
Jarvis duduk di tepi ranjang, menatap istrinya yang masih bergelut di dalam selimut karena keduanya baru selesai mereka ulang adegan malam pertama mereka. Jarvis mengusap pipi halus istrinya dengan gerakan sensual. Membuat sang empu menggeliat karena merasa tidurnya terganggu.
"Aku lapar, Jarvis." Alexella mengeluarkan suara seraknya. Matanya juga masih terasa berat untuk terbuka. Pegal di tubuhnya membuat ia enggan untuk beranjak dari kasur empuk itu. Padahal sejak tadi cacing diperutnya sudah berdemo.
"Minum ini setiap hari, lebih bagus lagi kau meminumnya setiap pagi." Titah Jarvis memberikan sebotol pil kontrasepsi pada Aelxella. Sontak Alexella pun melayangkan tatapan tajam pada lelaki itu.
"Jangan salah paham padaku, aku tidak ingin kau hamil di usiamu saat ini. Kita masih punya waktu untuk memiliki seorang anak." Jelas Jarvis menyesap minuman favoritnya. Alexella yang mendengar itu tentu saja kecewa.
"Berhenti memasang wajah memelas, aku memikirkan masa depanmu, Xella."
"Masa depanmu, bukan masa depanku, Jarvis." Ketus Alexella bangun dari tirdurnya. Lalu beranjak dari ranjang. Namun gadis itu terdengar meringis dan mengumpat kesal, bahkan langkahnya sedikit tertatih saat beranjak menuju kamar mandi. Jarvis tersenyum lebar saat melihat tingkah menggemaskan istrinya. Kemudian ia ikut bangun dan menyusul Alexella ke kamar mandi.
Jarvis meletakkan botol wisky miliknya di atas meja wastafel. Dengan tatapan yang terus tertuju untuk sang istri yang tengah berendam diri di dalam bathup dengan busa aromatik yang menutupi tubuh polosnya. Kemudian bergerak pelan menghampirinya.
Alexella menatap lurus ke dinding kaca yang langsung menampakkan penampakan hiruk pikuk kota Berlin. Namun ia terperanjat kaget saat tiba-tiba Jarvis mengganggu penglihatannya dan ikut masuk ke dalam bathup. Lelaki itu kini sudah berada di hadapannya, menatapnya penuh arti.
"Kau marah padaku karena pil itu huh?" Tanya Jarvis bersandar di bathup dengan gaya santai. Alexella sama sekali tak berniat untuk menjawab, tetapi mata tajamnya masih setia menatap lelaki di depannya.
"Apa kau begitu menginginkan anak dariku, Baby? Tapi sepertinya kau harus kecewa, karena aku akan tetap memintamu meminum pil itu. Aku tak ingin menanggung resiko. Kau masih terlalu muda untuk hamil."
"Jangan berpikir terlalu jauh, aku juga tak ingin memiliki anak secepat ini dari lelaki brengsek sepertimu." Ketus Alexella yang kemudian memejamkan matanya. Mencari kenyamanan.
Jarvis mendesis geram saat melihat betapa seksinya wanita di hadapnya saat ini. Cara wanita itu memejamkan mata, itu benar-benar seksi. Membuat juniornya kembali bereaksi.
Sialan! Bahkan aku tidak meras puas setelah seharian penuh melahapnya. Dia benar-benar membutku gila. Tidak ada yang berhasil membuatku segila ini salain dirinya. Aku tak akan pernah melepaskanmu Xella. Akh... milikku terus berdenyut. Sialan memang.
"Xella." Panggil Jarvis dengan suara seraknya. Dan lagi-lagi cara Alexella membuka mata membuat gairahnya semakin membara. Akh... tidak ada yang tidak terlihat seksi dari ujung rambut sampai kaki wanita itu. Dia benar-benar seksi. Dan itu membuat Jarvis si pecandu **** mulai mengggila. Fantasinya mulai liar. Bayangan malam tadi kembali terputar dalam memorinya, di mana wanita itu begitu liar saat di atas ranjang. Ternyata gadis itu tak sepolos yang ia pikirkan. Namun ia tetap menyukainya.
