Istri Yang Dingin

Istri Yang Dingin
IYD 70


__ADS_3

"Sab, maafkan aku tidak bisa hadir dalam pesta si kembar. Kau tahu perutku sudah membuncit dan aku sulit bergerak." Ujar Alexa merasa bersalah melalui video callnya karena satu jam yang lalu pesta telah usai. Kini semua keluarga besar tengah berkumpul di ruang keluarga kecuali Alexa tentunya.


"Aku mengerti kondisimu, Lexa. Mendengar kabarmu baik-baik saja aku sangat senang."


Terdengar suara helaan napas gusar diseberang sana. "Aku ingin menggendong baby twins. Mereka sangat menggemaskan kau tahu? Mirip sekali dengan si balok es, menyebalkan."


Arez yang mendengar itu mendengus kesal.


"Hey, apa dia mendengarku? Huh, dan aku tidak peduli." Imbuh Alexa dengan suata tawanya yang khas. "Oh iya, saat aku melahirkan nanti kalian semua harus hadir okay?"


"Tentu saja, kami akan berusaha untuk datang menjenguk keponakan kami."


"Ah, aku sangat senang mendengarnya. Sayang sekali Winter sedang di luar kota, padahal dia ingin sekali bicara padamu. Suamiku itu selalu sibuk bekerja dan melupakan istrinya." Keluh Alexa.


"Suamiku juga sama, dia selalu sibuk di kantor. Bahkan tidak jarang pulang larut malam. Dia menjadikan mansion ini sebagai hotel." Adu Sabrina yang berhasil mencuri perhatian Arez.


"Kakakku sejak lama memang penggila kerja kau tahu? Bahkan aku masih tak percaya saat ini dia sudah punya anak." Sabrina tertawa mendengar itu. Tidak lama terdengar suara tangisan bayi.


"Lexa, sepertinya baby twins mengantuk. Aku harus menidurkan mereka lebih dulu."


"Okay, berikan saja ponselmu pada Mommy. Aku ingin bicara padanya."


"Baiklah, semoga kau selalu diberi kesehatan sampai melahirkan nanti. Aku selalu menunggu kabar baik darimu."


"Aku akan sering memberimu kabar."


Sabrina tersenyum, lalu menghampiri anak-anaknya yang sudah rewel. Ia juga memberikan ponsel pada Sweet sebelum membawa si kembar ke kamar.


"Sab, apa melahirkan sangat menyakitkan?" Tanya Alexella saat mereka sudah berada di kamar si kembar. Alexella tampak mengusap perutnya yang agak membuncit. Benar, Alexella memang tengah hamil enam belas minggu.


"Lumayan. Apa kau takut?"


"Sedikit." Sahut Alexella menatap Sabrina yang tengah memberi si kembar ASI.


"Kau pasti bisa melewati semuanya, percayalah. Sakit memang, tapi itu akan menjadi pengalaman berharga dalam hidupmu." Ujar Sabrina memberikan senyuman tulus. Alexella pun mengangguk-angguk tanda mengerti.


"Apa aku boleh bergabung?" Sky masuk bersama Gabriel dalam gendongannya dengan perut buncitnya yang menyembul dari balik kemeja. Istri dari Arel itu juga sedang hamil tua. Hanya tinggal menunggu hari keluarga Digantara akan bertambah anggota lagi.


"Tentu saja." Jawab Sabrina tersenyum ramah.


Sky menurunkan Gabriel di atas pembaringan di mana Sabrina tengah menyusui anak-anaknya. Kemudian ia pun ikut duduk di sana. "Kenapa kau sangat pucat, Xella?"


"Perutku mual lagi." Keluh Alexella yang sejak tadi menahan gejolak diperutnya.


"Muntahkan saja, jangan ditahan." Titah Sky mengusap bahu adik iparnya.

__ADS_1


"Aku akan lemas setelah muntah, itu membuatku tidak nyaman." Alexella memasang wajah sendu.


