
"Apa ini?" tanya Sweet menatap pintu masuk hotel mewah. Di sana sudah terpasang foto dirinya dan Alex, potret yang diambil saat di KUA siang tadi.
"Hadiah kecil untuk istriku," bisik Alex ditelinga Sweet. Gadis itu pun langsung memberikan tatapan tajam pada Alex.
"Jangan menatapku seperti itu, membuatku tidak tahan saja." Alex tersenyum penuh arti. Sweet yang mendengar itu langsung menghadiahi cubitan halus tepat di pangkal perut Alex. Membuat si empunya meringis kesakitan.
Lalu mereka pun memasuki loby hotel yang sudah didekorasi dengan begitu indah. Hampir setiap penjuru dihiasi mawar putih dan merah. Beberapa foto mereka pun terpasang di sana, baik foto Sweet maupun Alex dengan berbagai pose. Bahkan ada juga foto Alex sedang menggendong Sweet yang tertidur.
Sweet merasa heran dengan semua potret dirinya, bahkan dirinya sangat jarang berfoto. Sudah pasti semau itu kerjaan Alex.
Saat memasuki ballroom, langkah kaki gadis itu sempat tertahan. Bagaimana tidak, ruangan itu kini sudah di sulap menjadi istana bunga yang begitu indah dan megah. Beberapa lampu chandelier juga ikut menghiasi ballroom yang super megah itu. Hampir seluruh tamu undangan sudah hadir di sana, termasuk para staf perusahaan.
Saat ini Sweet dan Alex menjadi pusat perhatian semua orang. Banyak yang berdecak kagum atau merasa iri dengan posisi Sweet saat ini. Lelaki yang terkenal anti wanita seperti Alex, dengan gagah menggandeng seorang gadis muda, yaitu Sweet. Sepasang pengantin itu berjalan pelan menyusuri red karpet, lalu menaiki pelaminan.
"Kau benar-benar cantik sayang," bisik Alex tepat di telinga Sweet. Gadis itu memang terlihat begitu menawan dengan balutan gaun merah. Rambut hitamnya masih tersanggul rapih, dihiasi sebuah mawar merah dibagian kiri. Bibirnya yang merah merekah seakan menggoda iman lelaki yang kini berdiri di sampingnya.
Sweet sama sekali tidak menanggapi perkataan Alex. Matanya terus menyisir para tamu undangan. Hingga matanya bertemu dengan beberapa orang yang ia kenal. Mala, Milan dan Grace juga hadir di sana. Juga cinta pertama Alex, Nissa dan suaminya juga ikut hadir.
"Untuk apa semua ini?" tanya Sweet menatap Alex. Ia tidak ingin semua perlakuan Alex memengaruhi perasaannya. Mendengar pertanyaan Sweet, Alex mengerutkan kening.
"Aku ingin semua orang tahu, jika kau adalah milikku." Alex menjawab dengan sedikit berbisik. Sedangkan Sweet berdecih kesal mendengarnya.
Acara yang cukup panjang itu benar-benar membuat Sweet lelah. Ingin sekali rasanya ia mengutuk Alex yang tanpa ragu mengundang seluruh orang yang berpengaruh di Jerman. Bahkan beberapa klien pun ikut hadir di sana. Termasuk lelaki yang memiliki minat pada Sweet, yaitu Mr. Farzan.
Sweet masih menyimpan rasa penasaran, bagaimana bisa Alex menyiapkan semua ini dengan begitu singkat?
Tidak ada yang tahu jika acara besar ini sukses karena kerja keras Joshua. Lelaki itu tersenyum puas dengan semua usaha kerasnya. Bukan Joshua namanya jika tidak bisa menyelesaikan tugas dari sang Tuan.
Tuan, aku sudah banyak membantumu. Sekarang Anda yang harus berperan banyak, batin Joshua memandang pasangan serasi di atas pelaminan. Kedua insan itu masih sibuk melayani para tamu undangan dan beberapa media yang tidak ingin melewati momen bahagia.
