
Suara derap kaki seseorang perlahan semakin mendekat, terus bergerak menuju sebuah ruangan yang cukup minim penerangan. Di dalamnya terdapat empat orang wanita dan dua laki-laki. Semua penghuni di sana sama sekali tidak dapat bergerak, karena kaki dan tangan mereka terikat kuat. Keadaan mereka cukup menyedihkan, sudah hampir satu bulan penuh terkurung di sana dengan makan dan minuman seadanya. Bahkan jauh dari kata layak.
Suara pintu terbuka pun membuat keenam penghuni itu merasa waswas. Mereka saling merapatkan diri. Hingga lampu pun menyala, menampakkan seorang lelaki berpakaian hitam berdiri dengan angkuh. Keadaannya bisa dikatakan berantakan, lengan kemeja yang sudah tergulung hingga siku dan rambut yang tidak terawat. Bahkan terlihat jelas kilatan amarah di matanya.
"Masih belum mengakui kesalahan kalian?" lelaki itu menarik sebuah kursi dan duduk di sana dengan kaki menyilang. Sedangkan matanya masih tertuju pada keenam tersangka.
"Ampuni kami, Tuan. Kami hanya menjalankan perintah. Anak saya sakit parah, dan membutuhkan dana yang besar." Seorang lelaki bersimpuh meminta ampun. Semua siksaan yang ia terima cukup menyakitkan.
"Ah, menyesal? Bagaimana denganmu?" tanya lelaki itu seraya menatap seorang wanita yang tengah menatapnya penuh kecewa dan amarah. Alex, tentu saja lelaki itu yang saat ini memegang kendali kelima anak buah dan sepupunya yang sudah melakukan pengkhianatan.
"Tentu tidak, aku senang wanita iblis itu sudah pergi. Karena aku tidak akan membiarkan siapa pun memilikimu," pungkasnya dengan rasa percaya diri yang tinggi. Alex yang mendengar itu tertawa lepas.
"Ah, adik sepupu yang sangat menggemaskan. Apa kau tau, aku merasa terhormat mendapatkan cintamu. Tapi sayang, aku lebih mencintai istriku yang manis. Meski ia jauh dari kata seksi, tapi mampu membuatku ingin terus mendekapnya." Alex bangkit dari kursi, berjalan menghampiri Cherry. Wanita itu merasa sakit saat mendengar pengungkapan Alex.
"Kak, kau harus percaya padaku. Aku sangat mencintaimu, aku akan melakukan apa pun agar kau menerimaku. Aku..."
"Tidak, dia bohong. Akulah yang lebih dulu mencintai Anda, Tuan. Aku rela merendahkan diriku hanya untukmu," potong Gilly dengan penuh semangat.
Alex tersenyum penuh kemenangan, "benarkah itu? Apa kalian rela melakukan apa pun untukku?"
Alex mendekat, mengusap wajah Cherry dan Gilly bergantian. Kedua wanita itu terlihat senang dan mengangguk antusias.
Darah memang lebih kental dari air, tidak aneh jika kalian begitu penuh ambisi. Ingin memilikiku bukan? Mari kita mulai permainan ini.
"Tentu, akan aku lakukan apa pun itu." Cherry terlihat antusias. Mungkin ini lah akhir dari perjuangannya untuk memiliki cinta yang selalu ia impikan. Tidak peduli resiko apa yang harus ia ambil nantinya.
"Saya juga, Tuan. Akan melakukan apa pun. Asal Anda bisa menerima saya," kali ini Gilly tidak mau kalah. Wanita itu bergerak lebih dekat pada Alex.
"Baiklah, malam ini aku membutuhkan kalian. Aku akan menunggu di kamar," seulas senyuman terukir di bibir kedua wanita itu. Begitu juga dengan Alex, ia tersenyum penuh kemenangan.
