Istri Yang Dingin

Istri Yang Dingin
IYD 84


__ADS_3

Semua orang tampak bahagia karena proses transplantasi berjalan dengan semestinya. Kini Alexa tengah menjalankan pemulihan. Wanita itu terlihat lebih segar dari sebelumnya. Membuat Sweet merasa lega. Sabrina, Sky dan Sweet memutuskan untuk terbang ke California karena ingin melihat kondisi Alexa.


"Mom, aku ingin makan masakan Mommy." Rengek Alexa menatap sang Mommy begitu manja. Sweet tersenyum geli mendengar itu.


"Besok Mommy masak makanan kesukaan kamu."


Alexa pun mengangguk yang diiringi senyuman manis. "Peluk Lexa, Mom."


Dengan senang hati Sweet memeluk anaknya. Bahkan memberikan kecupan di pipi Alexa.


"Kangen banget sama kamu yang manja gini."


Lagi-lagi Alexa mengangguk, mendekap Mommynya dengan erat.


"Gimana perasaan kamu saat ini? Agak mendingan kan?"


"Setidaknya tidak sesakit kemarin, Mom." Jawab Alexa.


"Perlahan sakitnya juga akan hilang. Mommy yakin kamu bisa sembuh sepenuhnya. Hidup bahagia bersama anak dan suami kamu."


"Ya, Mom. Lexa kangen anak-anak, dokter bilang butuh waktu tiga bulan untuk pemulihan. Winter juga tidak mengizinkanku untuk pulang dalam waktu dekat. Aku merindukan mereka."


"Mommy setuju dengan Winter. Tunggu sampai kondisimu membaik. Bersabarlah sedikit."


"Kasihan anak-anak, Mom. Mereka pasti merindukan Lexa."


"Mommy tahu, tetapi ini demi kebaikan kamu. Mommy merasa lega karena kamu baik-baik saja sampai detik ini. Mommy takut kehilangan kamu, Lexa." Sweet mengecup kening putrinya penuh perasaan. Alexa mengangguk pelan.


"Bagaimana kondisi Arez, Mom?" Tanya Alexa saat mengingat sang Kakak.


"Arez baik-baik saja, kau tahu Kakakmu yang satu itu tidak pernah mengenal rasa sakit. Dua hari setelah pengambilan sel punca dia sudah terlihat sehat. Hanya saja dia sering pusing dan mual. Dokter bilang itu wajar terjadi pada pendonor." Jelas Sweet.


"Sabrina ada di sana kan?"


"Ya, sejak datang ke sini dia tidak pernah meninggalkan Arez."


"Lalu anak-anak?"


"Mommy membawa tiga pelayan untuk menjaga si kembar dan baby Lea."


Alexa pun menoleh ke arah sofa di mana Arel, Sky dan Winter ada di sana. Ketiga orang itu sepertinya tengah membincangkan sesuatu. Kemudian Alexa pun kembali memusatkan perhatian pada Sweet.


"Aku merasa bersalah pada Xella, Mom. Saat aku melahirkan, dia hadir di sini. Dan aku sama sekali tak bisa menjenguknya saat dia membutuhkanku."


"Jangan khwatir, Xella juga berpesan agar kamu tidak terlalu memikirkan banyak hal. Fokus pada kesehatanmu, sayang. Setelah kamu sehat lagi, kita bisa berkumpul kembali."


Alexa pun tersenyum seraya memeluk sang Mommy. Keduanya pun terdiam beberapa saat. "Mom, aku bertemu Daddy dalam mimpi. Wajahnya terlihat berseri. Daddy juga mengatakan sesuatu, Daddy tidak mau ada yang sedih lagi. Daddy ingin melihat kita bahagia. Terutama, Mommy."


Sweet mengeratkan pelukannya. "Mommy merindukan Daddymu. Sejak dia pergi, Mommy selalu merasa kesepian. Kau tahu kan Daddy itu selalu membuat ulah, Mommy merindukannya."


"Lexa juga rindu, Mom."


"Cepat sembuh, kita ziarah ke makam Daddy kalian sama-sama."


"Ya, Mom."

__ADS_1


Winter bankit dari duduknya dan menghampiri sang istri. Alexa tersenyum saat mendapat senyuman menawan dari sang suami.


"Duduklah, Winter. Sepertinya Mommy harus melihat kondisi Arez." Sweet pun turun dari brankar. Memberikan ruang pada suami istri itu bercengrama.


Winter duduk di sisi brankar, menatap wajah istrinya lamat-lamat. "Aku senang kau jauh lebih ceria dari sebelumnya. Sekarang kau percaya bukan jika kita berusaha, Tuhan akan memberikan yang terbaik? Aku harap kau belajar dari pengalaman. Aku butuh keterbukaanmu."


Alexa mengangguk pelan. Kemudian memeluk suaminya erat. "I love you."


"Aku juga mencintaimu." Ucap Winter mengecup pipi istrinya.


"Anak-anak baik kan? Apa Lucas masih rewel?" Tanya Alexa.


