Istri Yang Dingin

Istri Yang Dingin
IYD 5


__ADS_3

Kini Arel berhasil membawa Sky ke panthouse miliknya. Mengukung wanita itu di daun pintu kamarnya yang sudah terkunci rapat.


"Kau tidak ingin menjelaskan apa pun padaku, Sky?" Tanya Arel sembari mengusap bibir Sky yang sedikit membengkak karena ulahnya. Wanita itu cuma bisa diam.


"Ah, sepertinya kau hanya akan bicara saat di atas ranjang. Aku sangat merindukanmu." Imbuh Arel yang langsung menggendong Sky ke atas pembaringan. Membaringkan wanita itu dengan penuh kelembutan. "I miss you so much, my beautiful Sky."


"Arel, please... aku sudah menikah. Aku tak mungkin mengkhianatinya." Bisik Sky saat Arel mencumbuinya.


"Aku tidak peduli, Sky. Mulai hari ini dan seterusnya kau hanya akan menjadi milikku." Arel membuat banyak tanda kepemilikan di leher jenjang wanita itu.


"Please, jangan membuatku sulit, Arel."


"Ini hukuman untukmu karena sudah berani meninggalkanku, Sky. Dan mulai saat ini aku tak akan melepaskanmu lagi. Kau akan tinggal di sini bersamaku."


Sky tersentak kaget mendengar itu. Ia tahu Arel tak pernah main-main dengan ucapannya. "Kau tidak bisa melakukan itu, aku istri orang. Kau bisa kena masalah."


"Itu tidak akan terjadi selama kau bersedia tinggal di sisiku. Malam ini aku akan mengobati segala rasa rinduku, Sky." Ujar Arel dengan napas yang memburu.


"Arel, kau sudah berubah. Dulu kau tak seperti ini." Lirih Sky merasa ada yang aneh dengan sikap Arel.


"Ya, aku berubah setelah kau meninggalkanku tanpa sebab." Arel memindahkan posisi Sky agak ke atas. Membiarkan wanitanya merasa nyaman. Kemudian ia pun benar-benar melakukan apa yang diinginkan hatinya. Menyentuh wanita itu semakin dalam dan dalam. Arel bahagia karena Sky tak menolaknya.


Maafkan aku, Arel. Mungkin malam ini aku akan menyerahkan diriku padamu, seperti dulu. Setelah itu kita tak akan bertemu lagi, selamanya.


Pagi hari, Arel terbangun saat merasakan ranjangnya bergerak. Matanya terbuka sempurna saat melihat punggung polos sang kekasih. Wanita itu sudah terduduk di tepi ranjang dan hendak mengenakan pakaianya. Namun dengan cepat Arel menahannya. Lelaki itu beringsut bangun dari posisinya. Mengabaikan tubuhnya yang polos tanpa sehelai benang pun. Mata tajam itu terpatri pada bekas luka yang menghiasi punggung kekasihnya. Masih ada beberapa luka yang belum sepenuhnya sembuh.


"Luka apa ini, Sky? Apa yang terjadi padamu, katakan Sky." Arel membalik tubuh kurus Sky dengan lembut. Namun wanita itu tak berniat menjawab. Ia menjauhkan tangan Arel dan bangun dari posisinya. Mengenakan kembali pakaiannya.


Arel meraih jubah tidurnya dan memakainya dengan cepat. Kemudian bangun dari posisinya dan berdiri di depan Sky.


"Bicara, Sky. Kenapa kau jadi pendiam seperti ini. Apa yang terjadi?" Arel semakin cemas saat wanita itu tak ingin bicara.


"Aku harus pergi." Akhirnya wanita itu mengeluarkan kata-katanya.


"Sudah aku katakan, aku tak akan melepaskanmu, Sky. Kau akan tinggal di sini bersamaku."


Mata Sky melotot saat mendengar itu. "Itu tidak mungkin, Arel. Aku harus pulang sekarang."


"Kau tahu siapa aku, Sky. Aku tak main-main dengan ucapanku. Tinggal disini atau kau melihatku mati di depan matamu."


Lagi-lagi mata Sky terbelalak. "Jangan bodoh, Arel. Kau tak seharunya mengharapkanku lagi. Aku tak bisa bersamamu lagi."


"Kenapa? Katakan kenapa, Sky?" Bentak Arel yang mulai frustasi.


