
Violet terus memandang Emilia yang tengah mengunyah makanan dengan tak semangat. Sepertinya wanita itu sedang gusar karena memikirkan putranya, beberapa kali terus menghela napas berat.
"Em?" Akhirnya Violet pun memanggilnya. Reflek Emilia pun menatapnya. "Bisakah kau ceritakan bagaimana Noah bisa lahir? Aku tahu kau belum pernah menikah."
Emilia masih diam seolah enggan menjawab pertanyaan Violet.
"Ah, aku minta maaf karena lancang. Tidak seharusnya aku bertanya soal itu. Lupakan saja." Lanjut Violet tak ingin memaksa sahabatnya untuk bercerita.
Emilia menatap Violet lekat, dan siapa sangka wanita itu justru mulai bicara. "Semuanya terjadi karena malam itu, Vi."
Melihat Emilia mulai bercerita, Violet pun menyimaknya dengan serius.
Emilia menghela napas, lalu menggigit bibirnya karena apa yang akan ia ceritakan sekarang mengorek luka lamanya. Ditatapnya Violet dengan sendu.
"Aku tidak tahu jika malam itu akan menjadi malam tersialku. Aku pikir Ibu tiriku tulus ingin memperbaiki hubungan kami. Jadi aku percaya begitu saja dan ikut berkumpul bersama teman-temannya. Sayangnya aku terlalu bodoh dan lugu, ternyata Ibu menaruh obat dalam minumanku, dia ingin menjualku pada salah satu temannya. Beruntung saat itu aku masih setengah sadar dan berhasil kabur. Karena panik, aku besembunyi. Tapi tiba-tiba seseorang membekapku sampai aku tak ingat apa pun lagi." Emilia menjeda untuk menarik napas. Lalu ditatapnya Violet dengan seksama.
"Yang kuingat, aku terbangun dipagi hari dalam kondisi tanpa busana dan seluruh tubuhku sakit semua. Bahkan aku tak bisa berjalan saat itu." Emilia memukul dadanya yang terasa sesak. Violet pun langsung memeluknya. Seketika tangisan Emilia pun pecah. "Aku... aku sadar saat itu, Vi. Jika masa depanku sudah hancur. Dan yang membuatku sakit hati, aku tidak tahu siapa lelaki itu karena saat aku bangun, aku sendirian di sana. Tidak ada siapa pun, atau jejak apa pun yang lelaki itu tinggalkan."
Mendengar itu Violet pun semakin iba pada nasib buruk sahabatnya.
"Hingga akhirnya aku memutuskan untuk pulang. Tapi sesampainya di rumah, ibu menuduhku telah menjual diri. Dan saat itu Daddy murka dan memukulku habis-habisan. Bahkan aku diusir begitu saja, tanpa uang sepeser pun. Beruntung aku bertemu wanita tua yang baik hati. Dia mau menampungku dan memberiku pekerjaan paruh waktu. Sampai hari yang kutakutkan pun benar-banar terjadi, aku hamil." Lanjutnya panjang lebar.
"Maaf karena aku tidak ada di masa sulitmu, Em." Lirih Violet merasa gagal menjadi seorang sahabat.
__ADS_1
"Kau tidak salah, Vi. Aku yang salah karena menutup diri darimu. Sebenarnya aku yang sengaja memutus hubungan denganmu, aku malu jika harus bertemu denganmu." Aku Emilia sembari mengeratkan pelukannya, lalu lanjut bicara. "Sejak Noah lahir, kehidupanku menjadi lebih baik. Hidupku yang selalu sepi menjadi terasa hangat setelah anak itu hadir. Dia adalah obat dari semua rasa sakitku. Dan satu-satunya sumber kebahagiaanku. Tapi semuanya berubah karena tiba-tiba mereka membawa putraku pergi. Hidupku kembali hancur, apa lagi orang itu terus mengacam akan membunuh Noah. Aku ketakutan setengah mati. Jadi aku akan melakukan segala hal untuk mendapatkan putraku kembali. Aku hanya ingin Noahku kembali, Vi." Tangisan Emilia pun semakin tersedu sampai perutnya terasa sakit.
"Maafkan aku, Em. Tidak seharusnya aku mengorek luka lamamu. Percayalah, Noah akan kembali padamu." Violet mengusap lengan Emilia penuh sayang.
"Noah masih terlalu kecil, Vi. Bagaimana jika mereka melakukan hal buruk padanya?" Suara wanita itu terdengar begitu lirih. Selama ini ia terus memendam perasaan cemas dan takutnya sendirian. Tidak ada tempatnya mengadu. Bahkan pihak polisi tak bisa membantunya mencari Noah. Karena itu Emilia bertekad untuk melakukan segala cara agar putranya kembali, meski harus menjalankan misi yang mungkin mengancam nyawanya sendiri.
Di tempat lain, Marvel terus menelusuri seluruh tempat yang pernah Rose jadikan markas persembunyian. Sayangnya anak itu belum juga ditemukan. Dan saat ini ia berada di sebuah gudang dekat dermaga usang.
