
Sweet berjalan menyusuri lorong belakang. Sudah lama sekali ia tak melihat ke sana. Apa rumah kecil itu masih berpenghuni? Tanya Sweet dalam hati. Sejak ia kembali tinggal di mansion, tak pernah sekali pun berkeliling ke bagian belakang. Membuatnya sangat penasaran.
Seperti biasa, Sweet harus berdiam di mansion seharian penuh. Karena bosan, ia pun memilih untuk berkeliling mansion. Sejak Alex tak lagi membiarkan dirinya bekerja. Keseharian Sweet hanya makan tidur dan mengawasi ketiga anaknya. Tentu saja ia sangat bosan, tetapi ia juga tak bisa melawan suaminya.
Sweet terus menyusuri taman belakang yang semakin rimbun dengan berbagai bunga. Bahkan kini terdapat beberapa pohon apel. Sweet tersenyum senang melihatnya. Taman itu terlihat lebih indah dan terawat.
Sesampainya di rumah kecil, Sweet mendorong pintu itu perlahan. Semuanya tampak sepi. Sepertinya tempat ini memang sudah tak berpenghuni sejak lama. Bisa di lihat dari tebalnya debu dan begitu banyak sarang laba-laba. Sweet yang sedikit ngeri melihat penampakkan itu pun kembali menutup pintu.
Sweet pun kembali ke mansion, entah apa lagi yang harus ia lakukan di mansion sebesar itu? Untuk semua perkerjaan tentu saja dikerjakan oleh para pelayan. Alex tak akan membiarkan dirinya bekerja sedikit pun.
Saat ini Sweet sudah berada di dalam mansion. Ia berniat pergi ke kamar Milan untuk mengobrol dan menghilangkan rasa bosan. Namun seseorang lebih dulu menyapanya.
"Nyonya," sapa seorang lelaki paruh baya. Beliau merupakan kepala pelayan baru. Dolf Elliot.
"Hai, Dolf." Balas Sweet tersenyum ramah. "Apa ada pesan untukku? Sepertinya kau ingin menyampaikan sesuatu?"
"Anda benar, Nyonya. Tuan berpesan supaya Nyonya bersiap, karena dalam waktu tiga puluh menit Tuan akan segera menjemput Nyonya." Sahut Dolf sedikit menunduk.
"Apa dia mengatakan akan pergi ke mana?" Tanya Sweet merasa penasaran.
"Maaf, Nyonya. Tuan hanya memberi tahu itu."
"Baiklah, terima kasih, Dolf. Kau bisa kembali bekerja. Ah iya, tolong siapkan beberap cemilan untuk si kembar. Saat ini mereka masih di ruang belajar."
"Baik, Nyonya. Saya pamit dulu."
"Ya."
Lelaki paruh baya itu langsung meninggalkan Sweet yang masih mematung.
"Kemana dia akan membawaku? Kenapa tadi tidak mengatakan apa pun?" Gumam Sweet benar-benar penasaran dengan rencana suaminya.
"Mom," sapa Mala merasa heran saat melihat Sweet bengong sambil berdiri. Sweet tersentak kaget dan langsung menatap Mala.
"Ada apa? Kenapa berdiri di situ?" Tanya Mala bingung.
"Eh... tidak ada. Aku bosan di kamar terus." Sahut Sweet.
Mala pun mengangguk pelan.
"Di mana suami kamu?" Tanya Sweet saat melihat Mala sendirian.
__ADS_1
"Di kamar, dia sedang meeting online dengan kliennya." Sahut Mala apa adanya. Sweet yang mendengar itu tersenyum.
"Em... gimana malam kedua? Masih sanggup kan? Aku rasa sebentar lagi Baby akan punya teman." Tanya Sweet menatap Mala nakal.
Mala yang mendengar pertanyaan konyol itu menghela napas panjang. "Not bad, tidak sepanas malam pertama. Lagi pula malam pertama panas juga berkat kalian. Terima kasih atas bantuannya."
"Jangan sungkan, aku dan Mamamu hanya ingin mempererat hubungan kalian." Jawab Sweet dengan spontan. Mala yang mendengar itu memcingkan matanya. Padahal ia hanya menebak, tetapi pancingannya itu benar-benar mendapat sambutan baik.
"Jadi benar kalian yang melakukan itu? Dan kalian hampir membuatku mati?" Kesal Mala yang berhasil membuat Sweet terkejut.
Ibu hamil itu tersenyum kikuk, semuanya terbongkar sudah. Sweet menyesal karena mendadak bodoh dan termakan jebakan Mala.
"Oh ya ampun, aku harus segera bersiap. Ayahmu akan sangat marah jika aku terlambat. See you, Mala." Ujar Sweet langsung kabur dari hadapan Mala.
"Mom!" Teriak Mala yang sebenarnya sangat kesal. Bagaimana mungkin Sweet dan Milan melakukan itu? Sungguh kekanakan.