__ADS_1
"Apa yang kau lakukan di sini?" sapa seseorang yang berhasil membuat Joshua terkejut. Lelaki itu pun langsung menoleh, untuk melihat sosok yang membuat jantungnya hampir terlepas.
"Oh, Baby. Kau membuatku hampir mati," ucap Joshua tersenyum senang saat mengetahui Grace yang menyapa dirinya.
"Aku tidak akan memaafkanmu jika Tuanmu menyakiti sahabatku. Kau sudah menghancurkan semua rencanaku," ujar Grace terlihat kesal. Bagaimana tidak, rencananya untuk membawa Sweet pergi dari hidup Alex berhasil digagalkan oleh Joshua. Lelaki itu dengan sengaja memblokir penerbangan menuju Indonesia di hari keberangkatan Grace dan Sweet kemarin.
"Maaf, Baby. Aku melakukan apa yang harus aku lakukan. Kau melakukan kesalahan, ingin memisahkan seorang istri dari suaminya." Joshua tampak membela diri. Grace yang mendengar itu semakin kesal.
"Aku membencimu, Tuan Brian. Jangan pernah temui aku lagi," ancam Grace yang langsung bergegas pergi.
"Sayang, kau tidak akan bisa pergi dariku. Karena hatiku masih ada padamu," ujar Joshua tersenyum penuh arti. Menatap Grace yang mulai menjauh dengan tatapan penuh cinta. "Cepat atau lambat aku akan memilikimu, Grace. Aku mencintaimu sampai kapan pun. Perasaanku tidak akan pernah berubah."
***
Sweet menggeliat dan terbangun dari tidurnya. Namun betapa kagetnya ia saat melihat sebuah kamar yang sangat asing. Terakhir kali ia ingat, masih berada di dalam mobil bersama Alex. Apa mungkin ia tertidur karena lelah? Tapi di mana Alex?
Apa! Ini tidak mungkin, bagaimana bisa dalam sekejap aku sudah ada di Paris? Kenapa aku bisa tertidur begitu lama? Sweet terus menggerutu dalam hati.
Dengan perasaan waswas ia bangun dari tempat tidur, lalu melihat kondisi tubuhnya. Gaun merah indah itu sudah tidak ada di tubuhnya, hanya tersisa gaun tidur yang cukup membuatnya tidak bisa berkata-kata. Gaun dengan belahan dada pendek dan panjangnya di atas lutut. Dengan tergesa Sweet menarik selimut dan melilitkan di tubuhnya. Brengsek! Apa lelaki yang mengganti pakaianku? Kesal Sweet dalam hati. Ia berusaha mengingat kejadian malam tadi, tetapi tidak ada sedikit pun ingatan di kepalanya. Ia hanya mengingatkan betapa lelahnya melayani ribuan tamu undangan malam tadi. Hingga membuatnya tumbang dan tertidur begitu pulas selama perjalanan pulang.
Sweet kembali dikagetkan saat pintu kamar terbuka. Sosok yang sejak tadi ia cari pun muncul di sana, bersama seorang lelaki berpakaian serba putih yang mendorong sebuah trolly berisi makanan. Setelah itu ia pun langsung pergi, meninggalkan Sweet dan Alex berdua di sana.
"Kau sudah bangun?" Sapa Alex berjalan menghampiri Sweet. Mengecup lembut kening Sweet.
"Kenapa kau melilit tubuhmu seperti itu?" tanya Alex saat melihat selimut yang melilit tubuh mungil istrinya. Sweet pun langsung memberikan tatapan maut, mendorong lelaki itu dengan kasar.
"Apa yang kau lakukan padaku, huh?" kesal Sweet. Alex yang mendengar itu tertawa renyah.
"Apa yang aku lakukan? Aku tidak melakukan apa pun, kau tertidur begitu pulas. Aku hanya mengganti pakaianmu dan...." Alex sengaja menggantung ucapannya. Ia ingin menggoda istrinya di pagi hari, itu akan sangat menyenangkan.
