Istri Yang Dingin

Istri Yang Dingin
Bab 47


__ADS_3

"Bagaimana keadaannya?" tanya Alex pada Arnold. Alex memang memutuskan untuk menyusul sang Kakak ke rumah sakit. Ia ingin tahu bagaimana keadaan Nissa.


Tatapan Alex langsung tertuju pada Nissa yang terbaring lemah di atas brankar.


"Dia hanya kaget dan trauma, dokter meminta agar dia istirahat untuk beberapa hari. Sepertinya kami harus menunda keberangkatan." Arnold menatap Alex yang terlihat berantakan. Lalu mencari sosok Sweet yang tidak kelihatan batang hidungnya.


"Di mana istrimu?" tanya Arnold bingung. Bukan menjawab, Alex memilih berbaring di sofa dan memejamkan matanya.


"Apa apa denganmu?" tanya Arnold menatap Alex lekat.


"Dia pelaku atas kejadian ini," jawab Alex malas. Arnold kaget mendengarnya, seakan tidak percaya dengan apa yang Alex katakan.


"Kau yakin? Sudah menyelidiki semuanya?" tanya Arnold yang belum yakin dengan tuduhan Alex.


"Ya, semuanya sudah jelas. Dia masih berhubungan dengan para penjilat itu," ujar Alex penuh dengan emosi.


"Awalnya aku benar-benar tertarik padanya, setelah apa yang dia lakukan pada keluarga kita. Aku rasa tidak ada yang perlu dipertahankan," lanjut Alex tanpa ragu.


"Kenapa kau sangat marah, yang dia celakai itu istriku. Apa jangan-jangan kau masih mencintainya?" tanya Arnold sambil melirik sang istri yang masih belum sadarkan diri.


Alex terdiam sesaat, "aku tidak tahu."


"Tidak, kau mencintai istrimu. Aku bisa melihat itu dari matamu, Alex. Aku rasa kau salah faham, kau masih adikku yang bodoh. Bertindak tanpa berpikir lebih dulu," sanggah Arnold seraya mengambil sesuatu dari dalam saku jasnya. Dan melempar sebuah benda di atas meja.


"Kau masih tetap angkuh, tidak sedikit pun kau menanyakan hal besar ini padaku."


"Lihat itu, dan fahami. Setelah itu terserah kamu mau melakukan apa," lanjut Arnold ikut duduk di bagian sofa yang kosong. Alex bangkit dari posisinya, dan mengambil benda itu dengan rasa penasaran. Benda itu berupa album lama, milik almarhum orang tua mereka. Banyak sekali foto kedua orang tua mereka di sana, juga beberapa foto yang diambil sebelum kecelakaan terjadi.


"Apa maksudnya?" tanya Alex masih tidak mengerti. Arnold menarik napas panjang, lalu menatap Alex begitu intens.

__ADS_1


"Kau perhatian foto di pesta itu," tunjuk Alex pada sebuah foto yang sepertinya diambil pada saat perayaan pesta besar. Mata tajam Alex pun langsung tertuju pada gambar kedua orang tuanya yang sedang berbincang dengan sepasang tamu undangan. Sepertinya pasangan itu seumuran dengan mendiang.


"Kau tahu siapa mereka?" Alex menggeleng pelan, tentu saja ia tidak tahu siapa mereka.


"Itu adalah keluarga Sasmitha, pemilik perusahaan aksesoris terbesar di Indonesia. Sahabat karib Mommy and Dad, nenek dan kakek dari istrimu. Mereka dan kedua orang tua kita memiliki hubungan yang baik, Mommy dan Nyonya Sasmitha merupakan teman satu sekolah."


Alex terhenyak, tidak percaya dengan apa yang ia dengar barusan. Pernyataan Arnold membuat kepalanya seakan pecah.


"Aku bersyukur Grace memintaku untuk menyelidiki seseorang, dan ternyata itu tentang istrimu."


Alex tidak mengeluarkan sepatah kata pun. Masih penasaran dengan kelanjutan dari cerita Arnold.


"Kedua orang tua yang selama ini istrimu cari bukanlah orang tua kandungnya, apa kau belum tahu itu?"


"Aku sudah tahu," sahut Alex dengan cepat. Tentu saja ia tahu, karena masalah itu lah ia pergi kemarin.


"Kau sudah tahu, tapi kau masih meragukan istrimu?"


"Apa kau tahu kenapa aku menutup kasus ini?" tanya Arnold serius. Alex tersenyum kecut.


"Karena kau buka aku," jawab Alex sinis. Arnold yang mendengar jawaban sang adik pun hanya tersenyum hambar.


"Tentu saja, karena aku mencintai keluargaku. Aku tidak ingin mereka ikut terlibat, karena lawan kita kali ini tidak mudah. Begitu banyak misteri dan permainan kejam, sekali salah langkah, maka kau akan masuk ke dalam jurang kematian." Jelas Arnold. Alex terdiam, mencoba memahami setiap rangkaian kata yang keluar dari mulut Arnold.


