
"Mommy!" Teriak Alexa berhambur dalam pelukan Sweet dengan keadaan menangis. Tentu saja Sweet terkejut. Ia pun langsung menatap suaminya untuk meminta jawaban.
"Dia katakutan saat bianglala itu berhenti dan posisi kami di atas. Dia pikir tak bisa turun lagi." Jelas Alex yang memahami arti tatapan istrinya. Sweet yang mendengar itu tertawa renyah. Sedangkan Alexa semakin mengencangkan tangisannya.
"Ya ampun, lucu banget sih putri cantik Mommy. Sudah dong jangan nangis lagi, kan sekarang Lexa sudah ada di bawah." Ujar Sweet mencoba menenangkan putrinya.
"Lexa tidak mau naik itu lagi, itu sangat mengerikan, Mom." Lirih Alexa terisak. Sweet memeluk Alexa dengan erat. Gadis itu masih menangis sesegukan.
"Sudah Kakak katakan itu mengerikan, kamu sih tidak percaya. Sekarang merengek dan menangis." Ledek Arel.
Tangisan Alexa pun semakin kencang mendengar itu. Ia tak terima jika Arel meledeknya.
"Sudah, sebaiknya kita lanjut berkeliling. Jangan menangis lagi, Sayang. Sini Daddy gendong." Alex membawa putrinya dalam gendongan. Alexa membenamkan wajahnya di ceruk leher Alex sambil terisak.
"Ayok, Sayang." Ajak Sweet pada kedua putranya, mereka pun kembali melanjutkan perjalanan.
"Cotton candy." Seru Sweet saat melihat penjual gula kapas. Dengan penuh semangat ia membawa anak-anaknya ke sana. Alex pun cuma bisa mengekor di belakang.
"Tuan, aku mau lima. Tapi yang baru ya?" Pinta Sweet dengan berbinar.
"Harap menunggu, Nyonya. Cotton candy milik Anda akan segera meluncur." Sahut sang penjula dengan senyuman ramah.
Dengan penuh kesabaran Sweet menunggu jajanan itu selesai.
"Mom, apa itu enak?" Tanya Arel karena sebelum ini ia tak pernah melihat jajanan seperti itu. Sejak dulu, Sweet memang sangat jarang membawa mereka main. Karena dirinya sibuk bekerja. Dan itu adalah penyesalan terbesarnya. Namun semua itu terobati sudah, karena pertemuan kembali dengan sang suami membuat kehidupannya berubah menjadi lebih berwarna.
"Kamu harus mencobanya lebih dulu, lalu boleh komentar seperti apa rasanya." Sahut Sweet.
"Ini Nyonya, dua lagi masih dalam proses." Kata sang penjula memberikan tiga tangkai gula kapas pada Sweet. Dengan senang hati Sweet menerimanya.
"Lexa mau, Mom." Rengek Alexa mengulurkan tangannya. Sweet pun memberikan satu tangkai gula kapas itu pada putrinya.
__ADS_1
"Dan ini untuk kalian," kata Sweet memberikan iti pada kedua putranya. Arel memperhatikan makanan unik itu dengan seksama. Lalu mencicipinya dengan ragu. Dan sedetik kemduian matanya berbinar.
"Rasanya enak, Mom. Boleh minta satu lagi?"
"Kamu bisa minta sendiri pada Paman itu." Sahut Sweet. Arel pun mengangguk antusias.
"Uncle, aku mau satu lagi dengan ukuran yang besar." Pinta Arel dengan penuh semangat. Alex dan Sweet yang melihat itu tertawa renyah.
Setelah puas berkeliling, Alex membawa keluarga kecilnya untuk pulang. Karena terlalu lelah, ketiga anak-anaknya tertidur dalam perjalanan pulang.
"Mas, sepertinya mereka sangat puas bermain malam ini." Ucap Sweet melihat ke arah anak-anaknya yang tertidur pulas.
"Tentu saja, mereka terus berlari ke sana kemari seakan tempat itu milik mereka bertiga."
"Hm. Aku juga bahagia saat melihat mereka terlihat ceria. Jadi tidak sabar melihat Baby lahir, sepertinya ia juga akan sangat bahagia karena memiliki banyak Kakak."
Alex tersenyum dengan sebelah tangan terulur untuk mengelus perut Sweet. "Dia akan menjadi penyempurna kebahagiaan kita. Aku harap kita bisa terus berkumpul bersama sampai akhir hayatku. Melihat mereka tumbuh bersama dan melanjutkan kehidupan baru."
"Love you to, Mommy and my lucky baby."
***
"Bian." Panggil Mala berdiri di ambang pintu ruang kerja suaminya.
