
Eveline terlihat begitu sabar menyuapi Lucas. Dan Lucas tak puas-puasnya memandangi Eveline. "Eve, aku tidak sabar ingin pulang."
Eveline menghela napas berat, lalu pandangan mereka pun bertemu. "Kau harus sembuh dulu."
Tangan Lucas terulur dan menyentuh pipi Eveline. "Aku takut kau lari."
Eveline tertawa kecil. "Kau tidak lihat, sepanjang hari aku bersamamu. Bahkan aku makan tidur di sini."
Lucas menyentuh bibir Eveline. "Ck, aku menginginkamu, Eve. Sayangnya aku tidak bisa menyerangmu saat ini."
Eveline memukul lengan Lucas. "Menyebalkan, jadi kau bersikap manis karena menginginkan itu huh?"
Lucas tersenyum. "Aku bercanda, aku tidak sabar untuk menikahimu, Eve. Aku takut seseorang merebutmu dariku."
"Kau ini, aku hanya mencintaimu. Lihat ini." Eveline menunjuk perutnya. "Hasil kebrengsekanmu ada di sini. Bagaimana aku bisa kabur huh? Dia butuh dirimu."
"Bisa saja kau membawanya lari dariku."
Eveline meletakkan mangkuk bubur di atas nakas, lalu ia ikut berbaring di brankar. Tanpa malu lagi Eveline memeluk Lucas. "Dengar, kemana pun aku lari. Kau pasti menemukanku, Luc. Jadi buat apa aku capek-capek lari, lebih baik aku menjadi tawananmu sekalian. Lagi pula kau tidak akan menyakitiku, meski kau kadang agak kasar."
Lucas tersenyum, kemudian dikecupnya kening Eveline dengan penuh cinta. Eveline memejamkan matanya, menikmati kehangatan itu.
"Aku ingin pulang, sayang."
"Sabar, seminggu lagi kau baru bisa pulang."
"Lama sekali, apa tidak bisa besok?"
Eveline mendongak. "Kenapa kau begitu menggebu-gebu ingin pulang huh? Kau menyembunyikan simpanan ya?"
Lucas tertawa kecil. "Aku rasa kaulah simpananku, Eve."
Eveline mendengus. "Jadi kau hanya menganggapku simpanan? Itu artinya kau sugar Daddyku. Berapa kau membayarku huh?"
Lagi-lagi Lucas tertawa. "I love you."
"Love you too." Eveline semakin merapatkan tubuhnya pada Lucas.
"Eve."
"Hm?"
"Bagaimana jika usiaku tidak panjang?"
Eveline terkejut mendengarnya. "Kenapa kau bicara seperti itu?"
"Aku mendengar percakapanmu dengan dokter. Hampir 70% orang yang melakukan transplantasi hati hanya bertahan 5 tahun."
Eveline terdiam sejenak. "Luc...."
"Jangan pernah lupakan aku jika kelak aku mati, Eve."
Eveline memeluk Lucas dengan erat. "Jangan bicara seperti itu, Luc. Aku jadi takut."
"Semua manusia pasti akan mati, Eve. Hanya saja waktu yang membedakan."
Lagi-lagi Eveline terdiam.
"Biarlah, setidaknya aku bisa melihat anakku lahir lebih dulu."
__ADS_1
"Luc, dokter mengatakan itu hanya 70%. Aku percaya kau mampu bertahan hidup dengan lama. Apa kau tidak belajar dari Mommymu. Dia mampu hidup meski penyakit ganas terus menggerogotinya. Semua itu tergantung pada dirimu, Luc." Jelas Eveline mencoba meyakinkan Lucas.
"Hm, asal kau terus disisiku. Aku akan berusaha untuk hidup lama."
"Aku percaya padamu, Luc."
"Berikan aku banyak anak, Eve. Supaya hidupku semakin sempurna."
"Kau pikir aku kucing?"
Lucas tersenyum, dan kembali menghadiahi kecupan di kening Eveline. "Bulan depan kita menikah."
Eveline terkejut. "Luc, bulan depan hanya hitungan hari. Bagaimana kau menikahiku saat kondisimu begini huh?"
"Memangnya kenapa? Kau malu memiliki suami yang sakit?"
"Bukan, tapi kau sakit, Luc. Aku tidak ingin terjadi sesuatu padamu. Tunggu saja sampai kau sembuh. Aku akan menunggumu."
"Dan kau akan memakai baju pengantin dengan perut membuncit? Tidak buruk juga. Kau pasti sangat seksi."
"Luc!" Kesal Eveline.
Lucas tertawa kecil. "Aku jadi membayangkanmu, Eve. Seseksi apa dirimu saat perutmu membuncit, lalu kau mengerang dibawahku."
"Luc! Kau sangat mesum. Menyebalkan."
Ck, kenapa milikku sangat gatal saat ucapan Lucas? Apa aku menginginkannya?
Dahi Lucas mengerut saat melihat wajah Eveline yang memerah. "Kau merona? Apa yang kau pikirkan huh?"
Eveline terkejut. "Luc, aku...." kalimatnya tergantung karena ia ragu untuk mengatakannya.
"Aku apa, sayang?"
"Itu apa, sayang? Bicara dengan jelas." Lucas tersenyum penuh arti. Dan tangannya mulai menyelusup ke dalam gaun Eveline.
