Istri Yang Dingin

Istri Yang Dingin
Season 3 (20)


__ADS_3

"Jelaskan padaku, Al." Pinta Sabrina saat mereka tiba di hotel. Ibu tiga anak itu menatap suaminya penuh selidik.


Arez duduk di tepi ranjang, lalu membuka jaket. Ditatapnya sang istri lamat-lamat. "Duduklah."


"Aku ingin jawabanmu sekarang, Al."


Arez mengangguk. Kemudian ia pun mulai menjelaskan semua kejadian yang sudah Eveline lewati. Termasuk penculikan yang Lucas lakukan tempo lalu.


Tentu saja Sabrina terkejut. "Lucas melecehkan Eveline dan kau diam saja, Al? Apa karena dia keponakanmu karena itu kau melindunginya? Ya Tuhan, jadi selama ini kalian membodohiku?"


"Bukan seperti itu, Sab."


"Lalu kenapa?" Bentak Sabrian mulai frustasi.


"Eveline juga mencintai Lucas, Sab. Semua kejadian ini adalah permainannya."


"Apa?" Kaget Sabrina yang langsung terduduk di kasur.


"Sejak dulu Eveline mencintainya, hanya saja dia menutupi itu dari semua orang termasuk dirinya sendiri."


Napas Sabrina tercekat mendengar kenyataan itu.


"Eveline tahu cintanya tidak akan disetujui. Dia mengubur semuanya, Sab. Apa kau tahu alasan dirinya meninggalkan kota ini?"


Sabrina tidak mampu menjawab. Bahkan dirinya tidak tahu soal perasaanya sang putri.


"Itu dia lakukan hanya karena ingin menghindari Lucas. Dan menutup diri untuk Lucas. Dia tahu perasaannya itu hanya akan menyakiti dirinya sendiri juga hati Lucas."


"Bagaimana ini bisa terjadi, Al? Eveline tidak mungkin bersama dengan Lucas."


"Aku tidak keberatan, Sab. Jika itu untuk kebahagiaan putriku."


"Lalu bagaimana dengan Mommy dan keluarga yang lain?" Bentak Sabrina.


"Kita akan membicarakan ini setelah Lucas sembuh."


"Ya Tuhan, apa ini balasan untuk keluarga kita, Al? Kita terlalu banyak dosa di masa lalu. Dan anak-anak kita yang harus menanggung semuanya."


Arez menarik Sabrina dalam dekapan. "Biarkan Tuhan yang menjawab semuanya, Sab. Kita lihat apa yang akan putrimu lakukan. Dia akan tetap dengan pendiriannya atau meyerah."


Sabrina mengangguk dan terus menangis dalam dekapan Arez.


Di rumah sakit, Eveline tidak bisa tidur karena terus memikirkan Lucas. Sampai suara pintu terbuka berhasil menarik perhatiannya. Dan ternyata itu Claire. Ya, gadis itu sejak tadi keluar dan entah pergi ke mana.


Tunggu! Kenapa Claire membawa kursi roda?


"Claire?" Eveline langsung duduk.


"Shhtt... ayo keluar. Kau ingin bertemu dengannya kan? Aku sudah tahu di mana dia di rawat." Claire mendorong kursi roda ke arah Eveline. "Cepat, sebelum Kakakmu memergoki kita."


Mendengar itu Eveline pun bergegas turun dari brankar. Dan Claire pun membantunya. Beruntung Eveline tidak diinfus. Jadi memudahkan mereka untuk bergerak.


"Pakai maskernya." Claire memasangkan masker pada Eveline yang entah di dapat dari mana. Eveline tidak ingin mempermasalahkan itu. Karena saat ini ia sudah tidak sabar untuk bertemu Lucas.


"Terima kasih, Claire."

__ADS_1


"Dalam persahabatan tidak ada kata terima kasih." Tanpa banyak bicara lagi Claire membawa Eveline pergi dari sana.


"Claire, apa dia benar-benar koma?"


"Aku tidak terlalu memperhatikannya, wajahku kan sudah dikenali Kakakmu. Jadi aku bersembuyi agak jauh. Jadi tidak kelihatan terlalu jelas."


"Aku tidak akan memaafkan diriku sendiri jika terjadi sesuatu padanya." Gumam Eveline masih bisa didengar oleh Claire.


"Eve, kenapa kau lakukan semua ini?" Tanya Claire. Sontak Eveline pun mendongak.


"Apa maksudmu?"


"Kenapa kau lakukan semua permainan bodoh ini, Eve?"


"Apa yang kau bicarakan?" Wajah Eveline berubah datar.


Claire tersenyum kecut. "Aku tahu sejak awal kau memacari Kakakku karena alasan lain. Kau tidak pernah mencintainya, dan aku rasa kau memang sudah tahu siapa Summer bukan?"


Eveline tidak menjawab.


"Kenapa kau permainkan semua orang, Eve? Karena ulahmu Summer dan Ibunya harus mati. Meski mereka memang jahat, tapi bagaimana pun mereka masih keluargaku."