"Karena aku sudah punya anak. Apa kau puas!"


Seketika tubuh Arel membeku. Perkataan Sky berhasil menghujam jantungnya.


"Usianya baru satu tahun lebih, dia membutuhkanku, Arel. Aku harus pulang." Sky melangkah pergi meninggalkan Arel yang masih mematung.


"Kenapa kau lakukan ini, Sky. Padahal kau tahu aku sangat mencintaimu." Lirih Arel yang berhasil menahan langkah Sky. Namun itu tak berlangsung lama, wanita itu kembali bergerak dan kali ini langkahnya lebih cepat.


"Aakhhh...." Arel berteriak frustasi setelah kepergian Sky. Ia menghancurkan segala benda yang ada di sana. Termasuk menumbukkan tangannya ke cermin hingga tangannya terluka dan mengeluarkan darah segar.


"Kau sangat jahat, Sky. Kau wanita kejam." Teriak Arel kembali menghajarkan tangannya ke cermin. Darah ditangannya pun menetes dengan deras. Tak ada lagi rasa sakit yang ia rasakan, karena hatinya jauh lebih sakit dari luka ditangannya.


Arel menjatuhkan dirinya di lantai dan terus berteriak frustasi. Rasanya ia ingin mati saja.


Tidak lama dari itu, pintu kamarnya terbuka dengan keras.


"Brengsek!" Umpat seseorang saat melihat kondisi Arel yang sudah seperti orang gila. Orang itu tak lain adalah Jarvis. Pagi ini ia sengaja datang ke panthouse Arel untuk mengajak sahabatnya balapan. Namun ia tak sengaja berpapasan dengan Sky di lobi. Ia sudah menebak apa yang terjadi pada sahabatnya itu.


"Apa kau gila? Sialan!" Umpat Jarvis membantu Arel bangun dan membaringkannya di ranjang. Arel terlihat sangat lemah karena banyak mengeluarkan darah. Jarvis merasa dejavu. Kejadian sama terulang kembali. Dulu Arel mengalami depresi berat saat Sky meninggalkannya tanpa jejak. Dan saat ini wanita itu juga yang membuat Arel seperti ini.


Jarvis langsung menghubungi dokter pribadinya dan meminta orang itu datang ke panthouse Arel. Beruntung dokter itu teman mereka juga. Jadi sudah tahu di mana panthhouse Arel.


****

__ADS_1


Di mansion utama, Alexa masuk ke kamar adiknya dengan tergesa dan mengunci pintu dengan cepat. Alexella yang baru selesai mandi pun kaget melihat kehadiran sang Kakak yang tergesa-gesa.


"Ada apa, Kak?" Tanya Alexella datar.


"Ini soal Arel." Jawab Alexa duduk di bibir ranjang.


"Owh." Alexella tak banyak memberikan komentar jika sudah membahas Kakaknya yang satu itu. Arel sudah sering membuat ulah, jadi ia tak heran lagi.


"Ck, tadi malam aku tidak menemukan dia di hotel. Dan kau tahu berita apa yang aku dapat?"


Alexella menggeleng pelan sambil memakai skincare.


"Resepsionis melihat Arel membawa kabur salah satu karyawan baru di hotel. Dan kau tahu, karyawan baru itu Sky."


"What?" Pekik Alexella saat mendengar nama yang Alexa sebutkan.


"Aku tidak bohong, aku lihat sendiri nama karyawan itu. Sky Aurellia Evvender. Wanita itu sudah kembali."


"Tapi buat apa dia kembali? Apa belum cukup membuat Kak Arel menderita?" Kesal Alexella yang masih mengingat dengan jelas seberapa terpuruknya Arel dulu. Beruntung sang Daddy tidak tahu, jika tidak. Mungkin keluarga Sky tak akan hidup tenang.


"Itu yang sedang aku pikirkan. Dan anehnya lagi dia bekerja di hotel kita. Apa motifnya?"


"Ck, lupakan wanita itu. Di mana Kak Arel?" Alexella mengambil dress miliknya di atas pembaringan. Lalu memakainya dengan cepat.


"Aku rasa Arel membawa wanita itu ke panthousenya. Lalu mengurung wanita itu seharian untuk menghukumnya."