Ah, lelaki memang sangat mudah ditaklukkan. Hanya dengan naik ke atas ranjang, aku akan mendapatkan apa yang selama ini aku impikan. Menjadi seorang Nyonya besar Alexander. Setelah itu, aku akan menyingkirkan satu penghalang lagi. Pikir Cherry tersenyum penuh arti, dengan tatapan yang tertuju pada Gilly.
Apa aku bermimpi, sebentar lagi aku akan menjadi Nyonya di rumah ini? Kali ini aku membiarkan wanita gila itu berbagai kamar denganku, setelah semua ini berlalu. Aku akan menghancurkan kau, wanita jal**g. Batin Gilly seraya menatap Cherry sengit.
Setelah perbincangan yang cukup menguras emosi, Alex pun meninggalkan tempat kotor itu dengan amarah yang memuncak. Dengan perasaan jijik, Alex segera mencuci kedua tangannya.
"Lakukan dengan cepat," perintah Alex pada Joshua yang sejak tadi terus mengekorinya.
"Baik, Tuan." Joshua pun langsung bergerak cepat, meninggalkan Alex yang masih terdiam sambil menatap dirinya dari balik cermin.
"Ana," hanya nama itu yang mampu ia ucap. Seketika hatinya sakit, hingga tanpa ia sadari setetes air mata jatuh dari pelupuk matanya. Alex kaget, dan mengusap cairan bening itu dengan telapak tangannya. Ia hampir lupa bagaimana rasanya menangis, hingga kali ini benar-benar merasakan kembali.
"Kau lihat, Ana! Hanya kau lah yang membuatku lemah seperti ini," gumam Alex pada diri sendiri. Ia menyesali semua yang sudah ia lakukan pada Sweet. Satu bulan lebih ia terus mencari keberadaan istrinya, akan tetapi tidak ada hasil yang ia peroleh. Seakan semuanya hilang di telan bumi. Alex sangat yakin, seseorang telah menyembunyikan keberadaan Sweet.
Alex kembali menatap diri sendiri dibalik cermin. Wajah tampannya saat ini sudah dipenuhi bulu-bulu halus, bahkan rambutnya yang mulai panjang ikut tak tertata. Begitu mirip dengan tokoh mafia yang ada dalam sebuah Novel.
__ADS_1
"Aku tidak akan pernah melepaskan dirimu, aku akan menemukanmu meski kau berada di ujung dunia. Mungkin tidak sekarang, tapi suatu hari nanti aku akan membawamu kembali, ke rumah ini."
Alex menertawakan dirinya sendiri. Ia pantas mendapatkan hukuman seperti ini. Merasa sakit dan penuh dengan penyesalan. Rasa kehilangan yang begitu menyiksanya. Sweet bagaikan candu baginya, sangat sulit untuk hilang dalam pikiran.
***
"Kenapa kau membawa kami ke sini?" ketus Cherry saat Joshua membawanya ke sebuah kamar. Tentu saja kamar itu bukan kamar Alex. Melainkan sebuah kamar yang sama sekali tak pernah Alex masuki.
"Kamar Tuan di atas, kenapa kau membawa kami ke sini?" kali ini Gilly ikut menimpali.
"Maaf, Nona. Tuan berpesan agar kalian tidak banyak bertanya, Tuan hanya ingin kalian merasa nyaman. Kamar atas merupakan tempat Nyonya lama tinggal. Tuan hanya ingin kalian merasa nyaman. Silakan masuk, Nona." Joshua pun membukakan pintu untuk kedua wanita itu. Tanpa merasa curiga, kedua wanita itu langsung masuk ke dalam kamar. Penampilan mereka cukup menggoda mata lelaki yang melihatnya. Hanya saja tak berlaku untuk seorang Joshua. Lelaki itu pun langsung menutup pintu kamar dan menguncinya.
"Kenapa begitu gelap?" tanya Cherry sedikit ragu. Keduanya pun berjalan perlahan, berharap seseorang yang mereka idamkan hadir di sana.
