Istri Yang Dingin

Istri Yang Dingin
Bab 98


__ADS_3

Saat ini Mala dan Bian sudah berada di dalam sebuah kamar mewah dengan sentuhan desain interior modern. Mala sangat mengagumi kamar suaminya. Yang mungkin akan menjadi kamarnya juga.


"Untuk sementara waktu, kita akan tinggal di sini. Aku sudah mempersiapkan rumah di Jakarta. Rumah di sana lebih besar dari ini. Aku masih ada urusan sampai bulan depan di sini." Kata Bian seraya bangun dari kursi roda. Hanya di kamar dan bersama sang istrilah Bian bisa menunjukkan jati dirinya. Ia melangkah pasti menghampiri Mala yang tengah berdiri di depan jendela yang langsung menampakkan luasnya halaman rumah.


Mala tersentak kaget saat tangan kekar milik suami melingkar sempurna di perutnya. Mala tersenyum dan menyentuh lengan kekar itu. "Bian, tempat ini sangat indah. Aku lebih suka tinggal di sini."


"Jika itu maumu, kita bisa menetap di sini." Sahut Bian seraya mengecup pundak mulus istrinya yang tak terhalang kain. Karena saat ini Mala sudah membuka outernya. Hingga memperlihatkan punggungnya yang putih mulus. Karena dress itu sedikit terbuka di bagian punggung.


"Lalu bagaimana dengan pekerjaanmu di Jakarta?" Tanya Mala memutar tubuhnya agar bisa melihat wajah sang suami.


"Kita bisa pulang pergi, atau aku akan menunjuk seseorang penanggung jawab perusahaan." Kata Bian begitu santai.


Mala tersenyum. Lalu menatap pipi Bian yang sedikit memerah bekas tamparannya. Tangan Mala bergerak untuk menyentuh pipi suaminya. "Apa sangat sakit?" Tanya Mala sedikit meringis saat tangannya menyentuh pipi Bian. Dan itu berhasil mengundang senyuman di wajah suaminya.


"Aku yang terluka, kenapa kamu yang meringis, Sayang?"


"Karena aku penyebabnya," sahut Mala merasa bersalah.


"Itu salahku, karena sudah membuatmu marah. Tapi aku menyukai dirimu yang tadi. Kamu terlihat sangat seksi saat marah-marah." Ujar Bian menggoda istrinya


"Bian!" Mala terlihat kesal. "Tadi aku benar-benar marah, enak saja wanita itu menciummu di depan umum. Padahal aku saja belum mencobanya. Tapi tadi itu... aku ingin membuat kejutan untukmu. Malah kamu yang membuatku terkejut." Omel Mala memukul dada Bian pelan.


"Maaf, lain kali aku tidak akan membiarkan orang lain menyentuh barang milikmu." Bisik Bian yang berhasil membuat pipi istrinya merona.


"Kamu sangat cantik saat merona seperti itu." Puji Bian seraya mendekatkan wajanya. Lalu bibir seksinya itu berhasil menyatu dengan bibir manis sang istri. Dan kemesraan itu berlangsung cukup lama.


Bian melepaskan cecapannya dan membiarkan sang istri menghirup udara segar. "Aku masih punya hadiah untukmu, Sayang."

__ADS_1


Mala menatap mata gelap suaminya. Menunggu Bian menunjukkan hadiah itu. "Tutup matamu." Pinta Bian.


Mala pun menutup matanya perlahan. Bian sedikit menjauh dari sang istri. Lalu merogoh saku celanya dan mengeluarkan sebuah kalung cantik. Tanpa banyak kata, Bian menyampingkan rambut istrinya. Lalu memasangkan benda itu dileher jenjang sang istri.


Mala langsung membuka matanya dan menyentuh benda itu. Namun pandangannya ia tujukan untuk Bian. Mala tahu itu kalung yang ia inginkan tadi. Kalung cantik yang didesain khusus oleh sang suami untuknya.


"Thank you," ucap Mala dengan air mata yang berlinang. "Aku tidak pernah menduga bisa mendapat suami semanis dirimu, Bian."


"Aku juga tak pernah menyangka bisa mempunyai istri secantik kamu."