Sabrina dan Sky tersenyum geli melihatnya. "Aku tidak pernah tidur pulas semalaman sampai usia kanduanganku lima bulan. Dan itu benar-benar menyiksa." Kata Sabrina.


"Aku juga masih sering mual, hanya saja tidak sesering saat usia kandunganku dibawah empat bulan." Sky ikut menimpali.


Alexella masih menahan gejolak dalam perutnya sebelum pertahanannya runtuh. Wanita itu langsung berlari kecil menuju kamar mandi. Memuntahkan semua gejolak dalam perutnya. Dan itu berlangsung cukup lama. Membuatnya lemas setengah mati.


"Mereka sudah tidur." Kata Sky menatap si kembar yang sudah terlelap.


"Aku akan memindahkannya ke box." Dengan hati-hati Sabrina bangun dari posisinya karena anak-anaknya itu sangat sensitif dengan pergerakan.


"Aku akan membatumu memindahkan Marvel."


"Ah, terima kasih." Ucap Sabrina membawa Melvin dalam gendongannya. Kemudian menidurkan bayi menggemaskan itu di dalam box. Begitu pun dengan Sky.


"Wajah mereka mirip sekali dengan Arez. Tapi jangan khawatir, wajah bayi akan berubah setiap saat. Sepertinya gen Digantara memang cukup mendominan."


"Hm... padahal aku yang mengandungnya selama tujuh bulan sepuluh hari, merasakan sakit yang luar biasa. Tetap saja suamiku yang menang."


Sky tertawa renyah mendengar keluhan Sabrina. "Tapi menurutku itu sangat lucu. Si kembar dan Gabriel jadi punya kemiripan. Mereka terlihat seperti adik dan Kakak kandung."


"Dan aku penasaran seperti apa rupa anak Lexa? Bisa saja mereka juga memiliki kemiripan."


"Kau baik-baik saja, Xella?" Tanya Sky menghampiri Alexella yang semakin pucat. Sebagai jawaban ia mengangguk pelan. Kemudian duduk bersandar di ranjang.


"Tunggu sebentar, aku buatkan teh jahe untukmu." Sky pun beranjak keluar. Ia tidak tega melihat kondisi Alexella.


Alexella menatap Gabriel yang tengah memainkan beberapa mainan. "Hey, apa kau tidak marah akan memiliki seorang adik?"


Gabriel menoleh, kemudian tersenyum gembira. Anak itu belum sepenuhnya paham pembicaraan orang dewasa.


"Jadi kau senang akan mendapat adik huh? Dasar gendut."


"Yach...." sahut Gabriel melempar mainannya sembarangan. Anak itu pun berpidah duduk di pangkuan Alexella. "Mimi."


"Cium Mimi dulu, sayang." Alexella memberikan pipinya pada Gabriel. Dengan patuhnya anak itu mencium pipi Alexella. "Pintar."


Alexella memeluk Gabriel penuh kasih sayang. Sejak hamil, Alexella memang mulai dekat dengan Gabriel. Padahal Alexella bukan tipikal wanita penyuka anak kecil, tetapi kehamilan sepertinya benar-benar membawa perubahan dalam dirinya.


Sabrina pun duduk kembali di ranjang. "Aku rasa mansion akan sangat riuh saat mereka besar dan berkumpul semua. Aku tak bisa membayangkannya. Keluarga besar yang luar biasa."


Alexella mengangguk, setuju dengan ujaran Sabrina.


****

__ADS_1


"Maaf aku baru berkunjung." Ucap Deena memberikan sebuah kado berukuran besar pada Sabrina. Juga memberikan pelukan hangat. Wanita itu baru sempat datang di sore hari karena tengah sibuk mempersiapkan pernikahan.


"Tidak jadi masalah, aku tahu kau sibuk dengan pernikahanmu. Bagaimana perkembangannya?"