"Ya, sepertinya anak itu akan tumbuh menjadi anak yang cerewet sepertimu. Tapi aku senang, rumah kita akan ramai nantinya. Mereka sempat demam, dan itu terjadi dihari yang sama saat kau menjalankan tranplantasi. Mungkin ikatan batin."


Alexa terkejut mendengarnya. "Sekarang mereka baik-baik saja kan? Kenapa kau tidak mengatakan itu sejak awal."


Winter menghela napas. "Aku tidak ingin kau semakin down jika mendengar kabar itu. Sakarang mereka baik-baik saja, sudah aku katakan kalian memiliki ikatan batin yang kuat."


"Syukurlah."


"Aku sudah membuat keputusan, kita akan melakukan rawat jalan di rumah. Tadi kami sudah membahasnya. Tapi untuk beberapa waktu kau di sini saja dulu. Aku akan membawamu pulang secepatnya."


Alexa terlihat senang mendengar itu. "Aku memang ingin pulang, Winter. Aku tidak bisa terus berjauhan dengan anak-anak. Meski aku tidak bisa menggendong mereka. Setidaknya aku bisa melihat mereka, Winter."


"Ya, dokter juga sudah setuju. Aku tahu anak-anak adalah kekuatan terbesarmu."


Alexa pun mengangguk antusias. Ia tampak bahagia karena sudah sangat merindukan anak-anaknya. Winter mengusap rambut istrinya. Memeluk Alexa dengan penuh kasih sayang.


****


"Kau harus terbiasa dengan kemanjaan mereka. Mereka manja karena ikut sifatmu yang manja."


Sabrina menyebikkan bibirnya. "Aku kan manja hanya padamu, Al."


"Sama saja."


"Hm... apa masih sakit?"


"Sedikit." Sahut Arez singkat.


"Aku rasa sakit kali ini memang tak berarti untukmu. Sebelumnya kau selalu menantang kematian." Ketus Sabrina.


"Hm."


"Ck, hilangkan sifat cuekmu itu. Bisa-bisa aku bosan padamu."


"Bosan? Tapi kau terus menempel sejak pertama sampai di sini." Ledek Arez.


"Itu karena aku merindukanmu." Alibinya.


"Yang benar itu kau mencintaiku." Sanggah Arez.


"Ya, aku memang mencintaimu. Kau juga mencintaiku kan? Jadi kita impas. Saling mencintai satu sama lain. Itu sangat romantis, apa lagi jika kau mengucapkan cinta setiap pagi saat pertama kali membuka mata. Pasti akan sangat romatis." Oceh Sabrina.


"Kau terlalu banyak keinginan." Arez menyentil kening istrinya. Membuat wanita itu meringis kesakitan.

__ADS_1


"Apa salahnya aku meminta hal romatis pada suamiku sendiri? Sudah kewajibanmu memberikan cinta yang tulus padaku."


"Aku mengantuk."


"Ck, kau selalu saja menghindar saat aku membahas masalah keromantisan. Aku rasa kau tidak pernah membaca atau menonton genre romantis."


"Aku tidak punya waktu."


"Kau memang pelit." Kesal Sabrina.


"Berhenti mengoceh, kepalaku sangat sakit."


"Jangan mengajakku bicara lagi kalau begitu."


"Hm." Arez pun memejamkan matanya.


Cukup lama Sabrina terdiam dan mulai gelisah. Mulutnya ingin sekali mengumpati Arez.


"Al." Panggilnya karena tidak tahan mulutnya terus diam.


"Hm." Sahut Arez tanpa membuka mata.


"Aku ingin bekerja setelah anak-anak besar. Boleh kan?"


Arez yang mendengar itu membuka matanya kembali. "Tidak."


Sabrina mendongak dengan tatapan memohonnya. "Please, Al. Izinkan aku mengenal dunia kerja."


"Tidak." Arez pun memejamkan matanya lagi. Sedangkan Sabrina merasa sedih.


"Al, apa tidak ada kesempatan untukku?"


"Aku masih sanggup membiayai kebutuhanmu. Kau tidak perlu susah payah bekerja."


"Hm." Sabrina pun diam seribu bahasa. Dan itu berhasil mempengaruhi Arez. Lelaki itu menghela napas berat.


"Baiklah. Aku akan menempatkanmu sebagai pemilik galeri. Kau bisa bekerja setelah usia anak-anak satu tahun."


Sontak Sabrina pun gembira mendengar itu. "Benarkah?"


Arez mengangguk pelan dan kembali memejamkan matanya.


"Thank you so much, Al. Aku mencintaimu. Kau memang suami terbaik. Pokoknya aku mencintaimu."


"Hm. Jangan berisik terus. Aku mengantuk."


"Baiklah, aku tidak akan berisik. I love you my cool husbad."


"Kau sangat cerewet."


"Jika aku tidak cerewet, kau tidak mungkin mencintaiku. Sulit mencari wanita sepertiku, percayalah."


"Ya, karena hanya ada dua wanita cerewet di dunia ini. Dirimu dan Alexa."


Sabrina tertawa renyah. "Tidurlah. Aku tidak akan mengganggumu lagi." Sabrina pun memberikan kecupan di bibir suaminya sebelum ikut memejamkan mata.

__ADS_1


__ADS_2