Istri Yang Dingin

Istri Yang Dingin
IYD 29


__ADS_3

Sabrina terus mondar mandir di depan pintu pagar depan karena Arez belum kembali. Ia terus mengintip ke jalan, berharap suaminya itu muncul di sana. Namun lelaki itu belum juga menampakkan diri. Terkadang Sabrina merasa penasaran dengan sikap aneh Arez. Sejak pertama mereka bertemu, Arez selalu bersikap kasar dan tak menentu. Dan saat ini dirinya mulai cemas karena malam semakin larut, tetapi lelaki itu belum juga menampakkan batang hidungnya.


"Jika di Berlin aku tak akan cemas kau menghilang sekali pun, tapi ini negara orang. Ayolah, jangan membuatku cemas." Sabrina menggigit bibirnya. Ia katakutan sekarang. Sabrina duduk di depan pintu dengan pandangan tertunduk ke tanah. Ia takut lelaki itu benar-benar tak kembali dan meninggalkannya di sana. Namun ketakutan itu mendadak sirna saat matanya menangkap sepasang sepatu milik seseorang. Sabrina langsung mendongak. Seketika senyumannya mengembang. Ia bangun dari posisinya dan langsung memeluk lelaki itu.


"Kau kemana saja, Al? Aku takut kau meninggalkanku di sini. Aku minta maaf soal tadi. Aku benar-benar kesal padamu. Jangan tinggalkan aku di sini, aku takut."


Arez memeluk erat pinggang ramping istrinya. "Jangan membuatku marah, Sabrina. Jadilah istri penurut."


Sabrina menarik diri dari dekapan suaminya. "Al, kau ini kenapa? Kau selalu bersikap kasar dan tak terkontrol. Apa yang terjadi padamu huh?" Sabrina mencari jawaban di mata suaminya. Namun ia tak mendapatkan itu.


"Sudah aku katakan, kenali aku lebih dalam. Kau akan tahu siapa suamimu ini." Jawab Arez tanpa ekspresi.


"Bagaimana kau bisa bicara tanpa ekspresi seperti itu? Kau benar-benar aneh." Komentar Sabrina menatap Arez penuh tanya. Ia mulai penasaran apa yang sebenarnya lelaki ini sembunyikan.


"Masuklah, aku akan mencari makanan untukmu."


"Aku ikut."


Arez terdiam sejenak. "Baiklah."


Sabrina tersenyum senang. Menggandeng tangan suaminya dengan mesra. "Ayok." Ajaknya saat Arez masih berdiam diri.


Arez mulai melangkah, langkah yang cukup santai dan tak membuat Sabrina merasa terbebani.


"Kau kemana saja tadi?" Tanya Sabrina memecah kesunyian.


"Berkeliling." Jawabnya datar.


"Ck, dasar suami tidak pengertian. Kau berkeliling sendirian, meninggalkanku di rumah dengan perasaan cemas. Aku hampir gila kau tahu?"


"Kau tak mencemaskanku, tapi kau takut kutinggalkan." Ucap Arez datar.


"Tentu saja, semua identitasku kau sembunyikan. Jika kau meninggalkanku di sini, entah bagaimana kehidupanku? Lagian buat apa aku mencemaskan dirimu, kau bukan anak kecil lagi." Sabrina terus mengoceh seakan melupakan sifat dingin Arez padanya.


"Uh, aku sangat lapar sekali. Aku ingin makan cheese fondue, boleh?"


Arez melirik istirnya sekilas dan tak berniat menjawab. Keduanya pun terdiam cukup lama.


"Al."


"Hm."


"Kau punya kekasih?" Tanya Sabrina ingin tahu lebih jauh tentang lelaki itu.


"Ya."


"Hah? Kau punya kekasih, tapi kenapa menikah denganku? Bagaimana jika kekasihmu mmmmffff...." Sabrina terhenyak karena tiba-tiba Arez menarik tengkuk dan mencium bibirnya dengan lembut.


Sabrina mengedipkan matanya beberapa kali karena masih kaget. Sedangkan Arez tersenyum samar karena berhasil membuat pipi istrinya merona.

__ADS_1


"Kau sangat cerewet. Aku tidak punya kekasih, tapi aku punya istri." Arez kembali melanjutkan langkahnya. Sabrian tersenyum dan segera menyeimbangi langkah suaminya.


"Itu artinya aku wanita pertamamu?" Tanya Sabrina memeluk Arez dari samping dengan wajah mendongak. Ia merasa senang dengan pengakuan Arez.


