
Sweet terus memandang lelaki di hadapannya. Ia masih kaget dan tak percaya bisa melihat lelaki itu lagi setelah sekian lama menghilang.
"Kemana saja kau selama ini, Hanz?"
Ya, lelaki yang saat ini ada dihadapannya tak lain adalah Tuan Hanz yang sudah lama menghilang. Entah apa yang membawa lelaki itu datang kembali ke Berlin.
"Seperti yang kau lihat, aku masih baik-baik saja." Jawab Hanz.
"Ada apa kau datang kemari? Bukankah kau bilang kita tak akan bertemu lagi? Kau menghilang bak ditelan bumi."
"Kehidupanku tak seindah dirimu, Sweet. Aku datang ke sini untuk mencari putriku. Sudah dua hari aku mencarinya, tapi dia tak bisa dihubungi. Bahkan apartemennya kosong. Istri dan anak bungsuku juga menghilang. Terakhir kudengar mereka ada di sini. Tapi aku tak menemukkan keberadaannya" Ujar Hanz yang berhasil membuat Sweet bingung.
"Siapa yang kau maksud? Kenapa kau mencari putrimu ke sini?"
"Sabrina, dia putriku."
Deg! Sweet tersentak kaget mendengar itu. Pantas saja selama ini ia seperti tak asing lagi dengan wajah menatunya itu.
"Sa__Sabrina putrimu?"
"Ya, aku ingin bertemu dengannya. Mungkin ini salahku sampai kalian tak tahu siapa Sabrina. Aku juga terkejut saat mengetahui lelaki yang menikahinya salah satu putra kalian. Di mana suamimu?"
Sweet mengeratkan giginya. "Anakmu membunuh suamiku, tepat di malam resepsi pernikahan. Dia menembak suamiku, Hanz." Desis Sweet dengan kilatan amarah di matanya. Hanz yang mendengar itu kaget setengah mati.
"Kau bercanda kan? Bagaimana bisa putriku melakukan itu? Itu mustahil."
"Tapi itu kenyataan, dia merenggut nyawa suamiku. Entah apa salah suamiku padanya? Suamiku begitu mendukung putrimu untuk menjadi menantu rumah ini. Dan apa balasannya, dia menghadiahi peluru di jantung suamiku, Hanz." Sarkas Sweet dengan emosi yang memuncak.
"Itu tidak mungkin, Sweet. Sabrina trauma dengan senjata api. Saat kecil ia hampir terbunuh dengan benda itu saat menolong temannya." Seru Hanz tak terima dengan tuduhan Sweet pada putrinya.
"Trauma?"
"Ya, dia trauma bahkan hanya dengan melihat mainan berbentuk pistol. Lalu bagaimana dia bisa menggunakan benda itu? Kau menuduh putriku, Sweet. Lalu di mana dia?" Kesal Hanz.
Sweet terdiam sejenak. "Aku juga tidak tahu, sejak kejadian itu putraku menyembunyikan putrimu. Bahkan aku tak pernah melihat batang hidungnya setelah kejadian itu."
Hanz memicingkan matanya. "Lalu di mana putramu? Aku ingin bertemu dengannya."
"Sejak kemarin dia tak datang ke sini." Jawab Sweet sekenanya.
Hanz berdecak kesal. "Jangan sampai aku mendengar kabar buruk tentang putriku. Dia gadis polos dan baik. Sudah cukup ia hidup menderita selama ini. Jangan sampai setelah menikah pun hidupnya menderita."
"Apa maksudmu?" Tanya Sweet penasaran tentang kehidupan Sabrina.
"Semua ini memang salahku, Sweet. Sabrina lahir tanpa sepengetahuanku. Apa kau ingat saat aku pergi ke Los Angeles bersama Kakakmu dulu?"
Sweet pun mengangguk pelan.