"Aku sudah pernah membuat kesalahan besar, mencurigai kedua orang tua Nissa sebagai salah satu anak buah mereka. Ternyata aku salah, dia adalah salah satu kunci dari rahasia ini. Saat aku menyadari hal itu, mereka sudah lebih dulu bertindak. Kecelakaan yang di alami orang tua Nissa termasuk rencana mereka. Dan harus kau tahu, di dalam pesawat itu juga masih ada dua orang kunci utama. Yaitu kedua orang tua Sweet, mertuamu. Mereka gugur sebelum meluruskan tuduhan terhadap keluarga Sasmitha."


Aleh terhenyak mendengar penjelasan Arnold. Semua yang Kakaknya katakan itu sama sekali tidak ia ketahui, karena semua kasus itu benar-benar tertutup rapat. Arnold lah yang menutup semua kasusnya.


"Apa pernah kau sadari? Saat ini target utama mereka adalah istrimu, hanya dia kunci satu-satunya untuk menemukan persembunyian keluarga Sasmitha yang tersisa."

__ADS_1


Lagi-lagi Alex seperti dihantam batu besar, semua pernyataan Arnold bagai ribuan panah yang menyerang tubuhnya.


"Nyonya Sasmitha masih hidup bersama cucu tertuanya. Bukan hanya itu, masih ada satu orang lagi yang harus kita cari. Yaitu putra dari sekretaris pribadi keluarga Sasmitha," lanjut Arnold.


"Itu artinya aku sudah salah faham? Ya tuhan." Alex mengusap wajahnya dengan kasar. Bayangan saat ia menyakiti Sweet kembali berputar dikepalanya.


"Pulanglah dan minta maaf pada istrimu, aku tahu dia gadis yang baik. Sepertinya dia begitu tulus padamu. Jika sudah berhasil membujuk istrimu, kita akan kembali pada masalah utama." Arnold menepuk pundak Alex. Memberi semangat dan dukungan penuh pada sang adik.


"Terima kasih," ucap Alex tulus. Lelaki itu pun langsung bangkit dari sofa, dan hendak pergi meninggalkan kamar inap Nissa. Namun sebelum itu terjadi, pintu kamar pun terbuka lebar. Sosok wanita yang memiliki luka di beberapa bagian wajahnya berdiri tak seimbang di ambang pintu.


"Grace!" Arnold berteriak dan berlari menghampiri putri angkatnya. Membantu gadis itu masuk, keadaannya cukup menyedihkan. Darah segar masih mengalir dibagian kening dan hidungnya.


"Sweet, seseorang membawanya...." bisik Grace sebelum ia benar-benar hilang kesadaran. Beruntung Alex dan Arnold masih bisa mendengarnya.


"Sial!" Tanpa pikir panjang, Alex pun langsung berlari meninggalkan rumah sakit. Pikirannya saat ini hanya tertuju pada Sweet.


Maafkan aku, Ana. Aku tidak akan memaafkan diriku sendiri jika terjadi sesuatu padamu. Tolong bertahan apa pun yang terjadi. Aku akan membawamu kembali, berada di sampingku untuk selamanya.


Alex melajukan Ferrari miliknya dengan kecepatan penuh. Meski ia belum tahu pasti ke mana orang itu membawa istrinya.


***


"Tuan muda, ini hasil lab dari pemeriksaan Nona muda." Seorang laki-laki bertubuh jangkung dengan rambut pirang itu memberikan amplop putih berlogo rumah sakit pada seorang pria yang duduk di atas kursi roda. Mata tajam pria berambut hitam itu masih tertuju pada seorang wanita yang terbaring di atas brankar. Tangan kekar miliknya bergerak untuk mengamit jemari mungil sang wanita.


"Tutup semua informasi tentangnya, aku ingin memberikan kehidupan baru untuknya. Sudah cukup ia menderita," ujar Pria tampan yang memiliki cacat sejak dini.


"Baik, Tuan. Satu hal lagi, Nyonya besar akan segera tiba, apa Tuan akan menyambutnya?"


"Tidak perlu, aku akan menunggu di sini. Dan kau, tetap gunakan nama lamamu. Aku ingin kau yang menjaganya kelak, aku tidak mungkin berada disisinya setiap saat."

__ADS_1


Lelaki berambut pirang itu mengangguk sopan, ia sudah mengerti ke mana jalan bicara Tuannya. Suatu kebahagiaan bisa mendapat tugas penting dari sang Tuan. Sejak lama ia memendam rasa pada wanita itu.


"Saya undur diri, Tuan. Jika membutuhkan saya, Tuan bisa langsung menghubungi saya. Permisi." Lelaki itu pun langsung undur diri. Kini hanya Pria dan wanita yang ada dalam ruangan. Suasana begitu mencekam, hanya derita alat rumah sakit yang mengiringi kesunyian.


__ADS_2