
Kedua tangan yang berlawanan jenis masih saja saling bersalaman, Intan tidak berani Mendongakkan keatas, wajahnya terus saja melihat ke bawah. Menurutnya yang di bawah lebih indah, daripada harus menatap pria di depannya.
Mendengar suara Aira-nya, Intan buru-buru menarik tangannya dari genggaman Tommy, pria yang disebut Aira-nya Om ganteng-nya. Intan menundukkan kepalanya sembari tangannya ikut meremas-remas ujung dressnya. Hatinya bergemuruh kencang, detak jantungnya berpacu sangat cepat. Tangannya meraba-raba dadanya yang semakin meningkat irama kerja jantungnya, membuatnya bergerak gelisah.
"Uhhh menyebalkan pria di depanku ini." batinnya Intan.
"Kenapa jantungku berdetak sangat cepat seperti genderang mau perang." Ucap Intan meraba-raba dadanya yang tidak kenapa-kenapa, hanya detaknya yang tak biasa. Itu semua hanya di ucapkan lewat batinnya, tanpa berani mengungkapkan secara langsung.
"Siapa pria ini? sepertinya pernah kenal tetapi di mana ya kok Intan suka lupa ya." Intan membatin.
Intan diam sejenak untuk flashback, tetapi ingatannya sangat lemah, membuatnya memijat pelipisnya mencoba mengingat masa yang kemarin.
"Mama tenapa? akit?" tanya Aira yang begitu sangat khawatir dengan perubahan mimik wajah Mamanya.
"Enggak sayang." Jawabnya sedikit tersenyum tetapi di paksakan. Intan merubah ekspresinya tidak ingin membuat Aira-nya khawatir dan berusaha untuk tersenyum walaupun Senyum tipis.
"Pria di hadapanku seperti pernah kenal, tetapi dimana ya kok lupa! ayo Intan di ingat-ingat masa masih muda sudah punya sifat pelupa." Batinnya Intan bermonolog dengan dirinya sendiri.
Intan menggeleng-gelengkan kepalanya, mencoba untuk mengingat masa lalu, tetapi sulit untuk di ingat. Berulang-ulang mengingat kepulangannya ke Indonesia, hanya satu nama seseorang yang selalu Intan sulit untuk lupa yaitu Yudha Pratama Pradipta CEO Pradipta Group.
"Mama tenapa? hiksss... Aila ndak au Mama atit, ental Aila ama ciapa? hanya Mama yang Aila unya." Tutur Aira yang sudah bercucuran air matanya. Aira menangisi Mamanya yang diam tanpa kata, setelah perkenalan dengan Om hanteng-nya.
"Hussstt...! Mama ndak apa-apa sayang." Ujar Intan mengusap air mata Aira-nya dan memeluknya sangat erat. Bertubi-tubi Intan menghujani ciuman di seluruh wajah Aira-nya.
"Benelan Mama ndak atit?" Tanya Aira Mendongakkan wajahnya untuk menatap ke manik mata Mamanya. Aira ingin melihat dari kedua mata Mamanya, yang tidak ada kebohongan sama sekali.
"Lihat ini Mama sehat, Mama bisa tertawa bareng Aira." Tutur Intan tersenyum sangat lebar dan tertawa menertawai Aira-nya yang bengong melihat Mamanya.
__ADS_1
Intan tidak sadar kalau gerak-geriknya di perhatikan seseorang yang menatapnya tajam, dan tidak menyadari bahwa dia duduk dengan seorang pria yang duduknya tepat di depannya.
Mereka terus saja bercanda dan tertawa, tanpa menghiraukan seseorang yang melihatnya sangat tajam setajam silet. Menurut keduanya yang lain ngontrak, hanya ada Mama Intan dan Aira-nya.
***
Tommy gemas sendiri melihat ekspresi Intan yang ling-lung seperti tidak kenal dirinya, walaupun Tommy sudah menyebutkan nama lengkapnya tetapi di tanggapi biasa saja olehnya.
"Fickk..!" Tommy menghela nafasnya dan membuangnya pelan-pelan. Berharap ini hanya mimpi, ketika bangun nanti Tommy sangat berharap Intan mengenalnya.
"Apa Aira Anakku? wajahnya mirip denganku versi perempuan, senyumnya persis sebelas duabelas dengan Mamanya." Guman Tommy di dalam hatinya.
