
"Al." Panggil Sabrina saat mereka bersiap untuk pulang. Arez yang sedang mengenakan kemejanya pun menoleh.
"Ada apa? Kau tidak rela meninggalkan putrimu?" Tanyanya.
"Bukan." Sabrina duduk di tepi ranjang. "Ini soal gadis itu, Claire. Dia terlalu mirip dengan Deena. Al, apa kau tidak bisa mencari tahu kebenarannya? Aku merindukan Deena, Al. Dia orang yang paling menyanyangiku sebelum dirimu hadir."
Arez menghela napas, kemudian duduk di sebelah istrinya. Dipandangnya Sabrina begitu dalam. "Kau tidak habis-habisnya memikirkan wanita itu."
"Tentu saja, dia sudah seperti Kakakku."
Arez mengangguk paham. "Begini... sebenarnya sejak lama aku mencari keberadaanya."
Mendengar itu atensi Sabrina tersita habis pada suaminya. "Benarkah? Lalu di mana dia?"
"Aku tidak tahu." Jawab Arez apa adanya.
"Ck, kau memberikan harapan palsu padaku, Al? Menyebalkan."
Arez menggeleng. "Aku memang tidak tahu, Sab. Aku sudah menyedikinya. Dia tidak ada di Berlin."
Sabrina kaget. "Lalu di mana dia berada?"
"Mana aku tahu."
"Al...."
"Tidak, aku tidak mau menyita waktuku haya untuk mencarinya, Sab." Sela Arez tahu apa yang akan istrinya katakan.
Sabrina menghela napas berat. "Di mana kau, Deena? Apa mungkin dia terkena masalah, Al? Karena itu dia kabur. Tapi Al, dia punya anak laki-laki kan? Aku masih ingat namanya, Galvin Jefferson. Ya, kau bisa menyelidiki lewat anaknya, Al. Aku mohon, cari tahu keberadaannya."
Arez menggeleng. "Aku juga tidak menemukan anak itu."
Tubuh Sabrian mendadak lemas. "Aku rasa memang ada masalah besar yang terjadi padanya, Al." Sabrina tampak cemas.
"Berhenti memikirkan mereka, jaga kesehatanmu. Ayo, kita harus segera berangkat." Ajak Arez memakai jaketnya. Lalu menggeret koper ke luar kamar. Sabrina menghela napas berat, lalu bangkit dan meraih tas miliknya. Setelah itu ia menyusul suaminya.
****
"Sayang." Claire duduk di sebelah Melvin yang sedang fokus menggulir layar ponselnya. "Katanya kamu mau pulang ya?"
Melvin menoleh sekilas. "Ya."
"Em... aku ikut kan?"
Melvin menatap Claire. Ia tampak berpikir. "Aku rasa tidak perlu."
Wajah Claire mendadak murung. "Jadi kau akan meninggalkanku di sini?"
Ya, untuk saat ini aku belum membutuhkanmu.
__ADS_1
Melvin tersenyum. "Aku akan menjemputmu nanti. Aku ada perjalanan bisinis untuk saat ini."
Claire mengangguk dengan tak semangat. "Jadi kita ldran?"
"Kau keberatan?"
Claire mengangguk lagi. "Kata orang ldr itu tidak enak. Bagaimana jika kau selingkuh?"
Melvin tertawa renyah. "Selingkuh? Mana mungkin aku selingkuh, sayang. Kau pacarku satu-satunya." Di sini. Imbuh Melvin di dalam hati.
Pipi Claire merona. "Benarkah?"
"Ya." Melvin menarik dagu Claire. Kemudian mengecup bibir gadis itu dengan lembut. Sontak tubuh Claire membeku. Tentu saja Melvin sadar akan hal itu, ia tersenyum penuh arti. "Your first kiss huh?"
Claire mengangguk malu.
"Kau ingin mencobanya?"
"Aku takut." Lirih Claire.
Melvin tersenyum. "Kita hanya berciuman, tidak lebih, sayang. Kau mau?"
Claire mengangguk malu. "Tapi aku tidak tahu caranya."
"Ikuti saja pergerakanku." Melvin menahan dagu Claire. Kemudian mendaratkan bibirnya di bibir seksi gadis itu.
Ya Tuhan, dia benar-benar menciumku?
Melvin mencecap bibir itu semakin dalam. Meski Claire agak kaku, tetapi ia tetap menikmatinya karena bibir itu benar-benar manis. Claire memejamkan mata saat ciuman yang Melvin berikan semakin dalam. Bahkan kini lidah mereka saling membelit dan mengabsen gigi masing-masing. Melvin benar-benar dibuat mabuk hinga ia lupa diri.
