Istri Yang Dingin

Istri Yang Dingin
Season 3 (14)


__ADS_3

Marvel menarik Lucas dan menghajarnya bertubi-tubi. Eveline yang masih kaget pun terdiam.


"Stop!" Melvin menarik kembarannya dan menjauhkan Marvel dari Lucas yang terkulai lemas di lantai.


"Kau bisa membunuhnya," geram Melvin.


"Dia pantas mati." Bentak Marvel hendak menyerang Lucas lagi, tetapi Melvin masih berusaha manahannya. Ia tidak ingin terjadi pertumpahan darah antara saudara.


Evelina pun bergegas menghampiri Lucas dan berusaha membantu lelaki itu bangun. Namun, Marvel langsung menarik dan merengkuhnya. "Jangan sentuh dia. Biarkan dia membusuk di sini, berani sekali dia menyentuhmu, Eve."


Eveline meremat pakaian sang Kakak, tetapi tatapannya masih tertuju pada Lucas. Lelaki itu masih terkulai lemas di lantai. Sebenarnya bisa saja Lucas membalas Marvel, hanya saja ia tidak ingin Eveline semakin membencinya.


"Ayo pulang." Marvel pun membawa Eveline pergi dari sana. Gadis itu menoleh, menatap Lucas yang juga tengah menatapnya. Eveline merasa sedikit kecewa karena Lucas tidak menahannya.


Kau bilang mencintaiku, tapi kau sama sekali tidak ingin memperjuangkanku, Luc?


Lucas menatap langit-langit dengan tatapan kosong. Perkataan Eveline beberapa menit lalu kembali terngiang diingatannya.


Lupakan aku, Luc. Kita pulang dan akhiri semuanya. Aku akan melupakan semua yang sudah kita lewati.


Apa aku benar-benar sulit masuk ke hatimu, Eve? Sebegitu bencinya kau padaku? Maafkan aku, mungkin kau memang lebih baik jauh dariku. Karena aku selalu menyakitimu, Eve.


Lucas terpejam, bayangan dirinya membentak dan membuat gadisnya ketakutan kembali berputar. Lalu ia pun tersenyum getir.


Maafkan aku. Aku tak pantas untukmu.


Melvin yang melihat itu merinding ngeri. "Luc."


"Pergilah." Tegas Lucas. Melvin yang mendengar itu menghela napas berat, kemudian ia pun berlari mengejar saudaranya.


Sedangkan Eveline, ia terus menoleh ke belakang. Entah kenapa ia berharap Lucas mengejarnya atau berusaha menahan kepergiannya.


Apa yang kau harapkan huh? Dia memang brengsek yang hanya menginginkan tubuhmu, Eve. Sialan kau, Luc. Kenapa aku harus percaya dengan ucapan manismu? Sejak awal dia memang si brengsek yang tak tahu malu. Aku membencimu. Aku harap kita tidak pernah bertemu lagi.


"Naiklah." Titah Marvel. Eveline pun naik ke dalam helikopter dengan lemas. Dan untuk yang terakhir kalinya ia melirik ke villa. Sayangnya lelaki itu tidak muncul sedikit pun. Marvel dan Melvin pun ikut naik, mengapit sang adik. Dan helikopter itu pun langsung terbang meninggalkan pulau,


"Kau baik-baik saja?" Tanya Marvel terlihat cemas.


Eveline menoleh, lalu mengangguk kecil. Saat ini ia masih memikirkan Lucas.


"Apa dia menyakitimu?" Tanya Marvel lagi.


"Dia tidak menyakitiku, Kak." Sahut Eveline.


Melvin bisa melihat raut kecewa di wajah sang adik. "Dia tidak akan menganggumu lagi."


Eveline menoleh dengan tatapan tajam.

__ADS_1


"Aku serius. Dia tidak akan menemui lagi. Aku sangat mengenalnya."


Mendengar itu hati Eveline semakin sakit. Ia memalingkan wajahya ke depan. Ya, mana mungkin dia menemuiku? Dia sudah mendapat apa yang dinginkannya.