"Uhhh... Luc." Eveline menutup mulutnya saat tangan nakal Lucas menyentuh area intinya.
"Kau sudah basah, sayang. Kau menginginkannya huh?"
Eveline mengangguk malu. "Kau... kau yang memancingku. Uh... Luc. Aku menginginkanmu. Aku tidak tahu kenapa aku begitu menginginkannya."
"Mungkin karena hormon kehamilanmu, sayang."
Eveline mengangguk ragu. "Tapi kau masih sakit, Luc."
"Tapi adik kecilku tidak sakit. Dia juga menginginkanmu."
"Tidak, Luc. Kau tidak dibenarkan banyak bergerak. Uh... cukup, Luc." Eveline semakin melayang saat jemari besar Lucas mengobrak-abrik lembah basah miliknya.
"Biarkan aku memuaskanmu." Bisik Lucas semakin mempercepat gerakannya.
"Ya Tuhan! Ohhh... aku mulai gila, Luc." Rancau Eveline karena ia hampir mencapai puncak. Namun, angannya harus pupus karena pintu ruangan terbuka.
Keduanya kaget dan cepat-cepat menarik diri. Lucas melihat ke arah pintu. Sedangkan Eveline sibuk merapikan pakannya bagian bawah.
"Rose?" Kaget Lucas. Sontak Eveline pun menoleh.
Dan ternyata bukan hanya Rose yang datang, William dan Harry juga ikut hadir.
__ADS_1
"Wow, apa kami menganggu kalian?" tanya Harry.
"Tidak." Jawab Lucas sekenanya.
Eveline merubah posisinya menjadi duduk. Lalu pandangannya pun tidak sengaja bertemu dengan pandangan Rose. Wanita itu memberikan tatapan tak bersahabat yang kental pada Eveline. Bahkan ia meletakkan buah-buahan yang dibawanya dengan kasar di atas nakas.
"Aku tidak menyangka wanita tidak tahu malu ini ada di sini, Luc." Sinis Rose.
"Jaga mulutmu, Rose." Tegur Lucas.
"Cih, kau masih saja membelanya setelah apa yang dia lalukan padamu? Bahkan kau ada di sini juga karenanya."
"Rose!" Kali ini Harry yang memperingati wanita itu.
Eveline menatap Lucas. "Sepertinya aku keluar dulu. Kalian mengobrol saja."
Eveline hendak turun, tetapi Lucas langsung menahannya. "Kau kekasihku, jadi mereka juga bagian darimu, sayang. Tidak perlu pergi."
Rose, William dan Harry terhenyak mendengar pengakuan Lucas.
"Kekasih?" seru Rose.
Lucas menggenggam tangan Eveline. "Kita akan menikah dalam waktu dekat."
"Wah, aku kaget. Tapi aku senang mendengarnya, Luc. Akhirnya cintamu terbalas." Ucap William.
"Sebenarnya aku juga mencintainya sejak lama." Ujar Eveline melirik Rose. Seolah ingin mempertegas hubungannya dengan Lucas pada wanita itu.
Rose mengepalkan kedua tangannya. Sebagai penggila Lucas, ia merasa cemburu.
"Kau bercanda? Lalu buat apa kau membuat drama huh?" Ketus Rose.
"Hanya ingin tahu, dia lebih memilihku atau alat pemuas n*fs*nya." Sahut Eveline dengan sindiran pedasnya.
Spontan Lucas menggenggam tangan Eveline dengan erat. Eveline menatap Lucas. Lucas pun menggeleng dengan tatapan tajam.
"Aku bicara apa adanya." Kesal Eveline.
"Ah, aku rasa kami datang di waktu yang tidak tepat. Kami hanya ingin melihat kondisimu, Luc. Dan kami lihat kau baik-baik saja. Aku rasa tidak perlu terlalu lama di sini." Ujar Harry yang merasa tak nyaman dengan atmosfir saat ini.
"Ya, Lucas juga harus istirahat. Dokter bilang dia harus istirahat total." Sahut Eveline mengusir mereka dengan halus. Sepertinya ia masih kesal karena mereka menggagalkan gelombang cinta yang tadi hampir meledak.
"Ya, kami akan keluar. Segera sembuh, Luc." Imbuh Harry.
Lucas mengangguk. Lalu ketiganya pun meninggalkan ruangan.
Eveline langsung melayangkan tatapan tajam pada Lucas. "Kau menyukainya? Kenapa tadi kau memberikan tatapan seperti itu padaku huh? Kau tidak senang aku mengatainya?"
"Sayang, ada apa denganmu? Aku...."
"Cih, katakan saja kau memang masih ingin memakainya." Sela Eveline menepis tangan Lucas.
"Eve, dengar...."
"Aku tidak ingin mendengar apa pun. Aku...." perkataan Eveline harus tertahan karena tiba-tiba ia mual. Eveline langsung turun dari brankar, lalu berlari ke toilet. Tentu saja hal itu membuat Lucas kaget.
"Baby!"
Hoek!
__ADS_1
Lagi-lagi Lucas terkejut saat mendengar Eveline muntah-muntah. Ia bangun dari tidurnya. Kemudian mengambil botol infus dan menyusul Eveline meski harus menahan sakit.
Tbc....