Istri Yang Dingin

Istri Yang Dingin
Season 3 (29)


__ADS_3

Eveline terus mengembangkan senyuman bahagianya karena hari ini Lucas sudah diperbolehkan pulang. Dan yang membuatnya bahagia yaitu Lucas ingin pulang ke Berlin, bukan California. Itu artinya mereka akan terus bersama sampai hari pernikahan.


"Sudah?" Tanya Lucas menatap Eveline yang masih sibuk merapikan perlengkapannya. Sedangkan dirinya sudah terlihat tampan dengan stelan kasual andalannya.


"Sedikit lagi." Sahut Eveline.


"Aku rasa Dustin sudah menunggu kita."


Eveline tersenyum. "Biarkan saja. Sesekali menunggu kan tidak apa."


Lucas terus memperhatikan calon istrinya itu. Hampir dua minggu mereka di rumah sakit, dan Eveline tak sedikit pun beranjak meninggalkan dirinya. "Eve, bagaimana jika besok saja kita menikah."


Mendengar itu Eveline langsung melotot. "Kau belum pulih, Luc. Berhenti membuat lelucon. Kau kira menikah itu seperti mainan? Bisa kau gelar kapan saja? Kita harus mempersiapkan segala hal dengan matang, Luc."


Lucas tersenyum. "Uangku banyak, bahkan aku bisa menggelar pernikahan detik ini juga."


Eveline mendengus sebal. "Aku tidak mau acara pernikahanku terkesan dadakan dan ada kesalahan. Semuanya harus sempurna. Aku anak terakhir, tapi aku yang menikah lebih dulu. Bukankah aku harus mendapat hadiah?"


Lagi-lagi Lucas tersenyum. "Coba minta hadiah pada Grandma, aku rasa kau tidak akan berani."


Mendengar itu pergerakan Eveline tertahan. Ia melupakan wanita terkasihnya itu. Wanita yang selalu memberikan kasih sayang penuh setelah sang Mommy. "Luc, pasti Grandma kecewa padaku kan? Ah, maksudku pada kita. Apa lagi jika beliau tahu aku hamil di luar nikah."


"Tidak perlu membahas kehamilamu, Eve. Tidak semua keluarga tahu kau hamil. Aku sudah mewanti-wantinya."


Eveline terdiam. "Jadi kita harus berbohong pada keluarga sendiri?"


"Kita tidak berbohong, hanya menyembunyikan saja."


"Sama saja, Luc." Eveline memutar bola matanya malas.


"Sudah?"


Eveline mengangguk.


"Bantu aku turun." Pinta Lucas. Dengan sigap Eveline membantunya turun dari brankar dan duduk di kursi roda. Eveline meletakkan tasnya di atas pangkuan Lucas. Lalu mendorong kursi roda dan membawa Lucas keluar.


"Ah... akhirnya aku bebas." Lucas berseri. "Sejak dulu aku benci rumah sakit. Sialnya aku berakhir di sini juga."


"Kau benci rumah sakit, tapi penyakit dicari. Kau sangat aneh, Luc."


Lucas tertawa kecil. "Aku jadi tidak waras sejak mengenalmu, Eve."


"Cih, kau jadikan aku sebagai alasan gilamu. Menyebalkan."


Lagi-lagi Lucas tertawa kecil. "Di mana mobilnya, apa anak itu marah kita terlalu lama?" Tanyanya saat tak melihat keberadaan Dustin.


"Biar aku hubungi dia." Eveline pun mengeluarkan ponsel dan segera menghubungi Dustin. Cukup lama Eveline menunggu jawaban. Tetapi Dustin tak kunjung menjawab. "Ck, aku rasa dia memang marah dan meninggalkan kita di sini."


Lucas menghela napas panjang. "Dia sangat mirip dengan Mommy. Mudah sekali merajuk."

__ADS_1


"Biar aku kirim pesan saja." Eveline pun mulai mengetik, tetapi belum sempat ia menekan tombol send. Mobil yang Dustin sewa pun muncul lebih dulu. Kaca mobil pun terbuka. Namun, itu bukan Dustin melainkan Mike. "Sorry. Tadi aku makan dulu, habis kalian lama."


"Mike? Di mana Dustin?" Tanya Lucas.


"Em... aku tidak tahu." Sahut Mike seperti menyembunyikan sesuatu.


Baik Lucas maupun Eveline sama sekali tidak menaruh curiga. "Hey, kau tidak ingin membantunya?" Kesal Eveline karena Mike sama sekali tak berinisiatif untuk membantu Lucas masuk ke mobil.


"Aku pikir dia tidak butuh bantuan, biasanya juga dia melakukan segala hal sendiri." Ketus Mike seraya turun dari mobil. Lalu membantu saudaranya masuk ke mobil. Setelah itu mereka pun langsung beranjak dari rumah sakit menuju Bandara. Karena hari ini mereka akan langsung pulang ke Berlin sesuai keinginan Lucas.


****


Di sebuah restoran ternama di Berlin, terlihat Violet sedang berbincang ringan dengan seorang laki-laki bernama Paul Morgan. Sepertinya gadis itu mendengrkan saran dari Lucas untuk membuka hati.


"Kau tahu, aku selalu kagum saat melihatmu menang di arena." Puji Paul.


