit cemberut.
"Ingin rasanya Intan menciumi pipi gembil-nya Aira yang nampak begitu menggemaskan." batinnya Intan.
"Aira kan lagi asyik nonton kartun, jadi Mama tidak tega mengganggu keseriusan Putri Mama yang cantik ini!" Ujar Intan menjelaskan dengan tersenyum.
"Hehehe Aila lupa, alau asyik lihat kaltun, Ma." Sahut Aira yang menyengir melihat deretan giginya yang ada yang belum tumbuh lengkap.
Setelah drama di ruang tamu Intan dan Aira, kini mereka berdua sudah duduk di meja makan. Aira duduk di sebelah Mamanya, hari ini Aira sarapan dengan lahapnya, sesekali Intan menyuapkan ke dirinya sendiri dan beralih ke Aira.
Selesai makan Intan mencuci piring kotornya, dan membereskan semuanya. Setelah selesai baru Intan mengambil tas dan berkas di kamarnya, di rasa sudah beres mereka berdua meninggalkan rumah dan menitipkan Aira ke Nenek Salma.
"Nek, titip Aira lagi ya." Ucap Intan sedikit sungkan.
"Maaf ya, Nek kalau suka ngerepotin." kata Intan sedikit tidak enak hati.
"Enggak pa-pa, nenek tidak merasa di repot-kan, nenek sudah menganggap Aira seperti cucunya nenek." sahut nenek Salma dengan memberikan senyuman tulus dan sangat keibuan.
Setelah menitipkan Aira di rumah Nenek Salma, Intan berpamitan untuk berangkat bekerja. Intan pagi ini memesan taksi karena waktunya sudah mepet, sampai di tempat kerja. Intan berlari kecil untuk sampai ke ruangannya, mendudukkan dirinya di kursi sembari menarik nafasnya dan membuangnya.
**Dukung autthor melalui pusat misi
Dengan cara di bawah ini
Like
vote
__ADS_1
💚 Tidak ada yang sempurna, kesempurnaan hanya milik Allah SWT, jika goresan autthor belum sebagus tulisan yang sudah profesional, mohon di maklumi ya, autthor masih dalam tahap belajar, semua membutuhkan proses untuk jam terbang 💚
Selamat beraktivitas saja teman-teman**