
Di sebuah apartemen mewah, terlihat seorang anak laki-laki berusia lima tahun berlari ke sana kemari dengan sebuah mobil mainan ditangannya.
Tidak lama dari itu, Zhea pun muncul dari arah dapur. Membawa cemilan dan juga segelas susu. "Prince, ayo minum dulu susunya."
Anak laki-laki bernama Prince itu pun berhenti bermain dan berlari kecil ke arah Zhea yang sudah duduk di sofa. "Mommy, aku tidak mau susu putih. Aku mau susu coklat." Rengeknya manja.
Zhea menatapnya tajam. "Tidak ada susu coklat, minum saja yang ada." Tegasnya yang berhasil membuat Prince kesal.
"Aku tidak mau, aku ingin susu coklat!" Bentaknya yang kemudian melempar mainannya dengan kasar ke lantai.
Spontan Zhea pun langsung berdiri dan menatapnya tajam. "Berhenti membantah, Prince. Kau harus mendengarkan apa yang Mommy katakan. Jadi anak penurut."
"Ada apa ini? Kenapa suara kalian terdengar sampai ke luar?" Tanya seorang wanita dengan wajah yang identik dengan Zhea. Seketika wajah Prince pun ceria dan langsung berlari ke arahnya, memeluk kakinya erat.
"Aunty, Mommy memerahaiku lagi." Adunya sembari menatap ke arah Zhea. Lalu menjulurkan lidahnya.
"Kau...."
"Sudah cukup, Zhe. Prince masih kecil, kau tidak perlu memarahinya terus menerus." Potong wanita itu yang tak lain adalah kembaran Zhea, Rhea.
Zhea memutar bola matanya malas. "Kau selalu saja memanjakannya, Rhe. Lihat sekarang, dia menjadi pembangkang." Kesalnya seraya kembali duduk di sofa.
Rhea menghela napas, lalu membungkuk. "Prince, pergi ke kamarmu ya?"
Prince mengangguk patuh dan langsung berlari ke kamarnya. Setelah Prince pergi, Rhea pun menghampiri Zhea.
"Kau bertemu Aunty Sky lagi?" Tanya Zhea menatap Rhea.
__ADS_1
Rhea mengangguk seraya memandang kembarannya itu lamat-lamat. "Mau sampai kapan kau akan terus bersembunyi, Zhe? Aku tidak bisa menyembunyikan ini lagi, aku merasa bersalah karena sudah membohongi semua orang. Terutama Grandma dan Aunty, mereka pasti akan kecewa jika tahu Zhea yang mereka temui bukan Zhea yang asli."
Zhea terdiam sembari menggigit ujung bibirnya. Memang benar, selama ini Zhea dan Rhea bertukar posisi. Setelah penolakan dari Gabriel, Zhea jadi tak percaya diri dan meminta kembarannya untuk menggantikan posisinya. Keberadaan Prince, anak yang tak tahu siapa Ayahnya itu pun semakin membuatnya hilang kepercayaan diri untuk muncul di hadapan publik.
Awalnya Rhea menolak dengan ide gila kembarannya itu, tetapi Zhea terus mendesaknya. Alhasil ia pun mengikuti keinginan sang kembaran dan menjadi Zhea palsu. Karena itu kemunculan Zhea berhasil membuat semua orang kaget. Baik soal penampilan juga kariernya yang melejit.
"Gabriel kembali menemuiku, dia meminta jawaban secepatnya. Padahal aku sudah mengatakan apa yang kau sarankan. Tapi dia tetap ingin menikahimu. Dia tidak peduli soal masa lalumu."
Zhea menghela napas. "Terima saja, menikahlah dengannya. Sudah waktunya untukmu menikah."
Rhea terkejut. "Kau gila! Dia itu menyukaimu, bukan aku. Yang dia lamar juga bukan aku, tapi kau, Zhe."
Zhea menatap Rhea lekat, lalu meraih tangannya. Kemudian tersenyum begitu tulus. "Yang dia sukai itu dirimu, Rhea. Setelah kita bertukar peran, dia langsung menyukaimu. Lihat aku, bahkan penampilanku berbanding terbalik denganmu. Setelah melahirkan Prince, tubuhku terus melebar. Bagaimana mungkin lelaki seperti Gabriel menyukaiku. Dia itu sangat pemilih. Yang dia inginkan itu dirimu, Rhe. Bukan aku."
Rhea hendak protes, tetapi Zhea langsung memotongnya. "Aku tahu sejak lama kau mencintai Gabriel. Kau dan Gabriel memang ditakdirkan untuk bersama. Jujurlah jika kau sudah menerima lamarannya. Katakan siapa dirimu sesungguhnya. Terima kasih karena sudah mau berganti peran denganku. Aku sangat bersyukur karena kembali dipertemukan denganmu dan Daddy."
Zhea menarik diri dari dekapan Rhea, lalu tertawa kecil. "Dasar bodoh, sejak awal aku tidak pernah menyukai lelaki itu. Dia terlalu sombong. Aku tidak menyukainya sama sekali. Sejak awal, aku memang ingin menjodohkanmu dengannya. Karena aku tahu kau menyukainya sejak saat itu. Bukankah dia lelaki yang ada di buku diarimu?"
Rhea terbelalak mendengarnta. "Zhe! Kau membaca buku diariku?" Kesalnya. Sontak Zhea pun tertawa geli.
"Dasar jahat, sudah aku katakan jangan sentuh apa pun barang pribadiku. Menyebalkan." Rhea memasang wajah kesalnya. Zhea yang melihat itu pun langsung memeluknya.
