Istri Yang Dingin

Istri Yang Dingin
IYD 52


__ADS_3

"Di mana Xella?" Tanya Sweet dengan suara lemah. Sudah dua hari ini ia sakit karena terlalu stress. Lebih tepatnya ia merasa kehilangan sosok suami yang amat ia cintai.


"Dia sedang mengunjungi makam Daddy, Mom. Baru saja aku menghubunginya." Jawab Arel yang saat ini duduk di sisi Sweet.


"Katakan padanya untuk tidak terlalu sering berkeliaran di luar sana. Bagaimana jika mereka mengincar nyawanya?" Sweet terlihat gelisah.


"Aku akan memintanya untuk pulang sekarang." Kata Arez berjalan ke dekat jendela. Kemudian menghidupkan ponselnya yang sudah ia matikan sejak kemarin. Namun seketika keningnya mengerut saat mendapat notif panggilan tak terjawab dari sang istri. Arez mengenyampingkan wanita itu dan langsung menghubungi Alexella.


Namun wanita itu lebih dulu muncul bersama Jarvis. Membuat Arez mengurungkan niatnya. Dan kembali bergabung bersama mereka.


"Xella, dari mana saja huh?" Tanya Sweet menatap putri bungsunya dengan khawatir.


"Mom, tadi aku sudah menghubungi Arel. Aku dari makam Daddy." Jawab Alexella menatap Sweet lekat.


"Mommy hanya cemas padamu, Xella."


"Aku baik-baik saja, Mom." Jawab Alexella.


"Kau bilang tadi tidak bersama Jarvis, kenapa kau kembali dengannya?" Tanya Arel menatap adik iparnya.


"Kami berpapasan di depan." Jawab Jarvis jujur.


"Dia benar." Timpal Alexella.


"Ya sudah, Mommy lega karena kalian kumpul semua."


"Sebaiknya Mommy istirahat, ingat kata dokter. Jangan terlalu banyak berpikir keras. Mommy harus bisa mengontrol emosi." Ujar Sky yang sejak tadi berada di samping Sweet.


Sweet mengangguk pelan. Kemudian mulai memejamkan mata.


Arez memberikan isyarat pada Arel untuk ikut bersamanya. Kemudian dua lelaki itu pun beranjak dari sana. Alexella yang melihat itu mengerut bingung.


"Kemana mereka akan pergi?" Tanyanya.


"Bukan urusan kita, biarkan mereka menyelesaikan urusannnya sendiri." Ujar Jarvis merengkuh pinggang ramping Alexella.


"Hm." Wanita itu pun terdiam dengan pandangan yang tertuju pada Sweet yang sudah tertidur.


"Kalian bisa kembali ke beraktivitas. Biarkan aku yang menjaga Mommy." Ujar Sky menatap Alexa, Winter, Alexella dan Jarvis bergantian.


"Aku ingin menemui Gabriel, apa boleh?" Tanya Alexa menatap Sky penuh harap.


"Boleh, sepertinya dia masih tidur di kamar." Ujar Sky tersenyum ramah.

__ADS_1


"Baiklah, aku akan ke sana." Dengan semangat Alexa pun menarik tangan suaminya keluar dari kamar utama.


"Kalian akan tetap di sini?" Tanya Sky pada Alexella dan Jarvis.


"Aku harus ke kantor, tetaplah di sini Baby." Kata Jarvis mengusap kepala istrinya.


"Hati-hati."


"Hm." Jarvis pun langsung beranjak pergi. Alexella maupun Sky menatap kepergian lelaki itu.


"Aku rasa kau berhasil menaklukkan hatinya, Xella."


"Aku istrinya, tentu saja aku bisa melakukan itu." Sahut Alexella dengan nada angkuh.


Sky tersenyum ramah. "Kau akan tetap di sini?"


"Tidak, aku ada urusan sebentar." Sahut Alexella dengan nada santai.


"Jangan cemas, aku akan menjaga Mommy. Pergilah."


"Aku akan pergi sebelum kau usir." Pungkas Alexella yang langsung beranjak pergi meninggalkan kamar itu.


"Ck, dasar Ibu hamil. Sikapnya akan berubah setiap saat." Sky menggeleng pelan. Kemudian menarik selimut sampai sebatas dada Sweet.


"Bagaimana?" Tanya Arel menatap Arez yang sejak tadi masih terdiam. Sedangkan yang ditanya terlihat menghela napas berat.


"Kita akan tetap menjalankan plan A, mereka sudah bergerak lebih dulu."


"Jadi dugaan kita benar, salah satu keluarga ikut terlibat?"


"Ya."


