
Tubuh Rhea lemas seketika setelah kepergian Gabriel. Ia terduduk lemas di atas ranjang sambil menangis tersedu. Namun, sedetik kemudian ia terhenyak dan langsung bangkit. Gadis itu berlari ke arah pintu dan membukanya cepat-cepat.
"Gabriel." Panggilnya. Sayangnya lelaki itu sudah tak terlihat lagi. Rhea berlari kecil untuk mengejar lelaki itu. Namun langkahnya tiba-tiba saja tertahan. Perlahan ia pun berbalik karena merasakan lelaki itu masih ada di sana.
Benar saja, ternyata Gabriel masih ada di dekat kamarnya. Gabriel bersandar di dinding dengan tangan bersidekap dan kepala tertunduk. Perlahan lelaki itu mengangkat wajahnya, lalu menatap Rhea lekat.
Rhea pun tersenyum di sela tangisannya, lalu berlari ke arah lelaki itu dan langsung memeluknya. "Kau brengsek, Gabriel." Tangisannya pun kembali pecah.
Gabriel tersenyum seraya merengkuh pinggang ramping gadis itu dengan erat. "Jadi kau masih mengatakan tak ingin menikah denganku hm?"
Rhea menggeleng. "Jangan pergi, Gabriel. Aku mencintaimu."
Mendengar itu senyuman dibibir Gabriel pun merekah. "Katakan kau masih tidak setuju menikah denganku."
Rhea menggelang lagi. "Aku ingin menikah denganmu, Gabriel. Maafkan aku." Tangisan gadis itu pun semakin menjadi.
Gabriel melerai pelukan mereka, lalu menangkup wajah Rhea dan menghapus air mata gadis itu. "Jangan menangis lagi, kau terlihat sangat jelek."
Rhea tertawa dalam tangisannya, lalu memukul lelaki itu pelan. Gabriel tersenyum, kemudian memberikan kecupan mesra di kening istrinya itu. Rhea memejamkan matanya saat bibir hangat itu menyentuh lembut keningnya.
Perlahan mata gadis itu terbuka, dan tatapanya langsung bertemu dengan tatapan Gabriel. "Jangan pernah berpikir untuk pergi dariku lagi, Rhea. Karena aku akan mengejarmu sampai ke ujung dunia sekali pun."
Rhea mengangguk kecil, lalu memeluknya lagi. "Maafkan aku, Gabriel."
"Tidak apa, aku tahu alasanmu melakukan semua ini. Zhea dan putranya aman bersama keluargaku."
"Terima kasih karena memahamiku. Maaf sudah membuatmu kecewa." Lirih Rhea.
"Sebagai permintaan maafmu, aku ingin kau menggantinya dengan hal lain. Aku ingin meminta hakku malam ini. Apa kau keberatan?"
Mendengar permintaan itu Rhea pun langsung menarik diri dari dekapan suamianya. Dan terlihat gugup karena tak pernah membayangkan hal itu sebelumnya. Pipinya merona bak kepiting rebus karena mendadak malu.
Gabriel tersenyum geli. Dan tanpa aba-aba ia lagsung menggendong istrinya itu. Sontak Rhea memekik kaget dan refleks mengalungkan tangannya di leher Gabriel. "Gab! Turunkan aku."
Alih-alih menurunkannya, Gabriel justru membawanya pergi dari sana. Rhea pun merasa bingung karena Gabriel tidak membawanya ke kamar. Justru berjalan ke arah lift. "Tekan, sayang."
Dengan patuh Rhea menekan tombol lift, tidak lama pintu baja itu terbuka. Tanpa menunggu lagi Gabriel langsung masuk.
"Gabriel, kita mau kemana?" Tanya Rhea bingung.
Gabriel menatap Rhea sambil tersenyum. "Ke tempat yang seharusnya. Tekan angka 12, sayang."
__ADS_1
Rhea pun menurutinya lagi, kemudian menatap Gabriel bingung. "Em... bisakah kau turunkan aku dulu?"
Gabriel menggeleng.
"Please, aku malu jika orang lain melihat kita." Rhea bicara lirih.
"Apa karena aku memakai seragam ini kau merasa malu?" Tanya Gabriel dengan senyuman miringnya.
Rhea langsung menggeleng. "Bukan begitu, Gab. Aku malu karena kau menggendongku, aku bukan anak kecil lagi."