Dan baru kali ini Marvel merasa yang namanya cemas dan takut. Ia sendiri tak tahu perasaan apa itu. Yang jelas ia sangat ingin menemukan anaknys. Dan memastikannya baik-baik saja.
Seorang pria berpakain formal pun mendatanginya untuk melapor. "Tuan, kami sudah menelusuri seluruh tempat ini. Tidak ada jejak apa pun. Dan ini adalah tempat terakhir kita."
Marvel memijat pangkal hidungnya. "Kalian sudah memastikan tidak ada tempat yang terlewatkan?" Tanyanya untuk memastikan.
"Ya, Tuan. Seluruh titik sudah kami periksa. Tidak ada petunjuk apa pun yang kami dapatkan." Jawabnya lagi.
Saat dirinya hendak meninggalkan tempat itu, sayup-sayup terdengar suara tawa anak kecil. Sontak Marvel pun memberi aba-aba pada anak buahnya untuk diam. Ia juga menajamkan pandangan dan telinganya.
Suara itu terdengar lagi, dan sumbernya berasal dari tumpukan sampah yang menggunung.
Pelan tapi pasti, Marvel melangkah ke sana untuk memastikan. Diikuti oleh para anak buahnya. Dan suara itu semakin jelas, meyakinkannya jika di sanalah sumber suara itu.
"Yakkk." Suara itu terdengar semakin jelas yang diiringi cekikikan khas anak kecil.
__ADS_1
Marvel memberikan kode pada anak buahnya untuk berhenti. Sedangkan dirinya masih terus berjalan mengendap tanpa suara karena tak ingin membuat anak itu kaget atau pun takut.
Suara cekikikan dan kerasak kerusuk pun semakin terdengar jelas. Pelan-pelan Marvel menyingkirkan beberapa tumpukan sampah, seketika suara cekikikan pun hilang. Lelaki itu kembali memberi kode pada anak buahnya untuk membuat formasi. Dengan sigap para anak buahnya mengelilingi tempat itu. Berjaga agar anak itu tidak kabur.
Marvel kembali menyingkirkan sampah-sampah itu, sampai menemukan sebuah ruang kosong di antara sampah itu. Seketika hatinya ternyuh saat melihat seorang anak bertubuh mungil memeluk tubuhnya sendiri sembari menatap Marvel ketakutan. Meski wajahnya dipenuhi kotoran, Marvel masih bisa melihat pipi tembamnya yang menggemaskan.
Perlahan bibir lelaki itu membentuk sabit. "Hai, jangan takut. Aku akan menolongmu." Ucapnya menggunakan bahasa yang cukup lembut. Namun sepertinya anak itu tak memahami bahasanya. Dan hal itu membuat Marvel ikut bingung. Alhasil ia pun mengulang kata-katanya dengan bahasa Inggris. Benar saja, anak itu mulai merespon dengan menggelengkan kepalanya.
Tatapan polosnya membuat hati Marvel tersentuh. "Ini Papa, Sayang. Papa." Ucapnya kemudian seraya mengulurkan tangannya.
"Papa?" Sahut anak itu menatap Marvel lekat. Betapa polosnya anak itu.
Marvel mengangguk dengan senyuman ramahnya. Hebat sekali anak itu, bahkan bisa membuat seorang Marvel yang terkesan dingin dan hampir tak pernah senyum selama hidupnya mendadak cair.
"Mami." Bisik anak itu kembali memeluk kedua kakinya. "Aku mau Mami." Perlahan air matanya merembes, membasahi wajahnya yang kotor.
Marvel menghela napas, ia benar-benar bingung harus berbuat apa lagi sekarang. Alhasil ia pun terpaksa masuk ke dalam sana dan menarik anak itu. Tentu saja anak itu berteriak ketakutan seraya memukul dan menggigit Marvel.
"Ssssttt." Desisnya saat anak itu menggigit bahunya, bahkan terus memberontak sambil menangis. Namun, Marvel terus berusaha menahannya dan memeluk anak itu erat. "Tenanglah, aku tidak akan menyakitimu."
Tubuh anak itu perlahan tenang meski masih bergetar ketakutan. "Mami, aku ingin Mami."
"Ya ya, kita akan bertemu Mamimu okay?" Dan sepertinya ia berhasil membuat anak itu tenang. "Berapa lama kau di dalam sana hm?" Bisiknya. Tanpa sadar ia mengecup kepala anak itu, bahkan tak peduli jika tubuh anaknya itu beraroma tak sedap. Apa yang dilakukannya itu berhasil membuat Noah merasa nyaman dan terlindungi.
__ADS_1
Rahang Marvel mengeras saat membayangkan entah sudah berapa lama anaknya berada di tempat kotor itu. Apa yang dimakan dan dia minum? Itu semua membuat amarahnya membara. Setelah ini ia tak akan segan membunuh siapa pun yang terlibat dalam penculikan putranya. Bahkan nyawa anak tak berdosa itu dijadikan mainan tak berharga. Sepertinya mereka salah memilih lawan kali ini.
Kehancuran akan segera mereka terima karena berani mengusiknya.