
Lucas terbangun dari tidurnya dan terkejut saat tak menemukan Eveline di sisinya. Ia tersentak dan langsung bangun dari ranjang.
"Eve." Panggilnya seraya berjalan ke arah kamar mandi. Benar saja, sayup-sayup Lucas bisa mendengar suara dari dalam sana. Tunggu! Bukankah itu suara tangisan? Eveline menangis?
"Eve?" Lucas mencoba membuka pintu. Sayangnya pintu terkunci dari dalam. "Buka pintunya sayang."
Di dalam Eveline terus menangis, mengabaikan suara panggilan Lucas di luar sana. Ia mengguyur tubuhnya dengan air dingin. Tetap saja itu tak menghilangkan rasa sakit dan jijik pada dirinya sendiri. "Maafkan aku, Summer."
Tangisan Eveline pun semakin menjadi saat mengingat wajah tampan kekasihnya. Perasaan bersalah terus menyelusup hingga lubuk hatinya yang terdalam. Summer merupakan lelaki baik yang selalu memahami dirinya, tidak seperti Lucas yang kasar dan pemaksa. Sekarang ia tidak pantas lagi untuk lelaki itu. Ia sudah kotor, dan pelakunya adalah sepupunya sendiri.
"Sayang, buka pintunya." Lucas terus menggedor pintu. Namun, Eveline tidak peduli lagi. Hatinya terlalu sakit.
Brak!
Sepertinya Lucas berhasil mendobrak pintu. Akan tetapi Eveline masih bergeming di bawah guyuran air shower. Lucas yang melihat itu langsung mematikannya dan memeluk Eveline.
"Apa yang kau lakukan huh?" Tanya Lucas dengan nada lembut. Bukanya tenang, justru tangisan Eveline semakin menjadi.
"Maafkan aku, Eve." Lucas mengecup kening Eveline. "Jangan melawanku lagi, kau tahu siapa aku bukan?"
"Kau jahat, Luc."
"Aku tahu, sayang. Aku tahu." Lelaki itu kembali mengecupi kening Eveline. Jujur hatinya sakit saat melihat gadis pujaan hatinya terpuruk seperti ini. Padahal dirinya lah penyebab semua itu terjadi.
"Tolong lepaskan aku, Luc. Mommy dan Daddy akan mencemaskan aku. Mau sampai kapan kau mengurungku?" Tanya Eveline bertanya di sela isak tangisnya.
"Aku akan melepaskanmu sampai kau jatuh cinta padaku, Eve. Aku hanya ingin kau menjadi milikku. Hanya itu keinginanku."
Eveline menarik diri dan menjauh dari Lucas. Dan kembali meluapkan emosinya. "Aku tidak akan mencintaimu, Luc. Harusnya kau sadar itu. Aku sudah punya kekasih, dan aku mencintainya."
Lucas mengeratkan rahangnya, matanya kembali memerah. "Terserah kau saja. Yang jelas aku tidak akan pernah melepasmu, Eve. Tidak akan pernah." Pemuda itu pun beranjak pergi dari sana sebelum ia melakukan hal yang bisa menyakiti gadisnya lagi.
Brak!
Terdengar suara pitu tertutup dengan kencang. Yang menandakan Lucas benar-benar pergi. Tubuh Eveline luruh sudah. Bahkan tangisannya semakin menjadi.
__ADS_1
****
Lucas melajukan mobilnya dengan kecepatan penuh. Bahkan ia hampir menyerempet beberapa pengguna jalan lainnya. Hingga mendapat makian dan sumpah serapah dari pemilik kendaraan itu.
Dan kini mobil mewah itu berhenti tepat di depan sebuah bangunan yang merupakan markas besarnya. Lucas masuk ke sana, membuat para penghuninya merasa heran. Apa lagi Lucas bergegas menuju ruang khusus latihan menembak.
"Ada apa lagi dengannya?" Tanya Harry menggeleng pelan. Tidak habis pikir dengan temanya itu. Jika ada masalah saja Lucas akan datang ke sana.
"Biar aku yang bertanya." Rose pun menyusul jejak Lucas.
Wanita berambut pendek itu bersidekap saat melihat kegilaan Lucas. Bahkan lelaki itu berhasil menghancurkan papan target menjadi dua bagian. "Apa masalah gadis itu lagi?"
Lucas sama sekali tak menggubrisnya.
"Hah, kau aneh, Luc. Wanita di dunia ini banyak. Kenapa kau begitu tergila-gila padanya?"
Lucas melempar pistol di tangannya asal. Kemudian menghampiri Rose dengan kilatan amarah di matanya. Didorongnya wanita itu hingga terpojok di sofa. Dan dengan sekali gerakan Lucas mengukungnya. "Kenapa? Kau ingin aku melirikmu huh? Berhenti mencintaiku, Rose."