"Ada apa?" Tanya Alexella saat melihat ekspersi wajah Jarvis yang aneh. Sepertinya Alexella bisa membaca sesuatu pada lelaki itu. Ia tahu Jarvis sedang menginginkanya saat ini. Namun ia masih sangat lelah. Mengimbangi tenaga lelaki itu membuatnya kewalahan. Ia tidak munafik, ia menyukai permainan gila lelaki itu.
Jika aku menolaknya, dia pasti akan mencari kepuasan di luar. Dan aku tak akan membiarkan itu terjadi. Dia hanya milikku. Ya, aku akan membuatnya bertekuk lutut dan hanya memikirkanku seorang.
Dan entah bagaimana caranya, kedua insan itu kembali melanjutkan permainan panas mereka di dalam bathup.
"Sialan! Kenapa kau sangat sempit, Xella." Jarvis mendesis seraya mempercepat tempo permainannya. Alexella m*ndes*h pelan, tak kuasa menahan sesuatu yang hampir meledak dalam dirinya.
Jarvis meraih bibir tipis istrinya dengan lembut. Mencecapnya dengan gerakan sensual. Perlahan ciuman itu semakin turun dan berakhir di leher jenjang sang istri. Mengecup, m*nghis*p dan menggigit kecil kulit mulus itu sampai meninggalkan jejak merah di sana.
Alexella seolah terhipnotis oleh pesona lelaki itu, terbuai oleh setiap sentuhan yang diberikan oleh suaminya. Begitu pun sebaliknya, Jarvis merasakan seuatau yang berbeda. Ia tak pernah puas dengan gadisnya itu. Sepertinya Alexella mulai menjadi candu untuknya. Suara gadis itu saat m*ndes*h terdengar begitu indah dan terekam jelas dimemorinya. Membuatnya ingin terus menyentuh dan mendekapnya lebih dalam. Lagi... lagi dan lagi.
****
Clara terus menatap tajam wanita yang saat ini duduk di hadapannya. Ia masih sangat kesal setengah mati karena Alexella sudah membohonginya. Hampir separuh malam ia habiskan hanya untuk menunggu Alexella. Namun wanita itu melupakan janjinya.
"Aku hampir mati menunggumu di sana, apa yang sebenarnya kau rencanakan Xella?" Sinis Clara. Sedangkan yang di ajak bicara masih makan dengan lahap. Mengabaikan kekesalan gadis itu.
"Apa kau tidak makan selama satu bulan, Xella? Keluargamu mulai bangkrut sampai tidak bisa memberimu makan?" Clara menatap Alexella aneh. Ia tidak pernah melihat wanita dihadapannya itu makan selahap itu.
"Sejak malam kemarin aku tidak makan, ini semua karena ulah Jarvis sialan." Umpat Alexella yang kemudian menyesap minuman dengan elegan. Lalu menatap gadis di depannya.
"Ah, aku mengerti sekarang kenapa kau melupakanku dan membiarkanku menunggumu sampai larut malam. Kau menghabiskan malam dengan pria brengsek itu huh?"
"Hey, dia kekasihku."
"Aku tidak peduli itu. Kau keterlaluan, Xella. Kau membiarkan aku mati ketakutan sedangkan kau menjerit nikmat di bawah lelaki brengsek itu sepanjang malam. Menyebalkan." Clara mendengus sebal.
"Cih, seperti kau tidak pernah saja. Bahkan setiap malam kau melakukan itu dengan kekasih gelapmu." Alexella menyapu bibirnya dengan tisue. Dan menegak minumannya sampai habis.