"Saat itu aku bertemu dengan sahabat kecilku, dan kami terlibat one night stand. Aku tak pernah menyangka dia hamil, aku tahu itu setelah delapan tahun kemudian. Temannya datang padaku bersama Sabrina kecil. Dia mengatakan Ibunya meninggal saat melahirkan. Aku benar-benar kaget dan terpukul saat itu. Statusku juga saat itu sudah menikah. Dan keluargaku tak menerima kehadirannya. Aku tidak bisa berbuat apa-apa, Sweet. Kau tahu aku dibesarkan oleh keluarga terpandang, mereka tak akan menerima anak di luar nikah tanpa status yang jelas. Dan saat itu aku juga belum bisa menerimanya sepenuh hati." Hanz menunduk lesu.
"Sejak kecil Sabrina selalu mendapat perlakuan buruk dari istri dan anak-anakku yang lainnya. Termasuk seluruh keluarga angkatku. Tapi aku tetap mempertahankannya karena dia anakku, darah dagingku. Lambat laun aku menyayanginya. Hanya saja aku tak pandai menunjukkan rasa itu padanya, Sweet. Aku juga tak bisa melindunginya setiap saat. Saat di dekatku bukan sekali dua kali dia hampir kehilangan nyawanya. Karena itu, setelah ia beranjak dewasa, aku mengirimnya ke Berlin. Hanya tempat ini yang aman untuknya. Mungkin dia beranggapan aku membuangnya, tapi bukan itu tujuanku." Hanz menatap Sweet lamat-lamat.
"Dia tak pernah dendam pada siapa pun yang menjahatinya. Termasuk padaku, hampir setiap saat dia mengatakan cinta padaku, padahal aku tak pernah memberikan hal lebih padanya selain fasilitas hidup."
"Lalu kemana saja kau selama ini? Kenapa kau tak hadir saat pernikahan putrimu?" Tanya Sweet menatap lelaki itu heran.
__ADS_1
Lagi-lagi Hanz menunduk lesu. "Aku menolak untuk datang, aku merasa tak pantas menjadi pendampingnya, Sweet."
"Putrimu mengharapkan kehadiranmu, Hanz. Aku menedengarnya sendiri dia menangis dan berharap kau datang. Kau Ayah kejam yang aku temui di dunia ini, Hanz."
"Aku tahu. Karena itu aku mencari dan ingin meminta maaf langsung padanya. Katakan padaku di mana dia, Sweet?"
"Aku tidak tahu."
"Putriku tak mungkin melakukkan pembunuhan, Sweet. Percayalah padaku, jangan libatkan dia dalam masalah keluargamu. Dia tak bersalah. Aku membiarkan putramu menikahinya karena aku yakin putriku akan aman bersamanya. Ternyata aku salah, aku menempatkan putriku dalam bahaya besar. Ya Tuhan, berikan kebahagiaan padanya kali ini saja. Lindungi putriku."
"Bagaimana jika putrimu terlibat langsung dalam pembunuhan suamiku, Hanz?"
"Maka kau bisa mengambil nyawaku. Tapi jika putriku tak bersalah, kaluarga kalian harus meminta maaf padanya karena putriku tak pantas kalian cerca sebagai pembunuh. Dia gadis yang baik." Tegas Hanz.
Sweet terdiam mendengar itu. Sebenarnya ia juga merasa ragu jika Sabrina adalah pelakunya. Namun semua bukti membuatnya ragu.
"Hubungi putramu, tanyakan padanya apa putriku baik-baik saja?" Desak Hanz mulai memcemaskan putrinya.
"Aku sudah menghubunginya. Ponselnya tak bisa di hubungi. Putraku tengah sibuk mengurus perusahaannya. Dia bukan orang yang mudah di hubungi."
Hanz mengusap wajahnya dengan kasar.
"Kau bilang istri dan anakmu ada di sini, di mana mereka?" Tanya Sweet.
"Itu yang juga menjadi pertanyaanku, mereka tak pernah menghubungiku."
