
Bian Pramana, lelaki tampan itu terlihat sedang sibuk dengan MackBook miliknya. Sudah hampir seminggu ia tak pulang ke rumah. Keseharaiannya ia habiskan untuk bekerja. Karena minggu depan ia sudah harus mempersiapkan diri untuk pernikahannya yang akan dilangsungkan beberapa pekan lagi.
Perhatian Bian pun terbagi saat seorang wanita cantik memasuki ruangannya. Ia merupakan sekretaris pribadi Bian.
"Pak, ada telepon dari Nona Nirmala. Katanya ingin membicarakan hal penting."
"Kenapa dia tak menghubungiku langsung?" Tanya Bian merasa heran.
"Nona bilang ponsel Bapak tidak bisa dihubungi." Sahut sang sekretaris. Bian langsung mengecek ponselnya. Benar saja, ponsenya mati karena kehabisan daya.
"Kau bisa kembali, Sekar." Perintah Bian. Wanita itu pun langsung bergegas pergi meninggalkan ruangan Bian.
Bian bangun dari posisinya dan beranjak menuju sebuah ruangan tempat ia beristirahat. Lalu segera mengisi daya ponselnya. Lima menit kemudian, Bian menghidupkan ponselnya. Dan begitu banyak pemberitahuan panggilan tak terjawab dari calon istrinya. Ujung bibir Bian pun terangkat, membentuk lengkungan sabit.
Bian menghubungi Mala kembali. Ia sangat penasaran apa yang ingin di sampaikan oleh wanita itu. Senyuman Bian semakin mengembang saat mendengar nada sambung.
"Brengsek! Dari mana saja kau huh? Hampir seratus kali aku menghubungimu. Apa kau seorang presiden?"
Bian sedikit menjauhkan ponselnya dari telinga. Suara keras Mala berhasil memecahkan gendang telinganya. Setelah di rasa aman, Bian kembali menempelkan ponselnya di telinga.
"Ada apa, Sayang? Kau merindukanku?" Tanya Bian dengan percaya diri. Bahkan ia bisa mendengar dengusan di seberang sana.
"Lupakan itu. Besok aku akan fitting baju pengantin. Usahakan ponselmu hidup, aku tidak mau pusing sendiri untuk memilih. Atau kau saja yang memilih gaun itu. Aku akan terima apa pun yang kau pilih." Oceh Mala di balik telepon.
"Kau saja yang memilih, aku akan ikut seleramu. Atau mungkin setelah menikah kita honeymoon ke Bali, atau Maldives?" Sahut Bian tersenyum geli.
"Hentikan itu, Bian. Jangan pernah mengharapkan apa pun dariku. Sudah aku katakan, pernikahan ini hanya sementara."
"Tapi cintaku selamanya, Sayang. Aku tidak main-main."
"Bian, aku sedang serius. Tolong jangan bercanda. Bagaimana dengan undangan?"
"Kita akan mengundang seluruh kolega penting, jangan sampai terlewatkan. Aku ingin mereka tahu, jika wanita cantik yang berdiri di sisiku adalah milik Bian seorang." Kata Bian tanpa ragu.
"Apa kau gila? Pernikahan kontrak, kau jangan lupakan itu. Jika kita mengundang mereka, lalu apa yang akan mereka katakan jika kita berpisah kelak?"
"Kalau begitu hilangkan kata kontrak itu dan kita hidup selamanya. Kau memilih yang mana?" Bian tersenyum penuh arti.
"Aku sangat membencimu, Bian. Menghubungimu adalah kesalahan terbesar."
__ADS_1
"Aku juga merasa begitu, mencintaimu adalah hal yang paling benar. I love you." Goda Bian yang berhasil membuat Mala kesal dan memutus sambungan telepon sepihak. Bian menatap layar ponselnya, entah sejak kapan ia mengganti walpapper ponselnya dengan foto Mala.
"Kau sangat menggemaskan, Sayang. Aku tidak sabar untuk malam pertama kita." Ujar Bian dengan senyuman smirknya.
***
Berlin, Germany.
Di sebuah butik ternama. Mala, Sweet dan Milan tengah sibuk melihat-lihat gaun pengantin yang terpajang di manekin. Hampir semua gaun terlihat sangat indah dan tentunya dengan harga fantastis.
"Lihat yang ini, sangat cantik. Cocok dengan kamu, Mala." Kata Sweet menunjuk sebuah gaun indah berwarna broken white yang dipenuhi dengan berlian yang berkilauan.
"Ini terlalu berlebihan, Mom. Aku ingin yang lebih sederhana." Mala kembali meneliti beberapa gaun pengantin yang terlihat bagus semua.
"Ck, padahal gaun ini sangat indah." Sweet tampak kecewa. Ia pun mengikuti langkah Mala untuk melihat-lihat gaun yang lain.
"Bagaimana dengan yang ini?" Tanya sang pemilik butik menunjukkan sebuah gaun yang sangat indah dengan bagian dadanya yang tertutup. Gaun berwarna putih gading dengan beberapa berlian di bagian dada dan pinggang.
"Ya ampun, ini bagus banget. Kali ini aku yakin kamu tidak menolak." Ujar Sweet menyentuh gaun itu dengan tatapan berbinar.
Mala tersenyum tipis melihat gaun itu, lalu menyentuhnya dengan lembut. Jika boleh jujur, ia menyukai gaun itu.
"Bungkus yang ini," pinta Sweet tanpa menunggu jawaban Mala. Pemilik butik pun tersenyum senang.
"Benarkah, itu artinya kau yang pertama memakainya, Mala."