"Lupakan hal bodoh itu, kembali pada masalah kita. Apa yang sebenarnya kau rencanakan huh?" Clara menatap lawan bicaranya dengan serius.
__ADS_1
Alexella tampak melihat kiri dan kanan, lalu mendorong tubuhnya mendekati Clara. "Aku ingin kau menjebak seseorang."
"What?" Kaget Clara.
"Ck, kecilkan suaramu." Desis Alexella.
"Menjebak siapa? Jangan membawaku dalam masalah besar, Xella." Clara mulai waswas dengan tatapan intens Alexella yang ditujukan untuknya.
Alexella tersenyum miring. "Aku akan memberitahumu setelah kau mengatakan setuju. Kau tidak punya pilihan, aku akan membongkar scandalmu jika kau berani menolakku, Cla."
Clara mengeratkan rahangnya saat mendengar ancaman wanita itu.
"Aku setuju, katakan apa rencanamu?" Tegas Clara menatap Alexella tajam.
"Kemari." Alexella meminta Clara mendekat. Clara berdecak kesal, lalu menuruti keinginan Alexella.
Alexella membisikkan sesuatu ditelinga gadis itu. Membuat si pemilik terbelalak kaget mendengar rencana jahat Alexella.
"Hey, kau yakin?" Pekik Clara tak percaya dengan rencana Alexella.
"Aku yakin, sudah aku katakan bukan? Jangan pernah mengusik ketenanganku. Maka terima saja akibatnya."
Clara bergidik ngeri saat menangkap kilatan amarah di mata Alexella.
"Bagimana jika aku gagal?"
"Maka semua orang akan tahu scandalmu, Cla. Aku yakin kau melakukan ini dengan baik. Sudahlah, aku harus segera pulang. Pikirkan itu baik-baik, Cla. See you." Alexella bangun dari posisinya dan beranjak pergi dari sana dengan langkah cepat.
Clara mengepalkan tangannya. "Kenapa hidupku selalu terjebak saat berhubungan dengan keluarga Digantara. Sialan."
"Sedang apa kau di sini, Cla?"
Clara terperanjat kaget saat seseorang menyapanya. Lelaki berpakaian formal itu menatap Clara lekat.
Ya, lelaki itu tak lain adalah Ansel.
"Apa lagi kalau bukan membeli makanan." Sahut Ansel sekenanya.
"Ck, kapan kau pulang? Mommy terus mananyakanmu, Ansel. Apa kau tidak kasihan padanya? Bahkan kau lebih menyayangi atasanmu dari pada wanita yang sudah melahirkanmu."
"Mommy memahami posisiku saat ini, jaga dirimu baik-baik." Pungkas lelaki itu bergegas pergi dari sana.
"Huh, dasar lelaki tak punya perasaan." Kesal Clara yang juga ikut beranjak dari sana.
Alexella melangkah pasti memasuki mansion. Ia hendak masuk ke dalam lift. Namun tubuhnya kembali tertarik kebelakang saat seseorang manarik tangannya. Alexella yang kaget pun langsung melihat si pelaku.
"Mom?" Alexella memberikan tatapan memelas pada sang Mommy. Saat ini dirinya ingin segera bermanjaan dengan kasur empuk. Sisa percintaannya dengan Jarvis belum sepenuhnya hilang.
"Dari mana saja kamu, Xella?" Tegas Sweet menatap putrinya penuh selidik.
"Mom, aku lelah. Banyak tugas kampus yang harus aku kerjakan." Alexella memelas.
"Mommy tahu itu, tapi katakan pada Mommy kemana saja selama ini huh? Semalaman penuh kamu tidak pulang, Xella. Dan sekarang baru pulang jam sepuluh malam?" Kesal Sweet mulai curiga dengan tingkah Alexella akhir-akhir ini. Gadis di depannya itu terlalu dimanjakan oleh Daddynya.
"Mom, di kampus sedang ada event. Jadi aku menginap di rumah teman." Alibinya.
