
"Apa kau bahagia?" tanya Alex pada Sweet yang tengah bersandar di bahunya. Wanita berparas manis itu hanya mengangguk kecil, lalu memejamkan matanya. Saat ini mereka sedang menikmati indahnya sunset di ujung jalan berbatu, posisi mereka saat ini berada di belakang Menara Eiffel.
Dua hari penuh, pasangan baru itu menikmati masa bulan madu di kota Paris, kota yang penuh dengan nuansa romantis. Dalam kurun waktu dua hari pula, hubungan keduanya membaik. Sweet mulai menunjukkan sikap manjanya di depan sang suami. Bagaimana mungkin Sweet tidak terbawa suasana, jika Alex terus memperlakukan dirinya dengan begitu lembut dan penuh kasih sayang.
"Belum cukup?" tanya Alex lagi. Lelaki itu mulai bosan karena sejak tadi Sweet tidak kunjung bicara.
"Sebentar lagi," sahut Sweet pelan. Matanya ia buka perlahan, matahari hampir terbenam separuh. Langit jingga pun perlahan menjadi abu. Sweet kembali memejamkan matanya saat Alex memberikan kecupan hangat di pucuk kepalanya.
"Sayang, aku harap mulai hari ini. Kau bisa merubah sifat dinginmu itu, aku ingin melihat kau tersenyum setiap hari. Satu bulan lamanya aku mengenal dirimu, satu senyuman pun tak aku dapat. Aku yakin, kau sangat manis saat tersenyum."
Sweet terdiam cukup lama, seakan berpikir keras untuk menjawab semua permintaan Alex, suaminya.
"Aku tidak yakin itu mudah, bagaimana jika kau kembali berubah seperti sebelumnya?" kali ini Sweet menjawab dengan nada lembut. Mendengar itu, Alex membisu sesaat.
Karena lama tidak mendapatkan respon dari Alex, Sweet menjauhkan kepalanya dari bahu Alex. Matanya bergerak untuk menatap lelaki di sampingnya.
"Bahkan kau saja tidak yakin dengan sikapmu saat ini, apa harus aku juga melakukan itu? Aku masih ragu padamu, meski saat ini aku sudah menjadi istrimu seutuhnya. Aku menyerahkan diriku padamu sepenuhnya sebagai seorang istri, tapi tidak untuk hatiku." Sweet menatap Alex begitu lekat.
Bahkan aku juga tidak yakin dengan diriku sendiri, apa benar hatiku masih terkunci. Atau mungkin sudah kau curi tanpa izin. Batin Sweet.
"Aku akan berusaha untuk mengubah sikapku," ucap Alex mengunci netra milik istrinya.
"Bagaimana dengan hatimu? Mungkinkah kau memberikannya padaku?" tanya Sweet tanpa ragu. Lagi-lagi Alex terdiam. Keduanya masih menyimpan rasa ragu, ragu untuk mengisi hati masing-masing. Mungkin mudah bagi Sweet untuk mengisi kekosongan hatinya, karena sejak awal tidak ada yang mengisi singgasana hatinya. Berbeda dengan Alex, puluhan tahun lamanya ia menyimpan satu nama wanita dalam hatinya. Cinta pertama yang amat sangat sulit ia lupakan.
Sweet menunduk, ia tahu Alex tidak benar-benar ingin menjadikannya sang ratu dalam singgasana milik lelaki itu. Meski ia sudah menyerahkan diri sepenuhnya pada Alex. Tetapi ia tidak menyesal akan hal itu, toh sudah kewajibannya sebagai seorang istri untuk melayani sang suami. Sweet sadar sepenuhnya, bahwa dirinya hanya sebagai pelarian semata.
"Maka dari itu bantu aku, bantu aku untuk bangkit dari semua masa laluku." Alex menarik lembut dagu sang istri. Mengunci kembali netra kelam milik kekasih halalnya.
"Bagaimana jika aku tidak mampu?"
"Kau belum mencobanya, bagaimana mungkin kau mengatakan hal itu." Alex tersenyum simpul. Sedangkan Sweet memberikan tatapan yang tidak mudah ditafsirkan.
