
Emilia termenung di dapur sambil mengaduk susu untuk putranya. Sudah satu minggu dirinya dan Marvel pindah ke apartemen. Tak sedikit pun ia mendapat ketenangan di sana. Bahkan kepalanya sakit hampir setiap hari karena memikirkan permasalahan hidupnya. Ia bingung harus berbuat apa untuk meyakinkan Eveline jika dirinya tak bersalah. Tak pernah terbesit dibenaknya untuk menghabisi nyawa orang lain, apa lagi bayi yang tak berdosa itu. Jika ia bisa memutar waktu, dirinya lebih baik memilih mati.
Tiba-tiba sepasang tangan besar melingkar sempurna di perutnya, tentu saja Emilia terhenyak dan langsung berbalik.
"Apa yang kau pikirkan hem?" Sebuah kecupan mendarat di bibir Emilia. Siapa lagi pelakunya jika bukan Marvel.
"Tidak ada." Sahut Emilia berbohong, bahkan ia tersenyum untuk menutupi kecemasannya itu.
Marvel kembali memberikan kecupan, tapi kali ini di kening istrinya. "Berhenti memikirkan hal yang akan membuatmu sakit, Emilia. Aku perhatikan tubuhnya semakin kurus. Perhatikan pola makanmu."
Emilia mengangguk patuh tanpa mengeluarkan sepatah kata pun. Lalu menatap penampilan suaminya yang sudah rapi dengan stelan kantor.
"Kau ke kantor?" Akhirnya suara indah itu pun lolos dari bibirnya yang mungil.
Marvel mengangguk. "Jika aku terus di rumah, bagaimana aku bisa membuatmu gemuk hem?"
Emilia tersenyum kecil. "Kau ingin aku gemuk? Tidak malu jika istrimu terlihat jelek?"
Marvel tersenyum samar. "Lebih bagus kau sedikit berisi, supaya orang lain tak berpikir aku menyulitkan hidupmu."
"Ck, aku pikir pria dingin sepertimu tak memikirkan perkataan orang lain." Dipukulnya dada Marvel pelan lalu memeluknya erat. "Terima kasih karena sudah mempercayaiku."
Marvel membalas pelukan istrinya dengan hangat. "Kau istriku, sudah seharusnya aku percaya padamu."
Emilia mengangguk sambil tersenyum. Sejak Marvel mengatakan akan mempercayainya sepenuh hati, Emilia juga melakukan hal yang sama. Ia akan mempercayai suaminya dengan sepenuh hati. Lagi pula selama pernikahan mereka, Marvel selalu menunjukkan sikap baiknya meski lelaki itu terkesan dingin dan arogan. Namun Emilia bisa melihat ketulusan itu.
"Sudah cukup, aku harus berangkat ke kantor." Marvel mendorong istrinya dengan lembut. Lalu ditatapnya wajah cantik itu dengan seksama. "Mungkin aku akan pulang terlambat. Jangan menungguku."
Emilia mengangguk lagi.
"Lalu di mana Noah?" Tanya Marvel saat tak melihat keberadaan putranya itu.
"Ah, sejak bangun dari tidurnya anak itu sudah lari ke ruang bermain. Sepertinya dia senang dengan mainan baru yang Daddymu berikan." Jawab Emilia apa adanya.
Marvel tersenyum tipis lalu bergegas menuju ruang bermain anaknya itu. Lalu Emilia pun menyusulnya sembari membawa susu dan makanan untuk putranya.
"Morning, Son." Sapa Marvel saat memasuki ruang bermain putranya. Spontak Noah pun menoleh lalu tersenyum begitu manis.
"Morning, Daddy." Balasnya. Marvel pun menghampiri dan membawanya duduk di pangkuan.
"Wah, kau dapat mainan baru hem?" Tanyanya seraya mengecup pipi gembul putranya.
Noah mengangguk antusias seraya menunjukkan mainan baru itu pada Marvel. Anak itu terlihat bahagia dan terus berceloteh.