Eveline tersenyum tipis. "Jadi kau juga bagian dari mereka huh?"


Claire menghela napas berat. "Tidak, aku tidak pernah berdusta soal hidupku, Eve. Hanya saja aku tidak tega...."


"Itu pantas mereka dapatkan. Mereka berani mengganggu kehidupan keluargaku. Tapi... aku tidak munafik jika Kakakmu itu memberikan banyak kenangan dalam hidupku. Hanya saja tujuan hidupnya tidak bisa aku maafkan. Dia begitu menginginkan kehancuran keluargaku." Ketus Eveline.


Claire tertawa kecil. "Kau memang gila, Eve. Aku rasa kau itu psikopat. Pandai sekali kau berakting."


"Jadi kau tidak takut padaku, Nona Hacker?"


"Sialan kau, Claire." Sinis Eveline.


Claire tersenyum, lalu mendekatkan bibirnya di telinga Eveline. "Aku rasa Kakak tampanmu itu cukup untuk menyuapku. Jadikan aku bagian keluargamu, Eve. Maka rahasiamu akan aman."


"Cih, dasar gadis licik."


"Kau yang mengajarkan aku menjadi selicik ini."


"Hais... berhenti membahas itu. Sekarang dorong aku lebih cepat. Aku ingin segera melihatnya."


"Cih... bahkan kau lah penyebab Lucas koma seperti sekarang ini."


"Aku tidak tahu dia segila ini."


"Jadi benar kau mengirim pesan pada Lucas saat itu?"


"Ya, aku ingin melihat kesungguhannya."


Claire menghela napas berat. "Apa lagi yang kau ragukan, Eve? Lucas sudah melakukan lebih dari apa yang Daddymu lakukan."


"Aku tidak percaya selagi dia masih menyentuh wanita lain."


"Kau ini sangat naif, wajar saja dia bersenang-senang di luar. Kau malah lari dan terus menghindarinya."

__ADS_1


Eveline terdiam sejenak. "Aku tidak tahu jika perasaanku akan sebesar ini meski aku sudah berusaha menguburnya, Claire. Aku...."


"Sudah cukup Lucas menderita dan terus berjuang mendapatkanmu, kini giliranmu, Eve. Apa lagi saat ini buah hati kalian sudah tumbuh di perutmu."


Refleks Eveline menyentuh perutnya. "Hm."


Saat ini Eveline sudah berada di tempat Lucas berada. Disentuhnya pembatas kaca itu seolah ia bisa menyentuh Lucas. "Maafkan aku, Luc. Aku tidak menyangka kau akan seperti ini." Tanpa sadar air matanya menitik.


"Sedang apa kau di sini?" Sentak seseorang. Sontak Eveline pun menoleh. Ternyata suara itu milik Marvel.


"Aku hanya ingin melihatnya sebentar." Dengan santai Eveline kembali menatap Lucas. "Apa menurutmu dia akan bangun?"


Marvel menatap Eveline penuh arti. "Dia tidak selemah yang kau pikirkan."


Eveline menoleh lagi. "Aku tahu."


"Lalu buat apa kau bertanya?" Sinis Marvel.


"Hanya mengujimu, aku pikir kau benar-benar membencinya."


Marvel terdiam. Ditatapnya Lucas dengan tatapan yang sulit dipahami.


"Kapan kau akan menikah?" Tanya Eveline yang berhasil membuat Marvel bingung. "Jangan sampai aku mendahuluimu."


Marvel mendengus sebal. "Lakukan saja, aku tidak peduli."


"Serius?"


"Hm."


Eveline tersenyum tipis. "Kau tidak merindukanku, Kak?"


Marvel tidak menjawab.


"Hah, mana mungkin kau merindukanku. Kau sudah berubah. Dulu kau tidak sedingin ini." Eveline meremat jemarinya.


Marvel melangkah pelan, berdiri tepat di belakang Eveline. Lalu memeluk adiknya itu dengan lembut. Sontak Eveline pun terkejut. "Kau yang berubah, Eve."


Eveline menyentuh tangan Marvel. "Maafkan aku."


Marvel mengecup pucuk kepala Eveline. "Tidak perlu meminta maaf. Kita semua salah di sini."


Claire yang melihat itu pun memilih pergi dari sana.


"Aku merindukanmu, Kak." Eveline masih setia menatap Lucas. "Juga merindukannya."


"Hm."


"Kapan dia akan bangun? Dia harus bertanggung jawab."


"Aku akan mengejarnya sampai ke neraka jika dia berani mati."


Eveline tertawa kecil. "Itu artinya kau mati, Kak."


Marvel tersenyum. "Kau harus istirahat, ayo kembali ke kamarmu."

__ADS_1


"Ck, sebentar lagi."


Marvel tidak melarangnya, justru menemani sang adik sambil terus memeluknya. Jujur ia merindukan adik kecilnya itu. Selama ini jarak mereka sudah terlalu jauh. Mungkin mulai sekarang mereka harus memperbaiki semuanya.


__ADS_2