Istri Yang Dingin

Istri Yang Dingin
IYD 17


__ADS_3

Arez membanting pintu apartemennya dengan kasar. Ia masih diselimuti rasa kesal atas semua keputusan orang tuanya yang ingin menjodohkan dirinya. Ia paling benci jika kehidupan pribadinya di usik. Termasuk orang tuanya sekali pun.


Arez membuka kancing kemejanya dengan kasar, kemudian melempar kemeja itu asal. Ya, seperti itulah sifatnya saat sedang marah.


"Sialan!" Umpatnya yang langsung beranjak menuju kamar mandi. Lalu mengguyur tubuhnya dengan air dingin. Arez memejamkan matanya untuk menenangkan pikiran sejenak. Namun tiba-tiba wajah cantik gadis bertopeng itu melintas dalam benaknya. Seketika matanya terbuka. Ia pun mempercepat mandinya.


Kini Arez terlihat jauh lebih fresh dari sebelumnya. Berjalan menuju walk in closet untuk berganti pakaian. Setelah itu ia melanjutkan pekerjaan yang belum tuntas. Tidak lama dari itu suara bel pintu berbunyi. Arez mengerut bingung, siapa di tengah malam seperti ini bertamu? Berani sekali orang itu mengusik ketenangannya. Dengan segenap rasa kesal Arez berjalan menuju pintu, kemudian mengintip orang itu. Seketika jantung Arez berdetak kencang saat melihat gadis bertopeng yang selalu mengganggu pikiranya sudah berdiri di depan pintu apartementnya.


Jadi kau benar-benar menguntitku huh?


Tanpa banyak berpikir lagi, Arez langsung membuka pintu. Refleks gadis itu tersentak kebelakang karena kaget karena Arez membuka pintu dengan kasar. Dan sedetik kemudian netra abu itu melebar kala melihat wajah si pemilik apartemet.


"Maaf, aku salah orang." Ucap gadis itu gugup dan langsung beregas pergi. Namun tubuhnya kembali tersentak ke belakang karena Arez menarik pergelangan tangannya. Mata indah itu semakin melebar saat merasakan punggungnya menyentuh sesuatu yang keras dan kokoh, tetapi sangat hangat.


"Tuan, saya__saya minta maaf. Saya pikir ini apartement teman saya." Ucap gadis itu semakin gugup saat hembusan napas Arez meyapu telingannya. Refleks ia pun memejamkan mata.


"Kenapa kau terus mengikutiku, Sabrina?"


Gadis itu kembali tersentak saat Arez mengetahui namanya. Kemudian ia pun langsung berbalik. Namun tubuhnya membeku saat wajah lelaki dingin itu begitu dekat dengannya. Bahkan ia bisa merasakan hembusan napas berat milik Arez.


"Katakan apa maumu huh? Kau ingin mencari kesempatan untuk membunuhku? Pertama-tama kau mendekati aku, menjeratku dengan pesona kecantikkanmu, setelah itu kau akan mengambil kesempatan untuk membunuhku. Apa aku benar, Sayang?"


Sabrina memejamkan mata saat mendengar tuduhan itu. Kemudian membukanya lagi dengan cepat. "Kenapa kau selalu menuduhku? Aku bukan pembunuh." Desis gadis itu tak terima dengan tuduhan Arez.


Arez tersenyum miring. "Jika para pembunuh mengaku, tidak akan ada korban pemebunuhan."


"Tapi aku bukan pembunuh." Kesal Sabrina.


"Bagaimana kau akan membuatku percaya huh?" Tanya Arez dengan santai.


"Lepaskan dulu tanganku." Sabrina menarik tangannya dari cekalan Arez. Namun lelaki itu sepertinya tak berniat melepaskannya.


"Aku mohon, aku memang bukan pembunuh, apartementku tepat di atasmu. Aku tidak tahu kenapa lampunya mendadak mati, aku juga sudah menghubungi teknisi tapi sampai sekarang belum ada yang datang. Aku takut kegelapan, jadi aku berniat untuk meminta bantuan. Aku tidak tahu jika kau tinggal di sini." Jelas Sabrina dengan wajah yang memucat. Ia gugup karena Arez terus menatapnya dengan tajam.


"Kau takut padaku huh?"


Dengan cepat Sabrina menggeleng. "Aku butuh bantuan."


"Kau ingin menjebakku dengan cara murahan ini?"


"Ck, kalau kau tidak mau membantu tidak jadi masalah. Aku akan meminta bantuan yang lain. Kau terus menuduhku, menyebalkan." Sinis gadis itu menepis tangan Arez dengan kasar. "Aku ke sini karena tempat ini lebih dekat dari apartemenku. Aku tidak tahu jika tempat ini milikmu."


"Semua orang tahu itu."


"Tapi aku tidak. Aku juga tak pernah melihatmu di sini, sudah hampir tiga tahun aku menetap di sini. Kita tak pernah berpapasan."


