Istri Yang Dingin

Istri Yang Dingin
Season 3 (54)


__ADS_3

"Zhea." Sky bangkit dari duduknya saat Zhea datang bersama Gabriel. Dan entah bagaimana ceritanya Gabriel mau membawakan buah tangan milik Zhea.


"Aunty." Zhea pun langsung memeluk Sky singkat saat tiba di mansion. "Kenapa tidak bilang kalau Grandma sakit?"


"Aunty bingung, Zhe. Kami semua kaget soal kehilangan Violet. Karena itu Aunty tidak berpikir untuk menghubungimu. Tapi tadi grandmamu sudah sadar." Jawab Sky.


Zhea mengangguk paham. "Apa boleh aku melihat grandma, Aunty?"


Sky pun mengangguk. Lalu membawa gadis itu ke kamar Sweet.


Zhea memasang wajah sedih saat melihat Sweet terbaring lemah di atas ranjang dengan beberapa alat rumah sakit ditubuhnya. Dengan hati-hati ia duduk di tepi ranjang. Lalu meraih tangan Sweet dengan lembut. Hatinya benar-benar perih melihat kondisi Sweet saat ini. "Grandma, ini Zhea. Apa kau mendengarku?"


Sweet pun perlahan membuka matanya, lalu seulas senyuman terbit dibibirnya yang sudah keriput.


"Maaf karena baru berkunjung." Ucap Zhea penuh penyesalan. Sweet menggeleng kecil tanpa mengeluarkan sepatah kata pun.


Sky mengusap punggung Zhea. "Tidak apa. Grandma kamu itu cuma shock, cucu kesayangannya sampai saat ini belum ketemu."


Mendengar itu Zhea pun mendongak. "Aunty, apa boleh malam ini aku temani Grandma di sini?"


Sky mengangguk. "Grandmamu pasti senang."


Zhea kembali menatap Sweet. "Maaf karena jarang mengunjungimu, Grandma. Oh iya, aku juga membawa cake kesukaanmu. Kita makan sama-sama ya? Aku merindukanmu, sangat." Dikecupnya tangan keriput itu dengan lembut.


Sky yang melihat itu tersenyum. "Kamu sudah makan?" Tanyanya. Zhea pun menoleh lagi. "Belum, Aunty."


"Ck, Gabriel itu memang sama sekali tidak peka. Harusnya ia bertanya kamu sudah makan apa belum? Benar-benar tidak bisa diandalkan." Gerutunya.


Zhea tersenyum. "Gabriel tidak salah, Aunty. Aku yang memintanya untuk cepat-cepat sampai ke sini."


"Ck, kau selalu saja membelanya." Kesal Sky. Spontan Zhea pun tersenyum.


"Ya sudah, sebaiknya kamu makan dulu. Sepertinya makanan sudah siap."


"Tidak apa, aku masih ingin menemani grandma di sini." Kata Zhea memberikan senyuman tulus pada nenek tersayangnya itu.


"Ck, kau ini memang sama kerasnya dengan grandmamu. Ya sudah, Aunty keluar dulu. Nanti Aunty minta maid untuk mengantar makanan ke sini. Sekalian ajak grandma makan. Sejak pagi dia tidak mau makan. Bahkan sejak sadar dia tak mau bicara. Cobalah untuk membujuknya bicara." Sky pun beranjak dari sana. Meninggalkan Zhea dan Sweet.


"Kenapa tidak makan? Pahit ya?" Tanyanya dengan lembut.


Sweet pun cuma mengangguk. Zhea tersenyum lagi.


"Bagaimana jika aku yang menyuapimu? Atau ingin makan cheesecake?"


Sweet mengangguk.

__ADS_1


"Tapi... apa dokter memperbolehkannya?"


Sweet pun mengangguk lagi.


Zhea tertawa kecil. "Ya sudah, aku ambilkan dulu kuenya untukmu." Saat Zhea hendak bangkit, Sweet lebih dulu mencekal tangannya.


"Minta saja maid yang membawakannya, temani grandma di sini." Pinta Sweet yang akhirnya bicara meski suaranya sangat pelan.


Zhea tersenyum bahagia karena Sweet mau bicara padanya.


