
Malam harinya Resepsi pernikahan Yudha, dan Kania di selenggarakan di badroom Hotel Pradipta, yang merupakan Hotel milik keluarga Pradipta.
Yudha, dan anaknya Kenzi mengenakan tuxedo warna turquis, dan diikuti Kania mengenakan gaun yang senada warnanya dengan suami, dan anaknya.
Kania tersenyum hangat melihat adiknya yang malam ini sangat cantik, dengan gaun merah mudanya yang senada dengan keluarganya yang berada di Semarang.
Keluarga Yudha mengenakan pakaian dengan warna grey, yang ikut seragam juga dengan keluarga besar Pradipta.
Kedua keluarga memilih seragam yang berbeda, karena menurut keduanya perbedaan itu indah bila kita saling menghargai, dan menghormati satu dengan yang lainnya.
Yudha, dan Kania sibuk bersalamab dengan tamu undangan yang sudah pada mengantri untuk sekedar mengucapkan selamat, dan bersalaman dengan kedua mempelai.
"Sayang! tamunya masih banyak ya?" Bisik Kania tepat di telinganya suaminya.
"Lumayan!" Jawab Yudha sekenanya.
Kania memanyunkan bibirnya, dan sedikit rasa tidak nyaman nya karena suasana malam ini sangat tidak bersahabat cuacanya walaupun Hotelnya sudah berbintang yang fasilitas tidak sembarangan.
"Jangan memanyunkan bibirmu seperti itu sayang! membuat saya tidak sabar untuk membawamu ke kamar, dan melanjutkan kegiatan yang tertunda tadi!" bisiknya Yudha menerpa wajahnya, membuatnya merinding bulu kuduknya.
"Aauuuhh" Kania mencubit perut suaminya, dan rasanya pedas seperti cabai.
Kania sedikit kelelahan karena berdiri dengan mengenakan high heels. Sesekali Kania mengelap peluh keringat di dahinya.
Yudha mengajak Kania untuk duduk kembali setelah tamunya cukup sepi, dan memberikan air minum, untuk di minumnya.
"Capek sayang!" Tutur Yudha sembari membantu mengelap keringat di sekitar dahinya.
"Kania menjawab dengan mengangguk-anggukkan kepalanya, dan berusaha untuk tersenyum supaya suaminya tidak terlalu mengkhawatirkannya."
"Daddy, unda." Teriakan Kenzi menjadi pusat perhatian tamu undangan, dan keluarganya yang geleng-geleng melihat tingkah menggemaskan nya.
"Iya sayang! udah makan sama apa? kok belepotan seperti ini?" tanya bundanya yang membersihkan wajahnya dengan sisa noda makanan di sekitar bibirnya.
"Mam esklim, kue, telus akso unda!" Tutur Kenzi menghafal nama makanan, yang telah di makan tadi dengan menghitungnya menggunakan jari-jari tangan kecilnya.
__ADS_1
"Jagoan bunda tambah pintar banget." Sahut bundanya dengan mengecup bibir singkat, dan mengacak-acak rambutnya.
Yudha, dan Kania berdiri kembali tamu undangan yang akan berpamitan pulang, dan ucapan selamat atau sekedar rasa terima kasih telah hadir di pernikahan pemilik Pradipta Group.
Yudha mengendong Kenzi, dan mengandeng tangan Kania untuk berjalan di sampingnya, dan mengikuti langkah suaminya berjalan, dan berbaur dengan tamu undangan dari kolega bisnisnya, dan sedikit mengobrol tentang kerjasama maupun masalah pribadi.
"Silahkan menikmati!" Tutur Yudha kepada tamu undangan yang sudah hadir memberikan doa restunya, untuk pernikahan yang keduanya.
Banyak tamu undangan yang datang silih berganti, dan mereka sedang menikmati hidangannya yang di sajikan di meja prasmanan.
Jam berputar sangat cepat, Kenzi tertidur di pelukan daddy-nya yang sedang duduk selesai menyalami tamu-tamunya.
Tamu undangan sudah meninggalkan hotel tempat resepsi pernikahannya, tinggal sanak saudara, dan keluarga yang masih stay di hotel karena mereka menginap, dan pergi ke kamar hotel yang telah di pesannya.
Lima jam resepsi pernikahan Yudha, dan Kania di Hotel Pradipta menjadikan kedua mempelai menjadi raja, dan ratu dalam satu hari.