__ADS_1
Tidak lama Emilia pun masuk, refleks Noah dan Marvel pun menoleh bersamaan. Melihat itu Emilia merasa gemas sendiri.
"Ayo sarapan, Noah." Ajaknya seraya menaruh nampan di atas meja lalu mendatangi anaknya itu dan menggendongnya. "Setelah itu kita mandi."
Emilia mengecup pipi Noah gemas lalu mengajaknya duduk di sofa. Kemudian menyuapi anaknya itu dengan telaten. Bahkan sesekali mengajak anaknya itu bercanda. Tentu saja semua itu tak luput dari pengawasan Marvel. Kehangatan perlahan menyelimuti hatinya saat menyaksikan itu.
Emilia menoleh ke arah Marvel. "Sebaiknya kau juga sarapan, Marvel. Aku membuat omelet untukmu."
Marvel menatapnya lekat. "Kau tidak ingin menyuapiku juga?"
Spontan Emilia kaget dan mendelik mendengarnya. Namun lelaki itu justru tersenyum penuh arti lalu meninggalkan ruangan itu tanpa kata.
"Aneh." Gumam Emilia yang kembali menyuapi putranya. Tidak lama Marvel pun muncul lagi.
"Kau melupakan sesuatu?" Tanya Emilia menatapnya bingung. Marvel menggeleng lalu pergi lagi. Tentu saja hal itu membuat Emilia semakin kebingungan.
"Ada apa dengannya? Benar-benar aneh." Gumamnya lagi tak habis pikir. Bisa-bisanya Marvel bersikap konyol seperti itu.
Selesai menyuapi putranya, Emilia hendak ke dapur untuk mencuci piring kotor. Dan ternyata Marvel masih duduk di meja makan tengah menyantap omelet buatannya.
"Aku pikir kau sudah pergi." Emilia pun memulai pembicaraan.
"Aku menunggumu." Sahut Marvel yang berhasil menarik perhatian istrinya. Emilia mencuci tangan dan mengeringkannya. Lalu duduk di sebelah Marvel, menatapnya lekat.
"Tidak ada. Aku hanya ingin menunggumu, apa itu salah? Makanlah." Jawab Marvel seraya menyodorkan sisa omeletnya.
"Tidak, kau habiskan saja. Aku bisa membuatnya lagi." Tolak Emilia. Namun bukan Marvel tentunya jika menerima penolakan. Lelaki itu memotongnya sedikit lalu menyuapi sang istri. Refleks Emilia melotot saat omelet itu masuk ke mulutnya. Dan rasanya sangat asin. Buru-buru ia pun minum.
"Enak?" Marvel menatapnya dengan tatapan mengejek. Seketika wajah Emilia pun memerah karena malu. Ia sendiri tidak tahu kenapa bisa masakannya seasin itu.
"Kau melamun saat memasak?" Marvel melipat kedua tangannya di dada. Dan itu membuat Emilia merasa bersalah dan segera mengambil piring itu.
"Aku akan membuat yang baru," tawarnya yang hendak bangun. Namun Marvel menahannya lebih dulu.
"Tidak perlu, aku sudah terlambat." Marvel pun bangun seraya melihat arloji yang melekat di tangannya. Lalu meninggalkan Emilia begitu saja.
Emilia menghela napas kasar sepeninggalan suaminya. Ia mengutuk dirinya sendiri karena berpikir Marvel marah. Bisa-bisanya ia mengacaukan pagi yang indah ini.
Beberapa menit setelah Marvel pergi, seseorang menekan bel pintu. Emilia yang tengah bersih-bersih pun merasa heran dan berpikir itu Marvel. Karena biasa lelaki itu selalu menekan bel saat pulang bekerja. Entah apa tujuannya Emilia juga tidak tahu.