"Hah...." Claire menarik napas panjang saat Melvin melepaskan pagutan. Dadanya terasa sesak karena kehabisan pasokan oksigen.
Melvin menatap bibir Claire yang membengkak dan masih basah oleh salivanya. "Kau sangat manis, Claire."
Claire tersenyum. "Kau juga sangat hebat, tadi itu... kenapa rasanya aneh?"
"Aneh?"
"Ya, ada rasa mintnya."
Mendengar itu Melvin tertawa lucu. "Jadi kau hanya fokus pada rasa mintnya? Lalu apa lagi yang kau rasakan?"
"Tidak ada, aku suka rasa mintnya. Seperti makan premen." Jawab Claire dengan polosnya.
Melvin memijat batang hidungnya karena tidak habis pikir dengan gadisnya itu. Ia pikir Claire akan mengatakan jika dirinya seperti melayang atau apalah itu. Nyatanya Claire memang masih kekanakan. Harga dirinya dipertaruhkan saat ini. "Begini, lupakan rasa mintnya."
"Hm?" Claire terlihat fokus mendengarkan kata-kata Melvin seolah lelaki itu adalah gurunya.
"Saat berciuman, kau tidak perlu fokus pada rasa mintnya saja. Kau harus menikmatinya. Ah... maksudku kau harus merasakan setiap sentuhannya. Ayo kita ulangi." Melvin membawa Claire dalam pangkuannya. Dan kembali menyambar bibir gadis itu.
__ADS_1
Secara naluri Claire mengalungkan tangannya di leher Melvin. Dan kali ini ia mulai terbiasa mengimbangi permainan lelaki itu walau masih agak kaku. Bahkan matanya terpejam dan menikmati sentuhan lembut Melvin. Claire seperti melayang saat ini.
Melvin tertawa puas dalam hati. Kau tidak boleh terlalu polos, baby. Kepolosanmu akan dimanfaatkan orang lain. Dan aku akan membuatmu tidak polos lagi.
Melvin menyudahi ciumannya saat Claire mulai kehabisan napas. "Bernapaslah."
Claire menghirup udara senanyak mungkin, dadanya juga naik turun.
Melvin mengusap bibir seksi itu dengan lembut. "Dengar, kau hanya boleh melakukan ini denganku. Jangan pernah berikan pada orang lain."
Claire mengangguk patuh. "Apa kau juga akan melakukan hal yang sama?"
Melvin tersenyum, kemudian mengangguk pelan. "Tentu saja. Sudah aku katakan kau kekasihku satu-satunya."
"Janji?" Claire menatap wajah Melvin lamat-lamat.
"Aku janji, sayang."
"Kau bohong, El."
Dahi Melvin mengerut. "Kenapa kau mengatakan itu?"
"Kau berbohong, bola matamu terus bergerak tak menentu. Kau tidak menatapku."
Melvin tertawa kecil. "Kau ini sangat manis. Aku tidak bohong."
"Kau berbohong, El. Di Berlin kau punya kekasih kan?"
Melvin kaget. "Bagaimana kau tahu? Ah... maksudku...."
"Aku tahu semua tengangamu, El. Kau sering memainkan banyak wanita. Bahkan kau mencampakan mereka setelah bosan. Dan kau juga akan melakukan itu padaku, aku tahu itu." Jelas Claire dengan mata berkaca-kaca.
Sungguh, Melvin terkejut. Dan ia lupa jika Claire menguasi IT dengan baik.
"Bisakah kau berubah untukku, El? Aku tahu... kau tidak menginginkan aku sama sekali. Tapi aku menginginkan dirimu. Aku percaya suatu hari nanti kau bisa melindungiku. Aku tidak punya siapa-siapa sekarang, El." Air mata Claire pun luruh.
"Claire, dengar...."
Claire memeluk Melvin dengan erat. "Jangan tinggalkan aku, El. Aku merasa aman saat bersamamu. Aku tidak pernah merasakan hal ini sebelumnya."
Claire berhasil membuat Melvin bingung, bahkan tangan besar itu perlahan bergerak dan membalas pelukan Claire.
"Aku mencintaimu, El. Biarkan aku hidup bersamamu. Aku tidak peduli kau memacari banyak wanita sekali pun. Tapi jangan pernah campakkan aku."
"Hm." Melvin mengangguk kecil. Dan itu membuat Claire bahagia, ia memeluk Melvin semakin erat. "Jangan lupa jemput aku, El."
"Ya."
"Aku akan menunggumu di kota ini."
__ADS_1