Istri Yang Dingin

Istri Yang Dingin
Season 3 (82)


__ADS_3

Tiga tahun lalu di sebuah hotel...


Marvel keluar dari kamar mandi dengan napas terengah, seluruh tubuhnya basah kuyup. Dua jam lebih lelaki itu merendam diri dalam air dingin untuk menghilangkan efek obat perangsang di dalam tubuhnya. Sayangnya semua itu tak berhasil. Sepertinya seseorang memberikan dosis yang cukup tinggi. Bahkan kesadaran lelaki itu mulai berkurang. Tubuhnya terhuyung saat berjalan menuju ranjang. Lalu terjatuh sebelum dirinya sampai di sana.


Pedro yang baru saja masuk bersama seorang dokter pun terlihat kaget melihat kondisi Marvel. Buru-buru ia mendatangi Marvel untuk membantunya bangun. Namun dengan cepat Marvel menepisnya.


"Tuan, biarkan dokter memeriksamu." Pinta Pedro.


"Bodoh! Dokter tidak akan membantuku. Carikan aku wanita sekarang." Sarkasnya dengan suara serak.


Tentu saja Pedro kaget. Di mana ia harus mencari seorang wanita? Tidak mungkin kan ia memanggil seorang wanita malam. Marvel hampir tidak pernah memakai jasa mereka. Bahkan setelah meniduri satu wanita bernama Rose itu. Marvel tidak pernah lagi meniduri wanita-wanita di luar sana.


"Cepat!" Teriak Marvel yang sudah sepenuhnya dikuasi oleh obat perangsang. Ia terus mengerang karena rasanya semakin menyakitkan.


Dengan tergopoh bercampur bingung Pedro pun pergi dari sana. "Ck, di mana aku harus mencari wanita?" Gerutunya terus melangkah lebar.


Sampai di luar hotel, ia pun berdiri di sana sambil berpikir keras. Secepatnya ia harus menemukan wanita, jika tidak keselamatan bosnya terancam. Akhirnya ia pun memutuskan untuk menghubungi mucikari tempatnya berlangganan. Namun, niatnya itu ia urungkan saat melihat seorang wanita cantik berjalan dengan terhuyung di depannya. Lalu wanita itu masuk ke sebuah lorong kecil hotel.


Entah mengapa kaki lelaki itu ikut tergerak untuk mengikutinya. Dan terbesit dalam otaknya untuk menculik wanita itu yang ia pikir sedang mabuk. Pedro tampak melihat kesekitar sembari mengeluarkan sapu tangannya dan membubuhi sesuatu di sana.


"Maafkan aku, Nona. Aku membutuhkan jasamu. Setelah ini aku akan memberikan bayaran setimpal untukmu." Dengan tekad bulat Pedro mendekati wanita itu diam-diam, lalu membekapnya dari belakang. Hanya dalam hitungn detik wanita itu pun pingsan.


Tanpa banyak berpikir lagi ia pun langsung menggendongnya dan membawa wanita itu ke kamar hotel. Bahkan tak peduli dengan tatapan orang-orang karena menggendong wanita pingsan. Sesampainya di kamar Marvel, Pedro menidurkan wanita itu di atas ranjang.!Dan membiarkan bos besarnya itu membebaskan diri dari rasa sakitnya. Sedangkan dirinya memilih pulang dan akan kembali besok pagi.


Menjelang pagi, Marvel terbangun. Ia mengerang kecil karena kepalanya terasa sangat sakit. Perlahan matanya terbuka, dan kilasan kejadian malam tadi pun terputar lagi di memorinya. Meski tak sepenuhnya ia ingat.


Marvel menoleh ke samping, lalu mendengus sebal saat melihat punggung polos seorang wanita. "Sial! Jadi semalam aku benar-benar meniduri j*l*ng?"


Gerutunya yang kemudian bergegas turun dari tempat tidur. Lalu berjalan ke arah lemari, mengambil satu set pakaian baru dan langsung memakainya. Setelah itu ia pun langsung meninggalkan kamar itu tanpa melihat lagi ke arah si wanita yang masih tertidur pulas.


Tidak lama dari itu, wanita tadi pun terbangun dari tidurnya. Perlahan ia menggeliat, tetapi detik berikutnya mengerang kecil karena merasakan sakit disekujur tubuhnya. Matanya terbuka sedikit demi sedikit, lalu melihat sekeliling yang sangat asing baginya.