"Dara, titip Kenzi ya! biar malam ini tidur sama kamu!" Tutur Yudha.
"Siap kak." Jawab Dara dengan semangat.
"Siapa yang mandi duluan Mas?" tanya Kania melepas hijabnya, dan membersihkan makeup di wajahnya.
Kania melirik sekilas suaminya lewat cermin kaca di depannya, dan memperhatikan tubuhnya yang sixpack. Membuat Kania menelan ludahnya dalam-dalam, dan memalingkan wajahnya untuk menghilangkan rasa malunya.
"Kamu dulu sayang! Saya ingin rebahan dulu sebentar." Sahut Yudha yang sudah melepas baju, dan celananya, dan meninggalkan celana boxer kesukaannya.
Yudha menghampiri Kania yang sedang duduk di depan cermin, dan memeluk istrinya dari belakang.
Mulai mengendus-endus leher istrinya, dan mengecupnya bertubi-tubi hingga menimbulkan warna keunguan.
"Aakhh Mas" Kania sudah bergerak gelisah dengan aksi suaminya.
Yudha membalikkan badan istrinya, dan langsung ******* bibir istrinya memberikan gigitan-gigitan kecil. Kania membuka matanya, dan membuat terpaksa membuka mulutnya. Yudha pun terus melahap bibir istrinya, dan menginvasi rongga mulut sang istri.
Mereka berdua seperti pasangan yang haus, dan sangat merindu. Karena Yudha 4,5 tahun berpuasa semenjak istrinya pergi meninggalkannya.
__ADS_1
"Yudha....." Suara Kania merintih ketika suaminya melepas pagutan bibirnya mereka yang saling bertukar saliva.
Yudha memberi celah ke Kania untuk menghirup oksigen yang dibutuhkan oleh tubuhnya.
Sebelum memulai permainan berikutnya, wajahnya Yudha penuh damba, begitupun Kania yang sudah terpancing awal permainan suaminya.
"Sayang! Mas sudah tidak tahan lagi." bisik Yudha.
"Apa kamu siap, sayang? memberikan harta paling berharga untuk Mas? tanya Yudha menghapus peluh di dahinya Kania.
Kania tersenyum, dan mengangguk "Kania siap sayang..." Kania mengelus rahang suaminya, dan memberikan keyakinan bahwa Kania siap melayani Yudha suaminya.
"Kalau ada yang tidak nyaman atau sakit? kamu bilang ya, sayang?" tanya Yudha kembali dengan tatapan matanya penuh gairah.
Yudha merebahkan tubuh istrinya diatas tempat tidur dengan pelan-pelan, dan tangannya mulai bergerilya sesuai instingnya, dan memberikan kecupan di wajah istrinya.
Lehernya Kania tidak lepas dari kecupan bibirnya Yudha yang terus saja bergerak lincah, dan memberikan tanda merah di sekitar lehernya.
Resleting gaun pengantin pun tak luput dari tangan nakal suaminya, yang bergerak begitu pandai untuk menyusup ke dalam, dan siap untuk meloloskan gaunnya.
"Sayang! bangun dulu, Mas mau buka ini?" bisik Yudha yang nafsunya sudah di ubun-ubun.
Setelah membuka gaun istrinya, Yudha kembali merebahkan tubuh istrinya diatas tempat tidur, dan mulai menindih tubuhnya. Tangan Yudha meremas-remas gunung kembar kesukaannya, dan memilin-milin ujungnya yang semakin lama semakin mencuat keluar.
Yudha memandangi tubuh istrinya tanpa sehelai benangpun. Membuat Yudha semakin gemas ingin segera menerkamnya, dan membiarkan Kania meneriakkan namanya.
"Siap sayang!"Tanya Yudha kembali.
Kania menganggukan kepalanya, dan tersenyum tulus "Miliki Kania seutuhnya suamiku..." Ucap Kania sangat lembut menatap penuh minat, karena nafsunya sudah seperti di puncak bukit.
Wajah tegang sudah nampak jelas di keduanya, terutama untuk Kania karena ini yang pertama baginya. Suara decitan salivanya yang saling bertukar menjadi satu kesatuan untuk mencapai surga dunia bersama.
"Aakhhhh...." suara teriakan Kania sebagai tanda penyatuan kedua insan manusia yang saling mencintai untuk merengkuh kenikmatan di puncak tertinggi.
#Autthor skip ya bingung mau melanjutkan.
__ADS_1
#Adegan 18+ nya.