Arez memang sangat jarang menempati apartementnya. Karena ia lebih senang berada di mansion. Hanya saja saat ini moodnya sedang buruk dan masih kesal pada orang tuanya. Karena itu ia memilih apartement sebagai tempat pelarian.


"Ck, kau ingin membantuku atau tidak? Jika tidak aku akan mencari bantuan yang lain."


Arez tampak berpikir keras.


"Kau terlalu lama, aku akan mencari bantuan lain." Sabrina hendak pergi. Namun Arez kembali mencekal lengannya.

__ADS_1


"Jadi kau tidak keberatan untuk membantuku?" Tanya Sabrina dengan senyuman yang mengembang.


"Kenapa kau terlihat senang huh? Aku sama sekali tak berniat membantumu." Perkataan Arez tentu saja berhasil memudarkan senyuman di wajah Sabrina.


"Lalu apa maksudmu mencekal tanganku huh? Kau ingin mencari kesempatan padaku bukan? Adik dan Kakak sama saja, sama-sama brengsek." Kesal Sabrina menyulut emosi Arez yang sedang tak stabil.


"Kau mengataiku brengsek? Berani sekali kau." Desis Arez dengan kilatan amarah di matanya. Sabrina pun langsung ciut melihat itu.


"Ekhem... apa kau benar-benar tak ingin membantuku?" Gadis itu berusaha mengalihkan pembicaraan. Bagaimana pun ia masih membutuhkan bantuan seseorang. Ia benar-benar takut kegelapan.


Arez sama sekali tak menanggapi gadis itu dan menutup pintu dengan kasar. Tentu saja Sabrina terkejut. "Dasar aneh."


"Ck, sekarang aku harus mencari bantuan siapa? Ini sudah larut malam, apa aku meminta bantuan orang di lantai atas saja ya?" Ia tampak berpikir keras. "Sudahlah, aku akan naik ke atas."


Saat ia hendak pergi dari sana, pintu itu kembali terbuka dan menampakkan Arez yang sudah lengkap dengan jaket kulitnya. Sabrina pun langsung menoleh.


Ya Tuhan kenapa dia sangat tampan? Pikir Sabrina.


"Jangan membuang waktuku." Arez pun melangkahkan kakinya menuju lift.


"Jadi kau ingin membantuku?" Lagi-lagi Sabrina diabaikan. Gadis itu mengehela napas berat, dan tanpa banyak berpikir ia segera menyusul Arez ke dalam lift.


Satu jam berlalu, apartement milik Sabrina pun kembali terang. Gadis itu memekik gembira.


"Thank you, jika tifak ada dirimu mungkin saat ini aku sudah mati ketakutan." Ucapnya begitu antusias.


"Hm."


"Apa kau seorang teknisi juga?" Tanya Sabrina tanpa malu. Arez menatap gadis itu tajam.


"Oh iya, bagaimana dengan bayaranmu? Aku transfer atau...." Belum juga selesai gadis itu bicara. Arez langsung mendorongnya sampai gadis itu membentur dinding. "Hey, apa yang...."


Lagi-lagi ucapan Sabrina tertahan karena Arez mengukung tubuhnya. "Kau juga belum membayar hutangmu yang sebelumnya." Desis Arez dengan tatapan tajam.


"Hu__hutang apa, Tuan? Aku tak pernah merasa punya hutang padamu." Sabrina menatap Arez bingung. Lalu dengan tiba-tiba Arez mengunci kedua tangan Sabrina di atas kepala. Gadis itu pun memekik kaget.


"Apa yang kau lakukan!" Sabrina hendak menendang milik Arez, tetapi ia kalah cepat karena Arez sudah lebih dulu menekan kedua kakinya. Lalu menarik kasar topeng itu, hingga manampakkan pahatan indah di depan matanya. Ia menjatuhkan topeng itu asal.


"Kau brengsek! Lepaskan, seharusnya aku tak mempercayaimu. Kau lebih brengsek dari pada adikmu, sialan kau. Lepaskan aku." Sabrina terus memberontak sampai pergelangan tanganya terasa sakit. Bahkan air matanya mulai menitik.


"Aku mohon, lepaskan aku." Suara gadis itu semakin bergetar ketakutan. Namun Arez sama sekali tak berniat untuk melepaskan gadis itu. Bahkan dengan berani mencium bibir tipis sang gadis dengan kasar. Namun perlahan melembut. Sabrina yang awalnya meronta pun mulai tenang. Dan tanpa sadar membalas ciuman Arez. Lelaki itu berhasil membuatnya terbuai.


Arez melepaskan pagutannya, kini napas keduanya memburu. Dada Sabrina naik turun karena dirinya hampir kehabisan pasokan oksigen.


Kenapa bibirnya sangat lembut? Pikir Arez masih setia menatap bibir itu.


Sialan! Kenapa aku terbawa suasana. Kesal Sabrina dalam hati.