"Di mana ini?" Gumamnya sambil mengumpulkan nyawanya. Namun, detik berikutnya ia langsung membuka selimut, dan betapa terkejutnya ia karena tubuhnya tak tertutup sehelai benang pun. Bahkan langsung terduduk sangking syoknya.


"Tidak mungkin," digigit bibir bawahnya sembari mengingat-ingat apa yang terjadi semalam. Ia ingat betul tadi malam berhasil kabur dari laki-laki tua yang sudah membelinya. Lalu___ seseorang membekapnya dan___ ia tak ingat apa-apa lagi. Kemudian menoleh ke samping, dan yang ditemukan hanya ranjang kosong.


Emilia mengusap wajahnya dengan kasar, ia tidak bodoh apa yang sudah terjadi padanya saat ini. Ia sudah cukup dewasa untuk memahami semuanya. Tubuhnya terasa sakit, bahkan bagian intimnya juga sangat nyeri. Itu artinya dia benar-benar sudah kehilangan kesuciannya yang sudah ia jaga selama dua puluh dua tahun. Kesucian yang akan ia hadiahkan untuk suami masa depannya.


Dilihatnya kamar itu dengan seksama, dan itu bukan kamar tadi malam. Jelas kamar ini lebih besar dan semua fasilitasnya sangat mewah. Itu artinya orang lain lah yang sudah merenggut kesuciannya.

__ADS_1


Dengan perasaan sedih bercampur bingung, Emilia pun turun dari ranjang. Ia mendesis kesakitan saat kedua kakinya berpijak ke lantai. Rasanya sangat sakit, tetapi Emilia berusaha menahannya dan bergegas memakai kembali pakaianya yang sudah teronggok di lantai. Lalu meninggalkan tempat itu begitu saja.


Di lobi, Emilia terus berjalan lemas dengan tatapan kosong. Bahkan melewati Marvel yang masih berdiri di sana.


Diwaktu bersamaan. Mobil mewah milik Marvel berhenti di depan pintu utama. Pedro terlihat turun dari sana dan sedikit berlari untuk menghampiri Marvel. Bahkan melewati Emilia begitu saja.


"Tuan." Sapanya seraya menyodorkan kunci mobil pada atasannya itu.


"Hm, hari ini aku tidak ke kantor. Kau yang handle semuanya hari ini." Sahut Marvel seraya menyambar kunci mobilnya.


"Baik, Tuan." Sahut Pedro.


Marvel pun beranjak dari sana, tetapi baru beberapa langkah ia kembali terhenti. Kemudian berbalik. "Ah, di mana kau dapat j*l*ng itu?"


Pedro menatap Marvel bingung. "Maksud Tuan wanita tadi malam?"


"Ya, siapa lagi?"


Pedro menggaruk tengkuknya tak gatal, lalu melihat sekeliling sebelum mendekati Marvel.


"Maaf, Tuan. Itu___ sebenarnya dia bukan j*l*ng, aku menculiknya tadi malam." Bisik Pedro tanpa dosa.


Marvel yang sadar akan hal itu pun langsung memasang wajah datarnya lagi seraya berdeham kecil.


"Dasar bodoh!" Umpatnya tertahan. "Kau ingat wajahnya?"


Pedro tersenyum kikuk, lalu menggeleng. Tadi malam ia benar-benar tak terlalu memperhatikakan wajah wanita itu. Spontan Marvel menggeram kesal. Tanpa babibu ia beranjak ke kamar itu lagi. Dan terus mengumpat dalam hati atas kebodohan asistennya itu. Sedangkan Pedro cuma bisa mengekori Marvel sambil menggerutu dalam hati.


Sesampainya di kamar itu lagi, Marvel harus kecewa karena wanita itu sudah tidak ada. Ditatapnya sang asisten tajam. "Kenapa kau masih diam di sini? Cepat cari wanita itu."


Pedro pun langsung gelagapan. "Ba___baik, Tuan." Buru-buru ia pun keluar dari sana.


Sepeningglan Pedro, Marvel tidak sengaja melihat banyaknya bercak darah di atas ranjang. Yang artinya ia meniduri wanita suci tadi malam.