"Mom...."
"Jangan hiraukan harganya. Uang Kak Bian tak akan habis sampai tujuh turunan. Belum lagi harta warisan dari Nenek. Dia yang akan menanggung tagihan."
Mala menghela napas gusar, lalu menatap Milan.
"Dengarkan saja apa kata Mommymu, Mala. Mama rasa Sweet tidak salah juga, manfaatkan saja uang suamimu kelak." Gurau Milan yang disambut tawa oleh Sweet.
"Sekarang saatnya memilih gaun malam. Aku akan meminta mereka untuk menyesuaikan pakaian Kak Bian." Ujar Sweet begitu semangat.
Hampir dua jam penuh mereka berada di butik. Dan itu menguras habis tenaga Sweet, mungkin kehamilan yang membuatnya sangat mudah lelah.
"Sweet, kau sangat pucat. Sudah aku katakan kau duduk saja tadi. Jika seperti ini, aku akan mendapatkan semprotan dari Alex." Ujar Milan. Saat ini ketiganya berada di mobil untuk pulang ke mansion. Posisi Sweet saat ini diapit oleh Mala dan Milan.
__ADS_1
"Tapi ini sangat menyenangkan, Milan. Lagian perutku hanya kram biasa. Aku bosan di rumah terus. Aku juga sudah mengajaknya ke kediaman Daisy. Tapi dia menolak karena kondisiku saat ini. Dia terlalu berlebihan. Kau tidak perlu takut, jika dia memarahimu, aku akan kembali memarahinya."
"Kau memang keras kepala, Sweet. Setelah ini kau harus istirahat. Biarkan kami yang mengurus semuanya. Jangan membantahku kali ini. Kesehatanmu lebih penting, Sweet."
"Baiklah, aku tidak akan ikut campur lagi. Lagian aku sudah puas membantu kalian." Ujar Sweet tersenyum simpul.
"Kau berubah drastis semenjak hamil, Mom. Sangat cerewet dan ribut. Aku rasa anakmu perempuan." Mala pun ikut menimpali.
"Ah, aku berharap itu benar. Supaya Lexa memiliki teman curhat. Aku juga merasa aneh dengan diriku sendiri. Kehadirannya membawa banyak perubahan." Kata Sweet seraya mengusap perutnya.
"Baik perempuan maupun laki-laki itu tidak penting. Yang penting itu bayinya lahir dengan selamat dan Ibunya juga sehat." Ujar Milan ikut mengelus perut Sweet.
"Aamiin, aku harap seperti itu." Sahut Sweet tersenyum lebar. Kemudian tak ada lagi pembicaraan di antara mereka. Mereka terlihat lelah dan memilih untuk diam.
Sesampainya di mansion, Sweet langsung bergegas ke kamar. Ia sangat lelah dan ingin langsung berbaring. Namun ia sangat terkejut saat melihat Alex sudah berdiri di pintu kamar dengan kedua tangan terlipat di dada.
"Mas," sapa Sweet dengan senyuman kikuknya.
"Kau berjanji hanya satu jam, Ana. Ini sudah lebih dari dua jam." Ujar Alex memberikan tatapan tajam.
"Mas, aku cuma pergi ke butik. Lagian sekarang aku baik-baik aja kan?" Sweet mendekati Alex, lalu menarik kedua tangan suaminya.
"Aku ingin di peluk," rengek Sweet sembari memeluk suaminya. Ia tahu saat ini Alex tengah marah. Dan hanya itu yang bisa ia lakukan untuk meredamkan amarah sang suami.
"Aku khawatir padamu, Ana. Aku tidak akan memaafkan diriku sendiri jika kau sakit." Alex medekap Sweet dengan lembut.
"Aku tahu, sikap posesifmu membuatku hampir gila, Mas. Aku baik-baik aja kok, dulu aja aku bekerja saat hamil trio kurcaci."
"Saat itu tidak ada aku di sana, Honey. Dan saat ini aku ada disisimu, kau tidak perlu bekerja keras dan cukup diam di mansion. Fokus untuk membuat Lucky Baby gemuk seperti Momminya." Ujar Alex mengecup kening Sweet.
Sweet mendongak untuk menatap mata indah suaminya. "Aku mengantuk, Mas. Kakiku juga sangat pegal." Rengek Sweet semakin mengeratkan pelukkannya.
"Sudah aku katakan jangan terlalu lama berjalan dan sekarang kau sendiri yang kesakitan. Ayo masuk, aku akan memijat kakimu sampai kau tertidur."
"So sweet, aku mencintaimu." Ucap Sweet memberikan kecupan di bibir Alex.
"Kecupan tidak cukup, Sayang." Bisik Alex dengan tatapan sendu.
"Aku lelah, biarkan aku tidur, Mas. Malam nanti kamu puas melakukannya." Sahut Sweet menarik diri dari dekapan Alex.
__ADS_1
"Baiklah, aku akan menunggu sampai malam tiba. Aku tidak akan melepaskanmu." Bisik Alex yang langsung menggendong Sweet. Membawanya masuk ke kamar. Seperti janjinya, Alex memijat kaki Sweet hingga Bumil itu tertidur.
Alex menatap wajah tenang istrinya begitu dalam. Lalu memberikan sebuah kecupan hangat. "Aku tidak tahu kenapa kau sangat nakal, Ana? Sehari saja tidak membuatku cemas, sepertinya kau tidak tenang huh? Aku mencintaimu, Ana." Alex tersenyum dan memandangi wajah cantik istrinya cukup lama.