Arez menatap Sabrina sekilas. Namun tak memberikan jawaban apa pun.


"Kau juga lelaki pertama untukku. Kau sangat kasar, tapi aku merasa aman saat disisimu." Sabrina masih mengoceh dan itu membuat hati Arez merasa hangat.


"Oh iya, Al. Aku baru ingat sesuatu, bukankah lusa kedua adik kembarmu akan melangsungkan resepsi? Apa kau tidak ingin menghadiri acara mereka? Kau kan anak tertua."


"Aku akan datang jika kau ikut denganku."


"Al, aku tidak mungkin ikut. Aku belum mengenal mereka. Aku belum siap. Sebaiknya kau pergi saja sendiri. Aku akan menunggumu di sini. Kau harus hadir, jangan membuat mereka kecewa. Terutama orang tuamu, aku yakin mereka mengharapkan kehadiranmu. Kau begitu menyayangi Ibumu, maka datanglah Al. Selagi kau masih bisa membahagiakannya. Berbeda denganku yang tak mungkin menemuinya lagi."


Arez masih terdiam seolah tak menanggapi perkataan istrinya, nyatanya perkataan Sabrina berhasil memengaruhi hatinya.


"Al, kau mendengarku kan?"


"Kau terlalu berisik. Tidak perlu ikut campur urusan pribadiku." Protes Arez.


"Tapi aku istrimu, Al." Sabrina mengerucutkan bibirnya. Lalu keduanya melanjutkan perjalanan tanpa sepatah kata pun.


****


Pagi hari Sabrina terlihat sibuk mengobrak abrik kopernya, sudah satu jam lebih ia mencari benda penting miliknya. Namun ia tak menemukan benda itu di mana pun. "Aku rasa sudah memasukkannya dalam koper, kenapa tidak ada?"


Sabrina menggigit ujung kukunya karena belum menemukan benda itu. Ia kembali menggeledah isi kopernya, tetapi yang dicari memang tidak ada di sana.


"Em, Al. A__apa kau melihat obat... obatku yang itu," gugup Sabrina memeluk dirinya sendiri.


"Obat apa?" Tanya Arez nyaris tanpa ekpresi. "Jika yang kau cari pil sialan itu, kau tak akan pernah menemukannya."


"What?" Sabrina memekik kaget. "Kau membuangnya, Al? Oh god, ini masa suburku, Al." Sabrina mulai panik.


"Lalu?"


"Bagaimana jika aku hamil? Malam tadi kau membuangnya di dalam. Ya tuhan, Al." Sabrina mengusap wajahnya dengan kasar.


"Lahirkah saja, kau hamil oleh suamimu sendiri bukan orang lain." Jawab Arez dengan santai. Mulut istrinya terbuka saat mendengar itu.


"Aku tidak mau hamil secepat ini. Bisa saja kau membuangku setelah bosan kan?"


Arez bergerak menuju lemari dan menarik sebuah kaos dan celana joger. Melepaskan handuknya tanpa rasa malu sedikitpun. Sabrina yang melihat itu langsung berbalik.


"Kau sudah melihatnya sepanjang malam," kata Arez menggoda istrinya.


"Kau sangat mesum, Al." Kesal Sabrina yang langsung beranjak menuju kamar mandi.


Sabrina menatap pantulan dirinya di cermin. Wajahnya pucat pasi karena rasa takut. Bagaimana jika dirinya benar-benar hamil? Arez bukan orang yang mudah untuk di pahami. Bagaimana jika lelaki itu mulai bosan dan benar-benar mencampakkan dirinya? Sabrina tidak ingin mengambil resiko apa pun untuk saat ini.

__ADS_1


"Apa yang harus aku lakukan sekarang?" Matanya terpejam rapat. Mencoba menepis segala rasa takut itu. Sabrina berjalan menuju pemandian, mengguyur tubuhnya di bawah air dingin.


Apa yang sedang kau rencanakan, Al? Kenapa kau menjeratku dalam hubungan ini? Hubungan yang tak pasti sampai kapan akan bertahan. Kadang kau bersikap lembut dan membuatku merasa nyaman. Tapi kadang kau membuatku takut, Al. Apa aku harus mengenalmu lebih jauh? Bagaimana jika aku tenggelam dan tak ingin beranjak darimu? Apa kau akan terus menggenggam tanganku saat itu? Atau melepasku tanpa belas kasihan? Aku bingung, Al.