"Bantu grandma duduk." Pintanya. Dengan hati-hati Zhea pun membantunya.


"Bagaimana perasaan grandma saat ini?"


"Jauh lebih baik saat melihatmu, Zhe." Jawab Sweet seraya menggenggam tangan Zhea dengan tangan lemahnya.


Zhea tersenyum lagi. "Jika mau, aku bisa menemanimu di sini sepanjang hari."


Sweet menggeleng. "Kau harus bekerja, bagaimana bisa menjagaku sepanjang hari?"


Zhea menghela napas. "Grandma, pekerjaan sama sekali tidak ada artinya dibanding dirimu. Bagiku, kau dan Aunty Sky adalah orang tuaku."


Sweet tersenyum bahagia mendengarnya. "Grandma harap Gabriel segera menikahimu. Jika dia masih tidak mau, aku akan menjodohkanmu dengan Marvel. Bagaimana?"


Zhea menggeleng. "Aku tidak mau kembali terjebak dalam hubungan yang tak diinginkan, Grandma. Biarkan semuanya berjalan semestinya."


"Grandma, jangan bicara seperti itu. Kau membuatku takut." Lirih Zhea mengusap lengan Sweet.


Sweet tampak menghela napas berat. "Aku ini sudah tua, hanya tinggal menunggu hari sampai Tuhan memanggilku. Lagipula, aku sudah terlalu merindukan suamiku. Tapi sekarang keluargaku masih kacau, bahkan Violet memilih pergi. Satu-satunya orang yang aku harapkan itu dirimu, Zhea. Aku percaya kau bisa membereskan kekecauan keluarga ini. Kau juga tahu, semua cucuku menjalani kehidupan yang terlalu bebas. Mereka tak bisa aku harapkan." Keluhnya panjang lebar. Sampai napasnya terengah karena terlalu banyak bicara.


"Grandma." Lirih Zhea dengan kedua tangan menggenggam erat tangan lemah Sweet.


"Jadilah menantu rumah ini, Zhea. Lakukan sesuatu agar keluarga ini kembali ke jalan yang benar. Setidaknya perbaiki keturunan Gabriel. Aku akan sangat berterima kasih jika kau berhasil mendidik salah satu keturunan Digantara dengan baik. Sebagai orang tua, aku memang sudah gagal mendidik mereka." Imbuh Sweet yang mulai menitikkan air mata.


Zhea mengecup punggung tangan wanita itu berkali-kali. "Jangan bicara lagi, kau belum pulih."


Sweet mengangkat sebelah tangannya, lalu mengusap kepala Zhea dengan lembut. "Aku percaya padamu, Zhea. Kau adalah malaikat untuk keluarga ini."


Zhea ikut menangis karena rasa takut dihatinya. Meski mereka tak memiliki hubungan darah, tetapi Zhea sudah menganggap Sweet seperti keluarganya sendiri. Karena tak kuasa, Zhea pun langsung memeluk Sweet.


"Jangan bicara lagi, aku mohon." Lirihnya.


Tanpa mereka sadari, Gabriel menguping pembicaraan mereka. Bahkan lelaki itu pun tanpa sadar ikut menitikkan air mata. Apa yang didengarnya barusan berhasil menoreh lubuk hatinya yang paling dalam. Membuatnya sadar jika selama ini dirinya hanyalah manusia tak berguna. Sampai sang grandma sendiri tak mempercayai dirinya bisa menjaga keluarga ini dengan baik. Meski itu benar adanya. Gabriel tak menyalahkan siapa pun, semua ini memang kesalahan dirinya sendiri. Terlalu mengikuti ego hati.


Gabriel menyeka air matanya, kemudian beranjak masuk. Tentu saja kehadirannya berhasil mencuri perhatian Zhea dan Sweet. Cepat-cepat Zhea menghapus air matanya. Lalu bangkit dari sana, memberikan ruang untuk Gabriel.

__ADS_1


"Bagaimana kabarmu, grandma?" Tanya Gabrile mengambil posisi Zhea. Lalu mengusap jejak air mata di pipi Sweet. "Kenapa menangis?"


