Istri Yang Dingin

Istri Yang Dingin
Bab 59


__ADS_3

"Tuan, kondisi Nona muda saat ini menurun. Ia tidak mau makan sejak pagi," ujar Joshua menghampiri Alex yang tengah meregangkan tubuhnya di sofa. Kondisinya saat ini juga sedang tidak baik.


"Siapkan mobil, lima menit lagi kita ke rumah sakit." Alex memijat pelepisnya.


"Bagaimana dengan Tuan Gerald?" tanya Joshua memastikan.


"Katakan padanya aku ingin bertemu di sebuah kafe yang tak jauh dari rumah sakit," ujar Alex.


"Baik, Tuan." Joshua mengangguk tanda mengerti.


"Josh, apa kau tidak merindukan anak istrimu?" tanya Alex pada Joshua.


"Tentu saja rindu, Tuan. Tapi aku lebih khawatir padamu. Istriku cukup kuat untuk menjaga diri," jawab Joshua tanpa ragu.


"Kau bisa pulang jika merindukan mereka, aku bisa menjaga diri sendiri. Tidak perlu khawatir padaku, aku masih cukup kuat untuk bertahan hidup. Masih ada empat orang yang harus aku lindungi," ujar Alex seraya mengubah posisinya menjadi duduk.


"Karena rasa rindu hanya dapat diobati dengan pertemuan, Josh. Pulanglah, putrimu masih kecil. Dia butuh sosok Daddy sepertimu." Alex melanjutkan perkataannya.


Joshua tertegun, tidak biasanya Alex mengeluarkan kata-kata bijak. Memang begitu banyak perubahan dalam diri Alex setelah kehilangan istrinya. Alex lebih tenang dalam menghadapi segala masalah. Berbeda dengan sebelumnya, ia akan melakukan segala cara meski dengan kekerasan.


"Akan aku pertimbangan, jika kondisi Anda membaik." Joshua tidak pernah bertindak egois. Kesetiaan adalah kunci hidupnya.


"Aku menunggu keputusanmu secepatnya," ucap Alex bangun dari sofa. Lalu berjalan pelan menuju kamar mandi.


Alex berjalan pasti memasuki sebuah kafe bernuansa kolosal. Kali ini ia benar-benar sendirian. Karena Joshua harus menangani beberapa masalah perusahaan.


Di sebuah meja bundar terlihat seorang lelaki melambaikan tangan. Alex menghampiri orang itu. Di sana juga sudah duduk seorang wanita yang sangat Alex kenal.


"Hey, apa kabar?" tanya wanita itu pada Alex. Alex sama sekali tidak memberikan respons.


"Dia hampir sekarat, tapi cinta mampu memberinya kekuatan." Kali ini lelaki di sebelahnya ikut menimpali. Siapa lagi jika bukan Gerald, hanya ia yang dapat berbicara bebas pada Alex.


"Waktuku tidak banyak," ujar Alex membuang wajahnya ke samping.


"Ah, kau tidak akan pernah berubah. Bagaimana perkembangannya?" tanya Gerald menatap Alex intens. Masih sama, Alex enggan untuk memberi jawaban.


Gerald memang baru tiba di Indonesia beberapa jam yang lalu. Bersama wanita yang saat ini duduk di sebelahnya.


"Katakan padanya," pinta Gerald pada sang wanita.


Wanita itu menarik napas panjang, menatap Alex cukup lama.


"Berikan aku kesempatan untuk menjelaskan semuanya pada istrimu," ujar wanita itu yang tak lain adalah Gilly.


Hal itu berhasil menarik perhatian Alex.


"Aku bisa menanganinya sendiri," ujar Alex penuh penekanan.


"Lalu kau akan membahayakan dirimu? Apa kau pikir anakmu akan bahagia jika terjadi sesuatu padamu? Aku tidak peduli tentang istrimu, aku hanya peduli pada anak-anakmu." Gilly terlihat menahan emosi.


Alex memberikan tatapan tajam pada Gilly, kemudian berganti pada Gerald. "Bawa wanita itu pergi, aku masih bisa menangani semuanya sendiri."


"Kau...." Gerald menahan Gilly yang hendak meluapkan emosinya. Wanita itu begitu mudah emosi setelah melahirkan putranya.

__ADS_1


"Lex, aku harap kami bisa membantumu. Jangan membahayakan dirimu sendiri, tubuhmu belum siap untuk melakukan operasi. Jangan melakukan hal konyol," ujar Gerald mencoba untuk tenang.