"Ya?" Sahut Bian tanpa melihat lawan bicaranya. Mala yang melihat itu sangat kesal dan bergegas menghampiri suaminya. Sudah satu jam lebih Bian sibuk dengan pekerjaan. Padahal beberapa jam lagi mereka akan melakukan penerbangan menuju pulau Jeju.
Mala yang merasa diabaikan pun duduk di atas pangkuan suaminya. Dan itu berhasil membuat Bian terkejut. Lelaki itu menyandarkan tubuhnya di kepala kursi. Lalu tatapan mereka pun saling mengunci satu sama lain.
"Bian."
"Ya, Sayang?" Sahut Bian seraya mengusap pipi istrinya. Mala menatap Bian penuh arti.
__ADS_1
"Sayang, sepertinya kita tidak bisa pergi ke pulau Jeju." Kata Mala dengan tatapan sendu. Bian yang mendengar itu merasa kaget.
"Apa yang terjadi? Kamu sakit?" Bian terlihat panik. Ia menyentuh kening istrinya untuk memastikan wanita itu baik-baik saja.
"Aku sama sekali tidak sakit, Bian." Mala meraih tangan suaminya yang masih menempel di kening. Lalu memindahkan tangan Bian ke perutnya yang rata. "Dia sudah datang lebih dulu."
Bian yang masih belum mengerti pun memberikan tatapan bingung. "Aku hamil Bian, ini buktinya." Mala menunjukkan test pack dengan dua garis didalamnya. Sontak Mata Bian pun melotot. Dengan gerak cepat ia merebut benda itu.
"Apa aku sedang mimpi?" Tanya Bian masih tak percaya dengan kejutan pagi ini.
"Kamu tidak mimpi, Honey. Ini kenyataan, tiga minggu aku terlambat haid. Kamu akan menjadi seorang Ayah." Jelas Mala dengan senyuman lebar sembari mengusap pipi suaminya. Bian yang mendengar itu langsung memeluk Mala dengan erat. Sebulir air bening berhasil membasahi pipinya.
"Terima kasih, terima kasih ya Allah. Ini kejutan terindah." Ucap Bian mengecupi pucuk kepala istrinya. "Aku sangat bahagia Mala, ternyata dia hadir lebih cepat dari bayanganku."
"Aku juga bahagia, Honey. Aku akan menjadi seorang Ibu. Aku sangat bahagia karena bisa merasakan kehamilan lagi." Ujar Mala dengan air mata yang berlinang.
Bian mendorong tubuh Mala perlahan, lalu menangkup wajah cantik itu dengan lembut. Bian mengecupi kedua mata istrinya yang sebentar lagi akan menumpahkan air mata kebahagiaan. "Kita harus mengabari yang lain. Mereka pasti bahagia mendengar ini. Apa lagi Nenek yang sudah lama menunggu kabar baik ini."
Mala mengangguk pelan. "Sebaiknya kita ke rumah sakit, untuk mengecek usia dan perkembangannya. Aku tidak mau terjadi sesuatu padanya."
Bian mengangguk antusias, lalu mengangkat tubuh Mala untuk duduk di atas meja. Ia menghadiahi sebuah kecupan hangat di perut sang istri. Mala tersenyum bahagia. Ia amat sangat bahagai karena bisa memiliki suami penuh kasih sayang seperti Bian. Beruntung ia tak menolak lelaki itu. Jika itu terjadi, mungkin akan menjadi penyesalan terbesar dalam hidupnya. Mala sudah mengubur masa lalunya dalam-dalam. Dan menyambut masa depan bersama suaminya saat ini. "Kami mencintaimu, Papa."
Bian mengangkat kepalnya. Menatap wajah sang istri penuh cinta. "Papa juga mencintai kalian. Terima kasih, Sayang. Kamu selalu menaburkan kebahagiaan dalam hidupku."
Mala tersenyum tulus dan kembali duduk di atas pangkuan Bian. Memeluk lelaki itu dengan penuh perasaan. "Jangan pernah berhenti untuk mencintaiku, Bian. Karena saat ini cintamu sudah menjadi candu untukku. Aku sudah terbiasa dengan semua sikap manismu. Aku ingin terus hidup bersamamu, sampai maut yang memisahkan kita."
"Aku akan selalu mencintaimu, istriku. Karena amat sulit untuk mendapatkanmu sampai tahap ini. Aku tak akan menyia-nyikan pemberian-Nya yang begitu berharga. Hanya maut yang akan memisahkan kita."
Bersambung.....
Guys selagi nunggu ceritaku update, sebaiknya kalian bantu ramein cerita teman aku ya... dijamin seru kok ceritanya. Oh iya, jangan lupa sarannya ya. Soalnya dia baru pertama kali masuk ke dunia imajinasi... mohon dukungannya ya teman-teman 🙏🏻
__ADS_1