
Rhea terlihat duduk sendirian di sebuah bangku panjang bercat hijau, matanya terus mengawasi dua orang yang saat ini sedang bermain ditaman dekat apartemen. Sesekali ia tersenyum saat melihat Prince terjatuh karena kejaran Zhea. Keduanya tertawa begitu bahagia, tentu saja hal itu membuat hati Rhea menghangat.
Namun senyuman itu perlahan memudar saat tiba-tiba ingatan akan pertemuan dengan Ibu kandungnya beberapa hari lalu itu pun muncul. Menyadarkan Rhea jika kedatangan wanita itu pasti memiliki tujuan tak baik. Dan target mereka tentu saja Zhea dan putranya. Rhea tak akan membiarkan siapa pun mengusik kebahagiaan mereka saat ini.
"Aku harap keputusanku kali ini benar, Zhe. Setelah ini kalian tidak perlu bersembunyi lagi dari dunia. Aku akan memastikan kalian selalu aman dan mendapat perlindungan." Rhea menghela napas kasar. Kemudian kembali menyunggingkan senyuman lebar.
Tidak lama dari itu ponselnya pun berdering. Rhea mengeluarkan ponselnya dari dalam tas. Dan ternyata Gabriel lah yang menghubunginya. Rhea pun segera menerimanya.
"Hallo."
"Kau dimana?" Tanya Gabriel to the point.
"Aku di ta... ah, aku di minimarket. Ada apa?" Hampir saja ia keceplosan.
"Mommy bertanya bagaimana dengan gaunmu? Mommy ingin melihatmu memakainya. Kapan kita melakukan fitting gaun pengantin? Bukankah aku juga harus mencoba pakaianku?" Tanya Gabriel beruntun.
Rhea terdiam cukup lama.
"Zhe, kau mendengarku?"
Rhea terhenyak. "Ya. Besok sore bawa Aunty ke butikku, kita lakukan fitting bersama."
"Baiklah, aku tidak sabar melihatmu memakai gaun pernikahan, Zhe. Kau pasti terlihat cantik."
Rhea tersenyum tipis. "Tentu saja, kau pasti pangling melihatku."
Terdengar tawa Gabriel di sana. "Baiklah, sayang. Besok aku akan membawa Mommy ke sana. Lalu dengan siapa kau di sana sekarang huh?"
Rhea menatap Zhea dan Prince yang masih asik bermain. "Aku sendirian, memangnya dengan siapa lagi?"
"Mana aku tahu, mungkin saja kau berselingkuh dibelakangku." Gabriel bergurau.
"Ck, belum menikah saja kau sudah meragukan kesetiaanku. Kalau begitu batalkan saja pernikahannya." Kesal Rhea.
Mendengar itu Gabriel pun tertawa. "Mana bisa dibatalkan, semua persiapannya sudah hampir rampung. Lagipula tadi itu hanya bercanda, sayang. Jangan terlalu serius menanggapinya. Aku sangat percaya padamu."
Rhea tersenyum. "Hm. Kau sendiri sedang apa?"
__ADS_1
"Aku?"
"Ya, siapa lagi?" Rhea memutar bola matanya malas.
"Aku sedang apa ya? Sepertinya aku sedang membayangkan betapa panasnya malam pertama kita nanti. Aku selalu membayangkan tubuh seksimu, sayang."
"Gabriel!" Kesal Rhea yang berhasil membuat Gabriel tertawa puas. "Menyebalkan."
"Jangan marah, sayang. Tapi aku tidak bohong, aku membayangkan hal itu sekarang." Goda Gabriel lagi.
"Cukup, Gabriel. Kau sengaja ingin membuatku kesal. Dasar mesum." Rhea pun memutus panggilan sepihak karena benar-benar kesal dengan lelaki itu. Gabriel tak tahu saja dia bicara pada gadis murni yang tak memiliki pengalaman soal ranjang. Bahkan membayangkannya saja tak pernah. "Menyebalkan, yang dia tahu hanya itu."
"Rhe, kau bicara dengan siapa?" tanya Zhea duduk di sebelahnya. Lalu disusul oleh Prince yang sudah berkeringat.
"Gabriel." Jawab Rhea malas.
"Ada apa? Wajahmu terlihat kesal. Apa dia membuat ulah lagi?" Zhea terkekeh lucu.
"Dia sangat mesum."
"Mesum-mesum juga kau menyukainya bukan?" Goda Zhea menyenggol lengan Rhea.
"Ok, let's go." Ajak Rhea seraya bangun dari duduknya. Prince pun terlihat begitu semangat, sedangkan Zhea masih duduk di sana.
"Aku tunggu di sini saja." Katanya yang langsung dijawab anggukkan oleh Rhea. Gadis itu pun membawa Prince ke sebuah mini market terdekat. Dan membantu Prince mengambil beberapa minuman dan cemilan yang anak itu inginkan. Setelahnya ia pun langsung membayar ke kasir. Saat hendak keluar, ia pun tak sengaja berpapasan dengan Lea. Sontak Rhea pun kaget karena tak menyangka akan bertemu calon adik iparnya itu.