Dasar orang tua tidak tahu malu. Memangnya mereka pikir aku impotent apa? Menyebalkan. Kesal Mala dalam hati. Lalu ia pun beranjak menuju kamarnya. Dan di sana Bian masih belum selesai dengan meetingnya. Mala memilih duduk di sofa, dan sesekali melirik suaminya. Lelaki itu terlihat sangat serius.
Kenapa dia terlihat tampan saat sedang serius?
Mala tak sadar jika sejak tadi ia terus memperhatikan gerak gerik suaminya. Matanya seolah terhipnotis dengan pesona Bian. Padahal lelaki itu hanya mengenakan sweater dan celana joger. Namun ia benar-benar sangat tampan.
"Ekhem." Mala sangat terkejut saat tiba-tiba suaminya sudah berdiri kokoh di hadapannya. Lelaki itu tersenyum begitu menawan.
"Si--siapa yang sedang menatapmu? Aku--aku sedang memikirkan sesuatu." Alibi Mala yang merasa malu karena ketahuan sedang memperhatikan suaminya.
"Apa yang kau pikirkan, Sayang? Apa kau sedang membayangkan untuk menyentuhku? Kau bebas melakukan itu kapan saja. Aku milikmu, only for you." Ucap Bian yang kemudian memberikan kecupan singkat di bibir istrinya. Sontak mata Mala membulat sempurna karena terkejut.
"Bian!" Pekik Mala yang tak terima dengan perlakuan Bian padanya. Bian tersenyum geli dan mulai menjauhi Mala.
"Hanya kecupan, jangan marah padaku, Sayang. Siapa suruh wajah menggemaskanmu itu membuatku tak tahan." Ujar Bian duduk kembali di atas ranjang. Lalu meraih ponselnya yang tergeletak di ranjang.
"Aku tidak suka kau melakukan itu secara tiba-tiba." Kesal Mala seraya melempar bantal ke arah suaminya.
"Maafkan aku, Sayang. Lain kali aku akan melakukannya lebih lama. Supaya kamu tidak kaget."
"Hentikan itu, Bian. Itu tidak akan terjadi." Mala semakin kesal mendengar ucapan suaminya. Bian tertawa renyah karena berhasil mengerjai istrinya.
Mala mendengus kesal, lalu memalingkan wajah dari Bian.
"Aku benar-benar minta maaf, lain kali aku tidak akan melakukan itu lagi. Apa kamu tidak mau bertanya apa pun padaku? Sebagai awal pertemanan, kau boleh bertanya tentang kehidupanku." Tawar Bian yang berhasil menarik perhatian Mala.
__ADS_1
"Apa kau akan menjawab semua pertanyaanku, meski itu menyangkut hal yang sangat pribadi?"
"Kamu bebas bertanya, Sayang." Sahut Bian begitu santai.
Mala terdiam sejenak. "Em... aku ingin tahu apa alasanmu berpura-pura cacat?" Tanya Mala agak takut.
Bian meletakan ponselnya di atas nakas. Lalu menatap istrinya lamat-lamat. "Mendekatlah, tidak enak bicara terlalu jauh." Pinta Bian. Namun wanitanya itu terlihat ragu.
"Aku tidak mungkin menjahatimu, lagi pula kamu punya keahlian menyerang orang. Kamu bisa langsung menyerangku jika aku berbuat macam-macam." Bian terus membujuk istrinya supaya mau mendekat. Dan itu berhasil, Mala bangun dari posisinya dan duduk di sisi ranjang yang masih kosong. Pada dasarnya ia memang terlalu penasaran dengan kehidupan suaminya.
"Sayang, aku tidak akan menerkammu, kenapa duduk begitu jauh? Lebih dekat." Pinta Bian yang berhasil mendapat tatapan tajam dari Mala.
"Sudah aku katakan, kau bisa menghajarku jika aku menyentuhmu." Timpal Bian dengan senyuman tulusnya.
Mala menatap Bian cukup lama, lalu menggeser punggungnya agar lebih dekat dengan sang suami. Bian tersenyum penuh kemenangan, karena jarak dirinya dan sang istri begitu dekat.
"Hanya itu yang ingin kamu tanyakan?" Tanya Bian menatap wajah Mala begitu intens.
"Banyak, tapi itu saja dulu." Sahut Mala dengan cepat.
"Akh... aku senang istriku peduli dengan kehidupan silamku. Aku rasa tidak ada yang menarik dalam cerita hidupku."
Mala menatap Bian lamat-lamat, menunggu kelanjutan cerita dari mulut suaminya.
