Istri Yang Dingin

Istri Yang Dingin
Bab 60


__ADS_3

Tiga puluh menit lamanya Sweet terdiam. Membiarkan lelaki di hadapannya menunggu. Sweet memang memutuskan untuk bertemu Bian setelah pulang dari rumah sakit.


Mata Sweet sedikit bergerak, mengunci mata coklat lelaki itu. "Aku menginginkannya."


Mata coklat itu memancarkan kebahagiaan penuh. "Apa kau yakin?"


Sweet mengangguk pelan, seakan tidak yakin dengan keputusan yang ia ambil.


"Aku akan memberi kabar baik ini pada Hanz. Dia pasti bahagia mendengarnya," ujar Bian menggerakkan kursi rodanya menuju meja kerja. Mengambil ponsel dan langsung menghubungi Hanz.


Sweet berjalan pelan ke arah balkon, menatap lekat pemandangan Kota Surabaya dari atas gedung pencakar langit. Memeluk dirinya sendiri. Meski raganya berada di sana, tetapi tidak dengan pikirannya.


***


Keesokan harinya, Sweet berada di sebuah pusat pembelanjaan terbesar di Surabaya. Di sampingnya berdiri sosok lelaki jangkung, yaitu Hanz.


Tangan Hanz bergerak untuk menggapai jemari Sweet. Mengaitkan kelima jarinya di sana. Hanz merasa senang, karena tidak ada penolakan dari Sweet. Wanita itu masih diam dengan tatapan lurus ke depan.


"Kau ingin makan lebih dulu? Aku tahu sejak pagi kau belum menyentuh makanan. Aku tidak akan membiarkanmu sakit," tawar Hanz pada Sweet. Sweet mengangkat kepalanya untuk menatap Hanz. Yang pertama kali ia lihat bukan wajah Hanz. Melainkan wajah Alex yang tengah tersenyum padanya. Senyuman yang begitu tulus.


Sweet tersadar, dan langsung memalingkan wajahnya. Apa yang aku pikirkan? Batin Sweet.


"Ada apa?" tanya Hanz saat menyadari ada yang aneh pada Sweet.


"Tidak ada," sahut Sweet datar. Pikirannya kembali dipenuhi oleh Alex.


"Kau belum menjawab pertanyaanku yang pertama," timpal Hanz.


Sweet menarik napas panjang, "terserah padamu."


"Hah, lalu bagaimana jika kita melangsungkan pernikahan besok?"


Hanz berhasil mendapat tatapan tajam dari Sweet.


"Maaf, aku pikir kau juga akan memberikan jawaban yang sama." Hanz tersenyum saat melihat wajah kesal Sweet.


"Aku ingin membeli sepatu," ujar Sweet. Hanz pun langsung menyetujui, dan mereka berjalan menuju toko sepatu.


Sweet terus berkeliling untuk mencari sepatu yang diinginkan. Sedangkan Hanz terus mengikutinya di belakang.


"Wah, kebetulan sekali bertemu dengan Tuan Hanz dan Nyonya Alexander."


Sweet dan Hanz pun langsung menoleh saat seseorang menyapanya. Sweet merasa heran, karena orang itu menggunakan bahasa Jerman dengan fasih.

__ADS_1


Sweet melirik Hanz, karena ia tidak mengenal lelaki itu.


"Apa yang kau lakukan di sini?" tanya Hanz sinis. Tentu saja hal itu membuat Sweet semakin penasaran.


"Oh, aku lupa memperkenalkan diri. Aku Gerald, sahabat kecil lelaki yang ada di sebelahmu. Juga sahabat dekat suamimu, Nyonya."


Wajah Sweet langsung berubah datar saat mendengar itu.


"Sebaiknya kita pergi," ajak Sweet pada Hanz. Namun dengan sigap, Gerald menahannya.


"Apa kau masih belum tahu jika Alex saat ini sedang sekarat?"


Sweet berbalik, menatap Gerald untuk meminta jawaban.


"Aku tidak tahu apa yang Alex sukai darimu, kau keras kepala, susah di atur dan ingin menang sendiri. Apa kau pernah bertanya padanya, bagaimana dia bisa menemukanmu di sini?"


Sweet masih tidak mengerti arah pembicaraan Gerald.


"Tantu saja Alex harus membayar mahal untuk hal itu. Sebaiknya kau tanyakan pada lelaki di sampingmu, bagaimana suamimu berjuang untuk menemui anak-anaknya." Gerald memberikan tatapan sengit pada Hanz.


"Apa maksudnya?" tanya Sweet pada Hanz.


Gerald tersenyum kecut, lalu melirik arloji yang melingkar di tangannya.


"Operasi? Aku tidak mengerti apa yang kau katakan." Sweet terlihat kesal.


"Ah, dasar Alex bodoh." Gerald mengumpat kecil. Namun masih bisa di dengar oleh Sweet.


"Katakan dengan jelas," pinta Sweet.


"Alex memutuskan untuk mempercepat jadwal operasi. Yaitu hari ini, hanya saja kondisinya tidak mendukung untuk melakukan semua itu. Kau harus segera menahannya, karena akibatnya sangat fatal. Aku dan istriku sudah menahannya, tapi dia keras kepala sepertimu. Alex hanya ingin putrinya pulih, mengabaikan dirinya yang begitu lemah."


Sweet terdiam, mencoba untuk mencerna semua yang dikatakan Gerald.


"Itu tidak mungkin, dokter tidak mengatakan apa pun tentang operasi Alexa." Sweet menggeleng tidak percaya.