"Hampir rampung, karena keluarga Jordan banyak membantu." Jawab Deena berjalan pasti menuju box bayi di mana baby twins berada. Wanita itu mengangkat si mungil Marvel.


"Aku rasa mereka semakin bertambah timbangan, padahal cuma seminggu aku tidak berkunjung."


"Tentu saja, mereka begitu lahap minum asi."


"Pantas milikmu sangat besar."


Sabrina tertawa renyah mendengar itu. "Milikmu juga akan mengalami perubahan saat memiliki anak nanti."


"Itu masih lama."


"Hey, tidak ada yang tahu kan? Mungkin kau akan langsung hamil setelah melakukan malam pertama. Takdir tidak ada yang bisa menebak. Seperti saat ini misalnya, kau terus menolak ajakan Jordan dan pada akhirnya kau menerimanya juga."


"Karena dia bersungguh-sungguh ingin menikah denganku karena itu aku terima."


"Tapi kau mencintainya, tidak perlu menyembunyikan apa pun dariku. Kau selalu bersemu saat aku menyebut namanya."


"Mana ada, kau salah lihat."


"Cih, gengsimu terlalu besar, Nyonya Jefferson."


Pipi Deena semakin bersemu merah saat Sabrina menyebut marga sang suami. Menjadi Nyonya Jefferson tidak pernah Deena bayangkan dalam kehidupannya. Jordan Jefferson adalah putra tunggal dari seorang billionaire ternama di Jerman. Pemilik perusahaan minyak terbesar di sana. Tentu saja Deena merasa minder karena dirinya hanya seorang anak yatim piatu yang beruntung bisa dinikahi oleh seorang Jordan. Itu juga yang menjadi pertimbangannya kenapa selalu menolak lamaran Jordan. Ia tak yakin bisa berdampingan dengan lelaki itu yang notabennya sudah kaya sejak lahir. Namun Jordan berhasil meyakinkan dirinya jika lelaki itu tidak pernah main-main dengan perasaan dan serius ingin memperistri Deena. Keluarga besar Jordan juga menerima Deena dengan sepenuh hati. Hal itu yang membuat hati Deena yang keras menjadi lunak.


"Sab, apa menurutmu aku pantas berdampingan dengan Jordan? Kau tahu sendiri dia anak konglomerat. Sedangkan aku? Hanya gadis biasa yang tak memiliki apa-apa."


Sabrina berdecak kesal mendengar nada merendah sahabatnya. "Dengarkan aku, kau tidak boleh terlalu merendah diri seperti ini. Takdirmu adalah Jordan. Sekarang kau harus bersyukur dan nikmati kisah cintamu. Mungkin Jordan memang lelaki yang Tuhan kirimkan untuk melindungimu, De."


Deena terdiam sejenak. "Kau benar. Keluarga Jefferson juga begitu baik hati. Mereka menerimaku layaknya anak sendiri. Aku bahagia akan hal itu."


Sabrina merangkul pundak Deena, menyandarkan kepalanya di sana. "Aku bahagia karena kita sudah menemukan labuhan hati masing-masing. Kau dan aku sama-sama mendapatkan lelaki yang bertanggung jawab dan mencintai kita apa adanya."


"Hm." Deena mengangguk kecil. Dan tidak lama dari itu ia merasa ada sesutu yang hangat mengenai pakaiannya. "Putramu pipis, Sab. Pakaianku basah."


Sabrina terkejut mendengar itu. Namun beberapa saat kemudian ia tertawa riang. "Sepertinya kau akan menjadi Aunty kesayangan Marvel. Uh, kasihan sekali kau, De. Pakai saja bajuku, aku akan mengambilkannya untukmu. Tapi aku harus mengganti pakain putraku lebih dulu."


"Huh, beruntung kau masih kecil. Kalau sudah besar aku akan menggantung kakimu."


"Kau yang akan lebih dulu digantung oleh suamiku, De."


"Hah, aku melupakan balok es yang satu itu."

__ADS_1


__ADS_2