
"Nghhh...." Eveline terbangun dari tidurnya saat merasakan hal aneh. Sesuatu terus bergerak di atasnya. Benar saja, saat ini Lucas sudah ada di atasnya sambil terus bergerak liar. Mata Eveline pun terbuka lebar saat menyadari apa yang sedang terjadi padanya. "Ahhh... Luc."
Lucas menyambar bibir Eveline dengan kasar. M*l*m*tnya dengan penuh penuntutan.
"Ngghh... stophh... Luchh." Eveline mendorong dada Lucas. Namun, itu sama sekali tak menggoyahkan Lucas dan terus menggempur Eveline.
"Sebentar, Eve. Aku tidak akan lama." Lirih Lucas terus menggoyangkan pinggulnya. Dan kembali menyecap bibir Eveline. Namun, kali ini lebih lembut tanpa ada penuntutan. Gilanya lagi Eveline malah terbuai dengan kelembutan Lucas. Ia tidak bisa berbohong jika tubuhnya menyukai sentuhan Lucas. Ia tidak munafik, dan mulai menyesuaikan permainan Lucas. Bahkan ikut menikmatinya dan mulai hilang kendali.
Lucas mempercepat gerakkannya, membuat Eveline semakin menggila. Dan keduanya benar-benar terhanyut dalam gairah. Hingga gairah itu pun meledak. Lucas terngengah-engah dan ambruk di sisi Eveline. Sedangkan Eveline sendiri berusaha mengatur napasnya.
Lucas menarik Eveline dalam dekapan. "Terima kasih."
Eveline memukul dada Lucas. "Kau jahat, Luc."
"I know. Tapi aku tidak bisa menahannya sejak sore tadi."
Eveline masih saja memukuli Lucas. "Kenapa kau melakukan ini? Bagaimana jika aku hamil?"
"Lahirkan saja, itu yang aku inginkan."
"Luc!" Kesal Eveline bahkan sampai menggigit lengan Lucas. Sontak Lucas pun melepaskan dekapannya sambil meringis kesakitan. Ia melihat lengannya yang terdapat bekas gigitan Eveline. "Kau sudah seperti drakula, sayang."
Eveline beringsut mundur dan membenamkan diri di dalam selimut. "Dasar maniak, kau memperkosaku saat aku sedang tidur, Luc."
Lucas tersenyum. "Apa yang tadi itu juga tertidur huh?"
Pipi Eveline memerah karena malu. "Itu... itu karena aku mulai gila. Semua itu kau penyebabnya. Keluar dari kamarku, Luc."
"Ini kamarku juga."
"Lucas Winston. Kau psikopat sialan. Pergilah dari kamarku." Kesal Eveline memukul-mukul Lucas dengan bantal. Sayangnya itu tak mempengaruhi lelaki itu.
"Aku lelah. Tadi itu kau sangat nikmat, sayang. Bahkan aku sampai meledak beberapa kali." Goda Lucas yang berhasil mendapat pelototan dari Eveline.
"Sialan! Dasar mesum." Umpat Eveline menendang Lucas hingga lelaki itu terjungkal ke lantai. "Rasakan itu."
Lucas mengaduh saat bokongnya membentur lantai dingin. "Tega sekali kau, Eve. Setelah mendapat kenikmatan kau mengusirku? Bahkan tadi saat aku di atasmu kau malah menikmatinya dan terus berteriak tak jelas."
"Lucas!" Teriak Eveline kesal setengah mati. Dan Lucas pun tertawa bahagia.
"Baiklah, aku akan pergi. Tapi bagaimana jika kita mengulangnya lagi sebentar?" Godanya lagi.
"Sialan! Pergilah dari kamarku." Geram Eveline memberikan tatapan membunuh.
Lagi-lagi Lucas tertawa dan langsung memakai celananya. "Besok aku akan datang lagi."
"Keluar!"
Lucas pun tersenyum dan langsung melenggang pergi tanpa dosa.
"Aarghhh... kenapa aku menikmatinya tadi? Sialan kau Lucas." Eveline terus mengumpat dan langsung beranjak ke kamar mandi.
__ADS_1
Keesokan paginya Eveline benar-benar mogok bicara. Dan itu membuat Lucas serba salah. Bahkan Eveline juga tidak bicara saat mereka sarapan bersama.
"Sayang, jangan diamkan aku terus. Aku tidak bisa seperti ini." Lirih Lucas menatap Eveline yang sibuk mengunyah makanan.
"Sayang." Panggil Lucas. Dan Eveline hanya meliriknya sekilas.
"Kau tahu? Kau sangat menggemaskan saat sedang marah seperti ini."
Mendengar itu Eveline langsung melayangkan tatapan membunuh pada Lucas. Membuat Lucas tutup mulut dan melanjutkan sarapannya.
Eveline pun selesai dan hendak pergi dari sana.
"Aku sudah menghubungi pihak helikopter, sayangnya mereka tidak bisa menjemput kita untuk beberapa hari ini. Cuaca mulai tak stabil, jadi helikopter tidak bisa take off."
Eveline menahan langkahnya.
"Aku sudah berusaha untuk membawamu pulang. Tapi Tuhan sepertinya masih ingin memberikan waktu pada kita." Imbuh Lucas. Sontak Eveline pun berbalik.
"Jangan membodohiku, Luc. Cuaca di luar cerah sejak kemarin."
Lucas menghela napas berat. "Mungkin kau lupa cuaca tidak bisa diprediksi."
Eveline mendengus sebal dan kembali ke kamarnya. Lagi-lagi Lucas cuma bisa menghela napas berat. Ia pun bangkit dan merapikan sisa makanan mereka. Bahkan ia mencuci piring bekas makan tadi. Setelah itu ia pun beranjak ke kamar.