Mata Eveline memanas. Kau jahat, Luc.


Dan sepanjang penerbangan Eveline terus diam membisu. Wajahnya juga begitu datar nyaris tanpas ekspresi.


Sesampainya di mansion, Eveline disambut hangat oleh Sabrina dan penghuni mansion lainnya.


"Mommy merindukanmu, Eve." Sabrina memeluk putrinya dengan erat.


"I miss you too, Mom." Eveline mengecup pipi Sabrina. "Aku lelah, Mom. Biarkan aku istirahat."


Sabrina mengangguk dan melepaskan pelukannya. "Istirahatlah, sayang."


Eveline mengangguk dan beranjak ke kamarnya. Namun, Sabrina melihat ada yang aneh dari putrinya itu. Eveline terlihat tak semangat seperti biasanya.


"Ada apa dengan adik kalian?" Tanya Sabrina pada kedua putranya.


"Mungkin dia lelah, Mom." Jawab Melvin melirik Marvel yang masih bungkam dengan ekspresi datar.


"Hm, kalian juga harus istirahat." Ujar Sabrina.


"Aku harus ke kantor." Marvel pun bergegas pergi dari sana.


Melvin tersenyum dan langsung memeluk Sabrina dari samping. "Kau ini sangat cerewet, Mom. Aku merindukanmu," ujarnya begitu manja.


Sabrina tertawa renyah dan melupakan rasa penasarannya tadi. "Kau ini, Mommy juga merindukanmu. Kalian selalu saja sibuk bekerja. Lupa dengan Mommy yang sudah tua ini."


"Aku tidak pernah lupa padamu, kau wanita yang paling aku cintai. Aku lapar, Mom. Bisakah kau menyuapiku? Sudah lama aku tidak bermanja denganmu. Tapi suapi aku di kamar. Jika di sini aku bisa diejek oleh yang lain." Bisiknya. Sontak Sabrina pun tertawa geli.


"Kau memang tidak pernah berubah. Baiklah, biarkan Mommy mengambilkan makanan untukmu. Tunggu Mommy di kamarmu."


"Yes! Thank you, Mom. I love you so much." Melvin mengecup pipi sang Mommy dengan penuh kasih sayang sebelum melesat menuju kamarnya. Mungkin usianya sudah dewasa, tetapi anak itu akan selalu bersikap manja jika berhadapan dengan sang Mommy.


Sabrina menggelengkan kepala melihat tingkah menggemaskan putranya yang satu itu. "Mommy harap kamu mendapat pasangan yang bisa memanjakanmu seperti Mommy, Vin."


****


Masih di pulau yang sama, Lucas terduduk lemas di sofa. Di tangannya terdapat sebotol wisky, juga dua botol lainnya yang sudah kosong di atas meja.


"Eveline." Gumamnya kembali meneguk minuman beralkohol itu. Lucas tersenyum dan tertawa seperti orang gila. "Kau memintaku untuk melupakanmu huh?"


Lucas bangkit dengan sempoyongan. Lalu melangkah menuju kamar yang beberapa hari ini ditempati oleh gadis pujaan hatinya. Sesampainya di sana, Lucas menjatuhkan diri di atas kasur empuk. Seketika aroma harum milik Eveline menyeruak dalam hidungnya. "Ah... aku merindukanmu, Eve. Kau membuatku gila."


Lucas menarik selimut dan mulai tertidur di sana.

__ADS_1


Di lain tempat, Eveline terlihat sedang merendam dirinya di dalam bathup. Hanya saja tatapannya terlihat kosong. Pikirannya berkenalan begitu jauh. Bayangan dirinya bersama Lucas terus menghantui pikirannya saat ini. Padahal hanya satu minggu mereka bersama. Namun, Lucas berhasil memengaruhi hidupnya.