"Itu bayaran karena kau sudah berani menciumku." Mata Sabrina melotot saat mendengar itu.


Ya Tuhan, jadi dia masih mengingat kejadian itu?


"Cih, seperti tidak pernah ciumana saja." Ketus Sabarina memalingkan wajahnya.

__ADS_1


Arez sama sekali tak berekspersi. Ia menarik dagu sang gadis hingga pandangan mereka pun bertemu dan mengunci satu sama lain. "Jadilah istriku."


"What?" Pekik Sabrina nayris tak percaya dengan apa yang didengarnya.


"Jangan terlalu percaya diri, aku membutuhkan seorang wanita untuk menghindari perjodohan. Jadilah istirku selama satu tahun, setelah itu kau bebas memilih hidupmu."


"Aku tidak mau! Kau pikir pernikahan itu permainan apa? Dalam perinsipku menikah itu sekali seumur hidup." Kesal Sabrina memberikan tatapan tak bersahabat pada Arez.


"Kalau begitu jadilah istriku seumur hidup." Pinta Arez dengan entengnya. Sebenarnya nada bicaranya itu lebih mirip dengan sebuah perintah.


"Hey, Tuan. Pertama-tama kau menuduhku sebagai pembunuh. Dan sekarang kau ingin aku menjadi istrimu? Dalam mimpi saja. Aku benci laki-laki brengsek dan otoriter sepertimu."


Mata Arez mengilap saat mendengar penolakan gadis itu. Selama ini tak pernah ada yang menolak keinginannya. Sabrina yang melihat itu mendadak takut. "Aku__aku...."


Untuk yang kedua kalinya Arez mencecap bibir manis itu. Namun kali ini lebih kasar dan menuntut. Membuat sang empu kuwalahan dan tak mampu mengimbanginya. Sabrina menggigit bibir Arez saat dadanya terasa sesak karena kehabisan oksigen.


Arez mendesis dan menyentuh bibirnya yang berdarah. Sedangkan Sabrina terbatuk dan berusaha menghirup udara sebanyak mungkin. Arez tersenyum tipis saat melihat wajah gadis itu yang memerah.


"Kau sangat payah dalam berciuman, jika menjadi istriku kau harus belajar untuk mengimbangiku."


"Cih, siapa yang ingin menjadi istrimu huh? Aku sama sekali tak sudi. Kau brengsek!" Umpat Sabrina dengan napas yang memburu.


"Kau tak punya pilihan, Sayang. Dalam dua hari, akan aku pastikan kau menemuiku. Sama seperti beberapa jam yang lalu, kau yang datang padaku dengan sendirinya." Bisik Arez tepat di telinga Sabrina.


"Itu tidak akan pernah terjadi, aku membenciu Alfarez." Bentak Sabrina dengan mata memerah.


"Berhati-hatilah, benci dan cinta itu dua elemen yang sering terikat satu sama lain. Cinta bisa mengalahkan kebencian, juga sebaliknya. Dalam artian, benci dan cinta bisa menjadi satu dalam sebuah situasi." Arez mengulang setiap perkataan yang pernah gadis itu ucapkan tanpa cacat sedikit pun.


Sabrina terkejut mendengarnya. Bagaimana dia bisa ingat sampai sedetail itu? Apa dia manusia?


"Aku akan selalu mengingat setiap kata yang keluar dari mulut manismu, Sayang. Jangan berpikir untuk memberikan bibir manis ini pada orang lain. Karena aku tak akan membiarkan itu terjadi." Arez menyentuh bibir Sabrina dengan sensual.


"Siapa kau berani mengatur hidupku huh?"


"Kekasihmu." Mata Sabrina terbelalak saat mendengar nada percaya diri lelaki itu.



"Aku tidak sudi."


"Sudi atau tidak, kau tetap milikku."


"Brengsek!"


"Aku akan lebih brengsek jika kau membantahku, Sayang."


"Lepaskan aku. Aku akan benar-benar membunuhmu." Teriak Sabrina yang mulai kehabisan kata-kata.


"Jika kau ingin membunuhku, kau bisa melakukan itu sejak tadi."


"Kau...."


"Sudahlah, kau harus istirahat. Aku akan kembali." Pungkas Arez mengecup bibir manis itu sebelum beranjak pergi.


"Sialan! Brengsek kau Alfarez. Aku membencimu. Jangan harap kau bisa menemuiku lagi." Teriak Sabrina saat punggung lelaki itu menghilang dibalik pintu. Namun sedetik kemudian lampu pun mati.

__ADS_1


"Alfarez!" Teriaknya. Lalu lampu itu hidup kembali. "Brengsek! Sialan."


Arez tersenyum jahil dan segera masuk ke dalam lift. Benar, Arez memang sengaja menyabotase listrik di apartement Sabrina. Agar ia bisa mengerjai gadis itu setiap saat.


__ADS_2