"Jika aku tidak membacanya, mungkin saat ini kau tidak akan bisa sedekat ini dengannya bukan? Kau harus berterima kasih padaku."
Rhea mendengus sebal, tetapi detik berikutnya ia pun tersenyum. "Terima kasih. Kau sudah mempertemukanku dengan Aunty Sky, dia sangat baik. Karena dia aku bisa kembali merasakan kasih sayang seorang Ibu." Ucapnya kemudian.
"Justru aku yang berterima kasih padamu, Rhe. Kau dan Daddy penyelamat hidupku. Jika saat itu kalian tidak datang tepat waktu, mungkin aku sudah menjadi tanah sekarang."
__ADS_1
Beberapa tahun lalu, Zhea ingin mengakhiri hidupnya saat tahu jika dirinya tengah hamil. Ia benar-benar frustrasi. Padahal saat itu ia baru saja ingin melanjutkan hidupnya dengan baik. Memulai kuliah dan menggapai semua mimpinya. Sayang semua itu harus pupus diterpa angin karena kehadiran makhluk kecil dalam perutnya. Yang entah anak siapa.
Beruntung kala itu Rhea dan sang Daddy datang tepat waktu, meski Zhea sudah pingsan saat itu. Namun nyawanya masih tertolong karena mendapat penanganan cepat. Selama ini Rhea dan Daddynya memang mencari keberadaan Zhea yang dibawa kabur oleh Ibunya. Belasan tahun mereka terus mencari, tetapi tak menemukan jejaknya sama sekali. Dan pada tahun itu mereka mendapat informasi jika Zhea dan di Negara itu. Tanpa menunggu lagi mereka pun mendatangi tempat tinggal Zhea. Dan sangat terkejut dengan kondisinya saat itu, di mana Zhea sudah tergeletak di lantai dengan mulut berbusa. Sejak kejadian itu pula Zhea dibawa pulang ke kediaman Ayahnya. Dan hidup dengan damai di sana karena mendapat kasih sayangnya dengan penuh.
Namun, selang beberapa tahun sang Daddy pun tutup usia karena penyakit lamanya. Zhea dan Rhea pun memutuskan untuk kembali ke Berlin. Melanjutkan hidup di Negara kelahirannya. Zhea sangat merindukan Sky dan Sweet yang sudah dia anggap orang tuanya sendiri. Di tahun itu, Zhea menemui mereka secara langsung dan belum bertukar peran dengan Rhea.
Zhea memutuskan untuk bertukar peran saat tak sengaja memergoki Rhea terus memandangi Gabriel. Karena saat itu Rhea selalu mengikutinya ke mana pun pergi dengan menyamar agar tak ada yang tahu identitasnya. Mendiang sang Ayah selalu berpesan agar mereka tak menunjukkan jika mereka itu kembar di hadapan publik, jadi Rhea pun selalu menyamar ketika keluar rumah bersama Zhea. Sepertinya sang Ayah ingin melindungi mereka dari kejahatan Ibunya yang cukup serakah itu.
Sejak tahu sang Kakak menyukai lelaki yang akan dijodohkan dengannya. Zhea pun selalu berpenampilan aneh saat bertemu Gabriel karena sudah memiliki rencana untuk mempersatukan keduanya. Dan rencana itulah yang sedang terjadi saat ini. Tentu saja Rhea tak tahu soal rencana Zhea sama sekali.
"Jadi jangan tolak lamarannya, katakan kau menerimanya. Hiduplah bahagia dengannya, Rhe. Jangan pikirkan aku, aku sudah bahagia dengan hidupku saat ini. Walaupun Prince sangat nakal, tapi dia cukup membahagiakan untukku. Jadi... bahagialah untuk dirimu sendiri, Rhe." Pinta Zhea penuh harap.
Rhea pun mengangguk. "Apa menurutmu dia akan menerima kebenarannya? Aku takut dia kecewa karena aku sudah membohonginya selama ini."
Zhea tersenyum. "Dia tidak akan menolak gadis murni sepertimu. Di mana lagi dia akan mencari gadis perawan sepertimu, hah? Di Negara ini sulit mencari anak perawan. Mungkin kau itu satu dari seribu orang."
Rhea tertawa kecil seraya mencubit pelan perut kembarannya. "Kau ini. Aku menyayangimu."
Zhea mengecup pucuk kepala Rhea dengan lembut. "Aku juga menyayangimu. Kau keluargaku yang paling berharga saat ini."
"Jangan lupakan Prince, dia juga harta berhargamu. Berhenti memarahinya, dia masih kecil. Dia akan menjadi anak yang keras jika kau terus memarahinya."
"Ck, anak itu selalu saja membuatku kesal. Rasanya aku tak bisa bicara baik-baik saat melihat wajahnya." Kesal Zhea.
"Tapi dia anakmu, bahkan kau hampir mati saat melahirkannya." Sinis Rhea.
Zhea menghela napas. "Kau tenang saja, meskipun aku selalu memarahinya. Tapi aku sangat menyanginya. Aku tak mungkin sejahat Ibumu."
__ADS_1
"Bahkan aku tidak tahu rupa Ibuku seperti apa. Dan akan lebih baik jika aku tak pernah bertemu dengannya. Dia terlalu kejam menjadi seorang Ibu. Bahkan membuangmu hanya karena seorang lelaki brengsek." Sahut Rhea benar adanya. Karena dirinya ditinggalkan sejak bayi oleh sang Ibu bersama Ayahnya yang saat itu sedang jatuh miskin. Karena itu tak ada sedikit pun kenangan yang ia ingat bersamanya. Bahkan wajahnya saja ia tak tahu karena sang Ayah tak pernah memberi tahunya.