Istri Yang Dingin

Istri Yang Dingin
IYD 46


__ADS_3

Hari bahagia sepertinya kembali berpihak pada keluarga besar Digantara. Malam ini Digan't Hotel kembali di penuhi banyak orang yang sengaja diundang untuk menghadiri acara resepsi anak sulung dan bungsu mereka.


Di saat semua orang berkumpul di ballroom. Lain halnya dengan seorang wanita yang terlihat terburu-buru memasuki lift. Arel yang baru saja masuk ke hotel dan melihat itu merasa aneh.


"Ada apa, Sayang?" Tanya Sky saat Arel menghentikan langkahnya. Lalu mengikuti arah pandangan suaminya yang tertuju ke arah lift.


"Sepertinya aku melihat Clara, dia bersikap aneh." Sahut Arel.


"Kau ini, mungkin saja dia memang sedang terburu-buru."


*"Tapi itu bukan lift menuju ballroom*, Sayang. Itu lift khusus para visitor." Ujar Arel semakin curiga pada wanita itu.


"Mungkin dia ingin menemui Alexella. Bukankah mereka berteman sejak lama?" Sky menatap suaminya bingung.


"Bisa jadi, aku harap anak itu tidak membut ulah. Ayo Sayang." Arel pun langsung membawa istrinya masuk ke dalam lift.


Di kamar hotel, Sabrina terlihat gugup karena sebentar lagi acara akan dimulai. Dan dirinya belum siap betul untuk muncul di depan khalayak ramai dengan posisi menjadi istri sah dari putra sulung keluarga Digantara, billionaire terkenal di seluruh penjuru dunia. Wanita itu terus menggigit ujung bibirnya karena sangat gugup. Sampai suara pintu terbuka pun berhasil mengejutkan dirinya. Sabrina langsung menoleh ke arah pintu.


Di sana, Alex tersenyum dengan karismanya yang khas. Meski usianya sudah kepala enam, tetapi lelaki itu masih terlihat tampan apa lagi saat tersenyum seperti itu. Perlahan Alex menutup pintu dan menghampiri menantu cantiknya.


"Apa kau gugup, Darling? Suamimu sudah menunggu. Aku akan menjadi pendampingmu, dia yang memintaku. Karena itu aku bisa masuk ke sini. Semoga kau tidak keberatan lelaki tua ini menjadi pengiringmu." Ujar Alex menatap Sabrina.


"Tentu saja tidak, Dad. Justru aku senang Anda sudi menjadi orang yang beridiri di sisiku." Ucap Sabrina tulus.


Alex mengecup kening menantunya dengan tulus. "Jaga putraku dengan baik. Jika bisa, berikan kehangatan untuk keluarga kita. Kau menantu tertua di sini. Aku memberi tanggung jawab besar padamu, Sabrina."


Sabrina menatap Alex bingung. "Dad?"


"Lahirkan keturunan yang baik untuk keluarga Digantara. Aku percaya padamu, kau bidadari hebat. Teruslah tersenyum, meski aku tak bisa melihat senyumanmu lagi kelak." Timpal Alex seraya mengusap pipi Sabrina.


Sabrina mengangguk yang diiringi dengan senyuman tulusnya.


"Ah iya, putraku itu memang bukan lelaki yang baik. Tapi dia cukup bertanggung jawab. Percayalah, dia akan selalu melindungimu."


"Aku percaya, Dad. Karena aku mencintainya."


Alex tersenyum mendengar itu. "Hadirkan terus cinta untuknya."


"Ya, Dad."


"Ya sudah, ayok bergerak." Ajak Alex menyerahkan lengannya pada Sabrina. Dan dengan senang hati disambut oleh menantunya.


Srak!

__ADS_1


Tubuh Alex membeku dan sedetik kemudian ambruk ke lantai dengan darah segar yang terus mengalir didadanya. Bahkan dalam hitungan detik darah itu membanjiri lantai.


