
Seminggu sudah Alex benar-benar pergi menghadap sang Ilahi dan selama itu pula kehidupan keluarganya seolah mati bersama jasadnya. Tak ada lagi canda tawa saat semua orang berkumpul. Semua tawa itu seolah hilang seiring kepergiannya. Seperti saat ini, semua orang tengah berkumpul di ruang tengah. Namun sejak tadi tak ada pembicaraan yang keluar dari mulut mereka.
Sweet menatap keempat anaknya secara bergantian, dan berujung pada Arez.
"Kemana saja malam tadi, Arez?" Tanya Sweet penuh selidik.
Arez menatap sang Mommy lamat-lamat. "Memenuhi tanggung jawabku."
"Tanggung jawab seperti apa?"
"Mom, kita belum tahu siapa pelakunya." Sanggah Alexa yang tahu ke mana arah pembicaraan sang Mommy.
"Siapa pun itu, mereka yang mencurigakan dan terlibat dalam kasus ini tak bisa dipercaya. Belum ada bukti istrimu tak bersalah, Arez. Bahkan CCTV membuktikan tidak ada orang di sana selain istrimu." Kecam Sweet menatap semua orang tajam.
"Dia istriku, aku akan mempercayainya sampai kapan pun." Tegas Arez dengan nada datar. Alexa menyentuh lengan Arez, memintanya agar tak menyulut keributan.
"Kau melupakan janjimu pada Mommy, Arez. Kau harus me...."
"Please Mom, beri aku waktu untuk mengumpulkan bukti." Dengan berani Arez menyela ucapan sang Mommy.
"Kau memotong ucapanku, Arez?" Sweet menatap Arez penuh kecewa.
"Maafkan aku, Mom." Arez mengusap wajahnya dengan kasar. Kemudian bangkit dari posisinya dan hendak pergi dari sana.
"Mommy tidak mengizinkanmu pergi, Arez." Seru Sweet yang berhasil menghentikan langkah lelaki itu. Perlahan Arez berbalik.
"Mom, aku harus pergi. Dia tanggung jawabku saat ini."
"Lalu bagaimana dengan Mommymu ini, Arez? Sejak pemakaman itu kau selalu menghilang tanpa jejak. Apa salah jika aku mengkhawatirkan kalian semua? Mommy sudah kehilangan Daddy kalian dan tak ingin kehilangan kalian lagi. Tolong jangan ada yang meninggalkan mansion. Jangan membuatku cemas, Arez. Bahkan aku tidak bisa tidur karena memikirkan kalian." Sweet menangis pilu. Alexella pun mendekap Sweet dengan erat. Menatap sang Kakak penuh harap.
"Untuk hari ini jangan kemana-mana, Rez. Penuhi keinginan Mommy." Pinta Arel dengan nada pelan.
Arez terdiam beberapa saat. "Baiklah." Putusnya kembali pada posisinya semula. Sweet pun bernapas lega. Dirinya benar-benar takut akan kehilangan lagi. Karena itu ia bersikap begitu keras.
"Mommy hanya tak ingin terjadi apa pun pada kalian, mungkin saja musuh sedang mengincar kita. Untuk sementara waktu tetaplah di sini." Pinta Sweet menatap Arez penuh harap. Ia tahu putra sulungnya itu keras kepala.
Arez menyandarkan kepalanya di kepala sofa. Memejamkan matanya perlahan.
Al, aku ingin makan yang pedas-pedas. Saat kau pulang nanti, aku ingin kau memasak sesuatu untukku boleh kan? Aku tidak tahu kenapa akhir-akhir ini aku sering mual dan ingin makan sesuatu?
Apa aku sedang hamil ya, Al? Jika aku hamil, kau tak akan membuangku kan Al?
Suara lembut itu terus terngiang di telinganya. Ditambah lagi wanita itu semakin manja dan cengeng, membuat Arez semakin resah karena sudah cukup lama ia meninggalkan Sabrina. Hingga ia dikejutkan dengan tepukan di pundaknya.
