
Eveline terus mengembangkan senyuman bahagia karena statusnya sudah resmi menjadi istri Lucas saat ini. Ditatapnya pantulan diri dicermin. Malam ini Eveline sudah bersiap untuk malam pertama mereka. Ia membalut tubuhnya dengan lingerie yang sengaja ditutupi bathrobe. Rambutnya juga ia biarkan tergerai karena Lucas menyukainya.
Tidak lama, pintu kamar pun terbuka. Lucas tersenyum saat melihat istrinya. "Sudah mandi ya? Kalau gitu aku mandi dulu, tunggu sebentar."
"Hm." Eveline mengangguk patuh. Dan Lucas pun langsung beranjak ke kamar mandi.
Eveline menyentuh dadanya yang terus menimbulkan detakan kencang. "Ya ampun, kenapa rasanya sangat gugup? Padahal ini bukan pertama kalinya untukku." Gumamnya seraya menarik napas panjang. Lalu membuangnya perlahan.
Beberapa menit berikutnya Lucas keluar dari kamar mandi hanya dengan lilitan handuk di pinggangnya yang seksi. Eveline menelan saliva saat melihat itu. Lucas tersenyum puas karena berhasil menggoda istrinya.
"Lihatlah sampai kau puas, sayang. Setelah ini kau akan merasakan kehebatannya."
Eveline tersenyum. "Aku sudah sering merasakannya. Tapi malam ini aku sangat gugup, Luc. Apa karena ini malam pengantin kita ya?"
Lucas duduk disebelah istrinya. Lalu menarik Eveline agar duduk mengangkang dipangkuannya. Eveline mengalungkan kedua tangannya di leher sang suami. Tubuhnya menegang saat benda keras di bawah sana menusuk bokongnya. "Luc, milikmu sudah keras."
"Itu artinya dia merindukan sangkarnya. Dia ingin segera masuk, sayang." Lucas mencium bibir istrinya dengan lembut. Bahkan tangannya mulai bergerak menarik tali bathrobe sang istri. Lalu menanggalkan kain itu begitu saja. Lucas kaget saat melihat apa yang istrinya pakai saat ini. Lingerie berwarna merah muda itu terlihat begitu seksi ditubuh Eveline. Memperlihatkan buah dadanya yang sintal dan padat.
"Luc... jangan melihatku seperti itu." Rengek Eveline merasa malu.
Lucas tertawa kecil, lalu berbisik. "Kau sangat menggemaskan dengan penampilan seperti ini. Sayangnya aku lebih suka kau polos tanpa sehelai benang pun."
"Luc!" Eveline memukul bahu suaminya. "Jangan menggodaku."
Lucas tersenyum penuh arti. "Bersiap untuk malam pertama kita, sayang. Aku tidak akan melepaskanmu. Aku akan menebus malam-malam libur kita."
Eveline menatap Lucas lekat. "Luc, aku masih memikirkan grandma."
Lucas terdiam sejenak. "Kita akan menemuinya sebelum pulang ke California."
"Bagaimana jika Grandma masih marah pada kita?"
"Setidaknya kita sudah berusaha meminta maaf padanya."
Eveline mengangguk. "Aku takut grandma tidak menganggapku lagi cucunya."
"Grandma tidak sejahat itu, beliau hanya kecewa saja pada kita."
"Hm." Eveline mengangguk.
"Lupakan sejenak masalah Grandma. Kau harus membujuk junior supaya mau tidur." Gurau Lucas yang berusaha membuat istrinya tersenyum. Dan itu berhasil, Eveline tersenyum seraya memukul pundak Lucas.
"Aku sedang serius, kau malah membuat lelucon. Juniormu itu sulit aku tidurkan, dia sangat nakal." Kesal Eveline. Sontak Lucas pun tertawa renyah.
Eveline tersenyum. "Luc, apa aku cantik dengan pakaian ini?"
"Tidak."
Eveline menyebikkan bibirnya.
"Sudah aku katakan, aku lebih suka kau yang polos. Tidak perlu pakai yang seperti ini. Akan mempersulit. Aku lebih senang yang langsung."
"Luc." Kesal Eveline yang lagi-lagi berhasil membuat Lucas tertawa.
"Kau sangat cantik, sayang. Seperti apa pun kondisinya." Jujur Lucas. Kali ini Eveline merasa tersanjung.
__ADS_1
"Walaupun nanti aku gendut?"
"Ya, aku mencintaimu dengan sepenuh hati. Apa pun kondisimu, kau akan tetap cantik, Eve."
Eveline tersenyum seraya menyatukan kening mereka. "Aku juga sangat mencintaimu, Luc. Dari dulu sampai sekarang. Sejak dulu aku selalu mencuri perhatianmu."
"Tapi kau selalu bersikap acuh padaku."
"Karena aku tidak ingin menunjukkan itu di depan yang lain."
"Kau pernah menamparku karena aku menciummu, itu masih aku ingat."
Eveline memasang wajah penuh penyesalan. "Aku melakukkan itu karena kau lancang. Kau selalu bersikap sesuka hati."
Lucas tersenyum samar. "Aku tidak pernah bisa menahan diri saat melihatmu, Eve."
"Hm, aku tahu itu. Maaf atas semuanya."
"It's okay, semua itu hanya masa lalu."
Eveline tersenyum. "Kau tahu tidak? Kapan aku mulai jatuh cinta padamu?"
Lucas menggeleng.
"Sejak kau memukul teman sekalasku karena mencoba membuliku. Saat itu kau sangat keren. Hatiku mulai bergetar saat itu."