"Teman yang mana? Mommy sudah menghubungi mereka semua. Dan kamu tidak ada bersama mereka."
Seketika wajah Alexella pias saat mendengar itu. "Itu... aku menginap di apartemen Cla. Ya, apartemen Cla."
__ADS_1
"Jangan berbohong pada Mommy, Xella. Ini apa huh? Apa yang sudah kamu lakukan? Kamu pikir Mommy tidak tahu ini tanda apa huh?" Seru Sweet seraya menunjuk leher Alexella yang terdapat beberapa bercak merah yang mulai memudar.
Sial! Kenapa aku melupakan tanda itu. Ini semua salah si brengsek itu. Awas saja kau Jarvis.
"Mom, alergiku kambuh. Kemarin aku tidak sengaja makan udang. Please, aku lelah, Mom."
"Ini yang Mommy takutkan dari cara didikan Daddymu yang terlalu bebas. Kau... sudahlah, Mommy tidak tahu harus bicara apa lagi. Tidak ada lagi yang peduli padaku. Kalian merasa sudah dewasa dan mengabaikan semua ajaranku. Melupakan norma agama yang sudah aku ajarkan. Terserah, jangan pedulikan aku. Aku rasa tak akan ada yang peduli meski aku mati sekali pun. Aku membiarkan kalian memilih pasangan sendiri karena aku menghargai perasaan kalian. Tapi apa yang kalian berikan padaku? Kau membuatku kecewa, Xella. Pergilah. Jangan pedulikan aku lagi." Pungkas Sweet yang langsung beranjak pergi dari sana.
Alexella terkejut. Ia tidak pernah menyangka Sweet akan semarah ini. "Mom, i am so sorry." Alexella menyusul sang Mommy.
"Pergilah, kau lelah bukan? Pergi dan jangan pedulikan aku." Sweet memeprcepat langkahnya.
"Mom, aku bisa menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi. Please, i am sorry, Mom." Alexella meraih tangan sang Mommy. Dan itu berhasil menahan langkah wanita paruh baya itu.
Alexella berdiri di hadapan sang Mommy. Mengecup punggung tangan Sweet dengan lembut. "Aku minta maaf sudah berbohong padamu, Mom. Tapi... aku punya alasan yang tak bisa aku katakan padamu kenapa aku tidak pulang sejak malam kemarin."
"Kenapa? Kau menghabiskan malam dengan calon suamimu? Tebakan Mommy benar kan?"
"Mom, aku...."
"Kau membuatku kecewa, Xella. Kau adalah harapan satu-satunya dalam keluarga ini. Mommy sedang berusaha membatalkan perjodohanmu dengan Jarvis. Mommy tidak mau kamu menikah dengan lelaki penggila wanita sepertinya, Xella. Mommy tidak akan menghancurkan masa depanmu, tapi kamu sudah menghancurkan masa depanmu sendiri. Mommy sangat berharap kamu menikahi lelaki dengan keyakinan sama seperti kita. Tapi nyatanya apa? Kau menghabiskan malam dengannya tanpa adanya ikatan. Dosa besar apa yang sudah aku lakukan ya Allah? Ampuni hamabamu ini."
"I love him, Mom. I love him." Sahut Alexella dengan tatapan sendu.
Sweet terhenyak mendengar pengakuan Alexella. "Xella, jadi itu alasan kenapa kau tidak menolak perjodohan Daddymu?"
"Maafkan aku, Mom. Aku mencintainya sejak lama. Aku hanya menginginkan dirinya. Aku tahu Mommy mengharapkan seusuatu yang lebih dariku, tapi aku manusia biasa. Aku jatuh cinta padanya, apa aku salah mencintai lelaki yang berbeda keyakinan denganku? Sama halnya dengan Lexa, dia mencintai Winter dan kalian menyetujuinya hanya karena Lexa akan bunuh diri jika kalian tak merestui hubungan mereka. Apa aku perlu melakukan hal yang sama, Mom? Biarkan aku hidup bersama Jarvis, Mom. Aku sangat mencintainya." Tangisan Alexella pun pecah.