Arel menghela napas berat. "Dan kau tetap menjalankan plan ini? Bagaimana jika mereka benar-benar bermain kasar dan melukai orang kita?"


"Mereka tak akan melakukan itu, target mereka itu aku." Jawab Arez dengan rahang yang mengerat.


"Aku tahu itu, permainan mereka sudah terbaca sejak awal. Mereka memprovokasi hubunganmu dengan Sabrina. Jika saja kau termakan permainan itu, aku rasa kau tak akan bisa melihat istrimu lagi dan menyesal seumur hidup." Ujar Arel panjang lebar.


"Aku tak sebodoh itu."


Arel tertawa renyah melihat wajah kesal kembarannya itu. Tidak lama dari itu, seorang wanita bertopeng dengan dua anak buahnya pun mucul. Wanita itu menanggalkan hoodienya, dan tanpa rasa canggung lagi duduk di hadapan Arez. Menatap lelaki itu dengan seksama


Dan beberapa saat kemudian, Winter, Alexa dan Jarvis pun ikut hadir dan bergabung.

__ADS_1


"Sudah kau pastikan tak ada yang melihatmu ke sini?" Tanya Arez dengan nada datar.


"Jangan khawatir, aku tak pernah menginggalkan jejak, Baby." Jawab wanita itu memberikan senyuman nakal pada Arez.


"Hey, jadi kau masih menggodanya? Apa kau lupa dia siapa?" Tanya Arel pada wanita itu.


"Tentu saja, cintaku padanya tak pernah pudar hanya saja dia terlalu bodoh karena mengabaikanku. Dan memilih wanita lemah itu." Tukas wanita itu yang langsung mendapat tatapan nyalang dari Arez.


"Ck, aku tak bisa lama. Semua rencana berjalan mulus. Kita bisa langsung meluncur, pastikan kau tak melukai teman baikku. Cih, sebenarnya aku malas berhubungan lagi dengan dua brengsek seperti kalian. Tapi ini demi dirinya. Berhati-hatilah, musuh sedang mengintai kita. Dia sudah masuk dalam perangkap."


"Tidak perlu kau ingatkan lagi, aku tahu apa yang harus aku lakukan." Ketus Arez.


Wanita itu tertawa renyah. Kemudian menatap Jarvis. "Aku pikir kau tidak hadir, bukankah selama ini kau sibuk bersenggama dengan istri aroganmu itu huh?"


Jarvis mendengus sebal. "Apa rencana selanjutnya?"


"Masuk ke sarang musuh dan membuat kekacaun." Jawab Arel dengan senyuman devil. "Aku tidak sabar menghabisi mereka semua, berani sekali mengusik dan mencelakai keluargaku."


"Ah, sudah lama tanganku tak beraksi. Rasanya sangat kaku." Sahut Alexa sembari mengeluarkan sebuah benda yang bisa membunuh siapa saja dalam hitungan detik. Senjata api kesayangan yang sudah lama tak ia keluarkan.


"Kau yakin akan menembak kepala adikmu, Lexa?" Tanya Winter tersenyum miring.


"Tentu. Pistolku tak pandang bulu. Dia akan mencari musuhnya sendiri." Jawab Alexa mengecup ujung pistolnya dengan gerakan sensual. Winter yang mendengar itu tertawa renyah.


"Ternyata aku tak salah memilih wanita." Winter tersenyum bangga.


Red Moon__ mungkin tak ada yang tahu dan mengenali geng satu itu. Geng rahasia hanya diketahui beberapa kalangan. Dan jangan diragukan lagi dengan kekuatan mereka. Sudah puluhan ganster yang mereka hancurkan. Ya, mereka semua lah penghuni markas geng rahasia itu. Red Moon sudah cukup lama beku karena lain hal. Dan kali ini Red Moon kembali mencair. Sebuah guncangan bagi mereka yang sudah mengusiknya.


"Aku rasa besok sudah saatnya untuk beraksi." Ujar Wanita bertopeg itu.


"Tidak, belum saatnya untuk bergerak." Sanggah Arez. Dan itu berhasil menarik perhatian semua orang.


"Ada apa?"


"Mereka berpindah posisi." Arez memperlihatkan pergerakan musuh pada semua orang melalui ponselnya.


"Grunewald?" Kaget Winter.


"Apa mereka gila?" Alexa pun ikut menimpali.


"Itu artinya mereka benar-benar menantang kita. Bedebah sialan." Umpat Jarvis dengan rahang yang mengerat.


"Berikan mereka waktu beberapa saat, kita lihat apa yang akan mereka lakukan selanjutnya." Ujar wanita bertopeng itu tersenyum licik.

__ADS_1


__ADS_2