Rose menatap mata tajam Lucas. "Kau tidak berhak mengatur hidupku, Luc."
"Oh... Luc." Rose menjerit tertahan saat Lucas menghisap lehernya dengan kasar.
"Dasar j*l*ng." Umpat Lucas tersenyum devil.
"Ya, aku j*l*ngmu, Luc." Rose memejamkan matanya saat Lucas terus mempermainkan tubuhnya.
Dan entah bagaimana keduanya mulai bergulat panas di atas sofa. Tentu saja tidak ada kelembutan dan cinta yang Lucas berikan pada wanita itu. Semuanya murni pelampiasan. Bahkan Lucas meneriakkan nama Eveline saat mendapat pelepasan.
Setelah melakukan hal itu Lucas pun beranjak pergi dari sana. Meninggalkan Rose yang masih lemas di atas sofa.
"Cih, setelah bercinta kau kabur, Luc? Sungguh tidak bertanggung jawab." Cibir William yang tengah merawat harley kesayangannya.
"Kau bisa memakainya jika mau. Bukankah dia j*l*ng kita di sini?" Sahut Lucas tersenyum sinis. Kemudian ia pun masuk ke dalam mobil dan meninggalkan tempat itu.
"Dasar brengsek." William tersenyum dan menggeleng pelan. Lucas selalu saja membuat kekacauan. Padahal ini masih terbilang pagi.
__ADS_1
Lucas kembali ke apartemennya. Ingin memastikan sang pujaan hati baik-baik saja.
"Tuan, Nona tidak mau membuka pintu kamar." Adu sang pelayan saat melihat kehadiran Lucas.
"Jadi dia belum makan?"
"Belum, Tuan."
"Hm." Lucas melangkah cepat menuju kamarnya. Tentu saja ia bisa membuka pintu itu karena dirinya selalu membawa kunci ke mana-mana.
Lucas menghela napas panjang saat melihat Eveline meringkuk di atas pembaringan. Perlahan Lucas menghampirinya, kemudian duduk tepat di sisi Eveline.
"Kau harus sarapan." Lucas mengusap pipi halus Eveline. Namun, wanita itu masih bergeming.
"Aku tahu kau marah padaku, tapi kau tidak boleh menyiksa dirimu. Ayo bangun, kita sarapan sama-sama." Bujuk Lucas selembut mungkin. Akan tetapi semua itu tidak berpengaruh pada Eveline.
Lucas menghela napas berat. Ia bukan tipe penyabar. "Eve, kau pilih mana. Sarapan atau kau yang akan menjadi menu sarapanku?"
Sontak Eveline pun beringsut bangun mendengar tawaran Lucas. Ah, lebih tepatnya itu sebuah ancaman bagi Eveline.
Lucas tersenyum melihat tingkah Eveline, menurutnya itu sangatlah lucu.
Tidak lama sang pelayan pun masuk dengan sebuah nampan berisi menu sarapan pagi ini. Dan memberikan itu pada Lucas. Kemudian ia pun meninggalkan kamar Tuannya.
"Makan." Lucas menyodorkan makanan itu pada Eveline. Dan dengan tangan gemetar Eveline mengambil sandwich dan melahapnya dengan tak berselera. Ia tidak mau Lucas kembali menjamahnya. Rasanya sangat menyakitkan. Dan tanpa sadar air matanya kembali meluncur.
Lucas yang melihat itu langsung menghapus jejak air mata Eveline. "Jangan menangis, aku tidak suka kau menangis seperti ini."
Eveline berusaha menghindar dan sedikit menjauhi Lucas. Ditatapnya lelaki itu dengan penuh permusuhan. Lucas tersenyum seraya meletakkan nampan tadi di atas nakas.
"Aku suka tatapanmu, Eve. Lanjutkan makanmu, aku ingin mandi. Jangan pernah berpikir untuk lari dariku. Karena kau akan berakhir seperti malam tadi jika berani melangkah dari kamar ini." Setelah mengeluarkan ancaman itu Lucas pun melangkah pasti menuju kamar mandi. Meninggalkan Eveline yang terus memberikan tatapan tak bersahabat padanya.
Sepeninggalan Lucas. Eveline bangkit dari posisinya. Dan kembali melanjutkan aksinya yang sempat terpotong tadi. "Sial! Di mana dia menyimpan barang-barangku?"
Eveline terus mencari keberadaan barang pribadinya. Mana tahu ia bisa menemukan ponselnya dan menghubungi keluarganya. Dan Eveline tidak sadar jika sejak tadi Lucas berdiri di ambang pintu kamar mandi. Sepertinya lelaki itu tidak jadi mandi seperti apa yang dikatakan sebelumnya. Lucas tersenyum geli.
__ADS_1
"Kau mencari apa, sayang?"