__ADS_1
"Dan apa? Brengsek!" Sweet benar-benar dibuat kesal oleh Alex. Alex tertawa geli melihat reaksi Sweet. Gadis itu sangat menggemaskan, menurutnya.
"Dan aku juga ikut tertidur, apa yang kau pikirkan huh?" goda Alex mencolek dagu istrinya.
"Kau...." Perkataan Sweet terpotong karena tiba-tiba saja Alex merengkuh tubuhnya. Lelaki itu menenggelamkan wajahnya di leher Sweet. Menghirup aroma manis dari tubuh gadis itu, aroma yang selalu ia rindukan.
"Memangnya kenapa jika aku melakukan sesuatu padamu? Kau milikku, dan aku milikmu."
Sweet terdiam mendengar perkataan Alex. Apa yang di katakan Alex memang benar, sekarang ia tidak bisa lagi menolak seperti dulu. Alex memiliki hak atas dirinya.
"Lepaskan aku, aku lapar." Sweet mencoba untuk menghindari Alex. Untuk saat ini ia belum siap lahir batin. Bagaimana jika Alex pergi meninggalkannya, saat ia benar-benar menyerahkan diri sepenuhnya? Semua itu tidak bisa Sweet bayangkan.
Alex melerai pelukkannya, menatap dalam netra coklat sang istri. "Aku tidak akan memaksamu, meski aku sangat benci dengan yang namanya menunggu. Tapi aku akan berusaha untuk bersabar."
Sweet bisa melihat ketulusan di mata Alex. Apa ini sosok Alex yang sebenarnya? Begitu lembut dan penuh ketulusan. Aku tidak menemukan sedikit pun kebohongan di matanya. Aku tidak bisa memahaminya untuk saat ini. Aku butuh waktu untuk meyakinkan hatiku. Batin Sweet.
"Kau lapar bukan? Ayo kita makan, aku tidak mau kau sakit. Aku tahu sejak kemarin kau tidak makan," ujar Alex kembali mengecup kening Sweet. Membuat gadis itu tebuai untuk sesaat. Dengan lembut Alex menuntun Sweet duduk di sofa, mengambil beberapa hidangan yang sengaja ia pesan.
"Makanlah, aku ingin mandi dan setelah ini kita akan berkeliling," ujar Alex.
"Tidak makan dulu?" tanya Sweet. Alex tersenyum lembut, begitu senang karena mendapat perhatian kecil dari Sweet.
"Aku sudah kenyang saat melihatmu," sahut Alex. Sweet yang mendengar itu berdecak kesal. Bukan Sweet namanya jika tergoda dengan rayuan lelaki.
"Aku akan makan setelah mandi," lanjut Alex dan bergegas menuju kamar mandi. Sedangkan Sweet memilih untuk menikmati sarapan paginya, berhubung ia pun sudah sangat lapar.
Ada sedikit perasaan bahagia yang saat ini Sweet rasakan. Untuk pertama kalinya ia merasa seseorang menggenggam tangannya dengan penuh kehangatan. Sudah hampir tiga jam mereka berkeliling menyusuri kota Paris. Selama itu pula Alex terus menggenggam tangannya dengan begitu erat, seakan takut jika tangan mungil itu akan terlepas darinya.
Sweet mengangkat kepalanya ke samping, menatap lelaki jangkung di sampingnya. Lelaki yang tidak pernah ada dalam bayangannya selama ini, sosok yang amat sangat ia benci. Kini sosok itu pula yang menjadi pasangan hidupnya. Memang tidak ada yang tahu akan takdir dan rencana Sang Maha Pencipta. Kadang apa yang kita benci, itulah yang terbaik untuk kita. Tidak akan bisa menolak atau menghindar. Takdir itu akan terus menarik kita untuk terus berada di dekatnya. Mengikat erat antara satu dengan yang lain.
__ADS_1