"Dad." Sabrina memekik kaget dan ikut ambruk di sisi Alex yang sudah tak bernapas. "Ya tuhan, apa yang terjadi? Dad? Kau menedengarku?" Dengan tangan gemetar Sabrian menepuk pipi Alex. Lalu matanya tak sengaja menangkap bayangan hitam dari arah balkon. Sabrina bangun dari posisinya dan bergegas menuju balkon. Mencari sosok bayangan itu. Namun ia tak menemukan siapa pun di sana.


"Aaaaaa...."


Sabrina terkejut saat mendengar teriakan seseorang dan hendak masuk ke dalam. Namun langkahnya tertahan karena tiba-tiba Arez muncul di depan pintu balkon.


"Al... itu... tadi...." Sabrina gemetar hebat sampai bingung harus bicara apa. Ditambah tatapan suaminya yang seolah ingin membunuhnya.


Pandangan Al pun tertuju pada benda yang ada di dekat kaki Sabrina. Sebuah pistol berukuran kecil ada di sana. Sabrina yang penasaran pun langsung melihat kebawah. Sontak ia terkejut saat melihat benda mengerikan itu. Dengan cepat ia menjauh.


"Al... aku tidak melakukannya. Tadi... tadi ada bayangan hitam dari arah sini karena itu aku mengejarnya. Aku...."


"Dasar pembunuh!" Pekik Alexella hendak menyerang Sabrina. Namun Arez lebih dulu menahan tubuhnya. "Lepaskan aku, biarkan aku membunuh wanita sialan itu, Kak. Dia sudah membunuh Daddy."


"Tidak, Al. Aku tidak melakukan itu. Tadi ada bayangan hitam di sini, dia pasti pelakunya. Kalau kau tidak percaya, kau bisa lihat CCTV."


"Tuan, CCTV kamar ini mendadak rusak." Ujar Ansel yang baru saja muncul. Lelaki itu pun menatap Sabrina seolah wanita itu memang tersangka.


"Sudah aku tebak, kau memang pembunuh, Sabrina. Sekarang kau percaya padaku kan, Kak? Dia sudah membunuh Daddy." Arez memeluk adiknya itu dengan erat. Namun tatapannya masih tertuju pada Sabrina.


"Tuan besar sudah dilarikan ke rumah sakit. Dan Nyonya besar jatuh pingsan." Imbuh Ansel menatap Arez.


"Bawa wanita ini ke markas, jangan biarkan dia kabur." Titah Arez yang langsung pergi membawa sang adik.


"Percayalah, aku tidak membunuhnya. Aku tidak membunuh Daddy." Ulang Sabrian menatap Ansel penuh harap. Ia berharap lelaki itu percaya padanya.


"Sebaiknya Anda ikut dengan saya, Nona." Pinta Ansel.


"Tapi aku bukan pelakunya. Aku mohon, percayalah. Aku bukan pembunuh." Tangisan Sabrina pun pecah. Bahkan tubuhnya lemas seketika.


****


Arez melangkah pasti memasuki sebuah bangunan kecil yang berada di tengah hutan. "Apa saja yang dia katakan?" Tanya Arez dengan nada dingin.


"Nona tidak mau bicara sejak malam tadi, Tuan." Jawab Ansel menunduk. Arez mengeratkan rahangnya dan memasuki sebuah ruangan berukuran kecil. Di sana ia bisa melihat Sabrina terduduk lesu di sebuah kursi kayu. Tatapan wanita itu kosong dengan tubuh yang menggigil kedinginan. Karena tubuhnya hanya terbalut gaun pernikahan dengan bercak darah dibeberapa titik. Padahal sejak pagi tadi salju mulai turun.


Arez melempar sebuah hoodie tebal ke arah Sabrina. Membuat wanita itu terkejut dan langsung menatapnya.


"Al, bagaimana kondisi Daddy? Katakan padaku dia baik-baik saja, Al." Sabrina langsung berhambur dalam dekapan suaminya. Namun Arez sama sekali tak membalas pelukkannya.


"Daddy sudah tidak ada. Tutup tubuhmu dengan hoodie itu, Sabrian. Aku tak ingin kau mati karena kedinginan." Perintah Arez mendorong Sabrina agar manjauh darinya.