"Memangnya yang mengatakan kau anak kecil itu siapa, hm?"
Rhea berdecak sebal karena Gabriel tak memahami perasaannya saat ini. Tentu saja ia malu jika orang lain melihat dirinya digendong seperti anak kecil. Ditambah posisi mereka terbilang intim. Alhasil Rhea hanya bisa membenamkan wajahnya di leher lelaki itu.
Tidak lama pintu lift pun terbuka, dan mereka tiba di lantai dua belas. Gabriel membawa Rhea ke sebuah kamar. "Ambil cardlock di saku bajuku." Perintahnya. Dan dengan patuh lagi Rhea mengambil apa yang suaminya perintahkan. Lalu mengarahkan cardlock itu ke pintu. Dan pintu pun terbuka. Tanpa menunggu lama Gabriel membawa istrinya itu masuk. Lalu menurunkannya.
"Kau meninggalkan cardlockmu, jadi kita tidak bisa masuk ke sana lagi." Ucap Gabriel merebut cardlock miliknya dari tangan Rhea. Lalu menempelkan di tempatnya, dan lampu pun langsung menyala.
Sebenarnya bukan itu alasan utamanya, sejak awal Gabriel memang sudah menyiapkan kamar untuk malam pertama mereka.
Rhea terkesiap saat melihat kondisi kamar itu. Taburan kelopak mawar memenuhi lantai kamar, mulai dari pintu masuk sampai ke bagian dalam. Bukan hanya lantai, di atas ranjang juga terdapat kelopak bunga yang tersusun rapi membentuk love. Lilin aroma terapi juga tak lupa menghiasi kamar pengantin itu.
"Apa yang akan kita lakukan?" Tanya gadis itu gugup, bahkan pipinya kembali merona.
Gabriel tersenyum geli. "Pertanyaan apa itu? Tentu saja melakukan malam pertama kita. Sudah cukup aku memberikan dua malam untukmu bersantai. Malam ini aku tidak akan melepasmu."
Mendengar itu Rhea semakin ketakutan dan gugup setengah mati. "Ga__gabriel. A__ku...."
"Jangan gugup seperti itu, kita akan melakukannya dengan santai. Kau akan terbiasa dengan kehidupan ini, Rhe. Kau dan aku akan hidup bersama selamanya."
Rhea menatap Gabriel malu-malu. "Bisakah kita tidak melakukannya sekarang? Aku...."
"Kau memintaku untuk menunggunya lagi, hm?" Potong Gabriel yang berhasil membuat Rhea terdiam.
"Aku sudah menunggunya terlalu lama, sayang. Sampai kapan aku harus menunggu lagi?" Gabriel bicara dengan lirih. Dan itu membuat Rhea merasa bersalah.
"Tapi aku takut. Banyak yang bilang malam pertama itu menyakitkan." Jawabnya dengan cepat.
Mendengar itu tawa Gabriel pun pecah. Sontak Rhea pun menatapnya keheranan.
"Kenapa kau tertawa, Gabriel? Aku serius." Kesal Rhea dengan pipi yang samakin merona. Juga kesal karena suaminya itu malah menertawakan ketakutannya. Gabriel sama sekali tidak romantis. Pikirnya.
__ADS_1
Gabriel menghentikan tawanya, lalu menangkup wajah Rhea dengan gemas. "Dengar, sayang. Aku tidak akan menyakitimu, justru kau akan keenaakan setelahnya."
Mendengar itu pipi Rhea memanas, ia tidak bodoh untuk memahami perkataan suaminya. Gemas melihat wajah merona istrinya, Gabriel menjatuhkan kecupan dibibir gadis itu. Tentu saja Rhea kaget dan tubuhnya membeku seketika.
Rhea bisa merasakan napas berat Gabriel. Bahkan bibir lelaki itu terasa sangat hangat saat menyentuh bibirnya.
"Jangan takut, aku janji tidak akan menyakitimu." Bisik Gabriel menyatukan kening mereka. Bahkan hembusan napas mereka pun saling beradu satu sama lain.
Rhea meremat baju Gabriel saat lelaki itu membuka kerudungnya dengan intens. Lalu mulai menempelkan bibirnya lagi, dan kali ini bukan hanya kecupan. Melainkan sapuan lembut yang membuatnya terlena. Perlahan tapi pasti Gabriel berhasil membawa Rhea dalam permainannya.