"Bagaimana jika dia melukainya? Kau ini tidak pernah memikirkan hal itu." Kesal Alexella.


"Kau yang selalu berpikir negatif, adik kecil." Kesal Alexa.


Saat Alexella hendak mengeluarkan komentar. Niatnya harus tertahan karena suara deringan ponsel miliknya. Dengan malas gadis itu bergerak menuju meja belajar dan mengambil benda pintra itu. Sontak alisnya terangkat saat melihat nama Jarvis yang tertera di layar.


"Siapa?" Tanya Alexa penasaran karena sang adik tak kunjung menjawab telepon itu.


"Jarvis." Sahut Alexella datar.


Alexella yang mendengar itu memutar bola matanya jengah. Kemdian menerima panggilan itu dengan malas.


"Halo." Alexella menyapa lawan bicaranya dengan nada datar.


"Halo, Baby. Maaf aku menganggumu pagi-pagi. Aku ingin memberi kabar, Kakakmu sedang sekarat."


"Apa? Bagaimana bisa, apa yang terjadi padanya?" Pekik Alexella terkejut mendengar ungkapan Jarvis. Alexa yang penasaran pun bangkit dari posisnya dan mendekati sang adik.


"Sebaiknya datang ke panthouse milik Kakakmu sekarang."


"Okay, aku dan Lexa akan segera ke sana."


"Baiklah, see you Baby."


Tut! Alexella memutus panggilan sepihak.


"Ada apa?" Tanya Alexa semakin penasaran.


"Terjadi sesuatu pada Kak Arel. Lebih baik kita segera ke panthousenya. Kabari Kak Arez segera. Jangan sampai Mom and Dad tahu masalah ini." Jawab Alexella seraya menyambar tas kesayangannya.


"Aku akan menghubunginya," sahut Alexa panik. Gadis itu pun segera menghubungi sang Kakak.


Tiga puluh menit kemudian, dua gadis cantik itu tiba di kediaman sang Kakak. Alexa dan Alexella terkejut saat melihat kondisi Arel. Tangan kanan lelaki itu sudah terbalut kain kasa. Alexa duduk di sisi Arel, mengusap wajah pucat kembarannya.


"Apa yang terjadi?" Tanya Alexella pada Jarvis.


"Aku tidak tahu, saat aku masuk keadaanya sudah seperti ini. Tapi di lobi aku sempat melihat Sky. Aku rasa dia penyebabnya."


Alexella mengepalkan kedua tangannya. Terlihat jelas kilatan amarah di matanya. "Aku harus mencarinya."


"Ke mana kau akan mencarinya, Baby?" Tanya Jarvis meragukan gadis itu.

__ADS_1


Alexella memberikan tatapan membunuh pada lelaki itu karena sudah berani meragukan kemampuannya. "Kemana pun, bahkan sampai ke neraka sekali pun." Ketus Alexella yang langsung beranjak pergi dari sana.


Jarvis tersenyum lebar, kemudian mengikuti jejak gadis itu.


"Kenapa kau mengikutiku?" Tanya Alexella sinis. Gadis itu hendek memasuki mobilnya. Namun dengan cepat di tahan oleh Jarvis.


"Pakai mobilku, aku akan membantumu mencari Sky." Jarvis mendapat perhatian Alexella. Dan sedetik kemudian gadis itu beranjak menuju mobil sport Jarvis. Tak ada penolakan. Jarvis tersenyum penuh arti. Lalu tanpa banyak berpikir lagi ia pun ikut masuk ke dalam mobil.


Mobil mewah itu melaju cepat membelah kota Berlin. Menyisir jalanan dengan hilir mudik kendaraan yang padat. Gedung-gedung yang menjulang tinggi seolah menjadi piramida keindahan kota.


"Diamond hotel, aku ingin ke sana." Pinta Alexella dengan nada dingin hampir tanpa ekspresi.


Jarvis melirik sekilas. "Apa yang akan kau lakukan jika menemukan keberadaan wanita itu?"


Tak ada jawaban dari gadis berwajah dingin itu. Jarvis menghela napas berat. Percuma saja ia bicara dengan dinding es di sebelahnya. Tak akan ada tanggapan.


