
"Sudah aku katakan, jangan tergesa-gesa. Sekarang semuanya kacau, anak itu berani memutuskan hubungan dengan kita. Lalu besok, dia akan meminta suaminya untuk menghancurkan kita, Jeremy." Protes Charlotte, karena semua rencana suaminya gagal total.
"Aku tahu, jangan terlalu risau. Semua akan baik-baik saja, gadis itu tidak akan berbuat macam-macam. Karena orang tuanya berada dalam genggaman kita." Jeremy terlihat begitu santai.
"Lalu bagaimana dengan putra kita?" tanya Charlotte datar. Perasaan kesalnya belum juga pendar.
"Putra kita akan terus mendapatkan perawatan terbaik. Aku mengambil sedikit keuntungan dari gadis itu," jawab Jeremy menerawang jauh. Bibirnya berkedut dan menerbitkan seulas senyuman.
"Kita tidak akan melepaskannya dengan mudah, gadis itu akan tetap menjadi boneka keluarga kita. Kehidupan kita tergantung diri kerja kerasnya, setelah dia memiliki keturunan dari keluarga kaya itu. Kita akan lebih beruntung lagi," timpal Jeremy tertawa puas. Bayangan masa depan sudah ada di hadapannya.
"Terserah padamu, jangan sampai anak itu mati karena kita. Kau tahu sendiri suaminya sangat kejam, sedikit saja dia membuat masalah. Maka kita akan ikut terlibat," ujar Charlotte bangun dari duduknya.
"Jangan cemas, gadis itu sangat pintar. Dia tidak akan mati begitu saja."
"Terserah padamu, Jeremy. Aku ingin menemui putra kita," Charlotte berjalan pergi meninggalkan ruang kerja suaminya. Sedangkan Jeremy masih terdiam menatap ke luar jendela, bermain dengan pikirannya sendiri.
***
Sudah dua hari sejak kejadian itu, Sweet memutuskan untuk tidak bicara pada Alex. Sweet masih mengingat bagaimana rasa perih itu yang kini mulai menjalar hingga ke hati. Sejak itu pula, Alex merasa gelisah karena sikap Sweet acuh Sweet padanya. Alex merasa bingung, kenapa perasaan bersalah itu masih saja berkutat dalam benaknya.
Bukan hanya Sweet, Milan dan Mala ikut mengacuhkan Alex. Ketiga wanita itu begitu kompak seakan memberi pelajaran untuk Alex.
"Josh," panggil Sweet saat berpapasan dengan Joshua. Lelaki itu menahan langkahnya. Ya, saat ini Sweet memang berada di perusahaan untuk mengantar makan siang Alex seperti biasanya.
"Nyonya butuh bantuan?" tanya Joshua menatap Sweet untuk menunggu jawaban.
"Tolong berikan ini padanya, aku masih banyak pekerjaan." Sweet menyodorkan lunch bag pada Joshua. Lelaki itu terlihat bingung, sudah dua hari Sweet melakukan itu. Biasanya ia akan masuk sendiri dan memberikan langsung pada Alex.
Apa mereka sedang bertengkar? Hah, pasangan yang unik. Batin Joshua.
"Dengan senang hati, Nyonya Sweet."
"Terima kasih," ucap Sweet langsung bergegas pergi. Namun langkahnya tertahan saat tiba-tiba Alex menghadang jalannya. Alex pun langsung menarik lengan Sweet dan merampas kasar lunch bag dari tangan Joshua. Joshua terdiam cukup lama, ia masih terkejut dengan apa yang terjadi.
Alex menarik Sweet masuk ke ruangannya. Melempar kasar gadis itu di sofa, mengapit rahang Sweet dengan jemarinya.
"Mencoba untuk menguji kesabaranku?" ujar Alex penuh penekanan. Ia benar-benar kesal dengan sikap Sweet beberapa hari ini. Sweet memalingkan wajahnya, namun Alex kembali menariknya hingga mata mereka pun saling bertemu.
__ADS_1
"Aku terlalu meremehkanmu, Ana. Sudah cukup aku bersikap lunak padamu. Mulai saat ini, kau akan menjalankan tugas seorang istri yang sebenarnya." Alex menghimpit tubuh mungil Sweet dengan penuh emosi.
"Menjauh dariku, aku bekas orang lain. Kau sangat membenciku bukan? Lalu apa yang kau inginkan diriku, Alex? Aku tidak memiliki apa pun saat ini." ujar Sweet penuh penekanan. Alex yang mendengar itu langsung mendaratkan bibirnya pada bibir Sweet. Sontak gadis itu terkejut dan memberontak.
"Aku membencimu," ucap Sweet saat Alex melepas pagutannya. Sweet terus memukul dada bidang Alex. Air matanya lolos begitu saja, hingga membasahi pipi. Kali ini Sweet benar-benar menumpahkan tekanan dalam hatinya.
"Kenapa, kenapa kau ingin terus menyiksaku, Alex. Apa salahku padamu?" timpal Sweet semakin terisak.
"Ana," panggil Alex merasa bersalah saat melihat kondisi lemah Sweet.
"Apa aku tidak boleh hidup lebih tenang sedikit saja? Aku sudah lelah dengan semua ini, aku juga lelah dengan sikapmu yang sesuka hati. Aku manusia, bukan robot atau boneka yang bisa dimainkan sesuka hati." Isak tangis Sweet semakin menjadi.