"Aku sudah lama menunggu, naiklah ke atas ranjang." Suara bariton milik seseorang berhasil mencuri perhatian kedua wanita itu. Pandangan mereka pun tertuju pada bayangan hitam yang tengah duduk di atas ranjang. Tanpa berpikir panjang, kedua wanita itu langsung menaiki ranjang. Mendekati sosok lelaki yang sama sekali tak dapat mereka lihat wajahnya dengan jelas.
"Kak, apa kau yakin ingin tidur dengan pelayan ini?" Cherry membuka pembicaraan dengan tangan yang terus bermain didada bidang sosok misterius itu. Tidak ada jawaban dari lelaki itu.
Gilly terlihat marah mendengar pertanyaan Cherry, dan ia tidak mau kalah. Ia bergerak lincah dan seksual. Mencoba untuk menggoda sang pujaan hati. Hingga malam panjang pun benar-benar terjadi.
Di sebuah ruangan, terlihat seorang wanita berdiri sambil tertunduk kerena takut. Kedua tangannya saling terpaut erat. Menunggu sang Tuan mengutarakan maksud dari pemanggilan dirinya.
"Daisy? Itu namamu?" Suara maskulin itu benar-benar membuat jantung Daisy seakan melompat ke luar.
Malam setelah kepergian Sweet, gadis itu langsung menemui Alex.
"Saya minta maaf, Tuan." Daisy menjatuhkan diri di lantai, berlutut dengan kedua tangan yang menangkup di dada. Air matanya mengalir dengan deras, perasaan takut juga mulai bergelenyar dalam hatinya.
"Nyonya sama sekali tidak bersalah, Nona Cherry lah yang melakukan itu. Kami tidak bisa melakukan apa pun, karena Nona Cherry memberikan ancaman pada kami. Dia akan mencelakai keluarga kami. Saya tidak ingin kehilangan ibu satu-satunya, tapi di sisi lain saya juga tidak ingin terjadi sesuatu pada Nyonya. Tolong bawa Nyonya kembali," suara isakkan Daisy pun memenuhi seiisi ruangan. Alex yang mendengar itu sama sekali tidak bereaksi. Karena pada awalnya ia memang sudah tahu semua detail kejadian.
"Tuan, Anda boleh menghukum saya. Anda juga boleh membunuh saya, tapi tolong. Percayalah pada Nyonya."
"Kau punya bukti?" tanya Alex dengan santai. Namun berbeda dengan Daisy, ia terlihat semakin gugup.
"Anda bisa menanyakan hal ini pada pelayan yang lain, mereka juga melihat. Saya memang tidak memiliki bukti fisik, tapi saya bisa menjadi saksi." Daisy terus berusaha untuk meyakinkan Alex. Ia benar-benar merasa bersalah pada Sweet. Karena tidak dapat membantunya sebagai seorang teman. Hanya ini yang mampu ia lakukan, agar Sweet kembali.
"Jadi kau tidak takut mati?" tanya Alex lagi, membuat lawan bicaranya semakin gamang.
"Sa... saya takut. Tapi, saya akan menerima dengan ikhlas jika itu sebagai hukuman, atas kesalahan saya." Daisy terlihat pasrah.
"Baik.... " Alex menggantung ucapannya dan bangkit dari posisi duduk.
"Josh, tentukan waktu yang tepat untuk menghukum wanita ini." Setelah mengatakan hal itu, Alex pun langsung bergegas pergi.
Daisy sedikit merasa lega, Alex masih memberikan waktu padanya. Walaupun rasa takut terus menggerayangi hatinya, tetapi perasaan bersalah lah yang lebih mendominasi.
__ADS_1
"Kau boleh kembali," perintah Joshua pada Daisy. Wanita itu pun langsung beranjak pergi. Mungkin mulai malam ini, ia tidak akan pernah nyenyak dalam tidurnya.