__ADS_1


Tentu saja Sabrina kaget dengan sikap Arez. "Al, aku bukan pelakunya. Kau harus percaya."


"Pakai hoodiemu." Desisi Arez dengan kilatan amarah dimatanya.


"Aku tidak mau. Sebelum kau percaya padaku, Al."


Arez meraih hoodie yang tadi ia lempar dan mengenakannya pada Sabrina dengan kasar.


"Kau harus percaya padaku, Al. Aku tidak mungkin membunuh Daddy. Kau bisa melihatnya di CCTV. Aku bukan pelakunya, Al." Sabrina terus meyakinkan suaminya. Tubuhnya semakin menggigil, selain kedinginan. Ia juga masih taruam dengan kejadian malam tadi.


"Bawakan dia makanan, Ansel." Titah Arez.


"Baik, Tuan." Sahut Ansel beranjak dari sana.


"Al, aku tidak membunuh Daddy. Saat itu kami hendak keluar dari kamar. Aku menggandeng tanganya, tapi tiba-tiba terdengar suara aneh dan seketika Daddy ambruk. Da... darah terus keluar dari dadanya. Aku tidak tahu apa yang terjadi? Sampai aku melihat bayangan hitam di balkon. Aku yakin itu pembunuhnya. Jika aku memang pembunuhnya, aku tidak mungkin masih ada di sana. Aku bukan orang bodoh yang akan menyerahkan diri setelah membunuh. Aku tidak berbohong, Al."


"Semua bukti mengarah padamu, Sabrina." Ujar Arez dengan tatapan menusuk.


"Tapi aku bukan pelakunya. Apa yang harus aku lakukan agar kau percaya, Al? Apa aku harus mati baru kau percaya? Kalau begitu bunuh aku saja, Al. Bunuh aku." Tubuh Sabrina melorot ken lantai. Ia tidak tahu harus membuktikan apa pada sauminya. Tangisannya pun pecah.


"Ini makanannya, Tuan." Ansel memberikan sebuah box makanan pada Arez.


Arez memberikan box makanab itu pada istrinya. Namun Sabrina sama sekali tak bergerak.


"Makan, atau aku yang akan memaksamu untuk makan." Titah Arez mulai jengkel.


Sabrina menarik kedua lututnya, lalu memeluknya dengan erat. Ia benar-benar frustasi dan tak bisa melupakan kejadian itu. Tubuh wanita itu menggigil hebat. Namun sama sekali tak mengeluarkan suara.


"Bangun, Sabrina. Atau aku...." perkataan Arez harus terpotong karena istrinya itu sudah jatuh pingsan.


"Panggilkan dokter segera." Titah Arez pada Ansel.


"Baik, Tuan." Ansel pun bergegas pergi dari tempat itu. Sedangkan Arez membopong Sabrina ke ruangan lain. Menidurkan wanitanya itu di atas pembaringan yang hanya beralaskan kayu.


Selang beberapa waktu Ansel kembali bersama dokter keluarga Digantara. Lelaki paruh baya itu langsung menangani Sabrina. Dan itu tak lepas dari pengawasan Arez.


"Dia mengalami tekanan dan tarauma berat. Sebaiknya Anda membawanya ke rumah sakit. Tidak baik dia terus berada di tempat dingin seperti ini dalam kondisi hamil muda."


Arez terhenyak mendengar perkataan sang dokter. "Hamil? Dia sedang hamil?"


"Benar, untuk lebih lanjutnya segera bawa istri Anda ke poli obgyn untuk melihat perkembangan janinnya."


Arez mengusap wajahnya dengan kasar. "Baiklah, kau bisa pergi sekarang."

__ADS_1


Dokter itu mengangguk patuh dan segera keluar dari ruangan itu bersama Ansel.


Arez menyentuh pipi pucat istrinya. "Untuk sementara di sini tempat yang aman untukmu, Sabrina. Aku harap kau tak membenciku setelah ini."


__ADS_2