Kini kedua insan itu sudah berbaring di atas ranjang tanpa sehelai benangpun, dengan posisi Rhea dibawah. Dan mereka masih beradu mulut dengan panasnya.
"Ngghhh." Lenguh Rhea saat Gabriel meremat bukit kembarnya. Gabriel masih tak melepaskan ciuman mereka. Ia begitu menikmati manisnya bibir sang istri.
Dirasa mulai kehabisan napas, Rhea mendorong dada suaminya dan mengakhiri ciuman panas mereka. Napas keduanya tersengal dan saling melempar pandangan.
Gabriel menatapnya dengan netra yang menggelap. Sepertinya lelaki sudah dipenuhi oleh kabut gairah yang ia ciptakan sendiri. "Izinkan aku melakukannya, sayang."
Rhea menatap manik mata suaminya begitu dalam, lalu mengangguk pelan. Mendapat lampu hijau, Gabriel pun langsung menggencarkan aksinya. Memberikan sentuhan-sentuhan lembut pada setiap lekuk indah tubuh istrinya untuk memberikan rangsangan. Ia tahu istrinya itu masih tabu dalam hal ranjang. Jadi melakukannya dengan begitu lembut, seolah istrinya adalah benda yang rapuh. Ia hanya tak ingin menyakitinya di malam pertama mereka. Dan memberikan kesan terbaik agar malam ini menjadi kenangan terindah sepanjang masa.
Gabriel mengecup kening, mata, hidung, bibir, leher dan berakhir di dada istrinya. Rhea hanya bisa pasrah, menjerit bahkan m*nd*s*h saat Gabriel mengambil hak atas dirinya. Dan malam itu pun menjadi saksi bisu percintaan mereka berdua.
****
Gabriel keluar dari kamar mandi hanya dengan sebuah handuk melilit dipinggang. Memperlihatkan roti sobeknya yang begitu seksi. Kulitnya yang masih basah terlihat mengkilap saat terkena cahaya. Rambut basahnya juga masih menitikkan tetesan air ke wajahnya. Dan itu menbuatnya terlihat semakin seksi.
Lelaki itu tersenyum geli saat melihat punggung polos istrinya yang masih tertidur pulas. Padahal matahari hampir di atas kepala. Gabriel benar-benar tak habis pikir pada dirinya sendiri, bagaimana ia bisa segila itu dalam menggauli istrinya. Bahkan setelah subuh ia kembali menggempur istrinya sampai kelelahan.
Gabriel duduk di tepi ranjang, lalu sedikit mencondongkan tubuhnya. Alhasil tetesan air dari rambutnya jatuh di pipi Rhea.
Rhea menggeliat, lalu mengubah posisinya menjadi terlentang. Namun matanya masih tertutup rapat. Gabriel tersenyum gemas. Diusapnya pipi mulus tanpa pori itu dengan lembut. "Bangun, sayang. Ini sudah hampir siang. Kau tidak lapar, hm?"
Rhea membuka matanya sedikit, lalu kembali memejam. "Lapar, tapi aku juga masih ngantuk. Ini semua salahmu." Gumamnya dengan suara serak. Lalu merubah lagi posisi tidurnya menjadi miring ke arah Gabriel. "Tolong tutup tirainya, silau."
"Bangunlah dulu, kau harus makan. Setelah itu kau bisa lanjut tidur." Gabriel menyelipkan rambut Rhea ke belakang telinga.
"Aku masih ngantuk, Gab. Kau lupa semalaman penuh tak membiarkanku tidur Bahkan paginya kau melakukannya lagi. Aku lelah, Gab. Biarkan aku tidur. Sudah tiga malam aku tidak bisa tidur dengan baik." Rengeknya manja. Tentu saja Gabriel semakin gemas dibuatnya. Sebuah kecupan ia hadiahi di kening istrinya.
"Tidurlah, aku akan membangunkanmu saat makan siang. Maaf sudah membuatmu kelelahan. Salahkan dirimu karena terlalu nikmat."
"Berisik, pergilah." Kesal Rhea menarik selimut hingga meutupi kepalanya. Sontak Gabriel terkekeh lucu melihat tingkah menggemaskan istrinya itu.
__ADS_1