Lucas meraih kaca mata, lalu memakainya. Kemudian ia pun menyambar macbook dan duduk di atas pembaringan. Ia terlihat membuka beberapa dokumen penting.
Tidak lama dari itu terdengar suara gemuruh hujan yang dibarengi kilatan cahaya yang seolah membelah langit. Namun, semua itu sama sekali tak mempengaruhi Lucas. Lelaki itu terus fokus ke layar macbooknya. Sampai suara pintu terbuka pun mencuri atensinya.
"Aku takut petir." Lirih Eveline menggigit jemari lentiknya. Ia terlihat menggemaskan dengan sweater kebesaranya itu. Membuat Lucas membayangkan isi dalamnya.
"Kemari." Titah Lucas dan kembali fokus bekerja. Eveline pun menutup pintu dan langsung berlari ke arah Lucas. Lalu duduk di sebelah lelaki itu.
"Kau sedang apa?" Tanya Eveline sedikit mengintip ke layar macbook.
"Ada sedikit pekerjaan kantor." Jawab Lucas tanpa mengalihkan pandangan dari benda itu. Eveline pun mencuri pandang ke arah Lucas. Ia menelan saliva saat melihat ketampanan lelaki itu. Lucas terlihat begitu wibawa dan elegan saat sedang serius. Bahkan kaca mata yang bertengger indah di hidung bangir lelaki itu membuat ketampanannya semakin bertambah.
"Tidurlah. Aku harus menyelesaikan pekerjaanku lebih dulu," titah Lucas dengan jemari yang terus bergerak lincah di atas keyboard.
Eveline menggigit ujung bibirnya. Entah mengapa ia malah mengingat kejadian malam tadi. Di mana Lucas begitu gagah saat berada di atasnya.
Argghhh... sial! Apa yang aku pikirkan sebenarnya? Kau mulai gila, Eve. Geram Eveline dalam hati.
"Luc." Panggilnya.
"Hm." Lucas menyahut tanpa melirik ke arahnya sedikit pun. Entah kenapa Eveline merasa kecewa.
"Aku pikir kau tidak pernah bekerja."
"Aku punya ratusan ribu karyawan yang harus aku gaji. Nasib mereka berada di tanganku. Jika aku tidak kerja bagaimana nasib mereka?"
Eveline tertegun mendengarnya. Ia tidak pernah menyangka Lucas si otoriter dan kasar itu bisa juga memikirkan orang lain.
__ADS_1
"Kau berada jauh dari perusahaan. Apa kau tidak takut seseorang mengambil alih perusahaanmu?"
"Apa gunanya aku punya dua saudara kembar? Aku menggaji mereka dengan harga tinggi."
Cih, ternyata aku salah. Jika pada dasarnya arogan ya arogan saja.
"Bagaimana jika mereka lah yang justru mengambil alih posisimu, Luc? Mereka juga punya hak yang sama denganmu."
"Jika itu yang mereka inginkan, sejak lama mereka melakukannya. Jika di lihat dari urutan lahir, seharusnya Mike yang memegang kendali. Hanya saja dia terlalu lemah."
"Cih, kau menghina saudaramu sendiri?"
Lucas menoleh sekilas. "Aku tidak menghinanya. Itu benar adanya."
Eveline terdiam sejenak. "Oh iya, aku selalu penasaran kenapa kau dan Kakakku Marvel tidak pernah akur?"
Lucas tersenyum miring. "Dia cemburu padaku karena gadis pujaan hatinya lebih memilihku."
Eveline terkejut mendengarnya. Sebagai adik dari Marvel ia tidak pernah tahu soal itu. Padahal dulu Eveline lumayan dekat dengan Marvel. Hanya saja hubungan mereka agak renggang saat Eveline sekolah ke luar negeri.
"A_apa aku boleh tahu siapa gadis itu?"
"Jika aku beri tahu pun kau tidak akan mengenalnya. Berhenti bertanya, kau mengganggu konsentarsiku. Lebih baik kau tidur."
Eveline mendengus sebal. Sangking kesalnya ia pun langsung berbaring membelakangi Lucas.
Lucas tersenyum tipis saat melihat Eveline sedikit gelisah.
"Luc." Gadis itu pun berbalik.
"Apa lagi?" Tanya Lucas memasang wajah datarnya lagi.
"Em... apa kau sering menyentuh wanita lain sebelumnya?"
Pergerakan Lucas pun tertahan. Ditatapnya gadis itu begitu dalam. "Aku tidak sepolos itu, tentu saja aku sering melakukannya."
Hati Eveline berdenyut saat mendengar itu. Ada rasa tidak rela saat tahu pernah menyentuh wanita lain selain dirinya. "Kau bilang kau mencintaiku, Luc. Lalu kenapa kau melakukan itu dengan orang lain?"
Lucas tersenyum geli. "Semua laki-laki membutuhkan itu, Eve. Bercinta tidak harus memiliki perasaan. Tentu saja semua itu hanya untuk kepuasan."
Tanpa sadar Eveline mendengus sebal. "Kau memang brengsek, Luc. Setelah menyentuh wanita lain, berani sekali kau menyentuhku."
Lucas tersenyum lagi. "Jangan cemburu seperti itu. Aku tidak pernah memberikan benihku pada wanita lain. Aku hanya memberikannya padamu."
"Cih, siapa juga yang cemburu? Kau tidak pantas dicemburui."
"Hm. Baguslah. Kalau begitu aku bisa bebas bercinta dengan wanita mana pun."
"Ck, terserah kau saja." Ketus Eveline yang langsung memejamkan matanya.
Menyebalkan! Kesal Eveline dalam hati.
__ADS_1
Menggemaskan. Pikir Lucas.