Tommy tidak berani mengungkapkannya di depan Aira, takut Aira-nya salah paham dan Intan belum bisa menerima kenyataan yang sesungguhnya bahwa Aira adalah darah daging-ku, ada darah yang mengalir di tubuhnya Aira darah keturunan keluarga Wijaya.
Semuanya butuh proses dan penyelidikan yang akurat, Tommy tidak mau gegabah mengambil keputusan takut bila yang di maksud tidak sesuai ekspektasi-nya. Pelan-pelan dirinya akan mencari bukti yang kongkrit, Tommy tidak mau Anaknya tidak mengakuinya sebagai Papa-nya. Dan tidak mau Anaknya tumbuh tanpa kasih sayang seorang Papa.
Tommy berharap Aira-nya darah dagingnya, benih yang di tanam di London berbuah hasil.. Pertama kali melihat gadis kecilnya, Tommy sudah jatuh cinta pada pandangan pertama. Senyumnya mengingatkan dengan seseorang perempuan, perempuan yang di carinya untuk beberapa bulan terakhir ini.
***
Ketiganya hening tidak ada yang mau berbicara duluan, biasa Aira cerewet menanyakan ini itu, tetapi berbeda wajahnya sudah kelihatan capek, kedua matanya yang sayu, berkali-kali sudah menguap.
"Aira mau makan apa? atau minum apa mungkin es krim?" Tutur Tommy menawarkan berbagai menu makanan dan minuman. Tommy berharap Aira mau menerima tawarannya dan bisa lebih lama ngobrol dengan Intan dan Aira.
"Ndak au Om? Aila udah antuk, Aila au bobok aja." Jawabnya Aira yang sudah tinggal lima what. Matanya sudah mulai terpejam, tangan kecilnya sudah minta di pangku Mamanya.
"Aila antuk, ayo pulang Ma! Aila au bobok di lumah." Tutur Aira yang membuka matanya, tetapi pandangannya sudah sayu.
__ADS_1
"Kalau mau pulang, Aira pamit dulu sama Om ya!" Sahut Intan menasehati Aira.
"Aila Puyang duyu Om, maacih udah nolong Aila ketemuin ama Mama! Aila seneng dech!" Ujar Aira dengan wajahnya yang berbinar bahagia.
"Iya sayang." Tommy mengecup seluruh wajah Aira. Selamat bobok princesnya Om yang tidak kalah cantik dengan Mamanya.
"Om sangat sayang Aira." Ucap Tommy tepat di hadapan kedua perempuan yang di cintai dan sayangi.
Setelah berpamitan dengan pria bernama Tommy, Intan bergegas meninggalkan tempat Foodcourt dengan mengendong Aira yang sudah terkantuk-kantuk. Intan memesan taksi online, tidak sampai sepuluh menit takssi sudah datang, berhenti tepat di depannya Intan.
"Dengan ibu Intan?" tanya sopir taksinya.
"Iya Pak saya sendiri." Jawabnya Intan.
"Mari Buk, saya sopir taksi yang ibu pesan."
"Iya Pak." Ucap Intan sembari memasuki mobil taksi online yang di pesannya.
Mobil taksinya berjalan sangat kencang, sore ini jalanan sangat lengang, jadi memudahkan pengemudi taksi cepat sampai tujuan. Intan bernafas lega, akhirnya tiba di rumahnya dengan selamat.
Setelah membayar ongkos taksi, Intan mengendong Aira yang sudah bobok di dalam mobilnya. Belum sempat Intan membuka pintu rumahnya, datang nenek Salma yang nampak begitu khawatir, karena jam segini Intan dan Aira baru nyampek rumah.
Intan membawa Aira ke kamarnya untuk di bobokkan, dan kembali ke ruang tamu yang masih ada nenek Salma.
"Ada apa, Tan?" tanya nenek Salma.
Intan menceritakan secara detail awal mula hilangnya Aira dan di temukan dengan seorang pria yang merupakan ayah kandung Aira. Nenek Salma terkejut mendengar cerita Intan, dan langsung bisa mengubah ekspresinya.
__ADS_1
"Nek, Intan takut kalau Aira di ambil Papa-nya." Tutur Intan yang sudah menangis dan memeluk Nenek Salma.
"Sabar, Nak pasti ada jalan terbaik tidak harus mengorbankan Aira." Sahut nenek Salma mengusap lembut punggungnya Intan.