"Bagiku kesembuhan Lexa adalah hal paling penting. Meski nyawaku adalah taruhannya, aku akan tetap melakukan itu. Anggap saja ini bayaran atas semua kesalahan yang telah aku lakukan pada mereka."


"Jadi kau benar-benar melepaskan istrimu? Tanpa sebuah penjelasan? Aku pikir dia akan merasa bersalah saat tahu semua yang telah kau alami. Aku hanya punya satu saran, katakan semuanya dengan jujur. Aku yakin dia memiliki pemikiran yang sama dengan kami." Jelas Gerald mencoba meyakinkan sahabatnya yang begitu keras kepala.


Alex bangkit dari posisi duduk, lalu beranjak pergi meninggalkan keduanya. Tentu saja mereka terkejut melihat sikap Alex.


"Aku akan mengejarnya," ujar Gilly. Sedangkan Gerald memilih untuk membayar pesanan mereka di kasir.


"Alex tunggu!" Gilly manarik tangan Alex dan berhasil menahan langkah lelaki itu. Gilly pun berdiri di depan Alex. Posisi mereka saat ini berada di luar kafe.


"Please, dengarkan aku kali ini saja." Gilly menarik kedua tangan Alex dengan lembut.


"Kau boleh melakukan hal bodoh apa pun, tapi biarkan dia mengetahui semuanya. Katakan saja padanya, tidak ada lagi yang perlu di sembunyikan. Di antara kita sudah tidak ada lagi yang perlu di tutupi," ucap Gilly memohon.


"Jangan biarkan rasa bersalahku semakin besar padamu, dan juga istrimu. Aku ingin kalian kembali, aku tahu kau sangat mencintainya." Gilly meneteskan air mata. Perasaan bersalah kembali menyelimuti hatinya.


Dengan kasar Alex melepaskan tangannya dari genggaman Gilly. Lalu merogoh sesuatu dari kantong celananya. Mengeluarkan ponsel pintarnya.


Alex menghubungi seseorang. "Lakukan operasi itu besok, aku tidak ingin mendengar alasan apa pun." Alex tersenyum penuh arti.


Gilly menatap Alex tidak percaya. Lelaki itu sama sekali tak mendengar semua perkataannya.


"Seharusnya kau tahu, aku tidak akan mendengarkan perkataanmu." Setelah mengatakan itu, Alex pun langsung bergegas pergi menuju rumah sakit. Meninggalkan Gilly yang masih terpaku. Sejak tadi Gerald juga ada di sana. Hanya saja ia memilih diam. Lelaki itu berjalan mendekati sang istri. Memeluknya dengan begitu erat.


"Dia memang keras kepala," ucap Gerald.


"Apa yang harus kita lakukan sekarang?" tanya Gilly disela isakkannya. Gerald membalas dengan gelengan. Keduanya pun saling terdiam.


"Super Hero!" Alexa memasang wajah berbinar. Sangat gembira saat melihat kedatangan Alex.


"Hey princess, bagaimana kabarmu?" tanya Alex tersenyum tulus. Lalu pandangannya beralih pada Sweet yang sedang menyuapi Alexa. Namun tidak menghiraukan kehadirannya. Wanita itu duduk di sebuah kursi.


"Baik, Super Hero." Jawab Alexa begitu semangat. Alex pun duduk di samping Alexa. Lalu menghadiahi sebuah kecupan hangat di kening putrinya.


"Aku membawakanmu boneka barbie, apa kau suka?" tanya Alex seraya memberikan sebuah kotak berisi satu set boneka barbie. Alex sengaja membelinya sebelum memasuki rumah sakit. Tentu saja Alexa gembira. Menerima pemberian Alex dengan antusias.


"Terima kasih," ucap Alexa memeluk Alex begitu erat. Alex tersenyum, dengan pandangan tertuju pada Sweet yang masih terdiam. Seakan tak mengindahkan kehadirannya.


"Super Hero," panggil Alexa tanpa berniat melepaskan pelukkannya.


"Ada apa, Sayang?" sahut Alex. Matanya masih setia pada Sweet. Wanita itu memalingkan wajahnya ke arah lain.


"Boleh tidak... Jika Super Hero, jadi Daddy Lexa?"


Alex maupun Sweet terkejut mendengar pertanyaan Alexa. Membuat keduanya saling melempar pandangan.


"Tentu," jawab Alex tersenyum pada Sweet. Sedangkan Sweet, kembali memalingkan wajahnya.