Alex yang mendengar itu kalang kabut. Alex mengangkat tubuhnya untuk menjauh dari Sweet.
"Tidak perlu berakting. Pergilah, jangan harap aku peduli padamu," ujar Alex datar. Sweet yang mendengar itu langsung menghapus air matanya dan bangkit dari sana.
"Jangan pernah menyentuhku lagi, aku membencimu, Alex. Kau lelaki kejam yang pernah aku temui, kau selalu bersikap sesuka hati dan kau juga lelaki yang tak punya hati." cerca Sweet. Ia mengeluarkan segala unek-unek dalam hatinya. Napasnya tersenggal, dadanya naik turun karena menahan emosi.
"Keluar!" bentak Alex. Sweet pun terdiam sesaat, lalu beranjak pergi dari sana.
Alex meraup kasar wajahnya. Untuk yang kedua kalinya, Alex merasa frustrasi karena seorang wanita. Alex memukul keras meja kerjanya. "Sial! Aku tidak bisa mengontrol perasaanku sendiri."
Sweet menyebrangi jalan. Kakinya melangkah pasti untuk menyelusuri taman kota yang sudah lama tak ia kunjungi. Saat sedang kuliah dulu, taman kota menjadi tempat favorit untuk mengerjakan tugas yang menumpuk. Sampai di sudut barat, Sweet bertemu dengan segerombolan pemuda berpakaian kasual. Beberapa dari mereka memetik gitar dengan lembut, dan suara yang diciptakan begitu merdu. Mereka juga menyanyikan sebuah lagu dari Kelly Clarkson-Stronger. Sweet memilih berhenti dan menonton mereka. Merasa bahwa keberadaan mereka di sana mewakili isi hatinya.
What doesn't kill you makes you stronger
Stand a little taller
Doesn't mean I'm lonely when I'm alone
What doesn't kill you makes a fighter
Footsteps even lighter
Doesn't mean I'm over cause you're gone
What doesn't kill you makes you stronger, stronger
__ADS_1
Just me, myself and I
What doesn't kill you makes you stronger
Stand a little taller
Doesn't mean I'm lonely when I'm alone
Sweet mendengarkan setiap bait dari nyanyian yang mereka bawa. Senyuman tipis terukir di bibirnya. Mereka menghadirkan kembali api semangat dalam diri Sweet . "You stronger, Sweet."
Sweet menengadah untuk menatap langit biru yang dihiasi oleh ukiran awan putih. Hari yang cerah, menunjukkan jika kehidupannya juga akan secerah hari ini. Mungkin saja awan mendung yang saat ini tengah menyelimuti harinya akan segera hilang, dan berganti dengan mentari yang akan selalu menyinari.
"Sweety," panggil seseorang. Sweet pun langsung menoleh.
"Lyla!" seru Sweet saat melihat sosok wanita yang selalu menemaninya sejak kecil. Sweet bangkit dari duduknya dan berhambur dalam dekapan Lyla.
"I miss you so much," ucap Sweet mengeratkan pelukannya. Lyla tersenyum tulus mendengarnya.
"Aku juga, Sweet. Aku mengira kita tak akan pernah bertemu lagi. Syukurlah jika kau baik-baik saja," balas Lyla melerai pelukkannya. Namun seketika matanya membulat saat melihat sudut bibir Sweet yang terluka. "Kenapa dengan bibirmu?
Sweet langsung memalingkan wajahnya, "aku terjatuh." Sweet memilih untuk duduk kembali. Lyla pun ikut duduk disampingnya.
"Berbohonglah sampai kau puas," gumam Lyla tahu akan kebohongan Sweet. Wanita itu sudah hafal betul bagaimana sikap Sweet saat sedang berbohong atau tidak. Sweet tidak akan berani menatap lawannya saat sedang berbohong.
"Maaf, Lyla. Aku tidak ingin kau cemas, aku tahu kau khawatir padaku bukan?"
"Tentu, kau sudah aku anggap seperti anakku sendiri," sahut Lyla.
"Aku tahu, bagaimana denganmu?" tanya Sweet menatap netra keemasan Lyla.
"Orang tuamu mengusirku dari mansion, pekerjaanku sekarang adalah membawa putraku berjalan-jalan."
Sweet terhenyak, ia menunjukkan perasaan bersalah.
"Jangan menyalahkan dirimu, aku senang bisa terbebas dari sana. Karena bidadari hidupku sudah tak ada di sana, sekarang aku akan lebih pokus menjaga malaikatku," ujar Lyla mengusap lembut kepala Sweet. Sweet tersenyum samar.
"Terima kasih, di mana putramu?" tanya Sweet melihat kesekeliling taman. Hingga matanya bertemu dengan sosok anak lelaki berusia tujuh tahunan sedang bermain bola bersama teman-temannya.
__ADS_1
"Sweet, kau harus selalu kuat dalam menghadapi masalah hidup. Tidak semua orang dapat dengan mudah mendapat kebahagiaan dalam hidup. Sebagian dari mereka, harus menjemput kebahagiaan itu meski terjatuh berulang kali. Tidak ada yang perlu di sesali, Tuhan punya rencana yang lebih baik."
Sweet mengangguk kecil. Perkataan Lyla memang benar, tak ada alasan untuknya mengeluh saat ini. Kehidupannya masih panjang, memang tidak semua mimpi dapat di gapai. Namun menggapai mimpi yang masih terajut, akan lebih mudah dengan dua kata, yaitu sabar dan terus ikhtiar.