Tubuh Sweet lemas seketika, ia menjatuhkan dirinya di bibir sofa. Tubuhnya gemetar dengan air mata yang mulai berlinang. "Jadi benar kalian sudah menghabiskan malam bersama. Xella?"
Alexella tersentak kaget mendengar pertanyaan itu. "Mom... a__aku...."
"Tidak perlu menjawab, Mommy sudah tahu jawabanmu, Xella. Pergilah, terserah kalian mau melakukan apa pun. Aku tak akan melarang apa pun yang kalian lakukan lagi." Sweet bangun dari posisinya dan beranjak pergi dari sana. Jika sudah seperti itu, menandakan jika dirinya benar-benar kecewa.
"Mom, maafkan aku." Ucap Xella tak mampu berucap kata lagi. Tubuhnya bergetar karena menahan isak tangisan.
"Hey, ada apa ini, Sayang? Kenapa kamu menangis?" Tanya Alex yang baru muncul dan kaget saat melihat Alexella menangis sendirian.
Putri bungsunya itu memberikan tatapan sendu. Lalu memeluknya dengan erat. Tangisan Alexella pun pecah seketika. Dan itu membut Alex semakin bingung.
"Ada apa huh? Kenapa kamu menangis seperti ini?" Alex mengusap lembut rambut putrinya.
"Mommy, dia marah padaku." Adu Alexella mulai sesegukkan. "Maafkan aku, Dad."
"Kenapa dia marah padamu huh? Kau membuatnya kecewa?" Alexella mengangguk pelan dalam dekapan Alex.
"Aku mencintai Jarvis, Dad. Apa aku salah? Lexa bisa memiliki Winter, apa aku tidak boleh memilih cintaku sendiri?" Lirih Alexella mengeratkan pelukkannya.
"Sudahlah, Daddy akan bicara pada Mommymu. Dia sedang emosi hari ini. Karena sudah hampir dua hari kau tidak memberinya kabar. Besok juga Mommymu akan kembali seperti biasanya." Ujar Alex berusaha menenangkan putri bungsunya itu. "Dia seperti itu karena terlalu menyayangimu, Xella."
"Nope, Mommy lebih menyayangi Lexa dari pada aku, Dad. Dia akan memberikan apa pun keinginan Lexa, tapi tidak padaku. Bahkan dia malarangku berhubungan dengan Jarvis. Aku mencintai lelaki itu, Dad."
Alex menghela napas berat, lalu mendorong bahu putrinya dengan lembut. Ia menatap wajah sembab putri cantiknya, menghapus jejak air mata yang membasahi pipi mulus Alexella.
"Jangan bicara seperti itu, Mommy sangat mencintaimu, Sayang. Harus kamu tahu, sepanjang malam dia tidak tidur karena memikirkanmu. Dia mencemaskanmu, wajar jika dia marah seperti ini. Mommy masih menganggapmu seperti anak kecil, dia terus mencemaskanmu ke mana kamu pergi. Jadi jangan pernah mengatakan Mommymu pilih kasih. Kau tahu sendiri Lexa orang yang nekat, jika kita mengabaikannya dia akan mati, Xella."
Alexella terdiam. Perasaan bersalah kini semakin menyelimuti hatinya. "Maafkan aku, Dad."
"Minta maaf pada Mommymu setelah emosinya redam, untuk saat ini biarkan Mommymu seperti itu."
__ADS_1
Alexella mengangguk pelan. "Thank you, Dad. I love you." Ucap Alexella memeluk Alex kembali.
"Love you to, Honey. Pergilah ke kamarmu, istirahat dengan baik." Alex mengecup pucuk kepala Alexella dengan penuh cinta.