"Yey... sekarang Lexa punya Daddy." Alexa mengeratkan pelukannya pada Alex.


"Daddy...."

__ADS_1


"Iya, sayang?"


"Daddy harus janji, tidak boleh pergi jauh dari Lexa, ya?"


Alex terdiam sesaat, kemudian mengecup pucuk kepala Alexa begitu dalam.


"Daddy tidak bisa berjanji," jawab Alex yang berhasil menarik perhatian Sweet. Alex mendapatkan tatapan tajam dari Sweet.


Cih, tentu saja kau tidak bisa berjanji pada anakmu sendiri. Karena masih banyak janjimu pada wanita lain bukan? Batin Sweet


"Tapi Daddy akan berusaha, untuk selalu ada untuk kamu." Alex tersenyum pada Sweet. Lagi-lagi wanita itu memalingkan wajahnya.


"Daddy mau pergi ya?" tanya Alexa melepas pelukkannya. Menatap Alex begitu dalam.


"Daddy tidak akan pernah pergi, akan selalu ada di sini." Alex menunjuk bagian hati Alexa. Alexa tersenyum, lalu kembali memeluk Alex.


"Lexa suka dipeluk seperti ini, hangat. Sama seperti Mommy peluk," ujar Alexa. Alex ikut bahagia mendengarnya.


"Lexa, habiskan dulu makanannya." Sweet membuka mulut. Ia tidak nyaman saat melihat kedekatan Alexa pada Alex. Perasaan takut terus menghantuinya.


"Tidak mau, Mommy. Mulut Lexa pahit," sahut Alexa seraya menggeleng dalam pelukkan Alex.


"Daddy dengar, Lexa mau segera sembuh kan?" tanya Alex. Alexa mengangkat wajahnya, menatap wajah Alex. Lalu mengangguk sebagai jawaban.


"Kalau begitu, Lexa harus banyak makan. Supaya cepat sembuh," ujar Alex terus memberikan senyuman pada Alexa.


Alexa mengangguk. "Tapi Daddy yang suapi, ya?"


"Baiklah Tuan putri," jawab Alex. Lalu mengambil makanan yang ada di tangan Sweet.


Alex menyuapi Alexa dengan begitu sabar. Meski beberapa kali Alexa menolaknya, karena merasa pahit di mulut. Namun dengan segala cara Alex berhasil membujuk Alexa untuk makan. Tentu saja semua itu tidak lepas dari pengawasan Sweet.


"Kita bicara," pinta Sweet pada Alex. Saat Alexa mulai lalai dengan mainannya.


Alex melirik Sweet sekilas, "bicarakan saja di sini."


"Di luar." Sweet berjalan ke luar ruangan. Tidak peduli dengan penolakan Alex.


"Sayang, Daddy dan Mommy ke luar sebentar ya?"


Alexa tersenyum seraya mengangguk. Membuat Alex merasa lega. Lalu ia pun menyusul Sweet. Wanita itu sudah duduk di kursi tunggu.


"Apa yang ingin kau bicarakan?" tanya Alex menatap Sweet. Ia bersandar di dinding rumah sakit. Menunggu jawaban dari Sweet.


"Ceraikan aku secara sah," pinta Sweet yang berhasil membuat Alex terkejut. Namun, Alex tetap berusaha menutupi rasa terkejutnya. Dan memilih diam sejenak.


"Alasan?" tanya Alex meminta sedikit penjelasan.


Sweet menatap Alex tajam, karena pertanyaan yang Alex berikan tidak adil untuknya.


"Apa perlu aku menjelaskan apa alasanku ingin lepas darimu?" Sweet memberi pertanyaan sebagai jawaban.


"Baiklah, aku akan mengurusnya secepat mungkin." Setelah mengatakan hal itu, Alex bergegas masuk. Tidak berniat untuk memberi penolakan apa pun pada Sweet.

__ADS_1


Sweet tertegun, ia tidak pernah menyangka jika Alex dengan begitu mudah menerima keputusannya. Rasa sesak dihatinya kembali mendera. Bukan itu yang ingin ia dengar.


Bodoh, kau bodoh Sweet. Apa lagi yang kau harapkan darinya? Sejak awal dia tidak pernah menginginkanmu. Lupakan dia, mulailah hidup baru. Pikir Sweet. Tak terasa air matanya menetes, membasahi pipi. Perih, itu yang ia rasakan saat ini.


__ADS_2