"Argh sial! Bagaimana bisa aku memiliki asisten bodoh sepertinya." Umpat Marvel lagi seraya menjatuhkan bokongnya di atas ranjang. Lalu mengacak rambutnya dengan kasar. Ia sangat yakin tadi malam tak memakai pengaman dan membuang benihnya di dalam. Bagaimana jika wanita itu hamil? Bahkan ia sama sekali tak mengingat wajahnya.


Sial sial sial! Marvel terus mengumpat sambil mengacak rambutnya karena frustrasi.


****

__ADS_1


Marvel menatap Emilia begitu dalam. "Kau wanita yang selama ini aku cari, Emilia."


Emilia bungkam seribu bahasa. Ia benar-benar syok dengan kenyataan yang didapatnya hari ini.


Jadi benar Noah putranya? Dan lelaki malam itu adalah Marvel? Ya Tuhan! Permainan apa lagi yang kau berikan padaku? Batin Emilia semakin mengeratkan pelukannya pada Noah yang mulai tertidur. Mendadak ia takut Marvel akan merebut putranya. Ia tak akan bisa melawan orang itu yang sudah jelas punya segalanya. Tidak, Emilia tidak akan membiarkan siapa pun merebut putranya. Termasuk Marvel sekali pun.


Melihat raut ketakutan di wajah Emilia, Marvel pun menghela napas kasar. "Aku tidak akan merebutnya darimu. Aku tidak sejahat itu."


Mata Emilia bergerak perlahan ke arah Marvel. "Noah hanya putraku." Lirihnya.


Marvel terdiam beberapa saat. "Kau tak bisa memungkiri jika dia juga putraku. Bahkan wajahnya persis denganku."


Mendengar itu Emilia kembali menatap Marvel bingung.


"Tiga tahun aku mencarimu. Semua jejak tentangmu hilang begitu saja, bahkan cctv di malam itu juga kebetulan tak berfungsi diseluruh hotel jadi aku tak bisa menemukan jejakmu. Karena itu aku tak tahu wajah wanita yang sudah aku tiduri. Wanita yang membawa lari benihku."


Mendengar itu Emilia langsung memelototinya. "Kau yang memperkosa dan mencampakkanku begitu saja, Marvel. Bagaimana bisa kau mengatakan aku membawa kabur benihmu? Bahkan aku tidak tahu jika akhirnya aku hamil anakmu." Sarkasnya.


Marvel tersenyum tipis, nyaris tak terlihat. Entah kenapa ia senang saat Emilia mengatakan kata-kata terakhirnya. Kata 'hamil anakmu' membuat hati Marvel mendadak hangat. Ditatapnya buah benihnya yang tertidur dalam dekapan wanita itu.


"Menetaplah di sini, aku akan memberikan fasilitas untukmu dan putraku." Pinta Marvel yang lebih tepatnya itu sebuah perintah.


Emilia memberikan tatapan tajam padanya. "Aku akan memawanya kembali bersamaku."


Marvel mengeratkan rahangnya. "Lalu membiarkannya dalam bahaya lagi hem?"


Emilia memalingkan wajahnya.


Marvel mengela napas. "Setelah keadaanmu membaik, tinggalah di apartemenku. Setidaknya putraku mendapat fasilitas yang lebih baik. Dia terlalu kecil untuk anak seusianya. Apa kau tidak memberinya makan dengan baik selama ini?"


Mendengar itu Emilia langsung menatapnya tajam. "Apa kau lupa? Putraku diculik. Ah, sekarang aku mengerti kenapa wanita itu menargetkan putraku. Itu karenamu, Marvel. Bagaimana mungkin aku membiarkannya berada di dekatmu? Dia dalam bahaya juga karenamu."


Marvel mengepalkan kedua tangannya. "Kau meragukan kemampuanku?"


Emilia terdiam.


Marvel bangkit dari duduknya, lalu membenamkan kedua tangannya di saku celana. "Aku tidak suka penolakan. Kau dan putraku akan tetap di kota ini sampai waktu yang tidak ditentukan." Pungkasnya yang kemudian beranjak pergi. Meninggalkan Emilia yang terlihat kesal karena sifat otoriternya.


"Sekarang aku menyesal karena pernah menyukainya. Dasar lelaki otoriter." Gerutu Emilia sepeninggalan Marvel.

__ADS_1


__ADS_2