"Alex memberikan ini untukmu," lanjut Gerald seraya memberikan sebuah amplop pada Sweet.


Dengan perasaan ragu, Sweet menerimanya. Lalu membuka isi surat di dalamnya. Mulut Sweet terkatup rapat. Surat yang ia terima adalah surat carai dari Alex. Juga terdapat sebuah foto pernikahan dirinya.


"Alex terus bertahan hidup karenamu dan juga anak-anaknya. Mungkin dia terlihat kuat, tapi kenyataannya dia cukup lemah."


"Tiga tahun yang lalu, Alex terkena peluru dan hampir menembus jantungnya. Beberapa alat vitalnya mengalami kerusakan parah. Suatu keajaiban, tuhan masih memberikannya kesempatan untuk hidup. Tentu saja pemulihannya butuh waktu lama, dan sampai saat ini ia masih memiliki luka dalam di dadanya. Dia tidak bisa hidup normal seperti dulu." Gerald masih melanjutkannya.

__ADS_1


Sweet tertegun, terus memutar semua perkataan Gerald di kepalanya. Apa yang kau lakukan? Dasar bodoh, kenapa kau sembunyikan semua ini dariku? Jika terjadi sesuatu padamu, aku tidak akan memaafkanmu, Alex. Batin Sweet.


Sweet memasukkan kembali surat itu ke dalam amplop. Lalu bergegas pergi untuk menemui Alex di rumah sakit.


Sesampainya di rumah sakit, Sweet langsung berlari menuju ruang operasi. Sweet cukup kaget saat melihat keberadaan Nissa dan Arnold di sana. Langkah kakinya melambat. Bukan hanya mereka berdua, ternyata Ara dan Arlan juga ada di sana. Dan satu lagi, wanita yang Sweet lihat siang kemarin juga ada di sana. Ya, ia adalah Gilly.


Kehadiran Sweet berhasil menarik perhatian semua orang.


"Ana," sapa Nissa seraya berjalan menghampiri Sweet. Kemudian wanita itu langsung memeluknya.


"Ya Allah, sejak lama aku khawatir padamu, Ana. Kami merindukanmu," ujar Nissa semakin mengeratkan pelukkannya.


"Apa yang terjadi?" tanya Sweet pada Nissa.


"Alex sedang menjalankan operasi transplantasi untuk Alexa. Kami semua khawatir padanya, kondisi Alex belum cukup membaik untuk menjalankan operasi untuk yang ketiga kalinya."


"Operasi ketiga?" tanya Sweet bingung. Nissa pun melerai dekapannya.


"Ya, ini yang ketiga kalinya Alex melakukan operasi. Apa kau tidak tahu itu?" Nissa menatap Sweet heran.


Sweet menggeleng sebagai jawaban. Matanya terus bergerak untuk memperhatikan semua orang. Berharap mendapatkan jawaban atas semua kebingungan yang sedang ia alami.


Lalu, Gilly bangun dari tempat duduk, berjalan cepat menghampiri Sweet.


Plak! Sebuah tamparan berhasil mendarat di pipi mulus Sweet. Semua orang kaget melihat itu.


"Hey, apa yang kamu lakukan?" tanya Ara sedikit mendorong tubuh Gilly agar menjauh dari Sweet.


"Dia pantas mendapatkan tamparan itu, bagaimana bisa kau tidak memiliki perasaan sebagai wanita, huh? Jika saja kau tidak meminta cerai, Alex tidak mungkin mengambil keputusan gila seperti ini. Apa kau tahu betapa besarnya pengorbanan Alex untuk keluargamu, juga untukmu? Lalu apa yang kau berikan padanya, kau mematahkan harapannya untuk hidup."


Sweet terdiam, mencoba untuk memahami semua perkataan Gilly.


"Aku tidak habis pikir, bagaimana bisa dia mencintaimu. Bahkan kau tidak pernah sekali saja melihat cinta itu," timpal Gilly begitu frustrasi.


"Bahkan dia mengabaikan cintaku selama ini, hanya untuk wanita sombong sepertimu. Apa kau tahu, hah? Alex hampir mati juga karenamu, bertahan hidup selama satu tahun di rumah sakit juga untukmu."


"Cukup!" Seru seseorang seraya menahan tubuh Gilly yang hendak menyerang Sweet. Ya, dia adalah Gerald.


Hanz yang baru tiba pun ikut membantu Sweet, merangkul erat tubuh lemah wanita itu.


"Hantikan itu, amarah tidak akan menyelesaikan semuanya. Dan kau Sweet, duduklah. Aku tahu kau butuh penjelasan, karena suamimu tidak akan mengatakan apa pun tentang apa yang terjadi. Karena dia tidak ingin kau merasa bersalah padanya," ujar Gerald seraya memeluk Gilly.


Hanz membantu Sweet untuk duduk, karena wanita itu tidak memberikan reaksi apa pun. Sepertinya Sweet benar-benar terpukul dengan apa yang ia alami saat ini. Bingung, itu lah yang Sweet rasakan saat ini.

__ADS_1


Semua orang juga tidak berani memberikan tanggapan. Karena kondisi saat ini cukup menegangkan. Alex dan Alexa saat ini masih berjuang hidup dan mati di dalam sana. Sweet melihat lampu operasi masih menyala. Itu artinya operasi tengah berjalan. Perasaannya bercampur aduk. Ia hanya bisa berdoa dalam hati, meminta keselamatan untuk dua orang terpenting dalam hidupnya. Sweet menjadikan dada bidang Hanz sebagai sandaran, meluapkan segala sesak dalam dadanya.


__ADS_2