"Ck, apa dia meninggalkan sesuatu?" Tanpa banyak berpikir Emilia pun beranjak ke arah pintu dan membukanya. Namun ia langsung tersentak kaget saat melihat Eveline dan bukanlah Marvel.
"E__eve?" Emilia terlihat gugup. Wanita itu menatap Emilia sekilas, lalu masuk begitu saja tanpa permisi. Ya, Eveline hanya datang seorang diri.
__ADS_1
Dengan perasaan campur aduk Emilia menutup pintu lalu menyusul adik iparnya itu. Terlihat Eveline menyusuri seisi apartemennya. Kemudian berakhir di depan bingkai besar yang terpajang di dinding. Sebuah foto kelurga kecil yang terlihat bahagia.
"Eve, kau ingin minum apa?" Tanyanya basa-basi. Sontak Eveline pun berbalik dengan sorot mata tak bersahabatnya. Dan itu membuat tubuh Emilia meremang. Apa lagi saat wanita itu berjalan ke arahnya. Refleks Emilia mundur beberapa langkah.
"Takut?" Eveline tersenyum mengejek. "Aku pikir wanita sepertimu tak tahu rasa takut."
Emilia mencoba tegar dan berusaha untuk tidak menunduk. Mengingat perkataan suaminya yang sering ia dengar.
Jangan pernah menundukkan pandanganmu dari siapa pun, kau Nyonya Digantara sekarang.
Eveline merasa tertantang pun tersenyum getir. "Jadi sekarang kau sudah menjadi pemberani hem? Apa karena Kakaku ada dibelakangmu?"
Emilia mengepalkan kedua tangannya, kali ini ia bertekad untuk melawan rasa takutnya. "Ada tujuan apa kau kemari?"
Eveline mendekatkan bibirnya ditelinga Emilia lalu berbisik, "melihatmu mati."
Refleks Emilia mundur beberapa langkah. Tentu saja Eveline tersenyum penuh kemenangan. Lalu wanita itu melihat sekeliling. "Di mana putramu?"
Mendengar pertanyaan itu sontak Emilia kaget dan kembali mendekatinya. Mencengkram erat kerah kemeja Eveline. "Jangan coba-coba menyakiti putraku."
Eveline menepis tangan Emilia dengan kasar. Lalu mengeluarkan sesuatu dari dalam tasnya. Sontak mata Emilia terbelalak saat melihat Eveline mengeluarkan sebuah pistol.
"Apa yang ingin kau lakukan?" Emilia hendak mundur, tetapi Eveline lebih dulu menarik tangannya. Dan meletakkan pistol itu dalam genggamannya.
Emilia semakin panik dan ketakutan.
"Kau bisa menggantikan putramu." Eveline kembali berbisik. "Matilah didepanku, Emilia. Atau putramu yang akan menggantikan dirimu."
Tubuh Emilia menggigil ketakutan mendengar nada penuh ancaman itu.
Eveline tertawa hambar lalu berjalan menuju sofa dan duduk di sana seraya menyilangkan kaki dan melipat kedua tangannya di dada. Menatap Emilia penuh intimidasi.
Dengan tangan dan kaki yang mulai gemetar Emilia melihat ke arah pintu di mana putranya berada. Berharap anak itu tidak keluar dari sana.
"Lakukan, Emilia. Kau sendiri yang harus membayar kematian anakku. Atau...."
"Baik. Aku akan melakukannya." Sergah Emilia yang tahu apa yang akan Eveline katakan selanjutnya. Bagamana pun ia tak ingin putranya dalam bahaya. "Tapi aku mohon, jangan biarkan putraku melihat semua ini."
Eveline tersenyum lalu bangkit dari pisisinya. "Baiklah, ikut denganku."
Dengan patuh Emilia pun mengikutinya namun sebelum itu ia sempat melihat ke arah pintu tempat Noah berada.
Maafkan Mami, Sayang. Mami melakukan ini demi kebaikanmu. Batin Emilia yang kemudian bereggas mengikuti Eveline.
__ADS_1