"Kau sudah menikah?" tanya Alex begitu tenang. Namun yang diberikan pertanyaan terlihat bingung.
"Be... belum, Tuan." Daisy semakin menunduk karena malu dan merasa takut pada Alex.
"Kau ingat hukuman yang aku katakan dulu?" Alex kembali melayangkan pertanyaan. Tentu saja Daisy ingat, hal itu lah yang selalu menghantui dirinya siang dan malam.
"Ingat, Tuan."
"Bagus, aku harap kau benar-benar menerima hukuman ini dengan ikhlas, seperti yang kau katakan dulu."
Daisy tidak mampu menjawab apa pun, ia sudah pasrah dengan hidupnya.
"Besok, kemasi barangmu dan pulanglah. Seorang lelaki bernama Max, akan menikahimu besok. Aku menjamin dia akan membuatmu bahagia, jalani hidupmu seperti yang kau inginkan." Alex bangun dari kursi kebesarannya.
Sedangkan Daisy, ia tampak kaget dan masih belum memahami maksud Alex.
"Aku sudah menyelidiki siapa dirimu, pulanglah dan temani masa tua ibumu. Sebagai hukuman, aku memberikan seorang lelaki padamu. Aku harap kau hidup bahagia," lanjut Alex.
Daisy terhenyak, air matanya meluncur dengan deras. Tidak pernah sekali pun ia bayangkan akan mendapat hukuman semacam ini. Lebih pantas di katakan hadiah dibanding dengan sebuah hukuman.
"Kau keberatan?" tanya Alex saat tak mendapat jawaban dari Daisy.
"Ti... tidak, Tuan. Saya sangat berterima kasih atas kebaikan, Tuan. Saya harap, Nyonya akan segera kembali. Dan kalian hidup dengan bahagia," Daisy berlutut. Ia merasa semua ini seperti mimpi. Menikah? Apa harus secepat ini? Bahkan aku tidak tahu siapa laki itu? Tapi mimpku hanya satu, hidup bahagia bersama Ibu dan suamimu kelak. Batin Daisy.
"Josh, antarkan dia kembali ke kediamannya besok. Wanita kesayangan istriku tidak boleh terluka," ujar Alex yang kemudian pergi begitu saja. Seperti biasa, Joshua terus mengekori dirinya ke mana pun pergi.
Daisy merasa terharu, semua pikiran buruknya tentang Alex meluap begitu saja. Ia tidak akan pernah bisa melupakan kebaikan Sweet maupun Alex.
"Josh, apa menurutmu Ana akan bahagia jika melihat temannya bahagia?" tanya Alex pada Joshua.
"Tentu, Tuan. Nyonya pasti bahagia."
"Bagaimana jika kau juga menikah?" Pertanyaan itu berhasil membuat Joshua terhenyak.
"Maaf, Tuan. Mencari keberadaan Nyonya adalah yang paling penting, kebahagiaan saya tidak ada apa-apanya." Joshua sedikit membungkuk.
"Hah, kau memang yang paling setia. Seperti aku harus menyelesaikan semua ini dengan cepat," Alex memijat pelepisnya, memikirkan tentang Sweet selalu menguras energinya.
Joshua tersenyum samar, ia merasa bahagia karena Alex benar-benar berubah. Sepertinya kehadiran Sweet dalam hatinya sedikit mengetuk pintu kebaikan dalam diri Alex. Semua ketakutan yang Joshua pikirkan menguap perlahan.
"Tuan, sepertinya Anda juga harus memperhatikan diri Anda. Nyonya tidak akan suka jika penampilan Tuan seperti ini."
Mendengar itu, Alex langsung meneliti penampilannya sendiri. Semua yang Joshua katakan itu benar, saat ini Alex telihat seperti orang gila. Mungkin sedikit perubahan akan membawa dirinya dalam kebahagiaan baru.
__ADS_1