"Dia akan baik-baik saja, percayalah. Kasus ini memang sulit di pecahkan. Tapi aku yakin secepatnya kita akan mendapat bukti." Ujar Arel sedikit berbisik. Arez yang mendengar itu membuka matanya dan menatap sang adik.
"Setelah ini ingin bicara padamu, di kamarku." Sahut Arez dengan suara pelan. Arel mengangguk pelan.
Alexella mengeratkan pelukkannya pada sang Mommy. "Mom, aku ingin menyampaikan sesuatu padamu."
Perkataan Alexella tentu saja menarik perhatian semua orang. Terutama Jarvis.
__ADS_1
"Ada apa?" Tanya Sweet mengusap rambut putrinya.
"Aku... aku hamil Mom."
"What!" Pekik Sweet, Arel dan Alexa kompak. Sedangkan yang lain hanya kaget biasa.
Jarvis memijat keningnya, ia tak menyangka istrinya itu akan membicarakan masalah kehamilan secepat ini.
"Bagaimana kau bisa hamil, Xella?" Tanya Alexa masih dalam mood kaget.
"Tanyakan saja pada lelaki itu kenapa aku bisa hamil." Alexela menunjuk suaminya. Sontak yang ditunjuk pun kaget setengah mati. Apa lagi semua mata tertuju padanya.
"Dia istriku, apa aku salah menghamilinya?" Jawab Jarvis sekenanya. Semua orang yang mendengar itu tersenyum geli. Kecuali Arez dan Alexella tentunya.
"Pertanyaanmu salah, Lexa." Arel terkekeh geli.
"Aku saja yang menikah lebih dulu belum ada tanda-tanda kehamilan. Padahal setiap hari kami olahraga berat, iya kan Baby?" Ujar Alexa tanpa rasa malu.
"Belum saatnya, Baby. Lagi pula aku belum puas bermain denganmu. Jika kau hamil, aku rasa tak akan bebas lagi." Sahut Winter merangkul istrinya.
"Kau benar, sekarang dokter memintaku untuk tak menyentuhnya sampai janin itu benar-benar kuat. Aku rasa beberapa saat ini aku akan gila. Menyebalkan." Kesal Jarvis mendengus sebal.
"Kau sudah berjanji untuk menahannya, Jarvis." Sahut Alexella.
"Kau bisa melakukannya perlahan, aku sering melakukkan itu saat Sky masih hamil. Bahkan setiap malam, bermain lembut saja bro. Dan usahakan kau menembaknya di luar." Ungkap Arel yang sudah berpengalaman dalam hal itu.
"Aku rasa pembahasan kali ini tentang edukasi s*x huh?" Winter tersenyum geli.
"Bicarakan masalah kalian itu di lain tempat, saat ini aku benar-benar meminta kalian untuk tetap di sini."
"Aku akan tetap di sini, Mom. Aku akan menemanimu. Biarkan aku tidur dengan Mommy." Ucap Alexella mengecup pipi sang Mommy.
"Aku juga Mom."
"Bagaimana denganku?" Tanya Winter dan Jarvis bersamaan.
"Kalian bisa tidur berdua." Jawab Alexa dengan entengnya. Sedangkan kedua lelaki itu berdecak kesal mendengar jawaban itu.
"Berhenti berdebat, aku akan tidur sendiri." Putus Sweet. "Tidur di kamar masing-masing."
Jarvis dan Winter pun tersenyum penuh arti. Sedangkan istri-istrinya memutar bola mata malas.
****
Malam semakin larut, tetapi Alexa tak kunjung tertidur. Ia merindukan sosok Daddy yang selalu memberikan candaan dan petuah. Dan ia benar-benar kehilangan sosok itu.
Winter membuka matanya, menatap sang istri yang masih melek dengan tatapan lurus ke atas langit-langit. Ia merengkuh sang istri, juga memberikan kecupan hangat di pipi Alexa.