Beberapa menit selanjutnya, mereka sudah berada di Diamond Hotel. Alexella melangkah pasti menuju sebuah ruangan khusus yang diikuti oleh Jarvis. Semua orang mengenal dengan baik pasangan itu. Jadi tak akan ada yang berani menghalangi mereka untuk melakukan apa pun.


Alexella menyelisik dereta berkas biodata karyawan baru. Ya, saat ini mereka berada di ruang arsip. Alexella menemukan itu. Tanpa banyak berpikir lagi ia mengambil benda itu dan membawanya ke sebuah meja. Jarvis hanya menonton dan duduk santai di kursi empuk. Sedangkan gadisnya itu terlihat serius menggulir tumpukan kertas. Dan berhenti saat menemukan biodata orang yang di carinya. Biodata Sky tentunya. Gadis itu mencari alamat rumah Sky saat ini.


Alexella mengambil ponsel miliknya dari dalam tas dan memotret alamat yang tertera di sana. Kemudian mengembalikan benda itu ke tempat asal.


"Bawa aku ke alamat ini." Pinta Alexella


menunjukkan alamat itu pada Jarvis. Lelaki itu menatap dengan seksama layar ponsel sang gadis.


"Okay, aku pernah ke sana sekali." Jarvis bangun dari posisinya. Sedangkan Alexella malah menatapnya penuh selidik.


"Ck, aku ke sana untuk bertemu teman lamaku."


"Cih... aku tak peduli." Sinis Alexella seraya pergi dari sana. Dan itu berhasil membuat Jarvis ternganga.


"Gadis aneh." Jarvis mendengus sebal dan mengikuti langkah cepat gadis itu.


"Kau yakin ini rumahnya?" Tanya Jarvis saat mereka tiba di depan sebuah rumah kecil dengan pagar bercat putih.


Alexella turun dari mobil tanpa menjawab pertanyaan lelaki itu lebih dulu. Beruntung lelaki itu sudah tahu karatkternya. Jadi tidak kaget lagi.


Alexella melangkah ragu memasuki rumah itu. Mendorong pagar bercat putih itu dengan pelan. Kakinya terus melangkah mendekati rumah sederhana yang tampak asing. Sayup-sayup ia mendengar suara tangisan anak kecil dan pertengkaran dari dalam.


"Dasar wanita murahan. Ke mana saja kau pergi malam tadi huh? Kau menjajakan tubuhmu pada siapa lagi?"


Seketika Alexella menahan langkahnya saat mendengar teriakan seorang laki-laki dari dalam rumah. Bahkan suara tangisan anak kecil itu semakin jelas terdengar.


"Apa itu?" Tanya Jarvis yang ternyata sudah berdiri di belakang Alexella. Gadis itu menoleh ke belakang sekilas. Lalu kembali memperhatikan pintu bercat hijau yang masih tertutup rapat. Ia pun kembali menggerakkan kakinya, melangkah pelan memasuki teras rumah.


"Hentikan tangisan anak harammu itu! Membuat kepalaku sakit."


Alexella sedikit tersentak saat mendengar suara hantaman keras. Jarvis langsung menahan tubuh Alexella yang nyaris terjatuh.


"Apa yang lelaki itu lakukan? Dia menyiksa istrinya?" Gumam Jarvis seolah tak percaya dengan yang didengarnya.


Alexella memejamkan matanya, kemudian menekan bel pintu dengan cepat.


"Sky! Buka pintu, seseorang bertamu. Mungkin saja Nyonya Adrea yang ingin memberikan kita makanan." Teriak lelaki itu lagi.


Refleks Alexella menatap Jarvis, begitu pun sebaliknya. Tidak lama pintu pun terbuka dan muculah Sky bersama bayi kecil dalam pelukannya. Sontak mata Sky membulat saat melihat dua orang yang cukup ia kenali. Begitu pun dengan Alexella dan Jarvis, keduanya kaget karena melihat wajah lembam Sky.


"Xella, Jarvis?" Suara Sky tenggelam dalam keterkejutan yang kental.


"Sky?" Tatapan Alexella pun terpatri pada bayi kecil berjenis kelamin laki-laki, bisa diperkirakan usianya satu tahun lebih.


Kenapa anak itu sangat mirip dengan Kak Arel? Pikir Alexella.


Sky yang memahami tatapan Alexella pun mendekap anaknya dan menyembunyikan wajah mungil itu.


"Masuklah."

__ADS_1


__ADS_2