Sweet tersenyum. "Aku hanya merindukan cucuku yang nakal." Jawab Sweet seraya memukul pelan tangan Gabriel.


Gabriel pun ikut tersenyum. "Sekarang aku ada di sini. Jangan menangis lagi okay?"


Sweet mengangguk.


Tidak lama dari itu maid pun masuk membawa nampan berisi makanan dan air mineral. Dengan sigap Zhea pun menerimanya, lalu berterima kasih. Dan sang maid itu pun langsung pergi.


Zhea meletakkan nampan itu di atas nakas. Tentu saja semua itu tak lepas dari pandangan Gabriel. Sweet yang melihat cara memandang Gabriel pada Zhea pun tersenyum lega.


"Kapan kau akan menikahi Zhea, Gab?" Tanya Sweet yang berhasil membuat Zhea kaget. Namun tidak untuk Gabriel, lelaki itu terlihat tenang. Bahkan tersenyum begitu manis. Zhea yang melihat itu terlihat bingung dan mendadak canggung.


"Secepatnya." Jawaban Gabriel pun kembali mengejutkan Zhea.


Apa yang dia katakan? Panik Zhea dalam hati.


"Bagaimana pun, kita harus meminta persetujuan gadis ini lebih dulu sebelum aku benar-benar melamarnya." Imbuh Gabriel yang lagi-lagi membuat Zhea hampir jantungan.


Dengan cepat Zhea menarik Gabriel keluar dari sana. "Apa yang kau katakan di depan grandma, hah? Bagaiaman jika grandma menganggap serius perkataanmu?" Geram Zhea dengan suara tertahan karena tak ingin Sweet mendengar pembicaraan mereka.


Gabriel menatap Zhea lamat-lamat. "Aku serius dengan ucapanku, Zhea."


"A__apa?" Seketika Zhea pun mendadak gugup.


Gabriel tersenyum, lalu mengusap kepala gadis itu dengan lembut. "Aku sudah tua, sudah saatnya untuk menikah. Jadi menikahlah denganku."


Zhea mengepalkan kedua tangannya karena merasa geram dengan apa yang Gabriel katakan barusan. "Pernikahan itu bukan hal yang bisa kau anggap enteng, Gabriel. Itu hal sakral dan bukan untuk main-main. Apa kau pikir menikah itu hanya karena usia?"


Gabriel tersenyum lagi. "Aku tahu apa maksudmu, Zhea. Aku juga tahu pernikahan itu bukan untuk main-main. Karena itu aku mengajakmu menikah. Menikah sungguhan."


Zhea memalingkan wajahnya karena tidak tahu harus menanggapi lelaki itu seperti apa lagi.


"Sudahlah, kau tidak akan mengerti." Pungkas Zhea yang hendak pergi dari sana. Sayangnya Gabriel berhasil mencekal tangannya. Perlahan ia menarik gadis itu agar berdiri di posisi sebelumnya.


Ditatapnya gadis itu dengan serius. "Kali ini aku tidak akan main-main lagi, Zhea. Aku benar-benar ingin menikah denganmu. Tulus dari hatiku yang paling dalam. Yah, aku tahu. Aku memang lelaki brengsek, b*j*ng*n, tak tahu diri, mungkin tak akan pantas mendapatkan gadis sebaik dirimu. Tapi seburuk apa pun diriku, aku pasti akan tetap memilih wanita baik-baik untuk kujadikan istri dan ibu dari anak-anakku."


Mendengar itu Zhea pun terdiam.


Gabriel meraih kedua tangan gadis itu dengan lembut, lalu berlutut. Melihat itu Zhea pun kaget. "Please, jadilah istriku, Zhea. Jadilah ibu dari anak-anakku di masa depan."


Zhea menarik tangannya dengan kasar, lalu meninggalkan Gabriel tanpa jawaban. Membuat lelaki itu terdiam seribu bahasa, lalu sedetik kemudian tersenyum kecut.


Apa yang kau pikirkan, Gabriel? Sudah pasti dia menolakmu. Dulu kau yang mencampakkannya, lalu sekarang kau menginginkannya huh? Kau itu sedang bermimpi. Suara batin Gabriel seolah mengejek dirinya sendiri.

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2