Sabrina keluar dari kamar mandi dan tak lagi menemukan keberadaan suaminya. Ia tak peduli akan hal itu dan bergegas berganti pakaian. Setelah itu ia keluar dari kamar, hidungnya langsung menangkap aroma lezat yang mampu membangunkan cacing diperut.


"Al." Kaki jenjangnya terus melangkah dan membawanya kesebuah ruangan yang bisa dikatakan itu dapur. Di sana Arez tengah memasak sebuah makanan dengan aroma yang begitu mengguggah selera.


"Al, kau bisa memasak?" Tanya Sabrina menghampiri suaminya. Arez hanya menoleh sekilas.


"Duduklah." Titahnya. Sabrina langsung melihat ke arah meja makan bundar yang hanya bisa menampung dua orang. Kemudian menarik salah satu kursi dan duduk di sana. Matanya terus bergerak meneliti seisi rumah sederhana itu.


"Kau sengaja menyewa rumah ini?" Tanyanya dengan jemari yang terus bergerak mengetuk meja.


"Ini milikmu."


"Hah?" Pekik Sabrian tak percaya.


"Ke mana lagi kau ingin pergi?" Tanya Arez seraya meletakkan sepiring besar nasi goreng di atas meja. Sabrina mengerut bingung, ia tak pernah melihat jenis makanan itu sebelumnya.


"Nasi goreng, makanan Indonesia." Kata Arez ikut duduk di sana. Kemudian memberikan sebuah sendok pada istrinya.


"Na__nasi goreng?" Sabrina terlihat kesulitan saat menyebut nama makanan itu.


"Hm. Makanlah." Arez memasukan sesendok nasi goreng ke dalam mulutnya. Dengan mata yang terus tertuju pada sang istri.


Sabrina yang melihat itu merasa penasaran dan langsung mencicipinya. Seketika matanya membulat karena makanan itu terasa begitu lezat dimulutnya. Lagi... lagi dan lagi ia menyuap makanan itu dengan perasana senang karena pertama kali merasakan makanan seunik ini. Arez tersenyum tipis melihatnya.


"Habiskan, kau ingin minum jus?" Tanya Arez bangun dari posisinya. Sabrina hanya mengangguk antusias karena dirinya masih menikmati hidangan ala suaminya itu. "Al, aku tak menyangka kau begitu pandai memasak. Ini sangat enak." Puji Sabrina.


"Jangan banyak bicara, habiskan semuanya." Arez meletakkan segelas jus jeruk di depan istrinya.


"Thank you." Ucap Sabrina dengan senyuman lebar. "Tapi... Al. Ini terlalu banyak. Kau juga harus membantuku menghabiskannya."


Arez kembali duduk di posisinya dan melanjutkan sarapan pagi bersama sang istri. Sabrina menatap Arez dengan senyuman manisnya.


"Kau tahu, Al. Aku selalu memimpikan punya suami tampan, pintar dalam segala hal dan mencintaiku tentunya. Dan sekarang itu benar-benar menjadi kenyataan, aku memiliki suami tampan sepertimu. Meski kau agak kasar, tapi tidak jadi masalah. Aku rasa kau masih bisa berubah setelah mencintaiku." Oceh Sabrina sambil terus menikmati sarapannya.


Arez memperhatikan wajah istrinya dengan seksama. Namun tak memberikan tanggapan apa pun.


"Em... kau menyukai wanita seperti apa Al?" Tanya Sabrina masih berusaha mengajak suami dinginnya itu bicara.


"Dirimu."


Sabrina mengangkat sebelah alisnya. "Aku?" Menunjuk diri sendiri. Namun setelah itu ia tertawa renyah.


"Tidak ada yang spesial dalam diriku, Al. Aku tidak punya apa-apa untuk dibanggakan. Berbeda denganmu yang memiliki segalanya." Imbuhnya yang kemudian meneguk jus dan menyisakannya setengah.


"Kau masih memiliki wajah dan tubuh yang indah." Kata Arez tersenyum nakal. "Aku suka itu."

__ADS_1


Sabrina mendengus kesal. "Semua lelaki sama saja, selalu memandang fisik lebih dulu." Wanita itu kembali melahap sisa makanannya dan kali ini tak lagi mengeluarkan ocehan. Arez tersenyum samar, hatinya benar-benar terasa hangat dengan situasi saat ini. Di mana ia bisa menghabiskan waktu bersama istri cantiknya.


__ADS_2