"Itu artinya sudah lama sekali. Tapi itu masih kalah jauh dariku, aku menyukaimu sejak kau berusia lima tahun. Kau ingat? Saat itu kau terus merengek padaku, memohon agar aku menikahimu? Saat itu kau melihat adegan pernikahan ditelevisi. Karena itu kau begitu antusias ingin menikah."
Eveline menggeleng. "Aku tidak terlalu ingat."
"Dan aku mengabulkannya sekarang. Kau resmi menjadi istriku, Eve."
Lucas tertawa kecil. "Hanya kau satu-satunya wanita yang ingin aku nikahi, Eve."
Eveline tertawa kecil. "Dasar bucin."
"Bucin? Apa itu?"
"Budak cinta, itu bahasa famous di Indonesia untuk para pasangan yang terlalu mencintai pasangannya. Aku tahu saat main ke sana tahun lalu."
"Aku rasa... aku memang bucin." Kata Lucas. Spontan Eveline pun tertawa geli. Lucas terlihat lucu karena agak kesulitan mengucapkan kata bucin.
"Kau lucu, aku rasa kita harus main ke Indonesia. Aku akan membawamu keliling, saat di sana aku sempat mendatangi beberapa tempat yang bagus untuk berlibur. Aku mau ke sana lagi, Luc."
"Tunggu sampai kondisi kandunganmu kuat, perjalanan ke sana lumayan panjang."
Eveline mengangguk. "Ayo kita lanjutkan kegiatan kita yang tertunda."
Lucas tersenyum geli. "Sepertinya kau sudah tidak sabaran huh?"
"Ck, aku merindukanmu tahu. Ayo kita lanjutkan."
"Aku rasa malam ini akan menjadi malam terindah untuk kita, Luc." Eveline mengecup hidung mancung Lucas.
"Ya, bersiaplah, sayang." Lucas meraih bibir istrinya dengan lembut tanpa penuntutan. Membuat Eveline terbuai. Dan malam panjang pun kembali terjadi, akan tetapi malam ini mereka melakukannya dengan penuh kebahagiaan karena keduanya sudah terikat dalam ikatan suci. Tak ada lagi batasan di antara mereka.
__ADS_1
****
Di kamar mewah Sweet. Zhea, Sky terlihat asik menemaninya dengan obrolan panjang.
"Zhea, biarkan Gabriel mengantarmu. Ini sudah sangat larut." Pinta Sky.
Zhea memang sengaja mampir ke mansion untuk menjenguk Sweet. Tanpa diduga Sweet memintanya untuk tinggal beberapa saat, dan pada akhirnya mereka asik bercerita sampai lupa waktu.
"Sky benar, biarkan Gabriel mengantarmu. Kau itu wanita."
"Grandma, aku membawa mobil sendiri. Lagian apartemenku tidak terlalu jauh."
"Ck, tetap saja. Kalau tidak pun menginaplah di sini. Temani Grandma di sini."
"Maafkan aku, Grandma. Besok aku ada meeting dengan para model. Jadi aku harus tetap pulang malam ini." Zhea menatap Sweet penuh penyesalan. Bohong jika dirinya tak nyaman saat bersama wanita hampir satu abad itu. Bahkan ia terlalu nyaman sampai lupa waktu.
"Kalau begitu biarkan Gabriel menemanimu. Grandma tahu kau masih menyukainya kan?"
Zhea tersenyum kecil sebagai tanggapan.
"Zhea, apa kau tidak ingin memberikan kesempatan lagi untuk Gabriel?" Tanya Sky penuh harap.
Zhea pun menoleh masih dengan senyumannya yang menawan. "Biarkan Allah yang menjawab, Aunty. Aku hanya manusia biasa, tidak mampu memaksakan kehendak."
Sky menatap Zhea lekat. "Beruntung sekali jika kau menjadi menantuku."
"Maka doakan aku supaya menjadi menantumu, Aunty."
Sky dan Sweet tertawa bersama. Zhea pun ikut tertawa.
Dan pada akhirnya Zhea pun pulang bersama Gabriel. Meninggalkan mobilnya di mansion. Sepanjang perjalanan tidak ada pembicaraan di antara mereka. Sampai Zhea pun terus menguap beberapa kali karena mengantuk. Tentu saja hal itu menarik perhatian Gabriel.
"Apa yang kau bicarakan dengan Mommy dan Grandma?" Tanyanya penuh selidik.
"Tidak ada," jawabnya singkat tanpa melihat lawan bicara.
"Aku harap kau tahu batasan, aku tidak akan pernah setuju dengan perjodohan bodoh itu."
Zhea tertawa sumbang. "Perjodohan itu sudah batal sejak awal."
"Cih, lalu buat apa kau terus berkeliaran di depan keluargaku huh? Kau ingin mencari muka?"
Zhea langsung menoleh, menatap Gabriel tak suka. "Jika kau berpikir seperti itu, itu terserah padamu. Aku hanya menghormati Ibu dan Nenekmu, bahkan tidak sedikit pun terbesit dalam diriku untuk mencari muka. Memangnya lelaki di dunia ini hanya kau saja? Bahkan banyak yang jauh lebih baik darimu, menyebalkan. Kau tampan tapi mulutmu seperti ember bolong." Semburnya tanpa henti.
"Jadi kau mengakui aku tampan?"
"Ya, kau tampan. Tapi bodoh." Ketus Zhea. Spontan Gabriel menoleh.
"Kau berani mengataiku?"
Zhea terdiam, memalingkan wajahnya ke luar jendela.
Menyebalkan. Lelaki tak punya perasaan.
"Dengar, secantik apa pun dirimu. Aku hanya tertarik pada seseorang. Jadi jangan terlalu percaya diri." Sinis Gabriel.
__ADS_1
"Whatever." Kesal Zhea.
"Cih, perempuan aneh."