Istri Yang Dingin

Istri Yang Dingin
Season 3 (16)


__ADS_3

Sudah dua minggu sejak kejadian itu, Lucas benar-benar tidak datang menemui Eveline lagi. Tentu saja hal itu membuat Eveline kecewa. Dan ia pun memutuskan untuk melupakan Lucas dan kembali melanjutkan aktivitasnya.


"Eve, kau ini kenapa? Sudah dua hari kau tidak fokus." Tegur Willy karena Eveline bekerja tidak profesional. Sudah kesekian kalianya Eveline membuat kesalahan saat pemotretan.


"Maafkan aku, akhir-akhir ini kepalaku sangat sakit. Aku ingin istirahat sebentar." Eveline pun bergegas menuju ruang pribadinya. Dan Cassy pun mengekorinya.


"Eve, kau baik-baik saja?" Tanya lelaki gemulai itu mencemaskan bosnya.


"Aku baik-baik saja," jawab Eveline seraya membaringkan tubuhnya di sofa.


"Apa aku perlu memanggilkan dokter?"


"Tidak perlu. Aku hanya butuh istirahat." Eveline memejamkan matanya.


Ada apa denganku? Pikirnya dalam hati. Dan tiba-tiba saja ia merindukan Lucas.


Ck, kenapa dia terus menghantui hidupku? Sialan kau, Luc.


"Eve, sebaiknya kau pulang saja. Aku rasa Willy juga tidak akan melanjutkan pemotretan.


Eveline mengangguk. "Bantu aku bangun."


Dengan sigap Cassy membantu Eveline bangun. Dan wanita itu pun beranjak menuju ruang ganti.


Menit berikutnya Eveline pun sudah siap untuk pulang.


"Jika besok kau masih sakit, tidak perlu memaksakan diri." Ujar Cassy.


Eveline pun mengangguk patuh. "Aku pulang."


"Ya, hati-hati, beib."


"Ya." Eveline pun beranjak pulang. Sambil berjalan ia terus memijat pelipisnya. Sampai tak sadar jika di depannya sudah berdiri seorang laki-laki bertubuh besar.


Bruk!


Eveline menubruk tubuh besar itu dan langsung memekik kaget. Refleks ia pun mendongak. "Summer?"


Lelaki berparas tampan itu tersenyum. "Kau sedang memikirkan apa huh? Sampai tidak sadar aku sudah berdiri di depanmu."


Eveline sedikit mundur. "Aku sedang tidak enak badan, kau sedang apa di sini?"


"Aku merindukanmu, sayang." Summer menarik Eveline dalam dekapannya. Namun, semuanya terasa biasa saja. Entahlah, Eveline merasa ada yang berbeda saat Summer memeluknya. Biasanya ia akan senang saat Summer memeluknya seperti ini, tetapi sekarang rasanya begitu hampa.


Eveline mendongak. "Aku harus pulang."


Summer tersenyum penuh arti, dan tanpa permisi ia menarik Eveline ke dalam mobil.


"Summer, apa yang kau lakukan?" Tanya Eveline terkejut. Namun, lelaki itu tidak peduli dan ikut masuk ke dalam mobil. Dan mobil mewah itu melaju dengan kecepatan penuh membelah kota Berlin.


"Summer, kemana kau akan membawaku? Biarkan aku pulang, kepalaku sakit." Mata Evelien terasa begitu berat.


Summer hanya menoleh sekilas tanpa berniat menjawab.

__ADS_1


Eveline yang sudah pusing pun tidak lagi bertanya dan memilih untuk memejamkan matanya. Dan mobil mewah itu terus melesat cepat meninggalkan ibu kota. Tentu saja Eveline tidak sadar karena ia masih terpejam.


"Mulai hari ini kau hanya akan menjadi milikku, Eve. Tidak akan aku biarkan kau lari dariku. Aku tahu kau mulai berubah karena si brengsek itu." Summer tersenyum miring. Lalu mobil itu pun memasuki kawasan privat airport. "Maaf, demi cinta dan tujuanku. Aku harus merebutmu dari kelurga sialan itu."


Beberapa jam berikutnya, Eveline terbangun dari tidurnya. Namun, kepalanya terasa sangat pusing. "Di mana ini?" Gumamnya seraya melihat kondisi kamar yang begitu asing.


Tidak lama pintu pun terbuka, memperlihatkan seorang wanita hampir paruh baya. "Kau sudah bangun?" Tanyanya seraya duduk di sebelah Eveline.


"Kau siapa?" tanya Eveline membenarkan posisi duduknya sambil menyentuh kepala.


Wanita itu tersenyum. "Mungkin kau tidak akan mengenalku, karena Ibumu tidak pernah menyukaiku."


Eveline mengerut bingung. "Kau mengenal Mommyku?"


"Aku adik tirinya."


"Apa?" Kaget Eveline karena sebelumnya ia tidak pernah mendengar itu dari sang Mommy.


"Hm, Mommymu tidak pernah menyukaiku sejak kecil. Dia iri padaku karena Daddy lebih menyayangiku." Bohongnya.


Cih, akulah yang membenci wanita beruntung itu.


Eveline tersenyum getir. "Kau bercanda? Grandpa tidak pernah menyinggungmu. Jangan membodohiku."


Wanita itu menghela napas berat. "Namaku Queenza Roberto."


Lagi-lagi Eveline terkejut. "Jadi kau benar-benar adik tiri Mommy?"


"Ya, sayang. Aunty senang bisa bertemu denganmu."


"Dia putraku."


"Apa? Lalu di mana ini?"


"London."


Eveline langsung berlari ke arah jendela dan membuka gordennya dengan kasar. Benar saja, suasana di luar sana tampak asing.