"Ada apa denganku? Kenapa aku tidak bisa melupakannya?" Gumam Eveline memijat batang hidungnya. Ia memejamkan matanya dan berusaha menepis lelaki itu dari ingatannya. Sayang, wajah tampan Lucas justru semakin membayanginya. "Aargghhh." Teriaknya frustasi


"Sialan kau, Luc." Eveline bangkit dari bathup dan segera membilas tubuhnya. Kemudian kembali ke kamar dan berganti pakaian. Ia juga memoles wajahnya sedikit. Di tatapnya wajah cantiknya dengan seksama.


Kau sangat cantik, Eve.


Tanpa sadar Eveline tersenyum saat mengingat pujian Lucas yang sering didengarnya. Diusapnya bibir ranum miliknya, kemudian ia memejamkan matanya. Membayangkan bibir Lucas berada di bibirnya. Jujur, bibir lelaki itu terlalu manis untuk dilupakan. Bagaimana bisa ia melupakan itu, Lucaslah orang pertama yang mengajarkannya bercinta.


"Eve."


Eveline terhenyak dan langsung berbalik. "Lea, kau membuatku kaget."


Lea tersenyum geli dan menghampiri sepupunya itu. Lalu memeluk Eveline dari belakang. "Aku merindukanmu, Eve. Kemana saja kau huh? Kami semua sudah seperti orang bodoh di sini."


Eveline mengusap lengan Lea dan menatap gadis itu dari pantulan cermin. "Aku rasa kau sudah tahu jawabannya."


Lea menghela napas berat. "Apa Lucas menyakitimu? Dia memang gila. Berani sekali dia menculikmu."


"Le, jangan terlalu kencang. Bagaimana jika Mommy mendengar?" Tegur Eveline.


"Hah, maafkan aku. Aku lupa. Tapi kan, Eve. Awalnya aku tidak percaya Lucas melakukan itu padamu. Apa dia punya alasan sendiri?"


Eveline mendengus sebal. "Dia memang brengsek. Yang aku tahu alasannya hanya satu, dia hanya ingin menyenangkan diri sendiri."


Lea menatap Eveline lamat-lamat. "Tidak terjadi sesuatu pada kalian kan?"


Eveline mendadak kaku saat mendapat pertanyaan itu.


"Ah, maksudku Lucas tidak berbuat hal macam-macam kan padamu? Kita semua tahu dia begitu tergila-gila padamu, Eve. Harus kau tahu, saat kau pergi dari kota ini. Lucas mulai menggila dan dari sana dia mabuk-mabukan dan mempermainkan banyak wanita."


Eveline terkejut mendengarnya. Entah kenapa ia mendadak penasraan dengan kehidupan Lucas sebelumnya yang sama sekali tak ia ketahui.


"Bisakah kau menceritakan itu padaku?" Pinta Eveline.


Lea menatap Eveline curiga. "Hey, jangan katakan kau juga mulai tertarik padanya?"


Eveline berdecih sebal. "Apa aku salah jika ingin tahu kehidupan sepupuku?"


Lea tertawa renyah dan beranjak menuju ranjang. Lalu berbaring di sana dengan santai. Eveline pun mengikuti jejaknya. Ia benar-benar penasaran dan ingin segera mendengar cerita dari Lea.


Dan saat itu mengalirlah semua cerita tentang kehidupan Lucas yang tak pernah Eveline ketahui sebelumnya. Mulai dari Lucas yang gila kerja dan berani menghabisi lawannya. Kisah perseteruan Lucas dan Marvel hanya karena seorang wanita bernama Rose. Lea juga menceritakan jika Lucas menolak semua wanita yang menyukainya dan hanya mempermainkan mereka saja. Lelaki itu hanya menginginkan Eveline seorang.


Eveline tersenyum tipis, ia baru tahu jika Lucas benar-benar mencintainya. Tiba-tiba saja hatinya menghangat dan perasaan bahagia pun seolah membuncah di dadanya. Namun, semua itu kembali meluap saat mengingat Lucas tak lagi mencari dirinya.


Cih, buat apa aku terus memikirkannya. Mungkin dia sedang bersenang-senang di sana dengan wanita-wanitanya.

__ADS_1


To be continue....


__ADS_2