"Aku yakin kau mampu, aku percaya padamu." Alex memberikan kecupan hangat di bibir manis Sweet. Membuat sang empu tersentak kaget. Alex tertawa renyah melihat reaksi lucu istrinya.
"Aku rasa kita harus kembali ke hotel, aku merindukanmu." Alex memberikan senyuman penuh arti.
__ADS_1
Merindukanku? Bukankah sejak tadi aku bersamanya? Dasar orang tua aneh. Pikir Sweet.
Kerena langit mulai gelap, mereka pun mulai bergerak untuk meninggalkan tempat indah itu. Mungkin di lain waktu mereka akan kembali ke sana.
***
Keesokan harinya, Alex dan Sweet pun kembali ke Jerman. Sepanjang perjalanan Sweet tertidur begitu pulas. Bagaimana tidak, semalaman penuh Alex tidak membiarkan Sweet tertidur dengan tenang.
Bahkan gadis itu tidak menyadari jika sudah sampai mansion. Alex mengusap lembut kepala istrinya yang masih tertidur pulas di atas kasur. "Bagaimana bisa aku luluh pada wanita sepertimu, Ana? Bahkan aku belum tahu secara jelas siapa dirimu, kau begitu misterius, istriku."
Merasa tidurnya terganggu, Sweet menggeliat dan mengubah posisi tidurnya untuk mencari posisi nyaman.
"Hey, mau sampai kapan kau tidur, huh?" Alex mencubit pipi cubby Sweet begitu gemas. Membuat sang istri terbangun dari tidurnya.
Sweet mengerjapkan matanya beberapa kali, mencoba menyesuaikan cahaya yang menyilaukan mata. Masih setengah sadar, Sweet mengedarkan pandangan keseluruh penjuru kamar. Tempat yang tidak asing lagi baginya, tentu saja, karena sekarang ia berada di kamar Alex. Mulai saat ini, kamar itu akan menjadi kamarnya juga yang berstatus sebagai Nyonya Alex Digantara.
"Bangunlah, aku harus segera pergi. Ada sedikit masalah di kantor," ujar Alex yang kemudian mengecup bibir Sweet. Sepertinya Sweet mulai menyadari, jika Alex selalu melakukan itu setiap pagi. Mungkin ia akan mulai terbiasa dengan perlakuan baru yang Alex berikan padanya. Ia harus siap lahir batin dengan sikap Alex yang selama ini belum ia ketahui.
"Aku tidak mengizinkanmu untuk pergi ke mana pun, cukup di rumah dan jangan nakal."
"Bantu aku bersiap lebih dulu," pinta Alex saat Sweet hendak membuka pintu kamar mandi. Membuat wanita itu terheran-heran. Biasanya juga Alex melakukan itu sendiri.
Tidak ingin menjadi istri durhaka, Sweet pun berjalan menghampiri Alex. Membantu lelaki itu memasang kancing baju dan dasi. Karena pendek, Sweet berjinjit untuk menyamakan tingginya dengan Alex.
Melihat istrinya kesusahan, Alex tersenyum puas. Baginya itu sangat lucu, istri kecil yang begitu menggemaskan. Merasa kasihan, Alex mengangkat tubuh mungil Sweet dengan kedua tangannya. Membuat wanita itu terpekik kaget dan spontan meremas kerah kemeja Alex. Tidak ada lagi batas penghalang antara mereka.
"Lanjutkan," perintah Alex yang masih menahan tubuh Sweet agar tidak terjatuh. Sweet terlihat kesal, bisa di lihat dari cara ia memasangkan dasi yang begitu kasar. Lalu mata biru Alex beralih pada bibir seksi istrinya. Benda kenyal yang selalu membuatnya mabuk kepayang.
"Turunkan aku," pinta Sweet saat sudah selesai memasangkan dasi di leher jenjang suaminya. Namun Alex tak mengindahkan perkataan Sweet. Matanya masih tertuju pada tempat yang sama.
Kesal karena tidak mendapat respon dari Alex, Sweet mencubit gemas hidung mancung Alex. Dan berhasil mencuri perhatian Alex. "Tuan, tolong turunkan saya."