Violet tertawa kecil dengan kedua tangan bersidekap di atas meja. "Sejak kapan kau memperhatikanku huh?"


Paul tersenyum tulus. "Sejak pertama kali kau masuk arena, Vio."


Violet menegakkan tubuhnya. "Sejak pertama? Itu artinya sejak sepuluh tahun lalu?"


Paul mengangguk. "Saat itu kau sangat mengemaskan, kau gadis kecil pertama yang berani mengarungi jalanan."


Violet tersenyum kikuk. "Tapi aku tidak pernah melihatmu."


"Aku tidak pernah turun dari mobil, dan hanya memandangmu dari jauh. Kau selalu ceria bersama saudara-saudaramu."


Paul tersenyum. "Aku juga masih tidak menyangka akhirnya kau menerima undanganku."


"Aku hanya mengikuti isi hatiku." Jawab Violet apa adanya.


Paul meraih tangan Violet. "Izinkan aku mendekatimu, Vio."


Violet terkesiap. "Paul aku...." belum selesai Violet bicara, matanya tidak sengaja melihat Dustin sedang duduk bersama wanita asing.


"Dustin?" Gumam Violet tak percaya. Spontan Paul pun mengikuti arah pandang Violet.


"Dia sedang kencan juga huh?" Paul kembali menatap Violet. Sedangkan Violet terus memandang ke arah Dustin.


Cess!


Pandangan keduanya pun bertemu. Tubuh Violet seketika membeku. Dustin tersenyum sekilas. Setelah itu kembali berbincang dengan wanita asing itu. Tentu saja itu membuat Violet kecewa.


Ah... apa yang aku harapkan?


"Vio?" Paul terus melambaikan tangannya di depan wajah Violet karena sejak tadi ia mengoceh, tetapi tak ada sahutan. Sontak wanita itu terkejut.


"Ah, maaf. Kau bicara apa tadi?"

__ADS_1


Paul tersenyum. "Aku bertanya, apa aku boleh singgah ke rumahmu?"


"Hah? Buat apa?"


"Bertemu orang tuamu."


Violet menelan air liurnya. "Paul, sebenarnya Daddy tidak terlalu senang aku dekat dengan laki-laki."


"Karena itu aku ingin meminta izin padanya untuk dekat denganmu."


"Paul... kau tidak tahu siapa Daddyku."


"Aku tahu semua tentangmu." Sahut Paul.


Violet melirik sekilas ke arah Dustin. Kemudian tersenyum pada Paul. "Aku lupa kau bisa melakukan segala hal."


Paul tersenyum. "Hm. Jadi?"


"Jadi?" Violet mengulang pertanyaan Paul.


"Apa kau akan menerimaku jika aku mengantongi restu dari Ayahmu?"


Violet menggigit ujung bibirnya dan tidak langsung menjawab.


"Hah, maafkan aku. Aku tidak bisa memaksamu. Kita jalani saja pelan-pelan." Paul melihat jam tangannya. "Sudah hampir jam sebelas. Kau mau mencoba Blaky?"


Wajah Violet berbinar. "Apa boleh? Aku diizinkan menggunakan Blackymu?" Tanyanya antusias.


"Tentu saja. Bagaimana jika kita bertukar mobil. Kita bertanding." Tawar Paul.


"Siapa takut? Ayo, aku akan mengalahkanmu."


Paul tersenyum miring. "Jika kau kalah, kau harus bersedia kencan denganku selama satu bulan."


Violet melipat kedua tangannya di dada. "Siapa takut." Lalu sedikit mencondongkan tubuhnya. "Jika kau kalah, maka Blacky resmi menjadi milikku."


"Tidak masalah. Ayo bertanding."


"Deal!" Violet mengulurkan tangannya. Dan dengan sigap Paul menerimanya. Lalu keduanya tertawa bersama. Dan itu berhasil menarik perhatian Dustin. Bahkan elaki itu memberikan tatapan sulit dipahami.


Detik berikutnya, keduanya langsung meninggalkan restoran dan bergegas menuju arena balapan liar.


Violet keluar dari mobilnya, begitu pun dengan Paul ikut keluar dari mobil juaranya. Violet memandang Blacky penuh kagum. Jika wanita lain memandang ke arah Paul, berbeda dengan dirinya. Ia lebih tertarik pada mobil mewah super mahal itu. Padahal di rumahnya sudah ada lima mobil sport berbagai jenis merk ternama. Tetap saja gadis itu tidak puas.


"Sepertinya kau begitu mengagumi my Blacky huh?"


"Tentu saja, dia terlihat seksi di mataku. Dia terlihat ramping di bebrapa sisi. Itu seleraku."


Paul tersenyum penuh arti, lalu dilemparnya kunci mobil ke arah Violet. Dengan sigap gadis itu menangkapnya. Kemudian ia pun ikut melempar kunci mobilnya pada Paul. "Aku percayakan Blue birdku padamu, Tuan Morgan. Jangan sampai dia lecet. Backy akan menjadi mulikku."

__ADS_1


Violet tersenyum nakal, kemudian bergegas masuk ke dalam mobil hitam nan mewah itu. Paul tersenyum geli. "Cepat atau lambat kau juga akan menjadi milikku, Violet."


Tbc....


__ADS_2