Wanita yang mengaku bernama Queen itu tersenyum. "Aku tidak menyangka bisa bertemu denganmu, Eve."


Eveline menoleh. "Kenapa kalian membawaku ke sini?"


"Menyelamatkanmu."


"Apa maksudmu? Menyelamatkan aku dari apa?"


"Dari keluargamu."


"Apa?" Kaget Eveline. Ia tersenyum getir. "Kau pikir aku percaya?"


"Duduklah, Sayang. Biar aku ceritakan padamu."


Eveline masih berdiri di posisinya. Dan itu membuat wanita bernama Queen menghela napas berat. "Baiklah, aku rasa kau tidak akan percaya dengan perkataanku karena ini menyangkut masa lalu ibumu. Mungkin karena ini juga tidak ada yang memberitahumu."

__ADS_1


"Apa yang sebenarnya ingin kau katakan, Nyonya?"


"Sabrina, dia pelaku pembunuhan kakekmu. Dan Ayahmu hampir membunuhku dan Ibuku karena aku ingin mengungkapkan kebenaran itu. Ayah dan Ibumu adalah pasangan pembunuh berantai. Bahkan keluargaku tidak tahu soal itu. Karenanya kau tidak pernah mendengar hal ini."


Eveline terkejut. Lalu ia tertawa hambar. "Apa kau sedang menghasutku? Ayolah, kau menjelekkan Ibu dan Ayahku. Pantas mereka tidak mau mengakuimu."


Wanita itu mengepalkan kedua tangannya. "Terserah kau percaya atau tidak, aku sudah mengatakan hal sejujurnya. Lucas adalah kaki tangan Ayahmu, dan dia membiarkan masa depanmu di renggut olehnya. Ayahmu hanya diam dan membiarkan semua itu terjadi, padahal kau sangat membutuhkan bantuannya. Ayah macam apa dia?"


Eveline mengeratkan rahangnya. "Tidak perlu ikut campur urusan masa depanku."


"Tentu saja itu perlu, kau masa depan putraku."


Eveline terdiam. "Itu artinya Summer berbohong padaku. Dia mengatakan jika Ayah dan Ibunya berasal dari London. Lalu apa yang kau katakan menunjukkan jika kau bukan asli London."


"Summer tidak berbohong, aku tidak pernah mengatakan padanya soal statusku. Jadi tolong jangan bahas ini padanya, cukup kita yang tahu saja."


Tidak lama pintu kamar pun kembali terbuka, menampakkan Summer dengan senyuman menawannya. Juga sebuah nampan berisi makanan dan minuman untuk Eveline. "Maaf, apa kalian sedang membahas hal penting? Apa aku menganggu?" Lelaki itu meletakkan nampan di atas nakas.


"Tidak ada, aku hanya mengobrol kecil dengan menantuku yang cantik ini. Kalau begitu Mommy pergi dulu, nikmati waktu berdua kalian." Wanita itu pun beranjak dari kamar dengan senyuman penuh arti.


"Baby, makanlah dulu." Titah Summer dengan nada lembut seperti biasanya.


Eveline memberikan tatapan curiga. "Kenapa kau membawaku ke sini, Summer?"


Summer menghampiri Eveline, diusapnya pipi mulus itu dengan lembut. "Aku tahu soal penculikan itu, Eve. Aku seperti orang gila mencarimu. Aku hanya takut seseorang menculikmu lagi."


"Tapi kau juga menculikku jika seperti ini."


"I know. Aku hanya takut kehilanganmu, sayang. Aku seperti orang gila saat kau hilang." Summer memeluk Eveline dengan penuh kelembutan.


"Itu tidak akan terjadi lagi, Summer." Eveline membalas pelukan itu.


"Aku terus dihantui ketakutan asal kau tahu, i miss you." Summer mengecup pundak Eveline.


"Aku juga merindukanmu. Kenapa kau menghilang begitu lama, Summer? Dua minggu setelah aku kembali, kenapa kau baru muncul sekarang?"


Summer tersenyum miring. "Karena Ayahmu mengancamku."


Mendengar itu Eveline menarik diri. Ditatapnya sang kekasih dengan tatapan bingung. "Daddy mengancammu? Tapi kenapa?"


"Aku tidak tahu, Ayahmu melarangku untuk menemuimu lagi. Aku tidak tahu alasannya, yang jelas dia tidak ingin aku menemuimu. Karena itu aku membawamu lari seperti ini, Eve. Aku takut kehilanganmu." Summer memberikan tatapan sendu.


Perlahan aku akan menjauhkanmu dari mereka, Eve.


"Summer, ada apa sebenarnya? Kenapa semuanya membingungkan? Apa sebelumnya kau mengenal Daddyku?" Tanya Eveline bingung.


"Tidak, karena itu aku juga bingung, Eve. Aku mencintaimu, jangan pergi dariku." Summer meraih bibir Eveline dan mencecapnya dengan lembut. Namun, Eveline tak kunjung membalasnya. Dan itu membuat Summer geram. Di tariknya tengkuk Eveline dengan kasar. Sontak Eveline pun terkejut dan mencoba mendorongnya.


"Lepaskan aku, Summer."


"Tidak akan pernah." Summer mendorong Eveline hingga tepojok ke dinding. Dan kembali menyerangnya. Eveline mulai ketakutan.


"Summer, berhenti." Eveline terus memberontak, sayangnya lelaki itu seolah di rasuki setan. Hingga seseorang pun datang dan menariknya dan memisahkan dirinya dengan Eveline.

__ADS_1


"Kau gila?" Hardik seorang gadis berparas cantik, bisa diperkirakan usiannya enam belasan. Ia pun langsung menarik Eveline dari sana. Meninggalkan lelaki itu yang masih terdiam.


Tbc....


__ADS_2