Alex malah tersenyum, "berikan aku hadiah kecil."
"Hah?" Sweet tampak bingung dengan ucapan Alex.
__ADS_1
"Apa kau benar-benar polos?" tanya Alex. Sweet masih tidak mengerti arah pembicaraan Alex.
"Maaf, jika aku pernah melukai hatimu. Dengan mengatakan jika kau adalah wanita tidak baik. Kau menyerahkan kehormatanmu padaku, tapi aku melukai perasaanmu, Ana. Aku pantas mendapat kebencian darimu," ujar Alex begitu penuh penyesalan.
Sweet terenyuh mendengar pengungkapan tulus Alex. Tanpa sadar, tangan mungil itu bergerak untuk menyentuh wajah tampan Alex. "Aku memang membencimu, bahkan sangat membencimu. Tapi aku sadar, semakin aku membencimu. Ada sebuah rantai yang terus mengikatku agar terus dekat denganmu, jangan pernah kecewakan aku. Seperti yang aku katakan, tidak akan ada kesempatan kedua."
Alex mengangguk kecil, "Aku akan mencobanya."
Sweet tersenyum mendengar perkataan Alex, membuat lelaki itu terpesona melihat betapa cantik istrinya itu kala tersenyum.
"Teruslah tersenyum untukku," ucap Alex mengecup pipi Sweet. Membuat rona merah di wajah Sweet muncul. Gadis itu tersipu malu.
"Tergantung sikap Anda, Tuan." Sweet mengalungkan kedua tangannya di leher Alex.
"Berhenti menggodaku, aku harus segera pergi. Sepertinya urusanku lebih penting dibanding kamu, Sayang." Alex menurunkan Sweet.
"Ah, saya merasa senang. Silakan pergi," ucap Sweet yang langsung bergegas menuju kamar mandi.
"Hey, bukan seperti itu peraturannya. Kau belum memberikan hadiah pagi untukku," teriak Alex saat Sweet menghilang di balik pintu kamar mandi.
"Pergilah. Pekerjaan lebih penting dari pada aku," sahut Sweet. Alex yang mendengar itu hanya tersenyum simpul. Lalu beranjak meninggalkan kamar. Kali ini pekerjaan benar-benar menuntutnya untuk pergi. Membuatnya kesal setengah mati. Padahal ia masih ingin bermesraan dengan sang istri, tetapi apa boleh buat?
"Mah, sepertinya hari ini cerah ya? Tadi mentari baru saja pergi. Sekarang muncul lagi yang baru," ujar Mala saat melihat Sweet menuruni anak tangga. Nyonya Alex terlihat lebih segar dan semakin cantik dengan balutan kaos putih yang dipadukan dengan celana jeans.
"Sweet, mari bergabung." Nissa memasang senyuman lembut. Menepuk bagian sofa yang kosong disebelahnya. Meminta Sweet untuk duduk. Sweet mengikuti permintaan Kakak iparnya, duduk di sebelah Nissa.
"Singkat banget sih honeymoonnya?" ledek Mala. Sweet yang mendengar itu memilih untuk diam.
"Jangan mengganggu Mommy kamu, Mala. Tunggu saja sampai dapat kabar kamu akan punya adik," kali ini Milan ikut menimpali. Sweet menarik napas panjang, lalu menatap Nissa yang juga sedang menatapnya.
"Terima kasih, kamu sudah mau bertahan. Jangan pernah tinggalkan dia apa pun yang terjadi," pinta Nissa pada Sweet. Tatapan wanita itu begitu penuh harap. Berharap Sweet akan selalu setia pada Alex.
"Aku tidak bisa janji, semua itu tergantung padanya."
"Aku yakin Alex tidak akan mengecewakanmu, aku tahu seperti apa dia." Nissa menggenggam erat tangan Sweet. Gadis itu tidak memberikan komentar. Pandangannya tertuju untuk Dika yang sedang bermain.
__ADS_1
"Aku serahkan semuanya pada Allah, Kak." Sweet mengalihkan pandangan pada Nissa. Pemilik wajah teduh itu tersenyum penuh syukur. Berharap jika Sweet adalah bidadari yang memang Allah kirimkan untuk Alex.