"Apa mereka ke sini untuk menemui Sabrina? Bukankah kau bilang mereka tak menerima anak itu? Apa yang mereka lakukan di sini?" Tanya Sweet curiga.
Hanz menghela napas berat. "Aku tidak tahu pasti. Aku juga baru tahu beberapa hari yang lalu mereka datang ke kota ini."
Sweet yang mendengar itu langsung menyandarkan tubuhnya. Kemudian menghela napas gusar. "Aku harap mereka tak membuat ulah atau mengusik kehidupan putraku. Mereka dalam masalah jika itu benar-benar terjadi."
"Putrimu sudah masuk dalam kehidupan putraku, jika mereka mengusiknya. Itu sama saja mereka mengusik putraku. Aku rasa kau mengerti maksudku."
Untuk yang kesekian kalinya Hanz mengusap wajahnya frustasi. "Mereka selalu membuatku sulit. Bahkan putra pertamaku sudah menghancurkan nama baikku sampai titik penghabisan."
"Tuhan itu adil, Hanz. Kau mengabaikan putrimu, lalu anak-anak yang kau banggakan justru membuatmu jatuh ke jurang terdalam. Bukankah itu adil?"
"Kau benar, aku mengabaikan putriku sendiri. Bahkan aku tak pernah mau tahu soal kehidupannya selama ini. Bahkan aku baru tahu Sabrina hampir di lecehkan saat sekolah menengah dulu."
"Aku tak pernah mau tahu tentang keluargamu, Hanz. Sebelum mendapatkan bukti yang jelas, aku akan tetap mengaggap putrimu seorang pembunuh."
"Dan akan aku pastikan pikiranmu itu salah, Sweet. Kau akan menyesal." Sarkas Hanz bangkit dari posisinya. Kemudian meninggalkan kediaman Digantara dengan langkah cepat.
Tubuh Sweet lemas seketika. Kepalanya benar-benar pusing karena masalah yang tengah menimpa keluarganya. Ia berharap semuanya segera tuntas.
****
"Jangan mendekkat." Seru Sabrina mengeluarkan sebuah pisau lipat yang sengaja ia bawa. Lalu menodongkan benda tajam itu pada Nicholas. Dan ancaman itu sama sekali tidak berpengaruh terhadap lelaki itu.
Crash!
Sabrina berhasil menciptakan sayatan di lengan Nicholas. Membuat si empu meringis kesakitan dan mengumpat kesal. Tidak ingin membuang kesempatan, Sabrina langsung menendang aset berharga Nicholas sekuat tenaga sampai lelaki itu terjungkal ke lantai karena menahan rasa sakit. Sabrina duduk di atas perut lelaki itu. Kemudian menghajarnya sekuat tenaga sampai lelaki itu lemas tak berdaya. Ternyata tenaganya lumayan juga.
Sabrina segera bangun dari posisinya, dan berlari ke arah Alexella. Membatu wanita itu melepaskan tali pengikat. "Kita harus keluar dari tempat ini secepatnya. Kau sanggup berjalan kan?"
__ADS_1
"Perutku sakit lagi, Sab." Keluh Alexella tak berbohong jika perutnya memang sangat sakit.
"Bertahanlah, kita harus keluar dari sini." Ajak Sabrina mulai mencari jalan keluar. Kemudian wanita itu menemukan sebuah pintu lain. Ia tersenyum karena pintu itu masih berfungsi. Sabrina kembali mendekati Alexella dan memapahnya. "Bertahanlah okay?"
Alexella mengangguk pelan. Kemudian mereka pun berjalan menuju sebuah pintu itu. Sabrina membuka kunci pitu itu dengan hati-hati. Kemudian memutar knop pintu itu perlahan, mengintip keluar untuk melihat situasi.
"Aku rasa ini bagian belakang. Tak ada orang. Kita gerak sekarang." Sabrina pun memapah Alexella dengan langkah cepat. Meninggalkan tempat itu.