"Zhea. Kau di sini?" Lea pun sepertinya tak kalah kaget.
Rhea pun mengangguk yang dibarengi dengan senyuman manisnya. "Ya. Kau sendiri sedang apa di daerah ini?" Tanyanya penasaran.
Lea pun tersenyum. "Aku hanya lewat, dan mampir untuk membeli cemilan." Sahutnya yang kemudian beralih menatap Prince yang Rhea pegangi. Anak menggemaskan itu pun menatapnya lalu tersenyum.
"Wah, siapa ini? Dia sangat menggemaskan dan tampan." Lea mengacak rambut Prince. "Siapa namamu, sayang?"
"Prince, Aunty." Sahut Prince dengan suara kecilnya yang khas.
"Dia anak tetanggaku, anaknya memang menggemaskan." Bohong Rhea. Ia benar-benar tak menyangka akan bertemu Lea, karena itu ia terpaksa berbohong.
__ADS_1
Lea pun kembali mengalihkan perhatian pada Rhea. "Kau memang kakak ipar yang baik, bahkan mau mengajak anak tetanggamu jalan-jalan. Gabriel sangat beruntung mendapat istri sepertimu. Aku jadi tidak sabar melihatmu menggandeng tangan Kakakku." Oceh Lea panjang lebar.
"Ck, kau terlalu berlebihan menilaiku."
Lea tertawa kecil. "Ya sudah, aku harus bergegas karea ditunggu seseorang. Sampai jumpa, Rhe." Pamitnya yang langsung masuk ke minimarket. Tentu saja Rhea bernapas lega karena Lea langsung percaya padanya. Cepat-cepat ia pun membawa Prince pergi dari sana.
****
Keesokan harinya, Rhea dan Gabriel pun melakukan fitting baju sesuai rencana mereka. Dan itu mereka ditemani oleh Sky dan Sweet di sana. Kedua wanita itu tentu saja tak ingin kehilangan momen penting seperti ini.
Gabriel terlihat tampan dan gagah dengan balutan tuxedo berwarna gading, mahakarya dari calon istrinya.
Tidak lama dari itu, Rhea tampak keluar dari ruang ganti memakai gaun pengantin yang sangat indah. Sontak semua mata pun terhipnotis oleh kecantikan gadis itu. Bahkan Gabriel sampai tak bisa berkedip walau sedetik sangking takjubnya. Tubuh gadis itu terlihat begitu ramping saat memakainya.
"Masyaallah, kamu sangat cantik, Zhe. Gaun itu sangat cocok untukmu." Puji Sky menatap calon menantunya takjub.
Rhea tersenyum ramah. "Benarkah? Sebenarnya ada satu gaun lagi, tapi jika kalian suka yang ini. Aku akan memilih yang ini."
"Yang ini saja." Sambar Gabriel yang berhasil membuat semua orang menoleh ke arahnya. "Kau terlihat lebih seksi dan cantik, aku menyukai gaun yang ini."
Rhea mengangguk. "Baiklah."
"Ayo berfoto." Ajak Sky. Kemudian keempatnya pun berfoto bersama.
Usai berfoto, Sweet meraih tangan Rhea sambil tersenyum bahagia. "Grandma bahagia karena kalian akhirnya benar-benar berjodoh."
Rhea memeluknya penuh kehangatan. "Terima kasih, Grandma. Rasanya aku berhutang budi padamu dan Aunty. Karena kalian aku merasakan kasih sayang keluarga yang sesungguhnya."
Sky mengusap punggung menantunya itu dengan lembut.
"Grandma juga bahagia bisa dipertemukan dengan gadis cantik sepertimu. Selain cantik, kau juga berbakat. Gabriel sangat beruntung mendapatkanmu, sayang."
"Aku yang beruntung karena bertemu orang-orang baik seperti kalian. Jika tidak ada kalian mungkin sekarang aku masih jadi gelandangan." Tutur Rhea semakin memperdalam pelukannya. Di sisi itu, ia benar-benar merasa bersalah karena sudah membohongi semua orang.
"Zhe, kami juga sangat beruntung dipertemukan denganmu. Kau itu gadis yang baik." Sky pun ikut menimbrung.
Rhea melerai pelukannya. Lalu beralih menatap Sky. Tatapan yang begitu dalam, seolah ia tak akan melihat wanita itu lagi. Rhea pun berhambur memeluknya. Lalu tangisannya pun pecah. "Terima kasih, Aunty. Karena dirimu aku bisa tahu rasanya kehangatan seorang Ibu."
__ADS_1
Gabriel yang menyaksikan itu pun ikut terharu. Untuk pertama kalinya seorang gadis berhasil menyentuh relung hatinya yang paling dalam.