"Ada apa huh?" Tanya Winter seraya membenamkan wajahnya di leher Alexa.
"Aku merindukan Daddy," lirih Alexa merubah posisi tidurnya menjadi miring ke arah Winter. Lelaki itu memeluk istrinya. "Aku rindu omelan Daddy, candaan Daddy dan semua yang ada pada Daddy, Winter. Aku merindukannya."
__ADS_1
"Aku tahu, Sayang." Winter mengusap rambut istrinya dengan lembut.
"Mansion ini sepi saat tak ada Daddy, aku tak pernah menyangka akan secepat ini Daddy pergi. Padahal aku belum sempat memberikan apa pun padanya. Aku masih ingat bagaimana Daddy membela hubungan kita di depan Mommy, dia terlalu menyayangi anak-anaknya, Winter. Karena itu dia tak pernah menentang apa pun kemauan kami. Karena sejak kecil kehidupan Daddy terkekang, dia tak mau kami mengalami hal yang sama." Jelas Alexa tersenyum samar saat mengingat kebaikkan mendiang sang Daddy.
"Ya, Daddymu juga pembisnis yang handal. Aku mengaguminya sejak lama."
"Dan kau berhasil menikahi putri dari orang yang kau kagumi huh?" Alexa mendongak. Menatap netra suaminya.
"Ya, itu memang rencanaku. Meski saat itu kita tak bertemu, aku akan membuat pertemuan dengan salah satu putrinya. Dan aku tak menyangka kita bertemu secepat itu dan aku juga jatuh hati pada gadis konyol sepertimu." Winter mengecup hidung mancung istrinya.
"Bagaimana jika saat itu aku tidak menabrakmu, apa kau akan mencari perhatian Xella?" Tanya Alexa.
"Aku rasa tidak, aku tak suka wanita dingin." Jawab Winter kembali memejamkan matanya. Alexa tersenyum mendengar itu.
"Winter, aku ingin cepat hamil." Rengek Alexa sembari memainkan jemarinya di rahang Winter. Membuat si empu kembali membuka mata. Kemudian tersenyum penuh arti.
"Ayok."
"Kemana?"
"Kau bilang ingin cepat hamil, ayok kita lakukan lagi proses pembuatan Baby."
"Ck, kalau masalah itu saja kau cepat." Sahut Alexa tersenyum geli.
"Semua lelaki mendambakan itu, Sayang. Jadi kapan kita mulai huh?"
"Besok. Malam ini aku lelah." Jawab Alexa seraya membenamkan wajahnya di dada bidang Winter.
"Tapi adikku sudah bangun, Baby. Kau harus bertanggung jawab." Bisik Winter tersenyum nakal.
"Adikmu itu sangat nakal, Winter. Aku mengantuk." Rengek Alexa mulai memejamkan mata.
"Ya sudah, tidurlah." Winter pun mengalah.
"Baiklah, ayok. Tadi aku hanya bercanda. Aku juga merindukanmu, Winter." Alexa tersenyum geli.
"Aku sudah tidak mau lagi." Sahut Winter ingin mengerjai istrinya. Siapa suruh Alexa lebih dulu mengerjainya.
"Baby, ayolah. Adikmu masih bangun. Jangan membohongiku." Rengek Alexa seraya naik ke atas Winter.
"Aku mengantuk."
"Winter, please."
"Aku mengantuk, Baby."
"Tapi aku ingin, Winter."
"Ingin apa?"
"Winter, ayo cepat. Jagan menggodaku terus. Aku tidak tahan." Rengek Alexa yang langsung menyambar bibir sensual suaminya. Winter tertawa penuh kemenangan dalam hatinya. Dengan sekali gerakan kini Alexa sudah berada di bawahnya. Dan keduanya pun terhanyut dalam pergulatan panas. Mencari dan saling mengejar gelombang cinta yang memabukkan jiwa.
__ADS_1