"Ya Tuhan, ini hutan rimba. Salju semakin tebal, apa yang harus kita lakukan? Mereka akan tahu ke mana kita pergi dengan melihat jejak kaki kita." Ujar Sabrina membawa Alexella semakin menjauh dari tempat itu. Dan tak meyadari jika mereka semakin masuk ke dalam hutan.
"Sial! Tahun ini natal terburuk untukku. Aku harap sinterklas muncul dan membantu kita keluar dari hutan sialan ini." Omel Sabrina dengan bibir yang mulai memucat karena kedinginan.
"Kau terlalu banyak menonton serial anak-anak, Sab. Berhenti mengoceh, mereka akan menangkap kita lagi." Protes Alexella sesekali mendesis karena kontraksi di perutnya.
Sudah cukup jauh mereka masuk ke dalam hutan. Alexella menahan langkahnya karena sudah tak kuat untuk terus berjalan.
Dor!
Dua wanita itu terperanjat kaget saat mendengar suara tembakan yang begitu nyaring. Mereka pun menoleh kebelakang.
"Cepat bersembunyi hapus jejak kaki kita." Titah Alexella. Dengan cepat Sabrina mengapus jejak kaki mereka dan kemudian bersembunyi di balik pohon besar.
"Baby... kau di mana? Kita belum selesai bermain." Suara menggeman memenuhi seiisi hutan.
"Pergilah, Sab. Tinggalkan aku di sini." Titah Alexella pada Sabrina.
"Tidak, aku tak akan meninggalkanmu." Tolak Sabrina.
"Go. Di antara kita harus ada yang hidup." Tegas Alexella menjatuhkan diri di atas salju. Perutnya benar-benar sakit.
"Xella."
"Pergilah sebelum mereka melihatmu. Larilah sejauh mungkin sampai saudaraku menjemputmu." Bisik Alexella menekan perutnya. "Dia tak akan membiarkanmu celaka, Sabrina. Percayalah padaku. Maaf atas sikapku selama ini. Mungkin saja kita tak akan bisa bertemu lagi. Selamat tinggal, Sabrina."
Sabrina menggeleng karena tak setuju dengan keputusan Alexella.
"Go!."
Sabrina kaget dan langsung lari, meninggalkan Alexella yang masih duduk di bawah pohon besar sambil meringis kesakitan.
"Ya Tuhan, selamatkan Alexella dan biarkan aku keluar dari hutan ini." Sabrina berusaha untuk lari sekencang mungkin dengan melawan derasnya salju yang turun ke bumi.
Dor!
Tubuh Sabrina tersentak saat mendengar suara tembakan yang menggema di dalam hutan rimbun itu. Ia sangat takut dengan suara tembakan dan sejenisnya. Traumanya masih belum pulih sepenuhnya.
"Al, aku tahu kau akan datang menolongku. Datanglah, Al. Perutku juga sangat sakit." Bibir Sabrina mulai bergetar karena udara dingin yang perlahan memebekukan nadinya. Pandangan wanita itu juga tak lagi jelas karena terhalang genangan air mata. Ia katakutan sekarang.
Srak!
Sabrina terperosok ke dalam lembah, beruntung lembah itu tak terlalu dalam. Tidak lama dari itu, ia mendengar suara derap kaki dan orang mengobrol. Sabrina sedikit mundur dan bersembunyi di lembah itu dengan mata terpejam.
"Jejaknya menghilang."
"Cari ke sebelah sana."
__ADS_1
Ya Tuhan, bantu aku. Sabrina terus memohon dalam hatinya. Tangannya terulur untuk menyentuh perutnya yang terasa ngilu dan sakit.
Please, jangan tinggalkan aku. Aku baru tahu kau hadir di dalam sini. Ayahmu sangat jahat karena menyembunyikanmu dariku. Al, datanglah. Aku membutuhkanmu. Sabrina memejamkan matanya dengan tubuh gemetar.