Mala tersipu malu. Lalu mendadak ia mengingat sesuatu. "Bian, bagaimana dengan kontrak itu?" Tanya Mala sedikit ragu.


"Aku sudah membakarnya sehari setelah pernikahan." Jawab Bian dengan santainya.


"What?" Mala sangat terkejut mendengarnya. Bian yang merasa terancam pun mulai menjauhi istrinya.


"Karena aku tahu kau akan jatuh cinta padaku. Karena itu aku langsung membakarnya tanpa sepengetahuanmu." Jelas Bian yang langsung melesat menuju kamar mandi.


Bian yang mendengar itu cuma bisa terkekeh geli di kamar mandi.


***


Malam hari, Bian membawa Mala makan di sebuah restoran mewah. Namun wanita itu masih mogok bicara karena kejadian sore tadi. Bagaimana tidak, Mala ingin sekali menghajar Bian. Dan malah sebaliknya, Bian menghajar istrinya habis-habisan di atas ranjang. Sampai Mala tak sanggup bergerak. Lelaki itu benar-benar gila. Tentu saja, Bian juga manusia normal yang tak bisa menahan hasratnya terlalu lama. Dan saat ini Mala memberikan kesempatan itu, Bian memanfaatkannya dengan sangat baik.


"Sayang, makanannya di makan. Kasian kalau cuma diliatin." Kata Bian mencoba mengajak istrinya bicara.


"Aku membencimu, Bian." Kesal Mala memasukan potongan daging ke dalam mulutnya dengan kesal.

__ADS_1


"Aku juga mencintaimu, Sayang." Ucap Bian menarik tangan Mala dan mengecupnya dengan lembut. Namun dengan cepat Mala menariknya.


"Bulan depan kita honeymoon bagaimana?" Tanya Bian yang berhasil menarik perhatian Mala.


"Kita sudah melakukannya," ketus Mala tak selera untuk mengunyah makanannya.


"Tempatnya kamu yang menentukan. Aku tidak bisa membawamu liburan dalam waktu dekat, karena pekerjaanku cukup banyak. Bulan depan adalah waktu yang tepat." Bukan Bian namanya jika mudah menyerah.


Mala terdiam cukup lama sambil sesekali melirik Bian yang tengah menikmati hidangan. "Aku ingin pergi ke korea, bisakah kita ke sana?"


Pergerakan Bian tertahan saat mendengar keinginan istrinya. Bian menatap Mala dengan senyuman termanis. "Kita akan pergi ke sana."


"Terima kasih," ucap Mala melanjutkan makannya. Bian yang melihat itu tak henti-hantinya tersenyum.


Setelah makan malam, Bian mengajak istrinya keliling kota. Ia tahu Mala butuh suasana baru. Bian menoleh ke arah istrinya, seulas senyuman tercipta dibibirnya saat melihat Mala begitu menikmati pesona malam di Kota Surabaya.


"Kamu lelah?" Tanya Bian yang berhasil menarik perhatian istrinya.


"Sedikit." Sahut Mala yang kemudian kembali memperhatikan penampakan kota di malam hari.


"Apa kamu masih marah karena aku melakukan itu padamu?" Lagi-lagi pertanyaan Bian mendapat perhatian Mala. Wanita itu menatap netra suaminya dalam-dalam.


"Aku sama sekali tak marah ataupun menyesal, kau suamiku, Bian. Hanya saja aku masih kesal padamu. Karena aku belum memberimu pelajaran." Jawab Mala menautkan jemari lentiknya disela jemari besar Bian.


Bian tersenyum dan mengeratkan genggaman tangan istrinya. "Kamu bisa memberiku pelajaran kapan saja, karena aku selalu ada disisimu. Aku akan selalu mencintaimu sampai akhir hayatku, istriku."


Mala tersenyum dan merapatkan diri agar lebih dekat dengan sang suami. Lalu menyandarkan kepalanya di bahu Bian. "Jangan tinggalkan aku, Bian. Aku masih takut dengan kata ditinggalkan."

__ADS_1


Bian mengecup pucuk kepala istrinya. "Aku tidak akan pernah meninggalkanmu, Sayang."


"Aku percaya padamu, Bian."


__ADS_2