"Sebelum aku lahir, keluarga besarku sudah di ambang kehancuran. Kami juga hidup dalam bayangan seseorang. Seseorang yang terus meneror dan menganggu ketenangan keluargaku. Dan ini berhubungan dengan keluarga Ayahmu. Tentang perselisihan masa silam. Aku lahir dalam keadaan normal, tapi keluargaku membuat isu jika aku lahir dengan kondisi cacat. Mereka melakukan itu karena ingin melindungiku. Dengan kecacatanku, mereka yang berada di balik layar tak akan merasa terancam. Mereka berpikir orang cacat sepertiku tidak akan bisa melawan. Bahkan untuk bergerak saja sangat sulit. Tapi itu yang diinginkan keluargaku. Agar mereka lemah dan mengabaikan keberadaanku."
Bian sengaja menjeda ceritanya. Ia ingin melihat reaksi sang istri. Dan wanita itu terlihat serius mendengarkan semua ceritanya. Bian tersenyum senang, setidakanya saat ini ada yang bisa mendengarkan keluh kesahnya. Semua kisah hidupnya tidak ada yang tahu, kecuali Tuhan, dirinya dan sang Nenek. Kini bertambah satu orang, yaitu istrinya.
"Saat usiaku memasuki tujuh tahun, bibiku melahirkan putri yang cantik. Dia adalah Anna Sasmitha, Mommymu. Namun kelahirannya menjadi bumerang antara keluargaku dan penjahat itu. Mereka kembali meneror hidup kami dan berusaha untuk membuhuhnya. Mereka takut Ana akan menjadi kekuatan terbesar keluarga kami. Karena dia memiliki fisik yang sempurna. Kami hidup dalam kekangan dan ancaman lagi. Kami harus berpindah ke sana ke mari untuk melindungi diri. Hingga kecelakaan naas itu terjadi, kedua orang tuaku menjadi korban. Dan itu membuatku terpuruk."
"Konflik keluarga kami tidak berhenti di sana. Paman dan Bibiku kembali menjadi korban, tiga tahun setelah kematian orang tuaku. Kami kembali terpuruk dalam kehancuran. Saat itu aku tidak bisa berbuat apa-apa. Termasuk saat Nenek menitipkan Ana pada anak buah kepercayaan Paman. Saat itu ingin sekali aku menolak keputusan Nenek. Tapi aku tak berdaya, aku tidak bisa melakukan apa-apa. Dan saat itu juga, aku marah dan berambisi untuk menghabisi orang-orang biadab itu. Aku bangkit dan terus belajar, aku membangun sebuah bisnis besar di usia tujuh belas tahun. Menggeluti bidang komunikasi dan properti. Meraup berbagai keuntungan. Juga secara diam-diam membangkitkan kembali perusahaan Kakek yang sempat ambruk. Dan mencari keberadaan Ana yang menghilang sejak penitipan itu. Tapi keberadaanya sangat sulit di lacak oleh jaringanku." Bian menghela napas panjang. Semua cerita itu kembali mengoyak hatinya. "Sampai aku menemukannya, ternyata ia berada dalam genggaman Ayahmu. Keluarga yang menyebabkan awal mula kehancuran seluruh keluargaku. Dan aku mulai merencanakan penculikannya."
Mala menggenggam tangan Bian, berusaha untuk memberikan kakuatan pada suaminya. Ia tak menyadari jika Bian begitu senang dengan perlakuannya. Entah bagaimana, kini mereka duduk saling berpelukan. Mala sudah menempel di dada bidang Bian.
"Aku tidak tahu kisah hidupmu sangat rumit. Selama tiga puluh empat tahun kau duduk di kursi itu, bukankah itu sangat menyakitkan?"
"Apa kamu merasa iba padaku? Tapi aku sangat bahagia, denga kondisiku seperti itu. Tidak ada wanita yang mendekatiku dan hanya dirimu yang datang dan tanpa ragu memberikan tatapan membunuh padaku. Matamu membuatku jatuh cinta."
Mala mendengus kesal, ia juga sangat terkejut, karena baru menyadari dirinya berada dalam dekapan Bian. Spontan ia menjauhkan diri dari dekapan Bian. Dan memberikan pukulan maut di perut suaminya. Tentu saja Bian meringis kesakitan.
"Lebih baik kau cacat sungguhan, supaya aku bisa bebas memukulmu." Kesal Mala bangkit dari posisinya.
__ADS_1
"Sayang, ceritaku masih panjang." Seru Bian sambil mengusap perutnya yang terasa nyeri akibat pukulan keras istrinya.
"Aku tidak ingin dengar lagi, kau bercerita dan secara bersamaan ingin menjebakku sampai kita berpelukan. Akh, betapa bodohnya aku. Sejak awal seharusnya aku tidak mempercayaimu, Tuan Cacat." Omel Mala yang kemudian keluar dari kamar. Bian tertawa renyah melihat tingkah istrinya. Sepertinya rasa cinta dalam hatinya semakin besar pada wanita itu. Lambat laun, ia pasti bisa menaklukan hati sang istri. Bian sangat yakin itu.